Anak-Anak Perempatan

By: Fauzan Muttaqin

 

“Crek… kecrek… kecrek.. Tidak semua laki-laki….. bersalah padamu… crek kecrek… contohnya aku…..”

“Minggir! Minggir!” hardik si pengemudi mobil sambil memainkan klaksonnya. Aku dan Imam tak bergeming dan terus melanjutkan nyanyian. Si Jain malah dengan percaya dirinya menengadahkan tangannya pada si pengemudi tadi. Tiga detik, lima detik tak ada reaksi, namun tepat pada hitungan ke sepuluh si pengendara tadi tiba-tiba tancap gas. Hampir saja aku dan Imam keserempet Escudo-nya, kalau saja kami tak sigap. Bila tidak, mungkin saja saat ini aku dan Imam sudah tergeletak di rumah sakit. Tapi rasanya itu terlalu mengkhayal, karena mana cukup uang kami untuk membayar biaya rumah sakit. Paling-paling kami digotong oleh kawan-kawan ke ‘markas’. Lalu diobati ala kadarnya oleh Bang Bos, -begitu kami memanggil pria ceking yang lebih mirip tengkorak berjalan itu. Soalnya tidak ada satupun dari kami yang mengenal persis namanya- seperti yang pernah dialami oleh Apul, yang kini sudah tidak bisa ‘ngobyek’ lagi lantaran kakinya pincang gara-gara ditabrak lari sedan.

Untungnya aku cuma lecet-lecet di tangan sedikit. Tapi tak urung aku merasa sakit juga. Huuu..dengan jengkelnya kutendang pasir aspal ke arah mobil kurang ajar itu. Sementara mulut Jain tak henti-hentinya mengeluarkan berbagai sumpah serapah dan umpatan khas maduranya. Padahal kalau dipikir-pikir Jain tidak terkena apa-apa dibandingkan kami. Imam yang keserempet di lututnya saja masih tenang-tenang. Kadang-kadang aku merasa kagum juga dengan anak satu ini. Walaupun badannya paling kecil di antara kami, namun kenyataannya sikapnya jauh lebih dewasa daripada usianya. Itulah yang menyebabkan aku kadang-kadang memanggilnya dengan sebutan ‘kaka’ walaupun sebenarnya usianya lebih muda setahun dariku.

Namun, kejadian seperti tadi bukanlah hal yang istimewa. Hampir tiap hari kami menemui kejadian serupa. Maklumlah, ‘ngobyek’ di jalan raya memang penuh resiko. Makanya kejadian barusan bagaikan angin lalu saja bagi kami. Tak berselang lama aku, Imam, dan Jain pindah ke mobil lain, kemudian ke mobil lain lagi, hingga lampu hijau menyala kembali.

Oya, hampir lupa, namaku Nanang, umurku bulan Januari nanti genap sebelas tahun. Hari-hariku lebih banyak kuhabiskan di jalan raya. Kadang nyemir sepatu, kadang ngamen seperti sekarang ini atau kalau ‘pasaran’ lagi sepi dan aku serta teman-teman lagi iseng, maka biasanya kami ngompasin anak-anak SD yang pulang sekolah. Penghasilan dari semua itu lebih dari cukup buat anak-anak seusia kami. Lumayan buat jajan atau beli rokok. Tapi hasil ngobyekan kami tak sepenuhnya dapat kami nikmati. Karena separo hasil ngobyek mesti disetor pada Bang Bos. Yah, mau bagaimana lagi, memang begitu aturannya kalau mau selamat.

Aku tidak sendirian kerja begini. Ada Imam, si penyabar, ada Jain, anak Madura yang jago berantem, ada Ucup, Sadikin, dan belasan anak sebaya lainnya yang sama-sama menggantungkan hidupnya di perempatan ini. Mudah sekali kalau mau mencari kami, kenali saja dari muka-muka yang kehitaman, rambut kekuningan tidak terurus, atau dari kaos kucel kami yang jarang dicuci.

