Kereta Terakhir dari Jakarta

By: O. Solihin

 

Ogi mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik arloji di tangannya. Sapuan angin malam mulai terasa dingin di kulit Ogi. Pandangan matanya dilemparkan ke dalam stasiun. Sudah agak lengang. Jam sudah menunjukkan pukul 21 tepat. Sepuluh menit kemudian muncul sesosok makhluk berlari-lari kecil menuju sta­siun Kota. Wajahnya lumayan cute dengan rambut yang agak ikal. Ia terus berlari dan memasuki stasiun.

“Assalamu’alaikum!” suara yang sangat akrab di telinga Ogi terdengar dari belakang.

“Eh, wa’alaikum salam!” jawab Ogi sambil membalikkan tubuh.

“Kelelep di mana, Mil?” Ogi setengah kesal.

“Tenang, sobat. Tadi aku ada perlu dulu. Dikirain sebentar, eh ternyata lama juga. Afwan, deh, afwan,” Jamil ngasih alasan.

“Ayolah, beli karcis dulu. Jangan-jangan kita dapat kereta yang terakhir, lagi,” kata Ogi sambil ngeloyor menuju loket.

“Oke bos!” balas Jamil.

ooOoo

Dua makhluk “kembaran” itu sudah duduk nyantai di dalam gerbong ke delapan alias gerbong terakhir dari dua rangkaian KRL. Sekitar setengah sepuluh malam kereta itu baru meninggalkan stasiun. Benar dugaan Ogi, kereta yang ditumpanginya adalah kereta terakhir untuk hari itu. Udara semakin dingin ketika kereta yang mereka tumpangi mulai melaju perlahan.

Ogi menghempaskan pantatnya di bangku kereta malam itu. Bahkan ia bisa selonjoran kaki. Maklum, namanya juga kereta terakhir, pasti hanya memuat orang seadanya. Boleh dibilang kosong melompong. Tentu saja itu sangat kontras bila dibandingkan dengan kereta yang berangkat pagi dan sore hari. Orang-orang rela berjubelan di gerbong. Bercampur keringkat puluhan penumpang lain. Ya, namanya juga angkutan umum, udah gitu kelas ekonomi lagi.

“Mil, ngeri juga ya, malam-malam gini. Takut ada penodongan” Ogi kelihatan khawatir.

“Ya, tawakkal saja, Gi. Mudah-mudahan nggak ada masalah”

“Kira-kira nyampe jam berapa ke rumah Pak De kamu, Mil?”

“Insya Allah, paling telat tengah malam deh.” Jamil ngasih perkiraan.

Hampir sepuluh menit antara dua makhluk ini tak ada pembicaraan. Entah apa yang sedang dipikirkan dua pemuda ini. Masing-masing asyik dengan pikirann­ya. Sampai suatu saat ketika kereta berhenti di stasiun Cikini, beberapa penumpang yang tampaknya menunggu dari tadi segera berhamburan ke gerbong yang dihuni Ogi dan Jamil. Beberapa orang kemudian berjalan mencari tempat sesuai keinginannya. Bahkan sampai ke gerbong lain. Setelah lengang, ada seorang ibu yang wajahnya sudah kelihatan tua tampak gelisah. Pandangannya kosong. Ia menatap lampu yang gemerlap di pinggir kanan jalan lewat jende­la yang memang terbuka lebar.

Bukan tak memperhatikan tingkah perempuan tua itu, tapi Ogi hanya enggan untuk berkomentar. Ia tahu, perempuan tua itu sedang dilanda kebingungan. Dan tentu saja ia tidak ingin menambah beban orangtua itu.

Ketika Ogi melemparkan pandangannya ke arah perempuan tua itu, mendadak perempuan itu berbinar. Ogi kaget. Kemudian ia membenarkan letak kaki yang dari tadi selonjoran. Sejenak kemudian si ibu sudah berada di samping Ogi. Ogi makin kaget. Tapi perem­puan tua malah tersenyum. Sementara Jamil, matanya sudah hampir padam. Nyalanya redup (bohlam kali!).

“Nak!” si ibu tampak ragu.

“Euu. Ada apa Bu?” Ogi agak gugup.

“Sekolahnya kelas berapa?” perempuan tua itu bertanya dengan nada hati-hati.

“Kelas dua SMU, Bu!” jawab Ogi.

Si ibu tua itu kemudian mengeluarkan photo ukuran postcard dari dalam tas kecilnya. Sambil menyodorkan ke hadapan Ogi. Ogi nggak ngerti, tapi kemudian ia melihat foto itu. Sambil menunggu apa yang bakal diomongin si ibu, Ogi diam sambil memper­hatikan raut muka perempuan tua itu. Tampak bibir yang sudah agak keriput itu mulai bergetar hendak mengucapkan kata-kata. Ogi serius memperhatikan.

