Grunge

By: Iwan

 

Suara musik berdentum dari dalam kamar. Avril Lavigne sedang tarik vokal dari CD player merk Sony. Sebelumnya SUM 41 keluar dengan hingar bingar. Mungkin sekarang lagi istirahat minum kopi susu (warteeeg kali). Sementara itu sang pemilik kamar, seorang anak laki-laki kurus, yang sedang duduk didepan salon lumayan gede asyik berhead banging mengikuti hentakan Sk8er Boy-nya si cewek bengal asal Kanada. Padahal tahu sendirikan leher dijamin sakit kalau habis head banging. Eh, tahu kan head banging? Itu tuh gerakan muter-muterin kepala. Wah itu kamar mirip konser alternatif nation ala MTV. Bayangin, dari pagi buta sampai jam sembilan siang gak brenti-brenti. Mending lagunya variasi. Ya kalau diijinin Inul Daratista boleh dong lewat sebentar. Tapi karena ini anak grunge mania maka yang diputer only temen-temennya Avril Lavigne. Paling lumayan kalem ya anak-anak Bandung macam Koil dan Pas.

Orang lain yang serumah cuma bisa geleng-geleng kepala (bukannya ikut head banging lho!), tapi geleng-geleng kepala kesal, kheki, dongkol dan bosen. Mana tahan denger musik begitu seharian. Apalagi disetel dengan volume menyaingi geledek. Kepala mau pecah. Mami, ibu itu anak, sudah mencak-mencak. But, mana kedenger sama anaknya. Bahkan tereakan “Yur!” tukang sayur kalah frekuensi dan amplitudonya. Padahal tereakan beliau nggak kalah kencang lho dibanding sama gonggongan anjing kalau buntutnya diinjek. Dampaknya bisa ditebak, Inah sang PR alias pembantu rumah tangga nggak denger dan nggak jadi belanja. Wah, kacau balau jadinya kehidupan rumah itu hari ini.

Sohibul kamar itu memang anak yang asyik abis. Baru kelas dua SMU dan nge-junkies. Maklum, tuntutan pergaulan. Kalo nggak gitu nggak nyetel ama temen-temen, man! Sebetulnya anak ini lumayan manis apalagi kalo tenggelam di kuah cendol atawa es doger. But, karena junkies display-nya jadi jorse alias jorok sekaleee. Kamarnya aja nggak bisa dibedakan ama Paddy’s Café yang katanya diledakkan Imam Samudera. Ancur, cur, cur, cur.

Anak itu namanya Freddie K. Lengkapnya Freddie Kusuma. Tapi akronim K disitu udah diproklamirkan oleh Freddie sebagai singkatan dari Korn saking ngebetnya sama grup nu-metal itu. Orangnya juga cute. Kalau jadi ‘pagar bagus’ di hajatan dijamin nggak mengecewakan. Bukan karena ganteng-ganteng amat, tapi karena ngemilnya jarang makanya makanan prasmanan lumayang awet. Udah gitu paling bisa ngerayu tamu yang datang supaya ngasih angpaw-nya makin gede (mana bisaaa!).

Kalau soal ganteng ya, seenggaknya Freddie kembaran ama Nicholas Saputra-lah, kalau diliat malam-malam pake kacatama riben pas mati lampu. Minimal ganteng kata Mbahnya yang udah lupa nama-nama cucunya. Tapi seperti yang udah saya bilang ke kamu-kamu, udah beberapa minggu ini Freddie jadi sumber “malapetaka” di rumah itu. Tepatnya buat maminya yang bidan itu. Nggak lain karena Freddie ngebet berat ama yang namanya musik alternatif atawa grunge. Bayangin, tiap pagi di kamar atas selalu aja ada pagelaran musik keras. Maminya udah protes tapi nggak ditanggepin, “Freddie, kalau kamu tiap hari nyetel musik keras-keras kayak begitu bisa-bisa ibu hamil yang datang ke sini langsung pada ngelahirin!”

