Balada Upik Abu dan Betty La Fea

By: Nafiisah FB

 

Hari Minggu itu Betty La Fea sedang menonton televisi. Seorang diri dia menikmati tiap detik kebersamaannya dengan kotak ajaib itu. Tidak ada suara-suara bisik-bisik berisik Patricia and The Rumpi Genk. Tidak terdengar celotehan Christina yang bisa berpanjang melebihi jarak lokomotif dengan ujung gerbong kereta dan berlebar menyaingi stadion sepakbola.

Sepi … sunyi …. aaaah senangnya. Para penghuni kost Beauty sedang pergi menghabiskan libur panjang. Betty La Fea sumringah menyeruput teh manis yang sengaja dibuat spesial oleh dirinya untuk dirinya. Matanya tidak dilepaskan dari tontonan ala layar kaca.

Para wanita cantik dari seluruh penjuru negeri berjalan anggun ke atas panggung. Busana mereka yang bersilau membuat Betty La Fea semakin terpukau. Kedua mata di balik kacamata tebal enggan mengedip. Gemuruh tepuk tangan hadirin yang banyak diundang dari kalangan pesohor dunia tidak urung membuat Betty La Fea mengkhayal seketika.

Peri Baik Hati turun ke bumi dan menolong Itik Buruk Rupa yang budiman berubah mejadi Putri Cantik. Satu hentakan tongkat dan satu kelebat cahaya membuat Itik Buruk Rupa berubah menjadi Putri Cantik.

Pangeran Tampan mendengar keberadaan Putri Cantik. Seorang belahan jiwa segera terpampang di pelupuk matanya. Pangeran Tampan segera berkuda menuju dambaan jiwa.

Setibanya di hadapan Putri Cantik, Pangeran Tampan segera mengutarakan kata hati. Putri Cantik diam sesaat, memberikan kesempatan kepada pikiran dan perasaannya berdiskusi. Detik demi detik berlangsung di tengah penantian Pangeran Tampan. Sampai saatnya Putri Cantik akan mengumumkan keputusannya. Pangeran siap mendengarkan Putri Cantik mengucapkan, “Saya ….”

“Hei! Siang bolong ngayal aja!”

Putri Cantik tergagap sejenak lalu … perlahan wujudnya menghilang. Seraut wajah marah menoleh ke arah suara yang mengagetkannya.

“Eh, Bet. Kenapa lo?!” tanya suara itu lagi.

Di hadapan Betty La Fea telah berdiri seorang cewek tinggi, kurus, berkulit putih dengan wajah penuh acne. Di kaus yang sedang dikenakannya jelas terpampang tulisan “Gua Enggak Takut Jerawat, Karena Jerawat Biar Pak Lek Boy yang Ngerawat”.

“Kenapa, kenapa! Elo nggak liat gua marah. Upik Abu! Elo udah ngerusak khayalan terindah dalam hidup gua! Udah masuk nggak pake’ salam lagi!” teriak Betty La Fea membabi buta.

Betty La Fea tidak pura-pura dengan kegeramannya. Kawat gigi sekuat baja pun ditampakkannya.

“Calm down, Sis. Calm down. Elo pasti lagi di puncak depresi gara-gara nonton kontes Putri Sampo Paten 2007 itu, tuh. Ngapain juga sih nonton pake diseriusin gitu. Santai aja lagi,” ujar Upik Abu sambil merebahkan bahu di sofa tempat Betty La Fea melabuhkan tubuh sejak tadi.

“Elo sih enak aja ngomong begitu. Masalah lo kan cuma jerawat! Jerawat lo ilang elo bisa kayak mereka tuh.” Betty La Fea menunjuk ke arah tivi dengan sinis..

Upik Abu tertawa terkekeh. “He..he..he… Iya, setelah para jerawat ini menempuh 100 tahun perjalanan kehidupan.”

Betty La Fea masih merengut ketika Upik Abu berkata lanjut, “Eh, tapi katanya modal mereka yang ikut kontes itu nggak cuma fisik.”

“Tapi, mereka cantik. Lihat dong,” tanggap Betty La Fea

“Mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit,” lanjut Upik Abu.

“Dan mereka cantik!” tegas Betty La Fea.

“Mereka diminta unjuk bakat. Berarti mereka punya kemampuan,” kejar Upik Abu.

“Dan mereka cantik! Udah, deh lihat aja faktanya. Gue, elo, kita harus siap ngadepin fakta bahwa cantik itu yang pasti diliat duluan!” argumen Betty La Fea dengan sewot.

ooOoo

Upik Abu menatap langit-langit dan berucap,”Walaupun kita juga pintar.”

“Tapi, ga cantik.” Betty La Fea menghela nafas panjang.

“Walaupun kita juga punya kemampuan, keahlian,” ucap Upik Abu dalam suara yang mulai sendu.

