Ini Air Mata Hujan Terakhir, San

By: Pia Yasmin Tedja Maharani

 

Sore ini sebenarnya cerah tapi entah kenapa aku ingin sekali ke sini, tempat kita dulu suka duduk-duduk sehabis latihan fotografi. Di bawah angka 1 yang terbuat dari stainless steel itu. Aku ingin, benar-benar ingin, kesini. Untuk melihat kamu, walau hanya bayang samarmu. Heran, setelah adzan isya tiba-tiba udara berubah. Gerimis kembali turun. Tak lama hujan kian melebat. Bandung saat ini memang sedang musim hujan.

“Pantesan tadi panas banget,” kata seorang laki-laki kurus pada temannya. Mungkin mereka anak-anak Akutansi semester 1. Beberapa memegang Accounting Principles-nya Kieso, beberapa bercerita tentang balance sheet. Arah datangnya tepat dari kelas Pengantar Akutansi.

“Panas? Ah cerah kok siang tadi,” pikirku. Mungkin mereka saja yang kepanasan otaknya memikirkan angka-angka kredit dan debit.

Hujan ini ternyata membantuku melihat bayangmu. Di sini, di bawah angka 1. Dulu, kau pernah memberi kehangatan padaku. Ya, persis di saat hujan-hujan begini. Saat itu, kita pacaran sudah delapan bulan. Sejauh itu kau baru bisa pegang tanganku. Untuk mengelus pipi atau bahkan mencium kening saja kau belum pernah melakukannya. Kontras sekali dengan pembawaan kamu yang terkesan berandal.

Suatu sore, hari selasa juga seperti hari ini, atau tepatnya malam, kita pulang latihan. Kita selalu sengaja memutar. Melewati FE dan Ruang Seni.

“Biar lebih lama bisa pegang tanganmu, Lin!” katamu dengan wajah yang tak berani menatap mataku. Aku tahu kamu pemalu. Karenanya aku tertawa. Ternyata kamu berani juga. Aku setuju saja. Kita selalu diam-diam menyelinap pulang. Hanya Fauzi, Yanti, dan Topan yang tahu kita pacaran. Yanti dan Topan malah tahu sejak pertama kali aku kenal kamu.

Hehehe… lucu juga mengingatnya! Aku ingat, saat itu aku sedang mengambil angle masjid dengan Pentax K-1000. Aku berteriak-teriak pada Yanti agar menjawab hasil hitungan light meter untuk pilar masjid yang terakhir. Saat itu, kamu yang kala itu memakai baju Dragon Ball berkata “Pakai F30, 1/125 detik!” Aku terheran, seraya mengeryitkan hidungku. Tak lama, “F30, 1/125 detik!” teriak Yanti di sebrang sana. Kamu tertawa. Astaga, taring kananmu gingsul, San!

Sejak saat itu aku menyebutmu Goku. Itu karena hobimu pakai pernak-pernik Dragon Ball. Habis, namamu susah sih. Eh, sekarang aku ingat: Sancyaki. Sancay, katamu sambil tersenyum. Aku terkekeh. Memangnya ini Meteor Garden. Aku bilang sama Yanti cuma naksir karena pribadi kamu. Kalau dari fisik sih jelas masih banyak teman-teman lain yang jauh lebih ganteng. Tapi kamu punya sesuatu yang lain. Di balik kesan kamu yang gila juga nge-rock, aku tahu hati kamu justru lebih halus dari Pram yang menjadi idola mahasiswi-mahasiswi.

Aku bilang sama Yanti paling cuma sebulan aku naksisr kamu. Setelah enam bulan ternyata aku tetap naksir kamu, Yanti ngetawain aku. “Rasain,” gitu dia bilang. Aku udah bilang bingung, tadinya aku nggak mau pacaran sama kamu. Sebab banyak yang ngejar-ngejar aku. Tapi tidak tahu kenapa tahunya mentok juga. Udah bingung, sebab aku pikir, aku ge-er saja terhadap sikapmu yang kok aneh (hehe…). Buat seorang yang pemalu kayak kamu, aku menilai itu sesuatu hal yang berani. Biasanya kamu selalu bikin puisi-puisi manis seperti yang aku minta. Tapi saat itu, di dalam mobil Starlet merahmu, kamu ngomong, gitu deh! Malu ih ngingatnya!

