Kepingan Puzzle

By: O. Solihin

 

“Sebagai anak baru, kamu seharusnya tahu diri. Jangan belagu. Jangan narsis. Jangan cari perhatian. Jangan sok pinter!” ancam Anggi dengan nada ketus.

Anak baru itu hanya diam. Menatap mata Anggi, lalu menunduk lagi. Sesekali ia memainkan jemari tangannya. Dibetulkannya letak kerudungnya agar ujung rambutnya tidak terlihat. Anak ini cukup manis. Dengan perawakan yang tinggi langsing. Punya lesung pipit di pipi kiri. Matanya berbinar indah. Ia pindah ke sekolah barunya karena harus mengikuti ayahnya yang mendapat tugas di kota Bogor ini.

“Hei, jangan diam saja!” bentak Anggi sekali lagi.

“Saya memang sengaja diam. Karena bingung harus ngomong apa?” jawab gadis manis itu.

“Owh… jadi kamu mulai meremehkan aku juga? Kurang ajar!” Anggi tiba-tiba naik pitam lalu mendorong dada anak baru di sekolahnya itu.

“Ayo kalo berani lawan aku!” Anggi menantang.

“Hei! Apa-apaan ini?” suara lantang dan berat mengagetkan Anggi dan gadis itu.

“Mmm.. tidak ada apa-apa, Pak. Saya cuma lagi ngobrol sama Putri, Pak” Anggi gelagapan karena tak menyangka Pak Amir memergoki aksinya.

“Kok tadi kamu teriak-teriak? Tidak seperti orang yang sedang ngobrol?” Pak Amir bertanya heran.

“Iyy..iya Pak. Maksud saya, saya sedang belajar drama. Tadi itu adegan yang harus saya perankan bersama Putri,” Anggi berbohong.

Pak Amir mengernyitkan dahinya. Tapi kemudian ia bicara, “Oh gitu. Bapak pikir kalian sedang bertengkar. Ya sudah jika memang itu bagian dari latihan dalam adegan drama,” Pak Amir kemudian melanjutkan ke toilet.

Anggi menghela napas. “Gila, hampir saja gue ketahuan!”

Anak baru yang dipanggil Putri cuma bisa tersenyum kecil ketika tahu Anggi berbohong di hadapan gurunya.

“Hei, ada yang lucu dengan kejadian ini? Diam kamu!” Anggi membentak.

Anggi kemudian berlalu dari hadapan Putri yang kembali membisu. Ia tak kuasa membantah omongan Anggi. Meski dalam hatinya berkecamuk perasaan kesal dan ingin sekali melawannya. Tapi niat itu diurungkan karena ia tak mau membuat masalah. Ia kemudian berjalan menuju kelasnya sambil berpikir keras. Mengapa masih ada orang yang tak suka dengannya?

ooOoo

 

“Bagaimana Put, kamu sudah punya teman di sekolah barumu?” ayahnya bertanya dengan penuh perhatian.

“Teman sih banyak Yah, tapi belum ada yang bisa jadi sahabat”

“Lho, emang ada bedanya ya antara teman dengan sahabat?”

“Ah, ayah pura-pura nggak tahu tuh. Ya, beda dong Yah!” Putri memasang wajah cemberut.

Ayahnya tersenyum kemudian mengusap kepala Putri dengan lembut.

“Ayah memang tahu, tapi pertanyaan ini sekadar menguji kamu saja. Apa memang kamu sudah mulai belajar tentang arti sahabat dalam hidup kamu? Setiap orang bisa berteman dengan siapapun, tapi sangat jarang yang bisa menjadi sahabat dalam hidup kita. Dulu, waktu ayah kuliah termasuk yang disukai banyak orang lho, Put. Bukan karena ayah pintar secara akademis, tapi karena ayah bisa menjadi teman yang baik bagi siapa saja,” panjang lebar lelaki separuh baya itu bicara di hadapan putrinya.