Itu semua dimulai setelah Freddie masuk SMU dan berkawan dengan anak-anak underground. Ada Rudi yang ikutan kakaknya ngeband dari satu sunatan ke sunatan lain. Kakaknya megang gitar kalo Rudi sih pegang drum portabel alias rebana (hi…hi..hi…). Ada juga yang cewek namanya Susi. Biarpun cewek tapi jangan lihat sepatunya (idih, apa hubungannya?). Si Susi ini ngebet berat ama kelompok Disturbed yang beken lewat lagu Forsaken en Prayer. Ada lagi Joko si anak Jawa yang ngefans kenceng ama grup alternatif asal Rusia SOAD, System Of A Down. Cita-cita mulia Joko adalah membawakan lagu Toxicity dengan iringan gamelan Jawa di pesta perpisahan sekolah. Gitulah ceritanya Freddie ketularan wabah grunge yang akhirnya menjadi epidemi buat para penghuni rumah. Buat adik kembarnya yang laki-laki yang baru SD kelas dua, dan juga buat Inah pelayan rumah.

Lho, Papinya gak ikutan ribut? Mana sempaaaat. Sebagai pialang saham papinya kelewat sibuk. Berangkat subuh pulang menjelang subuh jadi gak sempat beliau mendengar raungan Pearl Jam cs. So still no problem for him. Kalau mami mengadukan kelakuan Freddie komentarnya,      “Ya itu kan tugas Mami. Arahkan dan kendalikan Freddie supaya nurut sama Mami. Tugas Papi kan cari uang,” ih, cool amat sih Papi ! Mami ngedumel. Arahkan, kendalikan delman kaliii.

Walhasil seisi rumah tunduk pada tingkah polah Freddie. Mami sebagai “polisi” rumah angkat tangan, tak berdaya, persis PBB yang keok di ujung jempol veto Amerika.

 

ooOoo

 Siang ini panasnya bukan main. Anak-anak kelas satu SMU Melati (iih, namanya kok kenes banget ya. Kaya nama TK aja) yang kebagian jatah masuk siang berkeluh kesah. Keringat sebesar-besar beras meluncur gak ketahan. Belum lagi rasa haus dan ngantuk. Dan kalau sudah masuk pelajaran fisika or matematika itu kelas sudah berubah fungsi menjadi kamar tidur yang besar. Kebanyakan anak-anak langsung teler, sebagian melototi buku pelajaran dengan pandangan kosong. Suntuk. Memang bagi sebagian siswa, sekolah siang hari merupakan bencana yang kedua. Yang pertama? Apalagi kalau bukan sekolah pagi.

Freddie juga merasakan hal yang serupa. Dia membayangkan nikmatnya tiduran di sofa, minum coke dingin sambil ngedengerin Come As Your Are dari Nirvana. Tapi itu cuma khayalannya. Sekarang dia berada dikelas yang sumpek bersama tiga puluh delapan teman senasib. Di depan kelas yang berdiri adalah Pak Sitanggang, guru matematik yang aduhai inggi insting “membunuhnya”. Maka ia pun mesti muter otak mencari cara supaya jangan kelihatan ngantuk. Kalau tidak, alamat kapur tulis melayang ke jidat. Freddie mulai melihat ke sekeliling kelas, mengalihkan rasa ngantuknya. Nah lho, Susi antingnya nambah dua pasang. Total jadi dua belas biji di kiri plus kanan! Bobby mulai terlihat TKO. Matanya merah, pandangannya sayu, sebentar-sebentar kepalanya naik turun mirip timbangan bayi di Posyandu. Itu anak emang hobi banget tidur. Angga, Dudung, Pipin semuanya kelihatan gak semangat. Hampir semua murid ia lihat serupa. Resah. Padahal ini jam pertama.

Eh, ngomong-ngomong mana tuh Rudi. Pantesan ini kelas suntuk. Nggak ada tukang celetuknya. Freddie baru sadar kalau Rudi nggak ada dikelas. Sebelum masuk dia gak sempet nyari. Telat dia datang. Pas dia sampai gerbang sekolah bel masuk bunyi. Ini gara-gara Metro mini yang dia tumpangi nyaris dibakar massa akibat jalannya ugal-ugalan lalu nyerempet motor. Ugh, nge-grunge juga tuh sopir. Untung Freddie sempet menghambur keluar bersama belasan penumpang lain. Tapi terpaksa ia nunggu Metro mini yang lain. Lama, penuh-penuh lagi. Tapi dimana makhluk yang bernama Rudi berada?

Pak Sitanggang mulai bersuara setelah sebelumnya bersusah payah memasang alat peraga. “Anak-anak perhatikan ke depan, ini adalah bentuk bangunan yang telah kita pelajari minggu lalu. Pasti kalian masih ingat bagaimana cara menghitung panjang rusuk yang ada di dalam ini,” kata Pak Sitanggang berhusnudzan pada murid-muridnya.

