Di Batas Cakrawala

By: Fikoceni

 

Matahari semakin terasa kering sinarnya saat menembus kulitku. Tapi kakiku semakin mantap saja melangkahkan tapak-tapaknya tanpa mau berhenti. Aku tidak tahu lagi. Pikiranku sudah kacau. Hanya serbuk-serbuk putih itu yang bisa membawaku ke surga. Aku tidak tahu, apa pilihanku kali ini tepat atau tidak. Aku hanya ingin melarikan diri dan melepaskan semua beban.

Aku kabur lagi. Hanya kutemukan uang sepuluh ribu di lemari Mak Unah, pembokat yang sudah puluhan tahun ikut keluargaku. Akhir-akhir ini sejak aku pulang dari rehab, kamar orangtua dan kedua kakakku selalu dikunci. Huh, bagaimana bisa aku mendapatkan uang? Uang tabunganku sudah habis, handphone sudah raib terjual, motorku, ah, Tiger abu-abu metalikku juga sudah tidak di tanganku lagi.

Tapi Tuhan ternyata masih terus mengujiku. Aku masih diberi kemudahan menempuh lagi jalan maksiat ini. Aku menemukan sebuah benda berharga. Handphone Ale, kakak tertuaku. Aku taksir harganya sekitar dua jutaan. Semoga saja Jenglot mau menerima transaksiku kali ini.

Kakiku masih terus melangkah. Aku tidak menyetop angkutan umum. Uang tunai yang kupunya hanya sepuluh ribu ini. Rumah Jenglot sekitar satu setengah kilo dari rumahku. Lumayan memang kalau ditempuh dengan jalan kaki. Tapi tidak apalah. Aku rela kalau bisa ditebus dengan kenikmatan yang lebih dari itu. Lagipula aku ingin menikmati suasana luar. Sudah lama aku terkurung di rumah.

Apa yang orangtuaku lakukan kalau aku ketahuan kabur lagi, atau mungkin sedang sakau? Ah, paling-paling mereka cuma bisa membawaku keluar-masuk rehab. Tanpa dijenguk. Mereka malu anak bungsu mereka mencemarkan nama baik mereka. Aku sudah pernah melakukannya. Setahun yang lalu kena gerebek polisi ketika nyabu di kos-kosan Resi. Kita masuk tivi man! Gila! Nyokap langsung pingsan waktu aku menelponnya dari kantor Polresta Surabaya. Mudah sekali aku keluar dari sana. Tapi aku langsung diasingkan ke rehab. Seperti neraka! Begitu kejamnya senior-senior itu menjauhkan kami dari barang haram dan trauma yang menjangkiti kami. Setengah tahun lebih aku disana setelah menjalani proses detoksifikasi dan pemulihan mental.

Keluar dari situ aku kembali dipenjara di rumahku sendiri. Dua bulan aku menjalaninya. Tidak kuliah, tidak bertemu orang, kemana-mana diantar dan diawasi. Telpon dikunci. Lalu semua ini berakhir tadi pagi waktu Ale meninggalkan handphone-nya di ruang makan. Dia terburu-buru mau ujian skripsi. Hans, kakakku yang kedua pun buru-buru karena harus mengantarnya. Tidak ada yang pamit padaku, atau memintaku untuk menemani mereka. Nyokap dan bokap sudah ke kantor lebih dulu sejak jam tujuh. Rumah sepi, Mak Unah kuminta untuk membelikanku nasi padang di simpang jalan yang agak jauh dari rumahku. Aku keluar setelah merasa aman. Melompat pagar samping dan mengambil jalan memutar menuju rumah Jenglot. Kutelpon dia dengan handphone Ale, dan memesan beberapa gram sabu-sabu.

Oh Mam, Pap, sori kalau aku harus ngelakuin ini lagi. Kalau pun aku nanti sampai overdosis lagi seperti dulu biarkan aku mati sekalian. Mati dengan membayangkan surga, ah…

Aku tersenyum-senyum sendiri. Hampir saja aku menabrak seorang bapak yang berjalan berlawanan arah denganku. Usianya sekitar kepala lima, berbaju kumal dengan lobang-lobang di baju dan celananya. Ia mengenakan caping usang. Aku baru sadar kalau dia pengemis.

“Sori, Pak, eh maaf, “ aku masih cengar-cengir. Dia cuma melotot ke arahku.