“Ayah bisa melakukan itu, tapi aku tidak bisa seperti yang ayah lakukan.” Putri merajuk.

“Tenang sayang. Kamu hanya belum bisa. Bukan tidak bisa,” ayahnya meyakinkan.

“Tapi Ayah, aku memang tidak bisa menjadi sahabat bagi orang lain. Bahkan ada teman yang sangat tidak suka dengan kehadiranku,” Putri memberikan argumentasinya.

“Ayah tahu. Kamu kan jadi anak baru di sekolah ini. Masih perlu belajar memahami kondisi barumu. Dulu, waktu di Yogya kamu kan sudah banyak teman. Bahkan ada beberapa di antaranya jadi sahabat terbaik kamu. Ingat, itu juga memerlukan proses. Tidak sedikit waktu yang kamu lalui agar bisa menjadi sahabat mereka kan?” Ayahnya mengingatkan kenangan di Yogyakarta.

Putri terdiam. Ia memilih memfokuskan kedua bola matanya kepada layar laptop yang sedari tadi dibiarkan menyala. Kursornya masih berkedip-kedip dalam rangkaian kata terakhir sebuah cerpen yang sedang dibuatnya.

“Sudahlah, kamu istirahat saja dulu. Ayah ada pekerjaan besok pagi. Harus menyiapkan segala sesuatunya,” ujar ayahnya sambil mengecup kening Putri.

Putri sebenarnya merasa iba dengan kondisi ayahnya. Ia memang anak semata wayangnya. Ibunya sudah meninggal setahun yang lalu karena sakit demam berdarah yang dideritanya. Ayahnya belum memutuskan untuk menikah kembali.  Tak tahu alasannya apa. Putri belum pernah bertanya masalah privasi seperti itu kepada ayahnya. Sedih juga bagi Putri. Karena setiap ada masalah, ia hanya bisa berbagi dengan ayahnya. Kadang Putri tidak mau cerita, karena khawatir menambah beban ayahnya. Ia berusaha untuk menyelesaikan masalahnya. Kecuali, jika ia sama sekali tidak bisa menyelesaikannya, Putri akan bercerita kepada ayahnya. Tapi hal itu jarang sekali dilakukan Putri. Selebihnya, ia memilih diam. Mencoba menyelesaikannya sendiri.

Jarum pendek di jam dinding sudah menunjukkan angka 10 dan jarum panjangnya tepat di angka 12. Putri kembali menuliskan beberapa kata lewat tarian jemarinya di laptop. Ia berencana memuat cerpennya untuk ditayangkan di blog pribadinya. Sekadar berbagi cerita. Berbagi inspirasi dengan pengunjung setia blognya.

ooOoo

 

Putri menyusuri trotoar yang melingkar sepanjang Kebun Raya Bogor. Putri baru saja pulang dari kantor pos mengantar kiriman paket untuk neneknya. Letak kantor pos itu di jalan Ir. Juanda. Kantor pos pusat Bogor itu sendiri halaman belakangnya adalah Kebun Raya Bogor. Bahkan ada pintu masuk ke Kebun Raya di sebelah bangunan kantor pos itu. Kebun Raya Bogor tepat berada di jantung kota Hujan. Jalan Ir. Juanda, jalan Otista, jalan Pajajaran dan jalan Jalak Harupat menjadi empat jalan utama yang mengitari Kebun Raya Bogor. Jika kita mau menyusuri dengan jalan kaki dari ujung ke ujung lingkaran Kebun Raya melalui trotoar yang dihubungkan keempat jalan itu, diperlukan waktu sekitar satu jam dengan jalan santai. Jika menggunakan sepeda motor tentu lebih cepat lagi. Tidak sampai lima belas menit dengan kecepatan sedang.