Di-husnudzani begitu anak-anak malah kelimpungan bongkar-bongkar catatan mereka. Kalau sudah begini pasti tanda-tanda diminta jadi sukarelawan berani malu. Maju ke depan kelas, baca soal, lalu terbengong-bengong mencari jawaban. Hasilnya adalah satu jam pelajaran berdiri dengan tegang menghadap papan tulis sementara yang lainnya mempelajari materi baru.

Jantung anak-anak berdegup lebih kencang. Rasa ngantuk hilang seketika. Tinggal harap-harap cemas agar terlepas dari ‘tembakan’ mematikan. Freddie juga begitu. Ia coba mengaduk-ngaduk memori otaknya, mencari file rumus bangun tersebut. Tapi yang didapat malah syair lagu Smell Like Teen Spirit-nya Nirvana. Ia berkonsentrasi lagi tapi yang keluar malah lirik lagu Clint Eastwood-nya Gorillaz. Freddie makin gelisah apalagi mata Pak Sitanggang melirik ke deretan bangkunya. Sekarang pas ke hadapan mukanya yang ia yakin tengah pucat. Mulut Pak Sitanggang terbuka untuk menyebutkan nama. Bencana sudah! Freddie mengeluh dalam hati. Tapi….

“Tok, tok, tok,” Suara pintu kelas diketok dari luar.    Pak Sitanggang sekarang mengalihkan pandangannya ke pintu masuk. Fiuh, Freddie menarik nafas panjang. Saved by knocking on the class’s door.

Gludug, gludug. Sesosok makhluk nongol dari pintu. Rudi! Tapi ya ampun rambutnya. Ungu ! Kontan anak-anak satu kelas menahan napas. Kaget. Pak Sitanggang? Jangan ditanya. Matanya melotot mirip ikan mas koki. Lalu?

“Apa-apaan kamu. Rudi, apakah kamu habis jadi badut di pesta ulang tahun? Atau kamu tidak tahu dilarang mencat rambut di sekolah?” suara Pak Sitanggang tinggi dan menggelegar. Untung bangunan sekolah tidak sampai bergoyang. Anak-anak yang lain mengkeret mendengarnya. Sebagian anak perempuan memalingkan muka. Nggak tega dan takut. Freddie pun sama takutnya dengan yang lain. Nekatz! Kata Freddie dalam hati.

Rudi sendiri terdiam bagai patung. Tapi untung upper cut Pak Sitanggang tidak keluar, ia hanya menyeret Rudi keluar sambil menjiwir telinga kanannya.

Usai Pak Sitanggang keluar kelas anak-anak ribut membicarakan kejadian tadi.

“ Gila, nek. Berani amat si Rudi. Apa dia udah punya sebelas nyawa?” Anto, sang ketua kelas bersuara.

“Udah bosen sekolah kali,” yang lain menimpali.

“Tapi bagus juga rambutnya. Lumayan nge-grunge, lho.”

“Eh nggak ding. Mirip arum manis.”

Kelas kian berisik gengan celotehan anak-anak. Sebagian ngomongin nasib Rudi, sebagian yang lain bersyukur bisa bebas pelajaran matematika.

 ooOoo

“Rud, kok lu nekat sih ?” tanya Freddie sambil mengusap-ngusap gelas yang dingin karena diisi es kelapa muda. Sore itu bubar sekolah Freddie, Rudi, Susi, Joko anak Tegal, dan Tole kumpul-kumpul di warung es depan sekolah.

“Iya, lagian bikin rusak rambut aja “ Tole, anak shaleh, menimpali. Rudi diam sambil mengusap-ngusap rambutnya yang keras karena dicat.

“Gini, teman-teman. Sekarang ini kita perlu keberanian. Keberanian untuk menghadapi perubahan masyarakat. Diantaranya selera rambut. Kan sah-sah aja kita ngecat rambut. Mau putih, item, merah, pirang itu kan urusan selera. Iya gak ?” Rudi buka suara. Anak-anak yang lain jadi bengong ngedengerin omongan Rudi. Serius amat.

“Misal begini, dulu tuh musik rock ditentang masyarakat tapi karena terus-menerus diputer akhirnya masyarakat nerima juga. Begitu juga musik grunge, dandanan grunge dan gaya grunge gak bakal diterima kalo gak diperjuangkan,“ Rudi nyerocos terus. Yang lain masih terdiam. Nggak bisa berkomentar. Melihat teman-temannya diam, Rudi juga diam. Ngerasa menang bisa membela diri. Padahal tadi sih di ruang guru ia ketakutan setengah mati di ultimatum bakal dikeluarin kalau masih meneruskan kebiasaan mencat rambut. Tapi gengsi dong ngaku salah di depan temen.

