Dari Reruntuhan

By: Haekal Siregar

 

John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.

“Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?” canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.

“Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?” John masih bercanda.

“Entahlah,” jawab Michael pelan.

“Kamu masuk angin?” Jhon dengan mimik serius. Michael menggeleng kaku.

“Jhon, cerita penderitaan dan kehancuran di sini dalam waktu singkat akan memenuhi semua media cetak dunia. Kau yakin kita tidak mendapat berita basi?” John tercenung. Tidak ada stasiun televisi yang akan mau membayar mahal untuk cerita yang akan dimiliki semua orang. Kalau rencana liburan ke Hawaii masih mau dilanjutkan, mereka harus mencari sisi lain. Terlalu sayang pengorbanan mengarungi perairan yang baru terkena tsunami, bila hanya memperoleh sedikit imbalan.

“Apa usulmu?” John membayangkan malam gelap yang mereka lewati di atas perahu nelayan tempohari.

“Kau ingat aturan pertama jurnalis mendapatkan berita?” cetus Michael.

“Kita tidak boleh pasif menunggu berita!” Jhon asal, perutnya mulai berkeruyuk minta isi.

“Tepat sekali! Selain karena tsunami, apa yang membuat daerah ini terkenal?” Michael dengan semangat menohoknya.

“Tariannya?” Otak Jhon agak macet kalau sedang lapar.

“Kita buat saja liputan konser tarian daerah di wilayah bencana. Itu pasti akan menjadi berita yang sangat menarik!” Michael mendengus kesal. Ia paling tidak suka apabila idenya dibuat bercanda.

“Oke, serius! Apa kaitan GAM dengan tsunami?” Jhon semakin tak fokus, karena perutnya mulai menjerit.

“Ingatkan aku mengganti kameramenku setelah mencapai peradaban! Sepertinya otakmu jauh menurun sejak pertama kali datang ke tempat ini,” Michael memasang wajah kecewa. John memukul tangan Michael dengan keras, walaupun sambil tersenyum.

“Kita meliput suasana tegang GAM dengan TNI setelah bencana?” Pemandangan yang ia lihat lumayan mengurangi nafsu makannya. Mayat seorang ibu yang sedang memeluk anaknya, berusaha melindungi sampai saat terakhir. “Tepatnya, kita buat ketegangan GAM dengan TNI setelah bencana. Kita satu-satunya yang berhasil meliputnya, lengkap!”

“Oke, tiga-dua kali ini. Kau hampir menyusul kepiawaianku, Nak,” John seketika tersenyum, duduk di sebuah bangku yang dihanyutkan banjir.

“Tiga-dua mimpimu! Aku jelas sudah lebih piawai daripada siapa pun, sejak dulu!” sentak Michael sombong.

“Yang di Irak, itu kan ideku!” mereka terus bertengkar sambil bercanda di atas sebuah rumah besar yang hampir roboh. Dan mayat-mayat tersangkut di jendela lantai bawahnya.

“Ngomong-ngomong, kita malam ini tidur di sini?” keluh John memandang enggan ke arah mayat-mayat.

“Yah, kamu sudah siapkan maskernya kan?”

John melongo sebentar. “Oh iya, masker! Di mana?” Kali ini Michael menonjok tangan John dengan sungguh-sungguh.

ooOoo

Irak, Somalia, Filipina, hanyalah sebagian kecil dari petualangan mereka. Dua nama yang mulai melegenda di kalangan jurnalis internasional. Bagaimana mereka merekayasa situasi, membuat konflik yang direkam dan jual dengan harga yang sangat tinggi. Tidak ada yang mengetahui nama asli John dan Michael. Mereka bekerja lebih mirip mafia daripada jurnalis. Koneksi dan jaringan yang luas di kalangan preman, pengedar obat bius, tentara berbagai negara, membuat mereka mudah mengatur rekayasa. Mulai dari demonstrasi mahasiswa dan para buruh yang berkembang menjadi kerusuhan, kebakaran pasar, hingga pemberontakan dan kudeta di suatu negara.

Kini mereka berdiri di depan sebuah benteng, lebih mirip perkampungan yang dikelilingi pagar bambu.

“Kau yakin ini tempatnya?” Michael ragu. Tas yang disandangnya mulai terasa berat.

“Kenapa? Memang mirip benteng!”

“Terlalu mirip, terlalu mencolok! Hebat sekali kalau belum pernah digerebek,” Michael sinis.

