Ada Demo di Sekolah

By: O. Solihin

 

Di depan pintu gerbang SMU Jingga anak-­anak cowok pada ngumpul. Mereka ogah masuk ke halaman sekolah. Tiap ada anak yang mau masuk cepat dicegat. Dan disuruh ngumpul berjejer kayak wayang golek di pinggir pagar sekolahan. Semua yang dicegat memang anak cowok.

Makin lama, kian banyak anak yang bergerombol di luar pintu gerbang sekolah. Ada yang jongkok, ada yang mondar-mandir. Termasuk di situ sudah ada Ogi yang kena cekal nggak boleh masuk ke halaman sekolah. Ogi nyari selamat. Ya, daripada bonyok nggak karu-karuan, mendingan nurut sama kakak kelasnya. Ada juga yang belum ngerti maksud kakak kelasnya menyandera mereka seperti itu, ter­masuk Ogi. Tapi ia nggak berani untuk ngomong. Karena lihat tampang mereka saja Ogi sudah ngeper. Apalagi kalau harus ngomong. Meski dirinya terkenal untuk urusan berani-beranian. Tapi entar dulu kalo risikonya berhadapan dengan kakak kelasnya yang jumlahnya nggak ketulungan banyaknya itu.

“Mu, ada apa sih?” Ogi nanya sama Jamil yang lagi jongkok di sebelahnya.

“Mau dibagi beras, kali” Jamil sekenanya.

“Kamu jangan bercanda, Mil. Aku serius nih!” Ogi tegang.

“Di saat krisis begini, kalau ada kumpul-kumpul cuma dua kemungkinannya. Pertama pembagian sem­bako. Dan yang kedua, bakal digelar demo.. “Jamil ngejelasin.

“Demo?” Ogi setengah terpekik. Jamil cuma menganggukkan kepala.

“Emang siapa yang mau didemo di sekolah kita? Dan mau demo apaan?” Ogi nggak ngerti.

“Dengar-dengar sih, bayaran SPP anak kelas tiga dinaikkan. Nanti juga kelas dua nyusul“Jamil kembali buka mulut.

“Yang benar kamu, Mil?” Ogi setengah nggak percaya omongan sahabatnya itu. Lagi-lagi Jamil menganggukkan kepala.

“Malah katanya ada guru yang terlibat kasus suap saat penerimaan siswa baru kemarin” Jamil menambahkan.

Lagi asyik ngobrol…

“Wahai anak-anak..” terdengar suara lantang Jefri anak kelas tiga yang badannya pendekar alias pendek kekar sekaligus bugot, alias bujangan berjenggot. Ogi dan segenap anak yang lain langsung diem. Matanya tertuju pada satu titik. Ya, Jefri tengah bicara di atas meja yang disulap jadi podium.

“Kalian tahu, kenapa kalian dikumpulkan di sini?” teriak Jefri.

“Tidaaaak!” anak-anak kompak. Malah saking kencengnya ada yang terus diiringi batuk-batuk segala. Ya, barangkali kapasitas lengkingan suaranya cuma dua oktaf dipaksa jadi tujuh oktaf, makanya batuk-batuk.

“Oke, langsung saja. Kalian yang pada ngumpul di sini bukan untuk dibagi sembako..”

“Ha..ha..ha..ha..“ anak-anak memotong omongan Jefri dengan tertawa.

“Sebentar, jangan ada yang tertawa! Ini serius,” Jefri ngomong lagi. Kali ini nadanya lebih tinggi sambil matanya beringas nyari-nyari jemuran, eh, sori, melihat ke sekelilingnya.

Anak-anak diem dan nggak ada yang berani buka suara.

“Oke. Kalian kami kumpulkan di sini adalah untuk kami ajak membuka wawasan baru. Dunia baru sebagai seorang pelajar kritis. Kalian akan kami ajak untuk demo..” Jefri berapi-api (Naga, kali!).