“ Tapi Rud, itu kan gak bener. Melanggar peraturan sekolah. Lagian buat apa kita ikutan gaya-gayaan grunge” Tole buka suara.

“Terus untuk apa kita ngikutin kelakuan yang gak bener. Gaya hidup yang ditampilin artis-artis itu banyak nggak benernya. Mestinya nggak usah kita ikut-ikutan gaya hidup mereka. Apalagi mau memeperjuangkannya,” gantian Tole nyerocos. Mendengar omongan Tole, Susi jadi panas dia juga membela Rudi memberikan alasan.

“Tapi Le, menurut Susi nggak semua artis kelakuannya jelek. Jangan menilai buruknya artis dari penampilan atau kelakuan penggemarnya. Cuma karena kerusuhan penonton Metallica lalu dicap kalau musik rock itu jelek dan musisinya brengsek. It’s not fair! Salah penggemarnya aja nggak bisa menentukan mana yang sisi baik dan sisi jelek idolanya.

“Menurut lu gimana, Fred ?” Rudi yang merasa ada diatas angin karena ada pendukung minta pendapat Freddie. Ditanya Susi begitu Freddie jadi gagap. Terus terang aja ia bergaya grunge cuma terpengaruh omongan Rudi. Makanya ia nggak bisa berkomentar. Sama dengan Joko. Dia juga cuma bengong dengerin omongan teman-temannya. Maklum ia jarang nonton MTV. Joko lebih seneng nonton acara Bollywood ama sitkom Jawa macam Ketoprak Humor.

“Itu nggak bener. Orang berbuat jelek atau buruk pasti karena ada yang memberikan contoh. Contohnya, Rudi. Mana mungkin dia ngecat rambutnya kalau nggak pernah nonton tivi. Lagipula belum tentu kita bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Memangnya kita malaikat. Baik buruknya sesuatu harus dinilai dari ukuran yang bener. Harus ada standar baik buruk,” kata Tole nggak mau kalah sambil ngutip isi buku Bunga Rampai Pemikiran Islam.

“Terus apa standarnya?” tanya Rudi.

“Ya Islam. Apalagi? Kita kan muslim jadi harus mau ikut sama aturan Islam. Bukan sama aturan MTV atau dunia artis.”

“Oo…jadi kita kemana-mana harus pake sarung sama peci. Gitu maksud lu?” Kata Rudi rada ngeledek. Wah, obrolan anak-anak jadi makin panas. Pengunjung lain di warung jadi pada ngeliatin mereka. Freddie jadi nggak enak hati. Apalagi Rudi pake ngeledek masalah agama. SARA tuh. But, berhubung dia kurang bisa ngomong akhirnya cuma manyun aja.

“Wah, itu pikiran kelewat salah. Pake sarung en peci tapi kalau idolanya Karl Marx juga nggak bener. Ciri muslim itu bukan peci, sarung, atau tasbih tapi pikiran dan kelakuannya. Celana boleh jins tapi otak tetep Ka’bah. ” panjang lebar Tole membalas ledekan Rudi. Biar nyahok tuh anak badung.

Sekarang giliran Rudi cs meringis. Freddie manyun. Ia sadar kalo ia cuma jadi korban ikut-ikutan. Selama ini ia ngikutin gaya grunge akibat kebanyakan nonton MTV. Abis asyik juga sih ngeliat gaya mereka. Rambut warna-warni, baju lecek, celana belel. Ditambah juga omongan Rudi yang terus ngomporin. Tuh anak memang pinter banget kalau ngomong. Ada bakat jadi host acara Ci Luk Ba ngegantiin Meisyi.

Tole puas bisa mengkritik kelakuan nggak bener teman-temannya. Bukan apa-apa ia sudah cukup sebal melihat kelakuan mereka yang dinilai keterlaluan. Sering bolos, pacaran dan melalaikan sholat.

“Mas, ngajinya udah? Ini tagihannya,” kata pelayan. Eh, ampir lupa kalau tadi pada ngegares pisang goreng sama risoles.

ooOoo

Freddie membereskan kasurnya yang berantakan. Buku-bukunya yang bergeletakan dan terdampar disana-sini ia susun lagi. CD-nya yang juga berserakan ia kumpulkan. Dipandanginya sampul album Let Go-nya Avril Lavigne, Korn, SOAD. Ia jadi ingat omongan Tole tadi sore. Freddie jadi ngelamun diatas kasur dan tahu-tahu ia sudah pulas.