“Ini anak Ibu. Kayaknya dia seusia dengan kamu, Nak!” komentar si ibu.

“Oh…” Ogi hanya bisa mengangguk sambil memonyongkan kedua bibirnya. Sebelum Ogi bersuara perempuan tua itu kembali ngomong.

“Tapi…” ia tak melanjutkan.

“Tapi apa, Bu?” Ogi berusaha memburunya.

“Ia sudah tiada. Ia sudah meninggalkan ibu untuk selamanya…” jawab perempuan tua itu diringi dengan sesenggukan.

“Bu. Tenang, Bu!” Ogi berusaha menenangkan si ibu yang terlihat tak kuasa menahan emosinya. Ia begitu larut dalam kesedihan. Sementara kereta tetap melaju, meski tidak terlalu kencang. Ogi bingung beberapa saat. Udara semakin dingin memukul-mukul badan Ogi, hingga membuatnya harus merapatkan jaket tebalnya. Sementara Jamil malah sudah pulas dengan sukses.

“Oh, iya, Bu. Pakai jaket saya,” Ogi menawarkan jasa setelah agak lama diam.

“Nggak usah, pakai saja!” perempuan itu beru­saha menolaknya.

“Anak ibu meninggal karena sakit?” Ogi coba menebak.

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala dengan lemah.

“Kecelakaan?” Ogi kembali menebak.

Perempuan itu hanya menggangguk pelan, dan diiringi dengan butiran bening yang serta merta keluar dari kedua matanya. Ia tak kuasa membendung kese­dihan itu. Hingga ditumpahkannya di hadapan Ogi. Ogi makin tak mengerti.

“Sebenarnya anak ibu kecelakaan di mana?” Ogi kembali membuka omongan.

“Kata orang-orang ia mati dikeroyok saat tawuran di KRL…” jawab perempuan tua itu dengan nada pilu.

“Jadi anak ibu ikut tawuran?” Ogi mencoba meyakinkan tebakannya.

“Korban tawuran, karena ibu tahu si Dadi ini anak yang baik,” wanita setengah baya itu berkomentar sambil menyebut nama anaknya.

Ogi diam. Ia kemudian membangunkan Jamil, namun yang dibangunkan malah tambah pulas. Malah sekarang disertai suara aneh mirip orang digorok. Ogi kesal juga.

“Ia anak baik, Nak!” si ibu mencoba meyakinkan Ogi.

Ogi hanya bisa diam sambil memandang iba ke wajah si ibu. Dipandangnya lekat-lekat.

“Kenapa dia harus pergi secepat itu?” perem­puan itu seolah protes.

“Bu, baik atau tidak baik. Kalau memang Allah sudah memutuskan, kita nggak bisa berbuat banyak,” Ogi menghibur.

“Ibu sangat mencintainya….”

“Kita harus menyadari, tak selamanya yang kita cintai harus kita miliki selamanya..” Ogi kembali bicara, meski dengan perasaan tak menentu.

Si ibu terdiam, matanya telah basah dan kelihat­an sembab oleh air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. Kereta sudah sampai di stasiun Pasar Minggu. Dan gerbong mulai lengang karena banyak penumpangnya yang turun di stasiun itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Dalam hati Ogi berpikir, kenapa kereta begitu lambat, padahal ini adalah kereta terakhir.

Jamil tetap terbuai dalam mimpinya. Sementara si ibu diam dan selembar foto itu masih dalam genggamannya. Ia melemparkan pandangan matanya ke luar jendela. Tampak gundukan mega hitam meng­angkasa di langit sebelah barat. Begitu hitam. Sesekali terlihat bintang yang bertaburan. Udara makin membuat beku. Ia asyik dengan pikirannya sendiri. Lama juga ia begitu. Ogi tak berani mengusiknya.

“Ibu mau turun di mana?” Ogi mencoba membu­yarkan lamunan perempuan tua itu.

“Ohh..” si ibu tampak gelagapan.

“Maaf, Bu. Ibu mau turun di mana?” Ogi mengulang pertanyaan.

“Bojonggede!” ucapnya pelan dan kembali mematung.

Ogi terdiam. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel menimbulkan bunyi yang tak enak di dengar. Makin malam. Mereka terus berdiam menikmati pikirannya masing-masing. Sesekali Ogi melemparkan pandangannya ke luar jendela. Sementara perempuan tua itu tetap diam membisu. Pandangan matanya tampak kosong, sekosong harapannya saat ini. Ia begitu merasa kehilangan anak lelaki yang sangat dicintainya. Seolah-olah ia merasa telah kehilangan harapan dan mimpi. Hidup baginya seakan bukan pilihan yang baik. Jamil masih asyik dengan mimpi indahnya.

