Cita-Cita Ayah, Cita-Citaku …

By: R.E.Winarti

 

“Tetapi satu cita-cita ayah yang belum tercapai, yaitu melihat anak bungsu ayah berhasil seperti yang lainnya…”

Kata-kata itu terus-menerus terngiang di telingaku

 

Juni’ 93

Ah … ini hari pertamaku menjadi siswi SMU. Baju putih abu plus kerudung putih ini sudah ku pakai sejak pukul lima pagi tadi. Memang semuanya sudah berubah, bukan hanya warnanya yang berubah, tetapi ukurannyapun berubah menjadi lebih panjang dari biasanya. Ya Allah… mudah-mudahan ini menjadi langkah awal untuk lebih mengenal-Mu.

 

Pukul 07.30 Waktu dan Hari Yang sama

” Assalamu’alaikum, kenalkan nama saya Francis Sonata Jaya, atau biasa dipanggil Fran’s. Saya berasal dari SLTP …””

Tunggu … tunggu … rasanya nama itu tidak asing lagi bagiku. Ya … aku mengenal nama itu, keterangannya tentang asal sekolah, keluarganya, dan juga tentang dirinya rasanya aku mengenalnya, tetapi dimana? Tetapi yang pasti baru kali ini aku melihat wajahnya dan bertemu dengan orangnya.

Perkenalanku dengan teman-teman baruku sedikit menggangu pikiranku. Bukan apa-apa tetapi aku masih penasaran dengan nama itu, namanya yang unik, nama yang rasanya pernah masuk ke dalam kehidupanku sebelumnya.

Malam ini mataku tidak bisa diajak kompromi, ingin rasanya aku memejamkan mataku, tidur pulas, dan bermimpi indah. Tetapi itu tidak terjadi. Semakin aku memejamkan mataku semakin jauh pula rasa kantukku. Kulirik jam di atas mejaku, pukul dua dini hari. Oh … tidak mungkin, padahal aku harus bangun lebih pagi.

“Oh iya .. aku ingat. Surat itu .. surat itu di mana surat itu …?” langsung aku beranjak dari tempat tidurku dan mencari sepucuk surat dari laci mejaku. Kubaca tulisan sampulnya:

 

TERUNTUK SAHABATKU– TIA

DI TEMPAT

FROM SAHABAT LAMAMU – HANY-

 

Ya benar… ini surat yang aku cari, gumamku dalam hati.

 

Majalengka, Desember ’92

Untuk sahabatku Tia

di Bumi Allah

 

Assalamu’alaikum wr. wb.

Hallo ‘Ia, gimana kabarmu ? senang rasanya masih bisa bertemu denganmu walau hanya melalui sebuah surat. Maaf ya, sudah hampir 3 tahun aku ‘ga ngasih kabar padamu. Belum lupa aku ‘kan ? Aku tahu kamu sekarang lebih sibuk dari hari-harimu sebelumnya, tapi mudah-mudahan kamu tetap mejadi dirimu yang aku kenal sejak 9 tahun yang lalu. Apa cita-citamu masih seperti yang dulu ? atau mungkin sudah berubah ? Apapun cita-citamu aku doakan semoga kamu dapat meggapainya. Amin…

Oh iya … ada 2 orang yang ingin menyapamu, ‘ga keberatan kan ? Klo keberatan, buang aja kertasnya ! he … he … he …

“Hallo. Assalamu’alaikum. Maaf aku menulis disini tanpa minta ijin dulu darimu. Tapi yang pasti kamu harus membacanya (maksa ni ye hehehe…)

Walaupun kau tidak mengenalku tetapi aku telah banyak mendengar tentangmu.