Pengemis itu melewatiku. Aku masih menoleh ke belakang memperhatikannya.

“Assalamu’alaikum…Toni ya?”

Jantungku hampir copot ketika tiba-tiba saja ada seorang gadis dari arah depan menyapaku. Anggun, eh, sepertinya seumuranku.

“Wa’alaikum salam…eh…siapa?” mataku menatap lekat-lekat cewek yang berjarak satu meter di depanku. Aku merasa mengenalnya namun entah, susah sekali mengajak otakku mengingat. Wajah itu… seakan begitu akrab di ingatanku. Tapi aku sama sekali tidak bisa menebak kapan aku pernah bertemu dengannya. Gadis itu merunduk, mengalihkan pandangannya ke arah lain serta mundur beberapa langkah. Kulihat pakaiannya tidak umum dipakai para gadis di kota ini. Aku hanya menemukan gadis-gadis berkerudung lebar dan berbaju terusan longgar sepertinya di kampus-kampus. Di kampus swasta tempatku kuliah di Surabaya dulu juga ada, meski mereka termasuk minoritas. Penampilannya yang anggun, membuatku semakin terpukau olehnya. Gadis ini mengenalku? Ah, tidak mungkin.

Ah, tapi tidak…diakan? Ah, tidak mungkin!

“Fika, kita satu kelas di IPS, “

“Fika… Oh, God, gila man! Apa yang merubahmu sedahsyat ini?”

“Kuliah di mana? IAIN? Nggak salah nih? Surabaya juga kan?” sel-sel kelabu dalam otakku seakan meletup-letup mengalirkan derasnya memori yang mengendap lama. Aku ulurkan tanganku bermaksud menjabat tangannya tapi dia menolaknya. Dia membalas dengan dua telapak tangan di tangkupkan ke dada. Dia bahkan mundur selangkah menjaga jarak denganku.

Arah matanya mengawasi jalan, seakan menunggu sesuatu.

“Aku tetep kuliah di tempat yang dulu kok. Nggak pindah ke IAIN. Ini baru pulang dari Surabaya, “ matanya masih menatap jalan. Tangannya melambai menyetop angkutan yang akan lewat. “ Aku duluan yah Ton, “. Mobil Angkutan yang dia setop mengurangi kecepatan sampai berhenti.

“Eh, tunggu! Fik, kamu…ah, nggak nyangka aja. Beda banget.”

Dia tersenyum tapi masih merundukkan kepalanya.

“Hanya orang bodoh yang tidak mau mengubah jalan hidupnya. Hidup hanya sekali Ton, setelah itu mati. Yuk, duluan. Assalamu’alaikum.”

Ah, cepat sekali rentetan kejadian ini berlangsung. Aku seakan terpukau oleh semuanya. Tidak ada lima menit. Ah, cepat sekali! Padahal aku kan…

Dia segera masuk ke dalam angkutan kota berwarna kuning. Aku memperhatikannya, setiap langkahnya, dan, sampai berlalunya mobil angkutan itu hingga menghilang di tikungan jalan.

Fika! Bagaimana aku bisa lupa gadis itu. Empat tahun yang lalu kita pernah sekelas di kelas 3 IPS. Gadis angkuh yang kurang suka geng anak-anak borju di kelasku. Dia pernah mengatakan orang-orang sepertiku ini seperti benalu yang melekat di balik nama besar orangtua. Menyedihkan memang, dan lebih menyedihkan lagi, aku menyukainya sejak kelas dua SMA.

Aku melihatnya pertama kali ketika dia sedang melakukan wall climbing di sekolah. Minggu pagi itu, ekstrakulikuler band yang kuikuti tidak jadi latihan karena kunci studio dibawa seniorku yang sedang ke luar kota. Akhirnya kita nonton anak-anak PA yang sedang berlatih wall climbing.

Fika, gerakannya seperti cicak yang begitu nempel di tembok dengan gesit dia melewati poin-poin itu. Gila! Dia sampai ke poin yang tertinggi. Aku terus memperhatikannya sampai dia turun, melepas tali dari karabiner, figure X dan harness-nya.