Tak lama, datang sekelompok guru yang terkenal killer. Mereka datang berjejer dari kiri ke kanan persis para Musketeer di film The Man In The Iron Mask. Wah, tampangnya cool banget. Sorot matanya tajam. Mere­ka semakin dekat kepada kerumunan anak-anak. Belum memberikan reaksi apapun. Mereka tetap tegar memandang ke arah kumpulan anak-anak dari jarak sekitar sepuluh meter.

“Jadi, sebagai seorang pelajar, kita harus pandai bersikap kritis. Jangan punya mental layak jajah. Apa­lagi kita putus asa dalam kesulitan. Pokoknya jangan menyerah. Kata orang bijak, lebih baik menyalakan sebatang lilin, ketimbang terus mengutuki kegelapan! Di sekolah kita ini telah terjadi praktek-praktek curang. Dan sekarang, di saat krisis ekonomi, SPP dinaikkan. Apakah ini bukan pemerasan? Kita harus membereskan ini!” Jefri kembali berapi-api dalam orasinya.

Tiba-tiba…

“Diaaamm!” teriak dua orang guru yang wajahnya nggak asing lagi di mata anak-anak. Lalu maju seorang guru yang wajahnya cool banget mirip D’Artagnan di film The Man In The Iron Mask.

“Anak-anak, jangan ngeper melihat pengawal kepala sekolah ini. Kita di posisi yang benar, kawan!” Jefri berusaha membangkitkan semangat kawan-kawan dan adik-adik kelasnya.

“Nha, lho!” Ogi pucat pasi.

Sementara mendengar ribut-ribut di depan pintu gerbang, anak-anak cewek termasuk guru lain ikutan nonton adegan bak dalam opera itu.

“Siapa yang nyuruh kalian main-main begini?” Pak Mario membentak.

Anak-anak diam. Jefri kelihatan membiarkan D’Artagnan, eh, Pak Mario untuk mengeluarkan kata-katanya. Ia tetap menyandang megaphone. Jefri kemu­dian turun dari atas meja.

“Bukannya belajar. Malah main-main. Sok refor­mis! Siapa yang menyuruh kalian berbuat tolol begini!” kembali Pak Mario menumpahkan amarahnya. Matanya merah menyala. Kumis tipis yang menghias bagian atas bibirnya ditambah sedikit jenggot yang tumbuh di bagian bawah dagunya semakin mempertegas kewiba­waannya. Sementara anak-anak diam seribu bahasa.

“Saya siap untuk menjelaskan, Pak!” Jefri angkat bicara dalam keheningan itu.

Pak Mario menoleh ke arah Jefri yang baru saja turun dari atas meja. Matanya merah menatap tajam. Dadanya turun naik menahan amarah.

“Kamu ikut saya ke kantor!” kata Pak Mario menunjuk ke arah Jefri sambil melangkahkan kakinya menuju kantor. Sementara Jefri tetap diam mema­tung. Pak Mario menoleh lagi.

“Ayo! Kenapa kamu diam?” bentak Pak Mario.

“Baik!” Jefri menyanggupi.

Sementara anak-anak berjalan gontai menuju halaman seko­lah. Tapi nggak terus, malah duduk­-duduk di rumput taman. Nggak mau masuk ke kelas. Anehnya, tanpa dikomando, mereka sepakat untuk tidak masuk ke kelas.

Ogi dan Jamil kelihatan bingung. Dan anak-anak Rohis yang lain juga tampak bimbang. Harus ikut ke mana. Ikutan aksi mogok belajar atau masuk kelas. Tapi bila masuk kelas juga percuma saja, soalnya nggak ada anak-anaknya. Begitu pun dengan anak cewek, mereka juga sepakat nggak mau masuk kelas. Mereka malah berjejer di luar kelas. Ada yang duduk-duduk. Berlari-lari kecil. Juga ada yang ngerumpi.

ooOoo

Di ruangan Pak Mario.

“Kamu dalangnya. ya?” Pak Mario galak.