Putri termenung di depan Gedung LIPI, dekat Istana Bogor. Tak jauh dari kantor pos. Ia memperhatikan anak-anak SMA 1 Bogor yang sedang istirahat. Ada yang makan, ada yang sedang ngobrol dengan temannya. Terdengar tawa canda di antara mereka. Putri memang tidak sekolah di situ. Tapi di sekolah yang lain. Teringat masa-masa indah waktu di Yogyakarta. Ia sudah akrab dengan banyak teman dan sahabatnya. Yogyakarta punya cerita sendiri dalam bagian hidupnya. Ia bahkan menghabiskannya hampir di setara usianya saat ini. Sejak lahir hingga kelas 2 SMA.

Dibanding Yogyakarta, Bogor menurutnya masih asing. Baik daerahnya, maupun teman-temannya. Ia masih perlu adaptasi cukup lama. Apalah artinya pengalaman sebulan. Masih terlalu dini juga dia berkesimpulan untuk menyatakan tidak betah. Putri sebenarnya tidak ingin ikut bersama ayahnya ke Bogor. Ia ingin menetap bersama neneknya di Yogyakarta. Juga agar bisa setiap saat mengunjungi pusara ibunya kapan pun ia menginginkannya. Tapi, ia juga merasa khawatir terhadap kondisi ayahnya yang akan hidup sendiri di Bogor.

“Assalaamu’alaikum!” suara lembut perempuan mengagetkan Putri.

“Eh, ‘alaikumussalam!” Putri menjawab sambil menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara.

“Maaf, jika tak salah lihat. Ini Putri Khairunnisaa kan?” perempuan berkerudung yang jika dilihat dari penampilannya adalah mahasiswi itu mencoba meyakinkan tebakannya.

“Iyy.. iya. Kok Mbak tahu sih nama saya?” Putri agak kaget.

“Ooh.. beruntung!” perempuan itu bersorak gembira.

“Eh… ada apa ini. Kenapa seperti ini?” Putri mencoba menahan gerakan badan perempuan yang hendak merangkulnya.

“Maaf. Saya terlalu bergembira. Kenalkan, saya Fitria. Pengagum karya Anda,” jawab perempuan itu mengenalkan diri.

“Oh ya?” Putri melongo.

“Iya, Putri kan memasang foto di blognya. Saya pengunjung setia blog Putri. Page Range blognya sudah 5 lho. Hebat! Pengunjungnya pasti banyak kan?”

Putri jadi malu. Ia berusaha menenangkan sikapnya yang mendadak jadi salah tingkah. Baru kali ini ada pengunjung setia blognya dan penikmat karya-karyanya bertemu langsung dan memberikan apresiasinya.

“Terima kasih, Mbak”

Hanya kalimat singkat itu yang keluar dari mulut Putri. Ia tak menyangka akan banyak orang mengenal dekat tentang dirinya, juga karya-karyanya. Dan, ini di kota Bogor. Bukan di Yogyakarta yang sudah banyak teman satu sekolahnya yang terbiasa mengunjungi blognya. Putri merasa surprise karena pengunjung blognya ada yang dari kota lain selain Yogyakarta. Sekarang, salah satunya ada di hadapannya dan memberikan apresiasi.

“Putri, karya-karyamu sangat menyentuh dan memberi inspirasi. Terutama cerpen dan catatan harianmu saat ibumu wafat,” Fitria memecah lamunan Putri.

“Oh iya Mbak. Terima kasih,” Putri masih kikuk.

“Eh, jangan grogi gitu dong. Harusnya aku yang grogi ketemuan dengan blogger seperti kamu!”

“Terima kasih. Saya bukan grogi. Tapi saya sedang merasa terkesan. Ternyata saya masih bisa bermanfaat untuk oran lain. Meski selama ini tidak saya sadari,” Putri mulai mencairkan suasana.

“Oh ya, kamu lagi ada acara di sini?” Fitria penasaran.

“Nggak Mbak. Saya di Bogor sudah sebulan ini. Saya pindah dan sekolah di sini,”

“Wah, luar biasa. Kamu kok nggak ngumumin di blog kamu sih kalo kamu pindah ke sini?”