Mengenai sekolah jangan ditanyakan, sebenarnya kalau cuma sampai lulus kelas 6 SD dari uang hasil kerja saja sudah cukup. Namun kupikir buat apa meneruskan sekolah. Toh, banyak orang yang sekolah tinggi-tinggi malah jadi pengangguran, seperti yang sering dibilang Bang Bos pada kami. Makanya lebih baik kerja seperti ini. Bagiku sampai SD kelas 4 saja sudah cukup, lumayan ada pengetahuan baca dan berhitung sedikit. Paling tidak aku bisa tahu kalau Bang Bos menculasi uang setoran. Walaupun biasanya aku cuma bisa menggerutu dan mengumpat dalam hati kalau uangku diambil lebih oleh Bang Bos.

“Tiiittt!” bunyi klakson yang memekakkan telinga mengejutkanku. Rupanya dari tadi aku cuma berdiri melamun di tengah kerumunan kendaraan di perempatan. Cepat-cepat aku menyingkir ke trotoar. Aku tidak ingin kejadian seperti barusan terjadi dua kali dalam sehari. Tapi dasar lagi apes. Gara-gara terlalu bergegas ‘krecekan’ku jatuh dan tergilas mobil. Sial! bakal repot lagi cari tutup botol! pikirku

“Melamun, Nang?” Imam menepuk pundakku. Senyumnya lebih terkesan mengejek daripada menghibur.

“Pulang yuk, laper nih..” Aku tak menghiraukan ejekan Imam tadi. Kuelus-elus perutku yang memang sudah seperti orkes dangdutan

“Tanggung! Sekali lampu merah lagi” jawabnya sambil terus mengamati ke arah lampu lalu lintas perempatan, mengharap lampu hijau segera berganti merah.

“Tanggung apaan, bentar lagi senja, keburu maghrib lo..” ucapku bersikeras

Mendengar kalimatku yang terakhir tadi raut muka Imam berubah. Senyumnya melebar. Kalimat tadi jelas menyindirnya. Soalnya biasanya Imamlah yang paling gigih mengajakku pergi ke mesjid.

“Tapi ngerujak dulu yach, nyantai aja.. gua yang bayar..” Imam berkata datar sambil merogoh uang di tas pinggang bututnya. Penghasilan kami hari ini memang lumayan banyak. Tapi lebih baik kami jajankan lebih dulu, daripada disetor pada Bang Bos.

Aku tertawa senang. Ini yang paling kusukai dari Imam. Sifatnya yang dermawan. Kami pun beranjak dari trotoar. Aku lihat Jain masih tetap berkeliaran di jalanan. Kulambaikan tanganku padanya, namun seperti biasa ia hanya menganggukkan kepala. Dan memang aku dan Imam sudah tahu, sia-sia saja mengajaknya pulang jam segini. Paling cepat Jain pulang jam 9 malam. Biasanya dia mampir dulu ke tempat pemuda-pemuda yang biasa mangkal di depan gang. Aku dan Imam sering juga diajaknya, namun kami selalu menolak. Aku tahu persis pergaulan rusak pemuda-pemuda gang itu.. biasanya pekerjaan mereka kalau tidak nyuitin cewek lewat, main gaple, taruhan, atau bahkan kadang-kadang pesta minuman keras.

Kalau saja bukan karena Imam, kemungkinan sudah lama aku gabung dengan mereka. Untungnya ada Imam yang sering menasehatiku supaya tidak ikut-ikutan berbuat seperti pemuda-pemuda gang itu. Tapi yang seperti itulah yang paling tidak kusukai dari Imam. Dia sering berlagak seperti ustadz kalau sudah menasehati seperti itu. Dengar-dengar sih anak satu ini memang keturunan ustadz. Cuma yang aku bingungnya kenapa dia sampai terdampar di jalanan. Tapi sudahlah.. yang jelas gara-gara Imam aku jadi rajin shalat, bisa ngaji sedikit sedikit, dan jadi hobi ke mesjid.

ooOoo

 

Usai shalat Maghrib kami pulang ke ‘markas’, tempat tinggal kami, Bang Bos dan anak-anak yang lain. Bangunan yang disebut ‘markas’ itu sebenarnya hanyalah sebuah gudang yang sudah tak terpakai lagi. Lantainya hanyalah tumpukan pasir berlapiskan tikar. Sementara atapnya cuma setengah yang menutupi ruangan. Kalau hujan seluruh lantai rumah biasanya becek. Sungguh tak layak menurutku jadi tempat tinggal, lebih layak jadi kandang sapi. Aku seringkali berkhayal bisa tinggal di rumah mewah seperti yang ada di dekat jalan raya. Entah jadi pemilik, atau jadi tukang kebunnya saja, yang penting tidak tinggal disini. Namun, yah mau apa lagi. Mungkin hidupku akan selamanya seperti ini. Selamanya di jalanan.