Angin malam yang menerjang wajah Ogi membuat Ogi hampir semaput. Matanya sudah membentuk cekungan. Ogi hampir telap menyusul Jamil. Si ibu tetap diam membisu. Ogi akhirnya jenuh juga.

Tiba-tiba Ogi merasa mendengar suara jeritan wanita di gerbong ke tujuh. Ogi penasaran. Ada apa di gerbong tujuh. Rasa penasaran itu berhasil mendorongnya untuk melangkahkan kaki. Namun sebelum melangkah. Ogi berusaha membangun­kan Jamil.

“Mil, bangun, Mil!” Ogi setengah teriak.

“Ada apa sih, udah nyampe, bukan?” Jamil tampak gelagapan dan mengucek-ngucek matanya.

“Belum, baru nyampe Pondok Cina!”

“Ya udah, masih lama ini..” Jamil bersiap untuk tidur lagi.

“Eh, Mil. Kamu jangan tidur lagi, dong!” Ogi memaksa.

“Emangnya kenapa. Kamu takut?” Jamil malah ngaco.

“Sepertinya ada tantangan di gerbong tujuh!” Ogi ngasih tahu.

“Apa?” Jamil medelik.

Lagi asyik ngobrol begitu terdengar suara benda tumpul dipukulkan ke dinding kereta dengan keras. Ogi kaget, begitu juga dengan Jamil.

“Bu. Ibu diam di sini, ya?” Ogi menenangkan si ibu yang mulai was-was.

Ogi segera lari memburu ke gerbong tujuh. Namun baru saja nyampe di lorong rangkaian, ia balik lagi sambil pucat wajahnya.

“Ada apa, Gi?” Jamil nanya.

“Gawat. Gawat. Ada penodongan!” Ogi gugup.

“Terus gimana, dong?”

Ogi diam sejenak memutar otaknya.

“Mil. Kita harus cari akal. Mereka ada tiga orang. Membawa senjata semua,” Ogi ngasih tahu.

“Nah, kamu pancing supaya mereka buyar perhatian­nya,” Ogi mulai menyusun rencananya.

“Pancing, gimana?” Jamil masih belum ngerti.

“Kamu sekarang lari sambil teriak pura-pura takut dikejar aku,”

Jamil ngangguk-ngangguk sambil mengencangkan tali sepatu dan merapikan jaket kulitnya. Sementara si ibu dari tadi sudah mojok di ujung gerbong. Ia tampak ketakutan sekali. Kereta masih tetap melaju, saat ini hampir memasuki stasiun Depok.

Di gerbong tujuh terdengar kembali jeritan suara perempuan. Tak berpikir panjang lagi keduanya saling berkejaran.

“Toloooong…toloooongg!” Jamil teriak kenceng banget. Untung nggak disertai batuk-batuk karena Jamil memang mampu menjerit hingga tiga oktav. Di belakangnya Ogi mengejar sambil mengepalkan tangan menirukan orang yang hendak mukul. Efektif. Sebagai­mana teori sensasi, penodong mengalihkan perhatian­nya dan tertuju kepada Jamil yang teriak-teriak. Begitu lewat di depan orang yang sedang melakukan aksi penodongan itu. Ogi secepat kilat merebut pemukul besi yang kebetulan pemiliknya sedang lengah. Kontan saja doi kaget. Tapi buru-buru Ogi memukulkan besi itu tepat di lengan salah satu penodong yang lagi memegang pisau daging. Karuan saja roboh. Dan pisau itu terlem­par sejauh tiga meter.

“Mil! Ambil pisaunya dan lempar ke luar!” Ogi teriak sambil berusaha menyerang pemilik pemukul besi yang masih bengong mendapat serangan tiba-tiba itu.

Jamil gesit. Lalu mengambil pisau daging itu dan melemparkannya ke luar pintu kereta yang memang selalu terbuka. Namun keberhasilan Jamil hanya sesaat karena sejurus kemudian penodong yang membawa pisau belati menyerangnya. Tapi Jamil cepat meng­hindar dan berusaha untuk lari. Si penodong terus merangsek dengan serangan-serangan mematikan. Jamil kerepotan. Sementara Ogi juga sedang sibuk baku hantam dengan penodong yang satu lagi.

Tak ada orang yang mau menolong Ogi dan Jamil. Mereka berdua baku hantam tanpa ada yang berusaha menolongnya. Mungkin karena takut, soalnya di gerbong tujuh itu hanya ada dua orang lelaki. Itu pun sudah tua. Jamil dan Ogi teriak minta bantuan. Namun sial. Tak ada satu pun yang datang membantu.