Namaku Francis Sonata Jaya (bukan karena lahir di Prancis lho…) atau biasa dipanggil Fran’s. Walaupun namaku kebarat-baratan, bukan berarti aku penganut ideologi “Barat” , tahukan? Itu tuh… Kapitalis dan Saudara-saudaranya J. Aku sekarang menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahku, satu sekolah dengan Hany (pejabat yang satu ini insya Allah “Amanah” lho, he…he..!). Aku dilahirkan di negeri sebrang nun jauh di mata, pada bulan .…

Kulipat kembali surat itu. Ternyata benar, dia adalah orang dalam surat itu. Kantuk beratpun mulai menyerangku. Akupun tertidur pulas…

ooOoo

Bisa dibilang aku mengenalnya lebih lama dibandingkan dengan aku mengenal teman-teman yang lainnya. Tetapi ada sesuatu yang aneh di antara kami. Sejak perkenalan yang pertama, disusul dengan perkenalan yang kedua hingga kini sudah hampir dua tahun bersama dalam satu kelas, aku selalu saja tidak bisa bersikap biasa seperti halnya teman-temanku yang lainnya. Jarang aku bertegur sapa atau ngobrol lama dengannya. Bahkan hingga saat ini aku tidak tahu apakah dia ingat atau tidak kalau kami pernah kenal sebelumnya. Memang sih… aku tahu tidak pantas dua orang non-makhram berinteraksi tanpa ada keperluan yang diperbolehkan oleh syara, apalagi hanya sekadar membicarakan hal-hal yang tidak jelas, terutama denganya. Yang pasti aku tidak pernah bisa untuk bersikap terbuka apa adanya, segan, canggung atau entah apa namanya. Aku berusaha untuk memperlakukan dia sama seperti yang lainnya, tetapi semakin kucoba, semakin besar pula rasa canggung itu menyelimutiku.

Entahlah … akupun tak tahu mengapa ?

 

Maret’96

Detik-detikku meninggalkan sekolah ini sudah diambang pintu. Dari SD hingga kelas dua SMU kemarin cita-citaku masih tetap sama, yaitu ingin menjadi seorang dokter. Tadi pagi aku bersitegang dengan ayahku. Keinginanku untuk menjadi seorang dokter tetap kuat menyelimuti dadaku. Tetapi ayahku menginginkan yang lainnya… Ya Allah tunjukanlah jalan yang terbaik untukku, keluargaku dan juga untuk orang-orang yang aku cintai, kalau memang jalan itu adalah baik untukku maka dekatkanlah, tetapi kalau memang itu membawaku pada kemudharatan maka jauhanlah dariku Ya Allah. Amin…

Masih kudengar kata-kata ayahku pagi tadi,

“Tia, bukan ayah melarangmu untuk menjadi seorang dokter, bukan pula ayah tidak ingin membiayai kuliahmu. Ayah senang jika semua anak-anak ayah berhasil. Kau tahu …dari lima kakakmu, tiga orang menjadi guru, satu orang di Dephut dan satu orang lagi tinggal menunggu wisuda. Ayah senang melihat mereka semua berhasil dan ikut merasakan kebahagiaan seperti yang kalian rasakan. Tetapi satu cita-cita ayah yang belum tercapai, yaitu melihat anak bungsu ayah berhasil seperti yang lainnya. Melihatmu diwisuda, bekerja, kemudian menikah. Tetapi kau pun mungkin tahu berapa tahun pendidikan dokter, berapa lama untuk menjadi seorang dokter, lalu pada umur berapa tahun kau akan menikah? Apakah kau yakin kalau ayahmu bisa menunggumu selama itu? Ingat Win, ayah dan ibumu sudah tua dan entah sampai kapan Allah akan mengijinkan kami untuk tetap menghirup udara segar ini. Di detik-detik menjelang akhir kontrak kehidupan ini, ayah ingin Allah masih mengijinkan kami melihatmu bahagia, melepaskan tanggung jawab sebagai seorang ayah yaitu menyerahkan tanggung jawab kepada suamimu. Tak Inginkah kau melihat ayah ibumu bahagia?”

Aku benar-benar tak tahan lagi. Kuturunkan segala keegoisan yang selama ini menyelimutiku. Kuhapus air mata yang tanpa terasa mengalir di pipiku.

