Darah di Ankara

By: Syahid alFatih

 

Ankara, Turki. 12 Mei 1920

Ismat! Aku tahu, bayangan yang berkelebat di hadapanku adalah wajah Ismat sahabatku. Aku mencoba mengejarnya.

Langkahku terhenti oleh mesiu yang meledak di sampingku.

Bum!!!

Reflek aku meloncat ke samping kiri. Ledakkkan itu tidak melukaiku. Walau darah tetap saja mengalir di sikut kiriku, yang terluka oleh duri dari semak-semak hutan ini.

Aku berjongkok dengan kedua kaki berjinjit. Mataku berputar mencari sosok Ismat yang sekilas menampakkan dirinya. Tak ada. Yang kulihat hanyalah pohon-pohon tua dengan hijau pekatnya, juga asap-asap halus dari senapan dan ledakkan mesiu. Seseorang berseragam loreng dan bersenjata memandangku tajam.

“Ayo, Katsim. Pasukan Mustafa Kemal telah dekat. Sebentar lagi Ankara akan kita taklukan!”

Dar! Bum!

Aku berlari jongkok di tengah suara tembakkan dan ledakkan, dengan rasa heran yang berputar di sekitar kepalaku. Mengapa Ismat bergabung dengan pasukan Mustafa si pengkhianat? Di mana ucapan Badsyahin Tajuuk Yasya ditaruhnya? Dulu ucapan itu menjadi pengingat di antara kami. Atau kini ucapan itu telah dilemparkannya?

Temanku menepuk pundakku halus. Seulas senyum mengarah ke mataku yang mungkin terlihat lesu.

“Capek, kawan? Sabarlah, perjuangan kita tidak semata-mata untuk Sultan, tapi untuk Allah.”

Aku memaksakan tersenyum.

Bum!

Ledakkan kembali mengguncang tanah dan menerbangkan debu-debu di depan kami. Untungnya kami masih bisa menghindar, berkat Allah.

ooOoo

Aku mendapati Ismat tergelatak di bawah sebuah pohon. Paha kirinya tertembak. Merah pekat merembesi celananya.

“Ismat!” Aku berlari ke arahnya dengan mata berbinar. Lima tahun tidak berjumpa, tentu membuat kerinduan ini menggumpal-gumpal. Seandainya Ismat tidak dipindah tugaskan ke wilayah Ankara, kami akan selalu bersama di Istanbul.

Aku membantunya bersandar pada pohon. Dengan cepat aku mengeluarkan beberapa obat dan perban yang selalu mengisi ranselku.

Aku mencoba mengeluarkan peluru dari pahanya dengan pisau yang terselip di pinggangku. Ismat meringis. Tapi suaranya tak terdengar, tersaput oleh ledakkan dan rentetan peluru yang kini menghiasi kota Ankara di ujung sana. Para tentara Sultan sedang memerangi Mustafa Kemal yang dengan pongah membentuk struktur negara tandingan di sana.

“Cukup, Katsim!” Ismat berkata dengan keras, bahkan lebih mendekati sebuah bentakkan. Aku menatap matanya. Amarah.

“Aku tak sudi diobati oleh orang-orang yang tunduk terhadap orang-orang Barat!”

Sejenak aku diam, tak percaya dengan ucapannya.

“Hey, kita masih bersahabat, bukan?”

“Persetan dengan persahabatan! Mengapa kalian membiarkan tentara-tentara Inggris itu masuk kota Istanbul dengan semena-mena? Apa karena kalian menganggap mereka sahabat? Huh…!” Mulut Ismat menyunggingkan senyum yang masam.

Aku teringat, sejak dua bulan lalu kafir-kafir Inggris itu dengan lancang telah menodai kesucian kota Istanbul. Seolah ingin menunjukkan kekuatannya, mereka menerobos kota dengan tank-tanknya. Mereka menduduki kantor pos, telegraf, dan instansi-instansi penting pemerintah. Mereka menduduki Istanbul sebagai tindak lanjut Perjanjian Sevres, juga karena dipicu pemberontakan Mustafa Kemal pada pemerintah pusat.

Aku jijik melihat orang-orang kafir itu menginjak tanah kami. Tanah yang diperjuangkan oleh Al-Fatih dengan keringat dan darah yang meruah.