Duel satu lawan satu itu makin sengit. Meski Jamil dan Ogi cuma bisa sedikit ilmu bela diri, namun karena terdesak oleh kebutuhan, akhirnya mereka bisa juga mengimbangi kedua penjahat itu.

Begitu kereta berhenti di stasiun Citayam keduanya berusaha teriak meminta bantuan. Namun malang, karena sudah malam di stasiun lengang. Apalagi di gerbong ke tujuh, ketika berhenti tidak pas berhadapan dengan bangunan stasiun. Hanya sebentar kereta berhenti dan melanjutkan perjalanannya. Ogi dan Jamil berusaha terus melawan kedua penodong.

“Aduh!” Jamil teriak kencang sambil memegang dadanya yang kena tinju.

Ogi menengok sebentar. Namun sial, satu pukulan telak mendarat di pelipis kirinya. Jamil dan Ogi sempoyongan. Tapi mereka berusaha untuk melanjut­kan pertarungan.

“Mil, lari!” Ogi ngasih komando.

Secepat kilat Jamil lari menuju gerbong enam lalu teriak-teriak meminta bantuan. Di situ ada sekelompok anak muda sedang menikmati lengkingan gitar Kirk Hammett dan dentuman drum Lars Ulrich dari kelompok Metallica. Lagu …And Justice for All yang dibesut Metallica pun menenggelamkan teriakan Jamil yang berulang kali minta bantuan.

Sementara Ogi sekarang harus berhadapan dengan dua orang sekaligus. Ia gugup. Tangannya memegang erat pemukul besi. Meski tadi sempat limbung juga akibat tonjokan di pelipis kirinya.

Kini Ogi dikepung. Ia kemudian merapat ke pintu. Kereta masih melaju. Dan bantuan rasanya lambat sekali datangnya. Ogi hampir putus asa.

“Laahaula walaa quwwata illa billah!” Ogi membatin.

Tiba-tiba seorang penodong menyerang sambil mengepalkan tinjunya. Ogi cepat menghindar, dan si lelaki gondrong itu kini berada tepat di hadapannya. Kontan saja Ogi mengayunkan besi itu tepat di kepala si penodong. Terdengar jeritan memilukan dan akhirnya lelaki naas itu roboh.

“Ayo maju! Kalau mau mengikuti nasib temanmu!” Ogi nantang.

“Bangsat!” kata lelaki kerempeng namun penuh tato itu sambil menyerangnya. Ogi lagi-lagi sigap menghindar. Dan malang benar nasib penodong itu. Karena tak perhitungan, akhirnya ia meluncur deras menuju pintu dan jatuh entah bagaimana nasibnya. Ogi kaget. Ia juga tak nyangka bila akhirnya orang tersebut harus menebus dosanya dengan terjun dari kereta yang tengah melaju kencang.

Ogi duduk lemas. Ia lemparkan pemukul besi itu ke hadapan tubuh penodong yang tampaknya pingsan karena pukulan besi di kepalanya. Ogi tak menyadari, bahwa si penodong yang dikiranya pingsan mulai menggeliat bangun dan tiba-tiba Ogi merasakan tenguknya seperti patah dihantam benda tumpul.

“Ahhhhh!” Ogi menjerit sambil memegang tenguknya.

“Hey, Bangun! Gi, bangun, Gi!” Jamil membangunkan Ogi sambil memegang tenguknya.

Tapi Ogi tetap teriak. Bahkan sekarang disertai dengan teriakan minta tolong.

“Gi! Bangun, Gi! Sadar, Gi!” Jamil teriak sambil mengguncang-guncang tubuh Ogi.

Ogi membuka kelopak matanya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

“Makanya kalo mau tidur baca doa dulu. Biar mimpinya nggak buruk,” Jamil nasihatin.

Ogi tersenyum kecut. Ia malu.

“Tuh, si ibu mau pulang!” kata Jamil sambil nunjuk ke arah perempuan tua di samping Ogi. Tak ada kata-kata ketika si ibu itu meninggalkan Ogi. Hanya lambaian tangan tanda perpisahan.

Ogi tak puas, Ia melihat ke luar gerbong. Tampak si ibu masih melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada Ogi. Ogi membalasnya dengan perasaan iba. Entah siapa perempuan itu. Ogi belum sempat mengenalnya lebih jauh. Namun pertemuan itu sangat berkesan di hatinya. Dan kereta itu kembali melanjut­kan perjalanannya ke Bogor.

“Mimpi yang menegangkan!” Ogi membatin. Angin malam mengiringi kereta terakhir dari Jakarta itu. Suara roda kereta yang bergesekan dengan rel kembali terdengar. Bunyinya sangat berisik. Awan hitam tampak masih mengangkasa menyertai perjalan Ogi dan Jamil[]

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 24/Juni 2004