Meski emang tidak seperti yang banyak orang lakuin, aku tahu kalau maksud kamu adalah menjalin hubungan yang lebih. Kamu tidak berkata, “Maukah kau jadi pacarku?” Tapi kau dengan caramu. Dengan hatimu. Pacaran kita umumnya adalah hunting foto. Di sana kita melihat berbagai objek, atau kamu berikan jaket lusuhmu untuk tutupi kamera dan badanku dari hujan. Sampai suatu saat, ketua jurusanku tiba-tiba berada di depan kita. “Linda, kenapa kamu biarin teman kamu basah? Kamu kan pakai dua jaket,” tanya ketua jurusanku. Lantas kamu jawab dengan seenaknya, “Ga papa kok Pak. Saya lagi cari inspirasi. Lagian gerah,” aku tersenyum sekaligus terheran-heran. Masa Bandung lagi hujan dan dingin gini disebut gerah. Dasar gokil!

ooOoo

Hujannya kian deras San! San, inget nggak Senin dulu itu? Kita lari-lari sambil menenteng kamera dari samping Gedung Sate bagian Barat, terus numpang berteduh di kanopi gedung yang tadi kita ambil gambarnya.

Kita sedikit basah karena angin menyebabkan air hujan tiris. Tiba-tiba kamu selipkan tasmu di antara badan kita. Lalu kamu raih aku dengan lembut, ketika kau melihat aku terkantuk-kantuk bersandar kedinginan.

“Ngantuk, Lin?”

Sial, udah tahu gitu kok ya nanya. Aku pindahkan tasmu ke bawah kaki. Aku sandarkan kepala di pundakmu tanpa penghalang tadi. Pertama setelah delapan bulan pacaran! Ah! Aku menikmatinya. Meskipun aku ragu dengan kamu. Sekilas aku lihat wajahmu kikuk dan degup jantungmu keras memacu. Kamu salah tingkah. Tapi aku menikmatinya. Aku nyaman berada di samping kamu yang begitu terjaga. Aku yakin bersamu akan aman. Kemudian aku tertidur sejenak dalam sandaranmu. Terbangun ketika tiba-tiba aku merasakan humbusan hangat berada di depan mukaku. Aku memandangmu.

Kau terpaku. Kelopak mataku sayu. Syahdu. Kau bilang, “Tidur ya?” Aku hanya mengangguk. Berharap kamu meneruskan apa yang tadi kamu mau. Jantungku mulai berdetak keras. Berharap sesuatu yang lembut dan indah mengisi hari ini. Kamu diam lama. Lalu menyibakkan rambutku yang basah. Bibirmu meluncur tepat di keningku.

Gila, aku hampir kehilangan keseimbangan saking terkejutnya, San! Kamu yang begitu pemalu pada perempuan. Tenyata. Kamu memperlakukan aku dengan hormat. Berbeda dengan pacar-pacarku dulu. Di saat seperti ini mungkin mereka bisa berlaku lebih dari apa yang kamu buat. Kamu malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Mungkin itulah cara kamu mengungkapkan rasa padaku. Tidak mengedepankan nafsu. Tapi sungguh itu adalah kelembutan yang luar biasa, menurutku.

Kemudian kita berdiam diri dengan tetap pundakmu aku jadikan sandaran. Hujan reda dan kita saling berbimbingan berlari-lari kecil menuju jalanan Cimandiri. Dalam angkot kosong, kau berkata, “Maaf Lin”

Aku heran, dan kau jawab pertanyaanku dengan, “Aku tadi terbawa suasana. Bukan maksudku menggunakan kesempatan, Lin. Tadi aku benar-benar ingin melakukannya pada orang yang pertama yang benar-benar aku sayangi. Kamu tahu sendiri biasanya aku seperti apa.”

Aku tersenyum dan mengeratkan genggamanku. Kemudian kau menarik tanganku ke depan dadamu lantas sesaat mencium lembut jemariku. Rasa aneh yang nikmat lagi-lagi menyerang ulu hatiku. Ah!