“Entahlah, tapi begitulah menurut si Rizki. Sekarang di mana lagi bajingan itu? Katanya ia mau menemui kita,” umpat John. Mereka menunggu hampir setengah jam. Seorang lelaki kerempeng, berwajah licin muncul bersama lelaki yang berpakaian mirip tentara dan berwajah berwibawa.

“Ini orang yang saya ceritakan, Teuku. Mereka bilang ingin meliput para pengungsi yang datang ke perkampungan ini.”

Lelaki berwibawa memandang John dan Michael secara seksama sebelum berkata tegas kepada temannya, “Kamu tidak bilang mereka orang asing! Bagaimana kalau mereka mata-mata?”

John mengulurkan tangan sambil menyerahkan kartu pers. “John dan Michael, kami memang wartawan. Kantor kami tertulis di kartu ini. Silakan hubungi mereka kalau Anda tidak percaya.”

“Kalian bisa berbahasa Indonesia! Kenapa kalian ngotot bicara bahasa Inggris kemarin?” tuntut lelaki berwajah licin bernama Rizki itu.

“Kami sempat tinggal di Bali hampir setengah tahun,” jawab Michael sambil teringat pengalaman pahit mereka, melacak jejak pemboman Bali.

“Mengenai kemarin, kamu sendiri yang pertama-tama sok jago bisa bahasa Inggris?” John tersenyum geli.

Lelaki berwibawa hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Ia meneliti kartu pers yang diberikan John, seakan berharap menemukan tanda-tanda pemalsuan.

“Baik, saya Sayed pimpinan di sini. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya harap Anda tidak mengambil gambar apapun di sini,” kata Sayed sambil berjalan terlebih dahulu memasuki perkampungan.

ooOoo

“Seharian menunggu apa hasilnya?!” teriak Michael. John hanya terdiam. Ia sama kecewanya dengan Michael. Sayed merasa memanfaatkan momentum bencana untuk menyerang pemerintah. Sangat tidak berperikemanusiaan. Mereka bahkan dipersilakan untuk meninggalkan perkampungan.

“Aku juga tidak mengerti dengan mereka. Jelas-jelas ini kesempatan yang sangat bagus. Daerah tanpa pemerintahan dengan akses militer asing yang terbuka, bodoh!”

“Satu berita tercoret dari daftar. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akhirnya terpaksa meliput segala tetek-bengek penderitaan after disaster?” Michael memandang John menuntut jawaban.

“Tunggu, biarkan aku berpikir dulu,” gumam John menunduk, gayanya bila mencari ide. Michael menunggu sambil berharap. Ia sudah kehabisan akal mencari bahan liputan yang bisa dijual mahal.

“Ingat awal karir kita? Merekam film dokumenter kehidupan suku terasing di Papua,” cetus Jhon tiba-tiba.

“Ya, lantas?”

“Kita bisa memakai taktik dulu. Membayar orang untuk menimbulkan masalah, memicu peperangan, kemudian mendokumentasikannya,” John tersenyum, merasa perjalanan mereka tidak sia-sia.

Wajah Michael berbinar mendengar usul John. Kini mereka tinggal menemukan sekelompok orang yang mau melakukan apapun untuk uang. Dan di daerah korban bencana? Itu adalah hal paling mudah untuk dilakukan!

ooOoo

“Ssst… Siap John?” bisik Michael kepada John yang sedang duduk di atas sebuah pohon, agak jauh dari jalan raya. Jhon mengangguk sumringah.

Rencananya akan ada pencegatan bantuan pangan oleh sekelompok orang yang mengaku GAM. Tindakan itu pasti akan memicu reaksi dari pemerintah. Kelak akan banyak pertempuran yang dapat direkam. Bahkan si pengecut Sayed itupun tidak akan dapat menghentikan bergulirnya bola api!

Iring-iringan truk pengangkut barang mulai terlihat. Dikawal jeep berisikan beberapa anggota TNI. Michael memberi isyarat pada beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Tak berapa lama kemudian terdengar letusan ban. Jebakan yang mereka pasang pasti mengenai sasaran. Iring-iringan itu berhenti, terhalang mobil jeep TNI yang kini bergeming.

Orang-orang suruhan itu berlompatan dari balik pepohonan sambil menodongkan senjata. Beberapa orang terlihat langsung melompat ke dalam truk terdepan, menodongkan senjata tepat di leher pengemudi. Setelah beberapa patah kata yang menunjukkan ‘identitas’ mereka sebagai anggota GAM, para ‘perampok’ itu mengeluarkan semua pengemudi, membawa lari empat truk yang penuh dengan makanan dan pakaian.