“Sengaja Mbak. Karena saya masih merasa berat untuk meninggalkan semua kenangan di Yogyakarta,” Putri beralasan.

“Put, kenangan itu akan tetap hidup meski kita tak ada di tempat peristiwa itu terjadi. Kita masih bisa mengenangnya kapan saja, karena itu ada di ingatan kita.” Fitria memberi penjelasan.

Putri berhenti sejenak. Memikirkan kata-kata Fitria. Ada benarnya juga.

“Mbak, terima kasih sudah berbagi,”

“Sama-sama. Saya juga mengucapkan terima kasih karena kamu mau ngobrol dengan aku. Penggemar setia karya kamu. Terus berkarya ya,” Fitria gembira.

“Oh ya, boleh minta nomor telepon dan alamatmu nggak? Aku boleh main ke rumahmu kan?” Fitria mengeluarkan ponsel dari tasnya.

“Boleh Mbak,”

“Eh, kamu sudah makan belum? Yuk, kita makan dulu di Gg Selot itu. Ada banyak kantin yang menjajakan banyak jajanan di sana. Kamu bisa milih apa saja makanan kesukaanmu,” Fitria antusias mengajak Putri.

“Nggak ah Mbak. Saya harus segera pulang.” Putri berusaha menolak ajakan Fitria.

“Sebentar aja. Kita lanjutkan ngobrolnya di sana,” Fitria setengah memaksa.

Meski ragu karena baru dikenalnya, tapi akhirnya Putri mau juga diajak Fitria untuk makan di tempat yang ditunjukkan tak jauh dari lokasi pertemuan mereka. Putri dan Fitria terlihat mulai menikmati suasana itu. Beberapa kali terdengar tawa kecil di antara mereka.

ooOoo

“Ayah, pernah nggak dalam hidup ayah ada orang yang baru kenal dengan kita, lalu kita merasa cocok dengannya?” Putri mencoba bertanya kepada ayahnya melalui fasilitas chatting internet, Skype. Putri memang terbiasa selalu berkomunikasi dengan ayahnya, sebisa dia melakukannya. Maka, fasilitas internet adalah satu sarana yang memungkinkan  ia tetap bisa berkomunikasi meski ayahnya sedang ada tugas ke luar kota. Seperti saat ini, ketika ayahnya sedang berada di Medan untuk menunaikan tugas kantornya.

“Eh, tapi ini nggak mengganggu pekerjaan ayah kan?” Putri menuliskan kembali di papan pesan.

Lama tak ada jawaban dari ayahnya. Mungkin sedang sibuk. Meski terlihat jelas ID ayahnya menunjukkan sedang online. Sembari menunggu jawaban ayahnya, Putri kemudian mengunggah cerpen yang baru diselesaikannya sore tadi ke blog miliknya. Sekitar lima menit, ayahnya membalas pesan.

“Salam sayang. Maaf tadi ayah sedang menyelesaikan pekerjaan kantor. Tapi sekarang sudah sudah selesai kok,” tulis ayahnya.

“Wah, maksudnya apa nih, Put? Kok kamu bertanya seperti ini?” ayahnya kembali mengirim pesan.

“Gini Yah, tadi siang Putri ketemu seseorang. Namanya Fitria. Dia mengaku sering baca tulisan Putri di blog. Dia sangat mengagumi karya-karya Putri. Aku juga mulai merasa cocok, meski awalnya ragu,” tulis Putri.

“Oh itu,” pesan yang dikirim ayah Putri.

“Kita tak pernah tahu, apa yang akan terjadi esok pagi. Bahkan beberapa detik dari sekarang. Itu artinya, semua masih ada kemungkinan,” rangkaian pesan yang ditulis ayahnya terpampang di layar laptopnya.

“Maksud Ayah?” Putri berkirim pesan dengan tak sabar.