Sebuah mobil tiba-tiba lewat di depanku. Kencang. Aku terkejut. Kesal karena bayangmu segera melenyap. Namun himpunan bayangmu datang lagi ketika aku menatap ke depan. Di situ, dulu ada lapangan bola. Entah sekarang, kayaknya nggak ada lagi deh!

Dulu aku sering menunggumu kalau anak-anak pecinta alam lagi main bola. Ya di sini ini. Melihat kau teriak-teriak, berlari kencang, dan ketawa-ketawa. Sedang aku makan kwaci sambil tersenyum sendirian, sampai bibirku jontor. Biasa, gara-gara garam kwaci. Gimana nggak jontor lihat kamu maennya becanda terus di lapangan.

Wih! Terus agak tersembunyi di sana ada ruang himpunan mahasiswa jurusan IESP yang dulu markas-nya anak eksponen 66 Bandung. Aku ingat ketika kau, entah dalam rangka apa, diklatsar pecinta alam. Kau lari, bilang mau ke wc tapi malah ke telepon umum di pojok tembok itu. Kau bilang, kau ada dua puluhan uang receh, jadi bisa ngobrol lebih dari setengah jam. Bayangin, itu udah hampir jam sebelas malam. Bukan malam minggu lagi. Malam jumat. Untung saja ibu dan ayah lagi ke Padang. Kalo nggak, bisa-bisa ditanyaain. Nggak sampai dinyanyiin sih, tapi pasti nanyanya aneh.

Kamu lalu laporan, “Banyak nyamuk Lin, genit-genit kayak kamu,” sial, aku disamain sama nyamuk. “Aku tanya gatel nggak?” Jawaban kamu pasti jayus abis: “Nggak, sedikit pedes kok!”

Beberapa hari kemudian kamu cerita lagi. Katamu, sehabis nelpon aku, kamu dikasih norit dan pil kina banyak banget oleh ketua diklatsarmu. Hahaha, rasain! Sebab waktu ditanya ke WC lama bener, kamu jawab sakit perut. Ketua diklatsar-mu memang baik. Habis tanggung jawabnya ke rektor. Tapi kasiahan juga pas denger kamu mabok gara-gara kelebihan dosis.

ooOoo

Wah, banyak kenangan kita ya, San! Tapi yang paling aku ingat adalah ketika kita tahu-tahu bertemu di pameran buku. Begitu ketemu, aku langsung marah. Sebab sebelumnya kamu batalin janji karena ada perlu tapi nyatanya kamu malah ada di pameran buku. Bertiga dengan teman-teman barumu yang berjenggot dan aktif di DKM Masjid Universitas. Tiga bulan sebelumnya, sikap kamu menjadi aneh. Kamu seperti orang asing di depanku. Bahkan kamu seakan-akan berusaha menjauh. Meski aku yakin sebenarnya bukan itu yang kamu mau.

Wah! Jengkel. Kamu bilang, “Maaf Lin. Tadi aku ada pengajian dulu. Kebetulan emang deket pameran buku tempatnya.” Aku kesel tapi nggak bisa protes sebab alasan dia pengajian. Biar gini-gini aku masih menghormati orang untuk belajar agama. Kebetulan ayahku memang muslim yang taat. Tiap beberapa bulan sekali dia selalu pergi ke luar kota bahkan luar negeri untuk khuruj.

Tapi tetap perubahanmu membuat aku tidak mengerti. Penampilanmu yang nge-rock sekarang berubah menjadi lebih rapih. Sikapmu yang cuek tapi pemalu malah semakin pemalu dan tertutup terlebih kepada teman-teman perempuan. Yanti malah pernah bilang kalau kamu sekarang malah hanya tersenyum saja bila disapa. Lantas pergi tanpa berkomentar apa-apa. Begitu juga padaku. Telepon-telepon jenaka dan hangatmu mulai jarang aku dengar. Biasanya kamu nongkrong di tempat jualan gorengan bareng teman-teman pencinta alammu, sekarang mereka bilang juga tidak tahu keberadaanmu. Padahal aku berharap masih bisa berjalan mencari objek-objek menarik buat kita ambil gambarnya.

Bayang-bayangmu lenyap lagi sejenak, saat aku sadar hujan telah habis. Kulangkahkan kakiku meninggalkan angka 1 seraya berbisik, “Kutinggalkan sepotong cinta kita di sini, San.”