Aku pun jijik, Ismat.

“Tapi membuat struktur negara republik di Ankara bukan solusi, Ismat. Mustafa Kemal adalah seorang nasionalis yang ingin melenyapkah Khilafah. Berdirinya negara republik akan melenyapkan khilafah, termasuk hukum-hukum Allah di dalamnya.” Aku mencoba memandang matanya tajam. Aku tak menyangka pertemuan kembali dua orang sahabat ini akan diwarnai perdebatan.

“Yang kami lakukan adalah untuk memelihara Khalifah dan Kesultanan, dan membebaskannya dari perbudakan Barat.”

“Tidak, Ismat. Kamu jangan percaya kata-kata Mustafa Kemal. Ia pendusta! Segala cara akan ditempuhnya untuk mencapai apa yang ia inginkan!”

“Lalu aku harus mempercaimu? Begitu?”

Aku tak mengerti dengan pertanyaannya. Ismat memalingkan mukanya ke arah lain. Ke langit Ankara yang biru.

“Kemana Katsim yang dulu kuhormati? Kemana Katsim saat aku dipindahkan ke wilayah yang asing bagiku, meninggalkan keluarga, dan semua orang-orang yang kucintai di Istanbul.”

Ismat menelan ludah. Kepedihan menggurat di wajahnya.

“Kemana Katsim yang katanya akan memperjuangkan kepindahanku ke Istanbul kembali. Katsim yang katanya dekat dengan para perwira di Istanbul.”

Aku…. Aku…. Ah, kamu tidak tahu, Ismat. Suhu perpolitikan di sana begitu panas. Perang Dunia telah membuat perwira-perwira itu sibuk. Mereka mana mungkin bisa memikirkan hal sepel…. Ah, kamu pasti marah jika aku katakan urusan kepindahanmu merupakan hal sepele.

“Kamu tahu, Katsim. Di sana aku sengsara…!” Ismat teriak tepat ke arah mukaku. Mataku terpejam. Dalam keadaan marah seperti ini, aku tak berani membantah kata-katanya.

“Dan mengapa kamu tidak memberitahuku saat ibuku meninggal?” Sekali lagi Ismat teriak. Kali ini dibarengi dengan basah di matanya. “Jawab, Katsim! Jawab!”

Aku tidak menjawab. Walau bagaimana pun, aku memang salah. Membiarkan seorang sahabat terlunta-lunta di negeri yang bergolak memang salah. Sementara aku dengan nyaman tinggal di ibu kota.

“Bagiku Mustafa Kemal adalah penyelamat. Di saat negeri ini dikuasai orang-orang Inggris, Mustafa mencoba menyelamatkan negeri dari campur tangan orang-orang Barat dengan cara membuat struktur baru di Ankara.”

“Tapi…”

“Tapi apa…?” Ismat memotong kalimatku. “Kau ingin mengatakan, itu berarti khilafah akan lenyap, begitu kan?”

Aku hanya menatap matanya.

“Huh, kepergian khalifah dan para pewarisnya dari Banu Utsmaniyah lebih baik bagiku. Peradilan agama dan hukum-hukumnya yang bobrok harus diganti dengan hukum-hukum modern, sekolah-sekolah agama harus menyerahkan tempatnya pada sekolah-sekolah negeri sekuler. Kepemimpinan mereka sama sekali tidak membawa kemajuan.”

“Ismat!” Aku membentaknya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain itu. Posisiku benar-benar sangat tidak menguntungkan saat ini. Aku hanya bisa bersedih mendengar pemikirannya yang justru telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran Barat, tentunya hasil didikan Mustafa Kemal.

Dar!

Sebutir peluru menancap di batang pohon, satu meter di atas kepala Ismat yang menyandar.

“Minggir, Katsim. Dia orang Mustafa Kemal. Biarkan aku menembaknya!” Sahabatku, Fathi, sedang mengarahkan moncong senapannya tepat ke dada Ismat. Aku terkejut.

“Tidak, Fathi. Dia sahabatku. Jangan tembak dia!” Aku mencoba menghalanginya.