Freddie terbangun dengan kaget. Ia mendengar lagu Prayer-nya Disturbed yang diputer kenceng-kenceng. Tapi itu bukan dari CD player-nya. Tepatnya tape di ruang tengah. Mustahil ada yang nyetel ? Nggak ada yang suka lagu itu selain dirinya. Papinya paling lagu tempo dulu. Maminya paling gamelan sunda, adik-adiknya ? No Way.

Penasaran Freddie keluar kamar. Ih, kok masih gelap. Shubuh barangkali. Freddie terus jalan melewati lorong rumah menuju ruang tengah. Tapi lorong itu ia rasakan amat panjang. Lama sekali sampai ke ruang tengah. Setelah sampai ternyata ruang tengah kosong tapi tape itu masih diputar. Siapa iseng nyetel tape kenceng-kenceng? Freddie membatin. Freddie kini jalan ke ruang tamu. Eh, si kembar Deno sama Deni ada di sana. Berpakaian seragam TK lengkap. Sudah siap-siap mau berangkat sekolah. Tapi ada yang janggal. Apa ya? Masya Allah, rambut Deno-Deni dicat merah. Dan, ya ampun ada tato di tangan kiri dan kanan. Tulisannya, “ TK Semboja O ye !” Freddie kaget plus panik. Dia teriak-teriak manggil maminya.

“Miii…si Deno sama si Deni pake tato,” Freddie histeris. Mendengar teriakan keras begitu maminya muncul.

“Kenapa Fred, tereak-tereak begitu ?” tanya maminya.

“Mi, Masa mami nggak tahu kalau…” belum beres Freddie melaporkan kelakuan adiknya ia sudah dikejutkan dengan hal lain. Rambut maminya. Jadi pirang dan anting yang gede-gede dan banyak berjejer di telinganya. Kiri dan kanan. Satu lagi nangkring dengan norak di hidung mami.

“Mi, kok ja…jadi nge-grunge begitu ?” Freddie tergagap dan shock bertanya.

“Lho, bukannya kamu yang ngajarin mami dandanan begini. Ini bagus khan? Kalau kamu nggak suka warna pirang nanti mami ganti warna biru muda. Kamu suka khan? Atau gimana kalau warna merah?” maminya nyerocos terus, dan terus, dan terus tanpa memberi kesempatan Freddie untuk protes. Freddie semakin histeris. Dia menjerit panik tapi maminya terus bicara dan dentuman drum kian berdentum kencang. Waaaa….Suara drum pun kian kencang. Dug, dug, dug, dug….

“Freddie, bangun. Kenapa teriak malam-malam begini ?” papinya berteriak sambil menggedor pintu kamar Freddie. Freddie terbangun. Badannya basah kuyup karena keringatan. Masya Allah mimpi buruk! Buru-buru dia bangkit dari ranjang dan membuka pintu.

“Kenapa kamu teriak-teriak? ngimpi ya?” tanya papinya.

“Eh, iya pi,” jawab Freddie sambil ngos-ngosan.

“Makanya baca do’a dulu kalau mau tidur. Ayo sana ke kamar mandi. Cuci muka dulu.”

Sambil masih sempoyongan karena ngantuk Freddie berjalan ke kamar mandi. Wudhu, terus do’a minta ampun dan juga minta dijauhkan dari mimpi buruk. Lama Freddie berdo’a sampai akhirnya ia ngantuk dan kembali terlelap.

ooOoo

Freddie kembali terbangun. Suara adzan shubuh kali ini yang membangunkannya. Ia ragu-ragu. Jangan-jangan masih mimpi. Dicubitnya pipi sebelah kiri. Waw sakit. Jerawatnya kepencet. It’s not dream, ia bersorak dalam hati. Segera ia bangun, menuju kamar mandi. Mandi pagi, Wudhu, setelah itu ia memakai pakaian rapi dan bergegas ke masjid.

Selama perjalanan pulang dari masjid ia sadar kalu selama ini ia sering bikin susah orang rumah. Apalagi maminya. Dia janji dalam hati bakal minta maaf. Freddie juga janji dalam hati nggak bakal lagi ikut-ikutan tren yang nggak bener. Lagipula kayak orang kurang kerjaan. Mending ia ikut ngaji sama Tole.[]

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 11/April 2003