 

September’96

Alhamdulillah aku diterima di sebuah perguruan tinggi kedinasan di Jakarta. Walaupun belum bisa dipastikan, tetapi kalau Allah mengijinkan, empat tahun lagi aku akan menjadi seorang pegawai negeri yang tak perlu susah-susah mencari kerja, apalagi pakai acara sogok-sogokan segala. Aku bahagia di sini, selain karena bidangnya aku sukai, lingkungannya pun kondusif. Semoga dengan lingkungan yang kondusif ini tidak hanya menjadi sebuah idealisme ketika menjadi seorang mahasiswa saja, tetapi dapat dibawa sampai ke dunia kerja, sehingga tidak hanya menjadikan Islam sebagai sebuah akidah tetapi menjadikannya pula sebagai sebuah syariat. Ya Allah semoga pilihanku ini tidak hanya baik di mata manusia yang serba lemah dan terbatas. Tetapi semoga pilihanku ini adalah yang terbaik menurut-Mu. Inilah jalan hidupku, semoga di sini aku dipertemukan dengan orang-orang yang telah lebih dulu mengenal-Mu, Amin …

Semuanya kini telah berubah, teman baru, lingkungan baru dan tempat tinggalpun baru, tetapi semoga diriku tetap menjadi diriku yang dulu, yang bercita-cita menggapai ridla ilahi dengan menjadikan Islam sebagai sebuah solusi. Aku tahu, sebenarnya bukan Islam yang membutuhkan kita tetapi kitalah yang membutuhkan Islam, karena dengan ataupun kita, Islam pasti jaya, tinggal kita pilih mau jadi penonton ataukah pemain? “An light up The World with Islam. Keep on move, semangat…!!” , itulah yang selalu mendorongku.

Bulan pertama di daerah baru ini aku manfaatkan untuk mengenal l lingkunganku yang baru. Aku kaget sekali, ternyata kampusku ini hanya sekitar 1 km dari Fakultas Kedokteran –kampusnya Fran’s-. Kontan saja hal ini mengingtkanku pada cita-cita lamaku, apalagi setelah melihat aktivitas mahasiswinya di asrama kedokteran yang kurang lebih 100 meter dari tempat tinggalku. Berarti kini dialah teman terdekatku dibandingkan dengan teman-temanku satu alumni yang lainnnya. Mudah-mudahan ini bukanlah pertanda buruk bagi kami. Aku berjanji akan tetap menjadi diriku dan dia tetap menjadi dirinya, seperti sebelumnya. Interaksi kami pun tidak akan berubah, tidak akan saling bicara tanpa ada keperluan yang jelas walaupun hanya melalui sebuah telepon, itu adalah janjiku, Kau pasti tahu kenapa?

ooOoo

Banjarmasin, Desember ’02

Untuk Ayah Ibuku Tercinta

di Tempat

 

Assalamualaikum wr. wb.

Ayah, ibu, terima kasih atas bimbingannya selama ini. Terima kasih pula ayah telah mengantarkanku untuk menggenapkan semua kebahagianku. Lihat foto wisudaku ini, ayah dan ibu terlihat gagah di sana. Lihat pula foto pernikahanku, dengan baju pengantin yang ‘terjulur’ itu aku tampak lebih cantik kan?

Alhamdulilah, berkat doa ibu dan ayah sampai saat ini aku masih tetap memegang janji-janjiku yang dulu, sehingga aku tetap menjadi diriku yang dulu, yang memiliki satu sandaran utama yaitu syara, bukan kesenangan ataupun manfaat, walaupun seringkali hawa nafsu itu melintas di benakku.

Kalau dulu yang menjadi teman curhat-ku adalah ayah dan ibu, tetapi sekarang telah berubah. Aku kini bukanlah gadis kecil milik ayah dan ibu lagi. Ada seseorang yang kini menjadi temanku di kala suka dan duka, yang harus aku hormati dan aku taati selama tidak keluar dari kaidah syara. Semoga dengan kehadirannya di sisiku dapat menyatukan kekuatan untuk mengibarkan ‘cahaya Allah’ di muka bumi ini.

Oh iya … ayah…, ini rumah baru kami, walaupun tidak sebesar rumah ayah tetapi ada senyuman di sini yang selalu menghiasinya sehingga akan selalu tampak berseri seperti halnya bunga-bunga yang ibu siram setiap hari sehingga mekar nan indah dan mewangi. Dan ini adalah ruang praktik suamiku. Aku tetap menjadi ibu dokter kan ayah, seperti cita-citaku dulu (he… he… he…)

Doakan semoga aku meraih kebahagianku di sini dan semoga kami tetap dapat istiqamah, selalu…

 

dari Ananda yang slalu merindukanmu

Tia

–TAMAT–

Sumber: Majalah Permata, Edisi 12/Mei 2003