Kutendang setiap batu atau sampah yang kutemui di perjalanan pulang. Tiba-tiba saja aku merasa kesal sekali dengan keadaanku saat ini. Tapi aku tak tahu siapa yang harus kusalahkan. Tuhankah? Takdirkah? Atau kedua orangtuakukah? Mengapa aku dilahirkan sebagai Nanang, anak perempatan. Mengapa bukan sebagai Bobby, anak dokter gigi, atau Anjas yang punya kendaraan sendiri. Tapi kalau ada yang bisa kusalahkan, maka Bang Boslah orangnya. Seandainya saja dia bisa bersikap seperti seorang orangtua mungkin hidup ini bakal sedikit lebih asyik. Sayangnya mengharap Bang Bos bersikap baik sepertinya adalah sesuatu yang mustahil. Sama mustahilnya menurutku dengan berharap matahari terbit dari barat. Sering karena kesalahan sedikit saja, aku ditempeleng oleh Bang Bos. Kalau sudah begitu biasanya aku langsung lari ke Masjid dan disana aku menangis sejadi-jadinya.

ooOoo

 

Dua buah mobil parkir di depan markas kami. Ini merupakan pemandangan yang sangat tak biasa. Sejenak emosiku mereda, pikiran nakalku segera berpikir. Aku berharap mobil itu adalah mobil polisi yang menjemput Bang Bos untuk dibawa ke penjara. Kuharap penjaranya adalah penjara seumur hidup, dan….

“Oi, anak tolol! Ngapain lo bengong? Cepat masuk sana! Ganti pakaian!” hardika Bang Bos menghentikan lamunanku. Mendengar dibentak begitu, aku dan Imam bergegas masuk. Kuamati seksama kedua mobil itu. Tidak tampak seperti mobil polisi. Perkiraanku semakin meleset ketika kulihat Bang Bos asyik menghitung-hitung segepok uang lima puluh ribuan. Di sampingnya ada seorang bapak-bapak berkumis memakai dasi sedang berbincang-bincang dengan seorang bapak berpakaian batik yang kira-kira usianya lebih tua sepuluh tahun

Ketika masuk markas aku semakin terkejut melihat yang lain sudah tampak rapi dengan memakai seragam koko, peci hitam sepadan dengan celana polos hitam. Belum selesai kebingunganku Ucup langsung menyerahkan dua setelan baju yang sama buat kami berdua.

“Hehehe, kita bakalan dapet rejeki, men!” Ucup tertawa sambil menyerahkan setelan baju itu. Aku masih bingung, namun kupakai saja baju itu. Sungguh aneh rasanya melihat aku, Imam, dan yang lain kelihatan rapi begini. Padahal paling-paling biasanya kami berpakaian rapi cuma pas di hari raya. Itupun tidak serapi seperti ini.

Kebingunganku segera terjawab ketika sampai di tempat tujuan. Ternyata kami dibawa untuk mengikuti sebuah acara yang digelar oleh seorang pejabat. ….. di rumah mewah dekat jalan raya yang kuimpi-impikan itu. Wow! Ternyata impianku terkabul. Jangan-jangan kami akan tinggal disini dan diangkat sebagai anak, aku menerka-nerka.

“Malam Peduli Anak Jalanan” kubaca spanduk yang tertera di ruangan. Kami disuruh duduk berbaris di kursi yang disediakan. Sengaja kupilih kursi deretan paling depan, supaya kalau orang memilih anak angkat, maka akulah yang terpilih, pikirku

Tak lama acara pun dimulai. “Kita harus peduli dengan nasib anak-anak jalanan. Mereka terlalu kecil untuk merasakan penderitaan kehidupan. Mari ulurkan tangan kita untuk mereka…” seorang Bapak-bapak berkumis memberikan kata sambutan dengan semangat. Seluruh hadirin bertepuk tangan.

“Karena itu melalui malam Peduli anak jalanan ini, mari kita tanamkan kepedulian pada mereka” lanjutnya. Tepuk tangan kembali bergemuruh. Aku termasuk yang paling keras bertepuk tangan, aku berharap beliaulah yang bakal jadi ayah angkatku.