“Militer tak mengira ada serangan di kawasan parah itu!” Jhon tergelak penuh kemenangan.

 ooOoo

Hampir tengah malam, mereka, kedua lelaki itu berjalan gontai, setengah mabuk, di tengah reruntuhan sebuah perkampungan dekat Meulaboh. John membawa kameranya. Walaupun hanya bisa dijual murah. “Tak bakal sakit mengumpulkan receh,” menurut pepatah John.

Mereka dikejutkan oleh suara isakan dari tengah reruntuhan. Tidak seperti orang Indonesia yang cenderung berpikir horor, mereka malah penasaran mencari arah suara aneh. John mulai mempersiapkan kameranya untuk men-shoot kejadian apapun.

“John, di sana!” bisik Michael sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil yang terisak di reruntuhan. Anak kecil itu menutup matanya dengan sebelah tangan yang berlumuran darah kering, ketika senter Michael mengarah padanya.

“Apa yang sedang ia tangisi?” John sambil mulai merekam, sementara Michael mengedarkan senter mencari penyebab tangis anak tersebut.

“Ada tangan menyembul keluar!” seru Michael menyorotkan senternya ke sebuah tangan. “Mungkin itu mayat ibunya, Jhon!”

Senyuman John mulai merekah. Kejadian apa yang lebih mengiris hati daripada pemandangan seorang anak menangisi mayat ibunya yang tertimpa reruntuhan di tengah malam? Kejadian tragis bernilai mahal!

John merekam pemandangan itu dari berbagai sudut. Saat itulah, tanpa John sadari, pandangan Michael mulai berkaca-kaca. Ia mendekati reruntuhan.

“Michael, mau apa kamu? Nanti saja kita panggil bantuan!”

Tanpa menggubrisnya Michael mulai mengangkat balok yang menimpa ibu si anak.

“Ugh, mayat ini pasti sudah membusuk lebih dari seminggu,” John mencium bau menyengat.

Masih tanpa berkata-kata, Michael mulai melakukan hal yang terlihat mustahil bagi John! Ia mengangkat mayat itu!

“He, apa yang kau lakukan? Nanti kamu terkena cairan busuk mayat!”

Michael tak menyahut, memanggul mayat itu diikuti si anak menuju posko bantuan. Meninggalkan John yang masih keheranan dengan kelakuannya.

Sebulan sejak kejadian malam itu, tangan kanan Michael diamputasi terkena infeksi berasal dari cairan busuk mayat yang digotongnya. Sebelumnya memang sudah ada luka menganga di bahu Michael. Pertolongan pertama yang diberikan di posko bantuan jelas sangat tidak memadai.

“Aku bahagia sudah melakukannya,” jawab Michael pendek.

Infeksi yang terus menjalar itu melemahkan paru-parunya, sehingga berbicara merupakan siksaan tersendiri baginya. Di luar tim medis internasional menunggu bersama sebuah helikopter. Mereka akan memindahkan Michael ke rumah sakit di Singapura. John masih tidak mengerti waktu tim medis mulai menggotong Michael ke helikopter. Ketika membereskan barang-barang Michael, John menemukan sebuah buku kecil.

 ooOoo

“Aku masih belum bisa mengerti jalan pikiranmu!” gerutu John di hadapan sebuah makam, sepulangnya dari Hawaii. Nama Imam Ahmadi tertera di sana, nama Michael setelah ia mengucap ikrar syahadat di tengah sakit yang menyerangnya.

John berdiri di tengah hujan. Di tangan kanannya ada catatan harian Michael. Catatan yang menceritakan renungan-renungan Michael akan semua tindakannya, tujuan hidupnya, dan penyesalannya. Catatan yang menceritakan gejolak batin Michael selama menjadi jurnalis yang menghalalkan segala cara untuk mendapat berita. Catatan yang membuat John termenung hebat.[]

 

Tentang Penulis:

Haekal Siregar; lahir di Jakarta, 17 Nopember 1981. Mahasiswa Ilkom IPB ini putra sulung pasangan penulis H.E. Yasin Siregar dan Pipiet Senja. Haekal menulis buku dari sebuah memoar tentang pernikahan dininya; Nikah Dini Kereeen! 1 & 2 (Zikrul Hakim).

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 15/Januari 2006