“Maksud Ayah. Kita tak perlu merasa curiga dengan siapapun. Tidak perlu memagari diri kita dengan negative thinking. Perlakukan orang lain dengan sebaiknya. Tanpa perlu dibumbui dengan perasaan curiga. Pelan-pelan saja. Sambil menyelami motivasi dia selanjutnya. Suatu saat, jika memang niat orang itu baik atau jahat akan ketahuan juga. Kita tidak mencapnya sedini mungkin. Usahakan obyektif. Dan, itu perlu waktu,” papar ayahnya panjang lebar dalam pesan tersebut.

“Ok, Ayah. Putri ngerti. Tapi apakah ada yang bisa secepat itu menyimpulkan?” Putri bertanya lagi.

“Mungkin saja, Putri. Memangnya ada apa, Put?” tulis ayahnya penasaran.

“Iya, Putri mungkin salah satu orang yang saat ini begitu mudah percaya dengan Fitria. Dan, merasa cocok. Apa karena Putri sudah merasa tersanjung dengan pujiannya terhadap karya-karya Putri di blog selama ini? Ayah akan percaya begitu saja?” Putri memberondong dengan pertanyaan yang dikirimkan via papan pesan di fasilitas chatting internet itu.

Lama ayahnya tak menjawab. Putri menunggunya. Beberapa kali dikirim pesan, tapi tidak ada jawaban dari ayahnya. Karena penasaran, ia menelepon melalui fasilitas video call di fitur tersebut. Tidak dijawab juga. Putri heran. Lalu ia menelepon langsung via handphone ayahnya. Tidak aktif. Putri berusaha berpikir positif, mugkin ayahnya ada keperluan mendadak berkaitan dengan tugas kantornya. Putri kemudian men-diskonek internet. Menshut-down laptopnya dan bergegas ke kamar mandi.

ooOoo

 

“Putri Khairunnisaa!” suara perempuan yang sangat dikenal Putri.

“Hei, ternyata kamu penulis ya! Tak kusangka, ternyata kamu bisa diperhitungkan juga,” Anggi menjajari langkah Putri yang hendak menuju ruang kelas.

“Oh ya?” Putri hanya menoleh sebentar dan tetap melanjutkan langkahnya. Kali ini Putri tidak takut dengan ancaman Anggi. Perubahan itu terjadi setelah beberapa kali dalam berbagai kesempatan mengobrol dengan ayah dan Fitria, Putri jadi percaya diri. Ia yakin dengan potensi yang dimilikinya. Ayahnya selalu memotivasi, bahwa semua orang berhak untuk hidup. Meski ada orang yang mengancam, tapi kita juga berhak membela diri. Fitria, teman yang mungkin sudah mengenalnya sejak di Yogyakarta, pengagum karya-karyanya yang ditampilkan di blog, ternyata sangat perhatian dengannya. Perbedaan usia dari Putri membuatnya bersikap lebih dewasa. Lebih bijak menentukan langkah. Putri banyak belajar darinya.

“Kamu jangan sombong ya!” Anggi berusaha menghentikan langkah Putri.

“Oh, maksud Anda apa?” Putri tetap melangkahkan kakinya.

“Putri!” Anggi menarik kuat-kuat lengan Putri.

Kedua gadis itu berhadapan muka. Putri menatap tajam mata Anggi. Begitu juga sebaliknya.

“Wah, kamu makin berani ya?” Anggi berusaha mengatur napasnya.

“Dan Anda kian tak sopan, Non!” Putri membalasnya.

“Kurang ajar!” Anggi geram.

“Maksud Anda apa sih? Mau berteman atau mencari musuh?” Putri menatap kedua bola mata Anggi yang mulai memerah dan rahangnya yang mulai mengeras menahan amarah.

“Sudahlah, saya tidak ada urusan dengan Anda!” Putri melangkahkan kakinya yang tadi sempat berhenti karena dicegah Anggi.