Berbagai acara kemudian digelar. Ada hiburan, acara potong tumpeng, dialog… tapi aku tak peduli dengan semua rentetan acara itu. Aku tak sabar menunggu acara terakhir. Pemilihan anak angkat.

Kami kemudian dijamu dengan berbagai makanan yang lezat. Opor ayam, sate, es buah… wow! Ini seperti makanan yang sering kulihat warung makannya Bu Supiyem. Tidak! Ini jauh lebih enak. Ini seperti yang terpampang di iklan dekat lampu merah. Tak terasa air liurku menetes. Baru sekali ini aku menghadapi makanan selezat ini. Tak sabar kami menyantap makanan yang disediakan. Imam malah mengambil ayamnya dua potong. Tampak para undangan hanya tersenyum melihat kelakuan kami.

Di akhir acara kami bersalaman dan berfoto bersama dengan para pejabat yang hadir. Aku masih berpikir penuh harap, kira-kira siapa di antara mereka yang bakal jadi ayah angkatku. Masing-masing dari kami diberi bingkisan yang isinya tas sekolah, buku tulis, dan baju kaos serta sarung. Acara ditutup dengan do’a. dalam do’aku kuselipkan permohonan supaya aku jadi terpilih sebagai anak angkat salah satu diantara mereka.

Namun harapanku musnah seketika tatkala kami semuanya tak terkecuali kembali dibawa masuk ke dalam mobil. Diantar kembali ke markas. Tidak ada anak angkat-anak angkatan!

Mobil hanya mengantar kami sampai depan gang. Kulihat Jain masih asyik bermain gaple dengan pemuda-pemuda gang. Tampaknya dia kalah taruhan. Jain menegurku, namun tegurannya sama sekali tak kuhiraukan. Kutendang keras-keras kaleng coca cola di depanku. Bunyinya yang nyaring bagaikan musik di telingaku.

“Kenapa, Nang” Imam menepuk punggungku sambil tersenyum. Aku menepis tangannya.

“Apa kita bakalan selamanya terus kayak gini ya?” ucapku. Kakiku mengambil ancang-ancang lagi menendang kaleng coca cola yang tadi.

“Nggak juga” ucap Imam pendek. Aku heran dengan jawabannya. Kaleng coca cola tadi urung kutendang. Apa maksud ucapan Imam?

“Iya, Nggak juga. Paling nggak kalo gede nanti kita bakalan gantiin posisinya Bang Bos” ucapnya sambil tertawa. Aku tertegun sejenak, lalu tak lama kemudian aku juga ikut tertawa. Kubuang ke got bingkisan berisi tas, dan macam-macam hadiah tadi. Imam pun berbuat hal yang serupa. Lalu kami tanggalkan pakaian rapi kami. Kami biarkan hembusan angin malam menerpa dada telanjang kami. Bagiku, semua barang itu tidak berguna sama sekali. Kami tidak perlu semua itu! Kalau ada yang kuperlukan saat ini, maka itu adalah tutup botol-tutup botol bekas buat bikin ‘krecekan’ yang baru pengganti yang rusak tadi.

Kami berlari berlomba menuju markas. Mau tahu apa isi hatiku saat ini. Sekarang tiba-tiba aku rindu dengan Bang Bos. Aku ingin ketika sampai di markas nanti Bang Bos langsung memarahiku habis-habisan.

Besoknya perempatan jalan raya kembali ramai. Kendaraan hilir mudik seperti biasa. Tiga anak berumur belasan tahun tampak menghampiri sebuah mobil. Yang dua tampak membawa krecekan. Yang satunya menyanyi dengan suara falsnya.

“Crek.. kecrek… kecrek… Tidak semua laki-laki bersalah padamu…… crek kecrek… contohnya aku …..”[]

Fauzan Muttaqien telah menerbitkan kumpulan cerpennya (serial Ibnu Cs) dengan judul “Betty Ta Iye” (Gema Insani, 2004). Kini, cowok kelahiran Banjarmasin 2 Desember 1984 ini lagi kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Kalo ada saran or kritik, kirim aja ke: akin_alfaruq@telkom.net

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 22/September 2006