“Minggir, Katsim. Dia pengkhianat. Apa kau tidak ingat, Seikhul Islam telah memberi fatwa, Mustafa Kemal dan para pengikutnya adalah orang-orang yang sesat. Dan Sultan akan menghukum mati orang-orang tersebut?”

“Jangan, Fathi. Dia sahabatku sejak kecil!”

Fathi masih mengarahkan senjatanya.

Tiba-tiba Ismat mendorongku. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tarboosh. Kemudian memakaikannya di kepala.

“Silahkan! Tembak aku! Demi Republik Turki aku rela mati!”

“Ismat, apa yang kamu katakan? Fathi, turunkan senjatamu!” Aku teriak.

Tapi sebelum senapan itu meletus, terdengar gemuruh dari arah kota Ankara.

“Mundur! Pasukan Mustafa Kemal memukul kita!”

Beberapa tentara Sultan berlarian ke arah kami. Ditemani suara peluru yang menghancurkan pohon-pohon di sekitar.

“Lari, Katsim. Pasukan Mustafa Kemal akan segera mengejar ke sini.” Fathi berteriak ke arahku.

Aku bingung. Apa yang harus kulakukan?

Aku menatap Ismat yang menyunggingkan senyum kemenangannya. Seandainya tidak dipapah oleh beberapa orang sahabatku, mungkin aku akan selamanya di sini. Menemani sahabatku Ismat yang terluka.

ooOoo

Istanbul, Turki. 3 Maret 1924

Aku hanya bisa menggenangkan basah di kelopak mataku saat malam itu Sultan Abdul Majid dipapah oleh beberapa orang militer keluar dari Istana. Dengan menjinjing satu koper, Sultan dipaksa masuk ke sebuah mobil.

Dari harian Hakmit Milla yang aku pegang, aku tahu Majelis Nasional telah menyetujui penghapusan khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Konsekuensinya, Sultan harus dideportasi malam ini juga menuju Swiss.

Aku limbung. Pertahananku telah roboh. Hari ini kusaksikan sesuatu yang begitu dahsyat. Sebuah institusi yang beratus-ratus tahun telah dimuliakan oleh Rasul dan kaum muslimin, jatuh oleh seorang manusia bernama Mustafa Kemal keparat! Institusi yang di dalamnya bernaung semua hukum-hukum Allah. Kini hukum-hukum itu telah terdampar entah kemana. Kemana hudud, kemana qishos, kemana hukum-hukum ekonomi Islam, kemana hukum pendidikan? Kemana hukum itu akan terdampar? Entahlah.

Dan tiba-tiba aku terkejut melihat sosok salah seorang militer yang memapah Sultan. Rasanya sosok itu begitu kukenal.

Kakinya yang sedikit pincang mengingatkanku pada… Ismat! Orang itu benar-benar Ismat.

Beraninya kau minginjakkan kakimu di kota ini, Ismat. Jangan kira aku merindukanmu kini. Aku benar-benar telah membencimu. Kau salah satu bagian yang telah menjadikan Daulah Khilafah Islamiyah ini hancur, selain Mustafa Kemal, Ingris, Perancis, dan Italia.

Dengarlah, Ismat. Takkan kubiarkan khilafah ini terdampar dalam waktu yang lama. Akan kubangun kembali. Dengan segenap kekuatanku. Takkan kubiarkan hukum-hukum Allah mendekam dalam kitab-kitab kuno selamanya. Kamu tidak bisa menghalangiku, Ismat. Saksikanlah!

 

Jatinangor, 7 Februari 2005

Mengenang 81 tahun runtuhnya Khilafah Islamiyah.

Ayo.. Bangkit! Bergerak! Kerahkan semua potensimu, wahai Haml Dakwah!

Laa Tahzan. Innalooha Ma’ana.

syahid_alfatih@yahoo.com

 

Catatan :

Tarboosh                             : peci khas Turki

Badsyahin Tajuuk Yasya: ucapan warga Turki sebagai wujud kecintaan pada Sultan dan Khilafah       

Hakmit Milla                     : Surat Kabar harian yang disponsori oleh Mustafa Kemal untuk melancarkan propagandanya.

Referensi                             : Kaifa Hudimat al-Khilafah, Abdul Qodim Zallum

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 06/Maret 2005