“Lho, Bapak nggak bisa nuduh sembarangan dong, Pak?” Jefri nggak kelihatan ngeper.

“Jadi kamu ada yang memerintah?” Pak Mario melotot.

“Sabar dulu, Pak!” Jefri berusaha menenangkan.

“Ayo, sebutkan siapa yang menyuruh kamu!” Pak Mario tambah panas.

“Tidak ada seorang pun yang menyuruh saya. Unjuk rasa ini disepakati wakil-wakil kelas!” Jefri mene­rangkan.

“Begini, Pak. Kami hanya butuh perhatian dari pihak sekolah…”

“Perhatian apa?” Pak Mario cepat memotong.

“Bapak kan tahu, negeri ini sekarang sedang diguncang krisis ekonomi. Harga-harga melambung tinggi. Terutama harga sembako. Udah gitu, ditambah lagi dengan biaya sekolah yang ikut-ikutan naik. Itu makin membebani orangtua kami, Pak. Tidak semua dari kami mampu untuk membayarnya. Jadi, kami hanya butuh pengertian pihak sekolah..” Jefri panjang lebar.

“Saya ngerti. Dan saya pun tahu kesulitan orang­tua kalian. Pihak sekolah juga hanya melaksanakan dari atas. Dan itu sulit bagi kami, “ kata Pak Mario dengan nada mulai datar.

Jefri diam. Membiarkan Pak Mario mengeluarkan kata-katanya. Ia hanya memandangi Pak Mario yang mulai bangkit dari kursi dan mendekat kepadanya dengan langkah khas ala pejabat. Kedua tangannya disembunyikan di balik punggungnya.

“Saya ngerti kesulitan orangtua kalian. Tapi kamu jangan menggerakkan massa begitu!” Pak Mario semakin menurunkan nada bicaranya.

“Tak ada jalan lain, Pak!” Jefri menunduk.

Sementara di luar anak-anak yang ngumpul di taman mulai meneriakkan yel-yel.

“Turunkan biaya SPP!“ ada juga yang malah memukul-mukul benda apa saja yang ada di sekitar taman. Dari mulai batu, pagar, sampai ada yang mukulin kaleng bekas. Suasana makin hingar-bingar. Sesekali mereka kembali berteriak, “Pecat guru yang terlibat penyuapan!”

Makin tegang. Ogi dan Jamil saling pandang.

“Gimana ini, Mil?” Ogi kelihatan bingung.

“Kamu berani nggak ngomong di atas meja itu?” Jamil ngomong lagi sambil menunjuk ke arah meja belajar yang disulap jadi podium untuk orasi.

Ogi menggelengkan kepala.

“Ayo, Gi. Hanya kamu yang bisa diandalkan, “Jamil setengah memaksa.

“Tapi, apa yang mau diomongin, Mil?” Ogi tampak bingung.

“Kasih tahu agar mereka tenang dan jangan beringas,“ Jamil ngasih saran.

Dan baru saja Jamil selesai ngomong. Entah siapa yang melempar batu. Terdengar bunyi kaca pecah. Berbarengan dengan itu mulai ribut lagi. Teriakkan mereka semakin kencang. Malah sebagian dari anak-anak berhamburan ke luar. Sepertinya mencari batu.

“Ayo, Gi! Tunggu apa lagi. Bismillah deh!” Jamil ngasih semangat.

Ogi tampak ragu-ragu. Ia bingung harus ngomong apa. Tiba-tiba terdengar lagi bunyi kaca pecah kena lempar batu. Ogi kaget, ia menoleh ke arah Jamil. Yang ditoleh hanya menganggukkan kepalanya.

“Ayo!” Jamil nyemangati lagi.

Buru-buru Ogi bangkit dan setengah berlari me­nuju meja. Segera ia naik dan mengacung-acungkan kedua tangannya sambil berteriak kencang.

“Tenang. Tenang. Tenang..! “ pinta Ogi.

