Kisah Budi dan Bejo

Serial Trio Bebek
By: Pepno & Boim Lebon

 

 

MASIH inget kan sama Trio Bebek: Andra, Gugun, dan Boy yang sekolah di SMU Mandiri?

Okay, kalo udah lupa, terpaksa dingetin lagi. Trio Bebek ini adalah anak-anak kelas XI alias kelas 2 di SMA Mandiri yang dikenal sebagai pengarang top dan super ngocol! Mereka bertiga hobi ngarang, nggak cuma di pelajaran bahasa Indonesia aja, kadang-kadang di pelajaran Matematika juga pada ngarang! Hehehe…

Selain itu mereka juga mengelola sebuah mading alias majalah dinding yang selalu aptudet dengan tulisan-tulisan informatif dan konstruktif yang mampu mengundang ketawa cekakak, cekikik dan cekukuk!

Kenapa dikatakan sebagai ‘bebek’, karena mereka cenderung ‘cerewet’ lewat tulisan-tulisan ngocol yang mereka buat dalam menyikapi sebuah situasi dan kondisi yang kurang kondusif. Bahasa kerennya sih kritis!

Ya, selama ini mereka selalu menyalurkan aspirasi lewat tulisan yang mereka tuangkan melalui majalah dinding – SUARA BEBEK YANG PALING DALAM – tersebut!

“Eh, sekarang belajar bikin feature yuk!” kata Andra mengajukan usulan.

“Maksudnya laporan yang ada bumbu fiksinya!” terang Andra yang pinter bikin tulisan melankolis dan mendayu-dayu itu.

“Okay gue setuju. Biar mading kita lebih variatif!” ujar Gugun yang punya badan tinggi jangkung dan jago bikin tulisan puitis. “Siapa yang mau bikin?”

“Usul gue sih, Andra aja, “ kata Boy yang paling seneng bikin tulisan humor dan mencatat pengalaman-pengalaman lucu. “Dia kan yang punya usul.”

“Okay, siapa takut!” kata Andra tanpa basa-basi.

Maka pulang sekolah Andra langsung berdiri di depan sekolah untuk menuliskan feature-nya yang panjangnya bisa ngalahin daftar belanjaan ibu-ibu pejabat…

Halo para pembaca setia ‘SUARA BEBEK YANG PALING DALAM’, nikmati kisah ini, ya. Seru dan bisa dipetik hikmahnya, lho.

Jadi ceritanya begini …

Kenal Bejo kan? Lengkapnya Bejovi. Hihihi…

Pasto lo semua kenal ama Bejo anak kelas 11 F! Kata orang Jawa Bejo artinya anak baik, tapi kata gue sih Bejo itu artinya “Bener-bener Jomblo!” Hehehe…

Tetapi Bejo pernah bilang, kalo Bejo itu sebetulnya singkatan dari Benar-benar JooAkep. Idiih maksain!

Pokoknya dijamin, semua, ya semuanya – termasuk kepsek, guru-guru, cleaning service, tukang kebon, keamanan, si Lely anak ibu Kantin, Mang Maman tukang Cimol di pinggir pager sekolahan, sampe si Asro sopir angkot yang biasa ngetem di depan sekolahan semuanya kenal Bejo. Bukan lantaran prestasi atau rangking yang pernah diraih – sama sekali bukan karena itu. Jangankan prestasi apalagi dapat nilai yang tinggi, mau sekolah tiap hari aja udah sukur ‘Alhamdulillah’. Yang jelas Bejo yang masih duduk kelas dua itu bukan bintang sinetron, bukan anak band, apalagi cover boy, Bejo cuma anak sekolahan biasa. Kok bisa ngetop? Karena Bejo adalah seorang pahlawan. Eh bukan! Bejo itu bukan pahlawan tapi preman. Tepatnya adalah preman yang pernah jadi pahlawan!

Nah lho, penasaran, kan?

ooOoo

 

Di kelas Bejo ada anak yang bernama Budi.

Jadi ceritanya begini…

Si Budi justru kebalikan Bejo, sama sekali nggak ngetop dan odi malah kuper. Makanya sampai detik ini, semua, ya semuanya – kepsek, guru-guru, cleaning service, tukang kebon, keamanan, si Lely anak ibu kantin, Mang Maman tukang Cimol di pinggir pager sekolahan, sampe si Asro sopir angkot yang biasa ngetem di depan sekolahan nggak kenal!