Anggi mati gaya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum pergi, Putri berkata lagi, “Anda perlu tahu, di dunia ini semua orang berhak untuk hidup dan menikmati kehidupannya. Anda tidak bisa mendikte saya atau siapapun agar menuruti kemauan Anda. Sekali lagi saya katakan. Anda tidak berhak mengatur kehidupan orang lain sesuai kemauan Anda. Saya tadinya berharap Anda bisa menjadi teman baik saya. Tapi saya salah sangka. Semoga suatu saat Anda bisa memahami arti sebuah persahabatan. Orang lain akan memperlakukan Anda, sebagaimana Anda memperlakukan orang tersebut. Ingat itu!”

Anggi diam mematung. Entah apa yang ada di pikiran Anggi. Merenung atau kesal. Tak jelas.

Putri pada akhirnya berani mengatakan hal itu. Ia harus percaya pada kemampuan dirinya. Lagi pula, jika ia hanya mampu diam atas apa yang dilakukan Anggi, sama saja dirinya membiarkan Anggi terus berbuat salah. Putri harus menyampaikan sebagai tanda peduli. Sebab, seorang sahabat baginya tak selalu berarti dia yang mengerti dan manut saja atas apa yang kita lakukan. Kadang, seorang sahabat harus berdiri di garda paling depan untuk mengingatkan sahabatnya, meski pahit rasanya. Sebagaimana yang harus dilakukannya pada Anggi. Mungkin saja Anggi tak menganggapnya sebagai sahabat. Tapi Putri berusaha menjadi orang yang mengingatkan pentingnya arti sahabat.

ooOoo

 

Suatu sore. Langit cerah. Semburat mentari di ujung senja. Warnanya pudar sinarnya redup. Elok dipandang mata. Putri asik mengobrol dengan ayahnya di beranda rumah. Sesekali terdengar tawa kecil di antara mereka. Nampak bahagia sekali.

“Kamu yakin jika ayah menikah lagi kamu tidak cemburu?” Ayahnya menggoda.

“Cemburu untuk apa? Kasih sayang? Aku yakin Ayah akan tetap menyayangi aku meski perhatian Ayah akan terbelah nantinya,” Putri tersenyum.

“Meskipun hal itu dengan orang yang selama ini pernah membuatmu kesal? Ayahnya meyakinkan.

“Maksud Ayah?”

“Kamu tidak tahu, jika selama ini Ayah sudah berkenalan dengan seseorang yang Ayah kenal melalui internet?”

“Putri nggak ngerti maksud Ayah. Apa sih Ayah? Putri tampak bingung.

“Begini sayang. Orang yang ingin Ayah nikahi adalah ibu dari Anggi. Teman yang sempat membuat kamu risau,”

Putri tertegun. Diam. Membisu.

“Jangan khawatir sayang. Ibunya tak seperti Anggi. Lagipula, kalian sudah tidak ada masalah dalam berteman kan?”

Putri tetap diam tapi berusaha memahami perasaan ayahnya.

“Aku tak bisa menolak pilihan Ayah,” Putri menundukkan kepalanya.

Ayahnya lalu bercerita bahwa sudah setengah tahun ini mencoba menjalin perkenalan dengan seorang wanita. Janda. Beranak satu. Bekerja di Bandung. Sementara anaknya tinggal bersama neneknya di Bogor. Anggi, namanya. Bukan kebetulan juga jika Fitria, ternyata adalah adik dari Bu Astari. Ibunya Anggi. Kepribadian Bu Astari itu sangat mirip dengan Fitria. Lembut, penuh perhatian, dan bersahabat. Ayahnya menjelaskan panjang lebar hingga Putri memahami pilihan ayahnya untuk menikah dengan ibunya Anggi.

“Insya Allah. Kamu akan menjadi sahabat selamanya bersama orang-orang yang kamu sayangi, termasuk yang awalnya kamu benci,” ayahnya menutup pembicaraan sore itu.

“Semoga ini menjadi lebih baik bagi kita semua. Kita ambil hikmahnya. Bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali kita berusaha menyempurnakannya dengan menjadi bagian dari kepingan puzzle yang hilang tersebut. Semoga,” Putri menatap lekat wajah ayahnya. Tersenyum manis.[]