Aku melihatnya lagi ketika dia diumumkan sebagi juara ketiga putri di wall climbing competition saat upacara. Dan merupakan sebuah anugerah kalau kami bisa satu kelas di kelas tiga. Fika yang cuek, dan teman-teman cowoknya di PA yang bejibun, membuatku seakan tidak bisa menyentuhnya. Dia dan temen-temennya yang seakan tidak mengenal dunia fasyen, dandan seadanya, pokoknya cuek soal penampilan, dan begitu vokalnya dia di kelas. Sehingga tampak begitu memukau di depan mataku.

Fika…Fika… detak jantungku semakin keras. Aku merasa ada sesak yang menyeruak dadaku. Seakan meletup-letup dan menyalahkan kebodohanku karena tidak segera mengejarnya. Entah, aku tidak tahu, apakah perasaanku yang dulu atau rasa rinduku padanya.

Tapi, sejak kapan dia bisa selembut itu? Sejak kapan dia jadi begitu pemalu? Tanpa kusadari, karena terus memikirkan Fika aku sudah terduduk di trotoar. Entahlah, apa yang sudah terjadi pada Fika seakan sebuah kejadian ajaib yang muncul di depan mataku. Aku melupakan sejenak tujuan awalku untuk menemui Jenglot.

God, it’s wonderful. How come she changes much? Bukankah terakhir kali kubaca di koran dia menang sejawa-Bali dalam kompetisi yang sama, bukankah itu dua tahun yang lalu? Fika kuliah di Antropologi di salah satu kampus negeri di Surabaya. Terakhir aku bertemu dengannya ketika mengantar Novi—pacarku, yang saat itu sedang mengikuti tes masuk ekstensi.

Ada rasa sesal aku bertemu dengannya sementara di sampingku ada Novi. Tepat sekali perkiraannya tentangku. Katanya, mudah sekali bagiku mencari sepuluh cewek yang mau jadi pacarku. Kalimat itu dia ucapkan saat dia menolak cintaku sehari setelah ujian akhir. Memang benar katanya. Bagiku, Novi terlalu sayang untuk dilewatkan. Meski aku tahu dia hanya cewek matre, tapi dia cantik, cukup layak untuk dibanggakan meski kita cuma jalan dua bulan. Beda dengan Fika. Dia memang tidak secantik gadis-gadis lain tapi sesuatu dari dalam dirinyalah yang membuatku tertarik.

Aku masih tidak mengerti akan perubahannya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan dunia alam bebasnya? Karena setahuku tidak ada cewek berpakaian sepertinya yang mengganti pakaiannya dengan celana panjang, memasang harnernes, tali, karabiner, dan figure X untuk memanjat dinding.

Aku tercenung. Kemudian teringat akan Jenglot. Ups! Lima ratus meter lagi rumahnya dari sini. Tapi aku masih tak mau beranjak dari trotoar tempatku duduk. Tak terasa hari pun kian sore. Anganku telah terbang ke mana-mana. Mungkin sudah dua jam lebih aku melewatkan waktu yang sudah kutetapkan dengan Jenglot. Aku teringat ucapan Fika, Hanya orang bodoh yang tidak mau mengubah jalan hidupnya. Hidup hanya sekali Ton, setelah itu mati.

Aku jadi merinding mengingat keinginanku untuk mengakhiri hidupku sebelumnya. Apa aku termasuk orang yang bodoh Fik, apa aku pantas mati?

Kalimat Fika seakan terngiang-ngiang mengahalangiku untuk bangkit dan memenuhi janjiku pada Jenglot. Di tengah kebingunganku kudengar suara adzan ashar. Aku baru sadar kalau di belakangku tepat ada mushala kecil. God, apa ini suratanMu? Apa aku harus kembali menempuh jalan sesat ini atau jalan yang Kau ridhoi? God, I am tired.

Aku bangkit. Tidak pantas rasanya dilihat orang terlalu lama di sini. Dikira orang gila. Tapi kepalaku pusing sekali. Perutku terasa sangat lapar. Baru kusadari kalau aku tidak makan sejak pagi. Tubuhku lemas. Sayup-sayup kudengar suara tahlil di akhir kalimat adzan. Mataku berkunang-kunang sebentar sebelum aku merasa segalanya menjadi gelap. Tuhan… semua ini kehendakMu. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Yang kurasa hanya sinar matahari tak lagi seterik tadi.[]

 

—-

Fikoceni lahir di Gresik 26 Januari 1983 alumni Sastra Inggris UNESA (Universitas Negeri Surabaya)

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 18/April 2006