Lalu ingatanku melayang pada beberapa hari berselang. Kau yang tadinya menjauhi aku tiba-tiba menghubungiku. Lantas mengajakku untuk mau menerima khitbah kamu. Itu yang kamu bilang tentang melamar dalam bahasa baru kamu. Aku terhenyak. Gila pikirku. Baru sebelas bulan pacaran. Kau bilang kau serius, “Sebab Islam mengatur seperti demikian. Kamu tidak ingin aku terjebak dosa yang disebabkan rasa sayangmu kepadaku. Ini sesungguhnya yang aku mau. Yang sesuai dengan aturan-Nya,” pinta kamu. Aku tahu kamu takut kehilangan aku. Aku terpaku dan tak terasa butiran air mata jatuh membasahi pipiku. Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita, San. Asal kamu kembali menjadi San-ku yang dulu!

“Ada. Ada yang dapat memisahkan kita,” jawabmu, “Ada, Lin! Maut dan keimanan kita!”

Dadaku berdegup keras.

“Ya, maut ..”, sahutku berbisik. Tapi bukankah keimanan kita sama, San? Aku muslim, kamu pun muslim

“Ya benar. Tapi muslim yang seperti apa?” tanyamu.

Lalu kau berikan sebuah buku berwarna putih dengan tulisan merah menyala bertuliskan “Sistem Pergaulan Pria-Wanita dalam Islam”. Aku menatap dalam buku tersebut. Biasanya aku kesal apabila kau sudah berbicara tentang pergaulan pria-wanita dalam Islam. Tapi saat itu rasanya nilai buku itu sakral sekali. Dalam hati aku berjanji akan membaca buku itu dan mengikuti saranmu untuk mendiskusikannya dengan Mbak Novi. Kakak angkatanku yang aktif di DKM Masjid Universitas. Seperti kau saat ini.

Tanpa membiarkan aku berbicara lagi, kau hanya berkata, “Tolong pikirkan permintaanku, Lin!”. Kau lantas pergi menuju serombongan mahasiswa yang membawa bendera hitam-putih bertuliskan kalimah syahadat. Di tengah hujan rintik-rintik.

Esoknya. Tak sengaja kita berjalan bersama. Lalu kita berpisah di unit lima gedung fakultasku. Sebelum meninggalkanku, kau sempat berkata, “Hari Ahad aku akan pergi ke Aceh menjadi relawan di sana. Bersama teman-teman. Mungkin sekitar dua mingguan aku di sana. Afwan, kalau kemarin aku terlalu memaksa. Aku tunggu jawabanmu sepulangku dari sana.”

Aku menggangguk, tak terasa aku menggenggam keras buku pemberianmu. Kembali air mataku menetes. Aku ingin mengucap sepatah dua patah kata sebelum kau pergi. Tapi kau mungkin tidak mau kalau aku berkata berduaan. Yanti tahu-tahu sudah menggamit lenganku sementara aku masih menatap punggungmu.

Rupanya angkot malam ini sudah habis. Kelas fotografi malam ini memang menyita waktuku. Teknik ruang gelap butuh waktu yang banyak. Kuhentikan sebuah taksi. Sopirnya memandangku heran. Biarlah! Terserah apa yag mau dipandangnya melihat seorang cewek sendirian di malam hari. Yang jelas ini hari pertamaku menggunakan kerudung meski belum seperti apa yang dijelaskan dalam buku yang seminggu lalu diberikan kau.

Ah San, kenapa harus kau, bisikku. Air mataku menetes. Lagi-lagi menetes. Sekali lagi kugenggam buku putih pemberianmu dan kuraih sebuah koran hari ini dari dalam tasku. Sekali lagi kubaca sebuah berita di kolom kiri atas. Berita tentang meninggalnya dua orang relawan Aceh akibat terjatuh ke jurang ketika sedang membawa obat-obatan. Salah seorang dari kedua orang itu adalah kamu, Sancyaki kekasihku. Di sudut hatiku, kulihat kau. Lengkap dengan senyum gingsulmu.[]

Untuk seluruh sahabatku & kamu di Toyohashi

Bandung, Februari 2005

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 08/Mei 2005