“Sabar teman-teman. Kita tak boleh kalap. Kita masih punya nurani dan akal sehat. Jangan sampai kesulitan membuat kita gelap mata. Jangan kehabisan kata-kata, sehingga kita harus bicara lewat batu! Sabar teman! Kita bicara dengan akal sehat” Ogi ber­usaha menenangkan kawan-kawannya.

“Cukup dua kaca yang jadi tumbal kebodohan kita. Pikirkan beribu kali sebelum berbuat. Kita memang benci dengan ketidak-adilan. Kita sangat melaknat pelaku-pelaku kemaksiatan dan kita pun sangat mengutuk kedzaliman. Tapi ingat, perbuatan kita yang brutal seperti tadi malah menambah masalah. Untuk itu, tenang saudara-saudara!” kata­-kata Ogi lancar mengalir bagai air.

“Coba pikirkan sekali lagi. Kalau sekolah ini rusak. Siapa yang rugi? Ayo jawab siapa yang rugi?” Ogi me­natap satu persatu wajah-wajah lesu temannya dengan nada suara yang mulai menaik.

“Kita juga kan? Jadi jangan berbuat bodoh. Tin­dakan itu malah nambah masalah!” Ogi kembali ngo­mong sambil menangguk-anggukkan kepala.

Pak Mario dan Jefri kemudian datang karena mendengar ribut-ribut. Mereka segera menemui Ogi yang tengah berorasi menenangkan massa.

Ogi diam. Dan anak-anak juga diam. Suasana begitu hening. Ogi turun dari atas meja dengan tetap menyandang megaphone.

Pak Mario segera mengambil megaphone yang disodorkan Ogi. Dan ia segera naik ke atas meja.

“Anak-anakku. Kalian jangan mudah terpengaruh cara-cara brutal yang tak pernah diajarkan Islam. Ke­kerasan akibat kecorobohan kita hanya akan melahirkan kekecewaan. Kita tak boleh menempuh cara-cara brutal. Ingat, kita diberi akal oleh Allah untuk berpikir. Tentu berpikir yang baik. Oke. Masalah ini akan diselesaikan dengan wakil-wakil kalian dan orangtua kalian. Sekarang bubar dan masuk kelas masing-masing. Nanti walikelas akan memberikan pengarahan,“ jelas Pak Mario.

Sejurus kemudian, anak-anak melangkahkan kaki­nya menuju kelas masing-masing meninggalkan areal taman depan sekolah. Wajah mereka lesu. Tampak tak bergairah. Kaca­-kaca yang pecah berserakan sedang dipunguti oleh Mang Udin sang penjaga sekolah. Ogi kemudian disalami oleh Pak Mario.

“Tuh, kan Gi. Sebenarnya kamu bisa!” Jamil muji sambil menggandeng lengan Ogi.

“Iya, tapi Aku ketar-ketir juga melihat anak-anak begitu beringas,” Ogi melirik Jamil.

“Sudahlah, sekarang kita ke mesjid saja untuk sholat dhuha dulu, “ saran Jamil.

Lalu keduanya bergegas menuju mesjid yang luma­yan cukup gede.

Dua hari kemudian. Sekolah mengumumkan penu­runan biaya SPP dan berjanji akan memproses oknum guru dan ortu murid yang melakukan praktik suap. Tentu saja pengumuman itu disambut baik oleh para siswa. Sekolah tidak jadi menaikkan biaya SPP setelah wakil-wakil dari tiap kelas dan wakil orangtua murid berdialog langsung dengan Kepala Sekolah.

Tapi Ogi dan Jamil masih belum puas. Sebab, ini baru satu sekolah. Bagaimana dengan sekolah lainya?

“Inilah kapitalisme Gi. Sistem kehidupan yang selalu melahirkan malapetaka. Jadi, kita perjuangkan tegaknya syariat Islam,” Jamil menutup pembicaraan.[]

Sumber: Majalah Permata, Edisi 05/September 2002