“Tapi kita enggak CAN-TIK,” kata Betty La Fea menambah sendu.

“Padahal kita juga ….”

“Iya ! Tapi, kita enggak cantiiiiik!!!!!”

Upik Abu meloncat dari posisi duduknya. Dia mengusap-usap telinga kanannya yang pengeng. Sekarang dia berdiri menatap Betty La Fea yang tampak bernafas tersengal menata emosinya.

“Assalamu’alaikum! Pecel, Mbak!”

Suara di luar rumah menyela kemarahan Betty La Fea. Dia segera sadar perutnya keroncongan.

“Iya, Mbak! Tunggu!”

Betty La Fea mengecek uang di kantung celananya dan segera berjalan cepat menuju Mbak Pecel. Upik Abu mengikuti langkahnya.

Upik Abu terhenyak ketika beradu mata dengan Mbak Pecel. Dia lalu membisikkan sesuatu kepada Betty La Fea. “Lo mau tahu orang cantik yang sebenarnya? Dia ada di hadapan lo sekarang.”

Betty La Fea mengerutkan kening lalu perlahan menolehkan kepala ke arah Mbak Pecel yang sedang sibuk menata isi pecel. Dia memperhatikan Mbak Pecel dari atas sampai bawah, dari bawah lalu kembali ke atas.

Sosok sederhana dengan kerudung dan jilbab yang menambah kesahajaannya. Kulit sangat tipikal orang ras melayu cenderung gelap malah. Wajah jelas bukan saingan Tamara Blezinski atau Dessy Ratnasari.

“Mbak. Pecelnya satu lagi,” pesan Upik Abu.

Mbak Pecel mengangguk lembut sambil menyerahkan pincuk pecel kepada Betty La Fea. Betty La Fea menerima tanpa memutus urai tanya di pikirannya.

Wajahnya yang berminyak ditimpa sinar matahari jelas bukan kriteria Putri Sampo Paten yang baru ditontonnya. Tapi, kenapa Upik Abu percaya diri mengatakan Mbak Pecel itu contoh cantik yang sebenarnya?

“Mbak, jualan pecel sejak kapan? Kenapa jualan pecel? Enggak nyoba kerja yang lain?” tanya Upik Abu tanpa bermaksud iseng.

Mbak Pecel memperlihatkan senyum lembutnya. Dia menyerahkan pecel pesanan Upik Abu.

“Sejak lulus SMP, tiga tahun lalu. Jualan pecel begini karena yang saya bisa ya jualan seperti ini. Kasihan Emak kalau saya nganggur. Pengen juga sih kerja yang lain, tapi kan perlu modal. Harus bisa akuntansi, bahasa Inggris, atau komputer. Makanya, saya dikit-dikit nabung biar bisa kursus.”

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam. Eh, Nyak Haji!” jawab Betty La Fea.

“Iya, nih, Bet. Enyak dari tadi nyariin Marni. Tahunye die di sini!” info Nyak Haji sebelum dia beralih ke Mbak Pecel eh Marni.

“Mar, jangan lupa, ye. Habis ini elo ke mesjid. Enyak mau ngenalin elo ke anak-anak remaja mesjid!”

“Iya, Nyak Haji.”

“Si Marni ini yang entar bakal gantiin Mbak Hanum, Bet. Mbak Hanum kan bakal pindah ke Palembang ikut suaminye ke sana. Nah, Si Marni dah yang ditunjuk ngegantiin buat ngebina remaja mesjid. Kalau Betty enggak sibuk entar boleh juga ikut. Eh, Enyak pergi dulu ye. Babe ude nungguin ikan asin nih. Mar, elo sekalian aje ikut Enyak ke rume dulu. Enyak mau minta ajarin resep elo yang kemaren.”

“Iya, Nyak.”

“Eh, sebentar. Uang pecelnya!” cegah Betty sebelum Marni dan Nyak Haji beranjak pergi.

“Ude kagak usah. Entar Enyak yang bayarin. Sekali-kali ibu kost nraktir anak kost engak ape-ape kan? Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam!” jawab Betty La Fea dan Upik Abu serempak. Mereka berdua menatapi langkah-langkah Marni yang tegak tanpa ragu dengan wadah pecel terbeban di bahu.

“Cantik yang sesungguhnya.” Upik Abu haru melihat pecel di tangan.

“Ternyata lebih indah.” Betty La Fea lirih membalas ucapan.

Kemudian mereka berdua perlahan tersenyum saling memandang. Sosok para Putri Sampo Paten perlahan menghilang, karena kini berganti dengan … rasa lapar. Betty La Fea dan Upik Abu segera kembali ke dalam untuk melahap pecel buatan Putri Cantik Sesungguhnya.[]

Sumber Tulisan: Tabloid JEJAK, edisi 01/November 2007