Budi nggak gaul. Jam istirahat aja – yang seharusnya orang bisa kumpul sama‘gank’ en tongkrongan, bisa ngisi perut lantaran tadi pagi lupa sarapan, bisa nyiapin kebetan untuk ngadepin ulangan, eh si Budi–cowok tinggi kurus, kaca mata minus dengan wajah full jerawat ini–lebih memilih untuk ngulang-ngulang pelajaran. Ngotak-ngatik rumus. Kalo lapar? Ah itu bukan masalah. Kotak ransum dengan teh manis dingin di botol air mineral itu selalu setia menenangkan sang usus agar tidak mengganggu.

 

ooOoo

 

Lalu apa hubungannya antara Bejo dan Budi?

Jadi begini ceritanya ….

Bejo dan Budi dua sosok yang berbeda. Ibarat kopi dan susu, yang satu hitam dan yang satunya lagi putih. Yang satunya anak tongkrongan, sedangkan yang satunya anak perpustakaan. Tetapi kali ini kopi dan susu kumpul jadi satu. Kenyataannya Bejo dan Budi sekarang sobatan.

Banyak orang nggak percaya, meskipun mereka pulang sekolah barengan, nyeberang jalan gandengan tangan, minum es kelapa segelas berdua….

“Yang beneer?” teriak banyak orang.

Ini bukan gossip, Bejo dan Budi bener-bener jadi sobatan. Ibarat asam di gunung, garam di laut ketemu di pasar induk!

Selidik punya selidik, ternyata Bejo memberikan garansi keamanan kepada Budi.

“Pokoknya sekarang elo aman jalan sama gue! Mulai sekarang nggak bakalan ada yang berani ganggu-ganggu elo.”

Budi manggut-manggut.

“Eh, Bud, lo pernah dengar cerita pemain kuda lumping yang beli paku di tukang material?”

Budi menggeleng.

“Sama penjualnya ditanya mau dibungkus nggak? Eh, si pemain kuda lumpingnya bilang, ‘Nggak ah, makan di sini aja’”

Budi tersenyum.

“Bud, yang jelas lo aman gaul ama gue. Lo nggak usah minder lagi. Tapi lo nggak salahnya untuk selalu melihat ke sekeliling lo, karena itu adalah kebesaran Tuhan. Lo juga harus lihat keluarga dan sahabat lo seperti gue ini, itu adalah anugerah Tuhan. Terus lo lihat diri lo di cermin, nah itu cobaan Tuhan. Hehehe…”

Budi mesem.

Tapi yang jelas Bejo berharap Budi juga memberikan balasan setimpal atas ganjaran yang telah diberikannya, “Harusnya gue nggak pusing-pusing mikirin pelajaran lagi, nggak ada lagi ceritanya pusing dengan soal-soal ulangan, nggak ada lagi ceritanya harus keluar kelas gara-gara nggak bikin tugas, pokoknye mulai sekarang …hahaha … elo tau kan?”

Budi manggut-manggut.

“Ha… ha… ha…!” Bejo tertawa lepas. “Itu baru friend!”

 

ooOoo

 

Siang itu udara terasa panas. Panas banget.

Jadi begini ceritanya ….

Lagi panas-panasnya nahan sengatan matahari, tahu-tahu ada seorang okem dari sekolah seberang yang malakin anak-anak Mandiri. Kontan semuanya takut.

Dalam hati mereka berharap Bejo muncul, karena memang cuma Bejo yang berani sama okem ini. Tapi yang diharap Bejo eh, yang muncul malah si Budi, udah pasti dia jadi korban juga, “Eh, culun sini luh!”

Budi nggak berani menatap wajah si okem yang memanggilnya. Dia diam aja ketika kantong bajunya digeledah, kantong celana, isi tas, isi kotak ransum, tapi nggak satu rupiah pun ditemukan. Si okem kesal. Marah. Bogem mentah siap mendarat di jidat Budi yang jenong.

Belum sempat wajah tanpa dosa itu mendapat hadiah … tiba-tiba bukkk… Si okem jatuh tersungkur ke pinggir jalan. Satu pukulan keras berhasil mendarat di pipi kanannya.

“Sekali lagi gue liat tampang elo di sekolahan gue artinya ‘Mokat’”. Si okem pun cabut.

“Hidup Bejo, hidup Bejo, hidup Bejo!” semua teriak senang. Begitu juga dengan Budi. Dipeluknya sobatnya itu. “Thanks Jo, elo udah nolongin gue.”

Lagi-lagi Bejo jadi pahlawan.

“Eh, Bud, sekarang ikut gue yuk nongkrong di Pasar Anyar …” ajak Bejo. “Itu daerah jajahan gue ….”

Budi manggut-manggut.

“Eh Bud, ngomong-ngomong tahu gak lo perbedaan cinta dan bemo?”

Budi menggeleng. Soal begitu dia nggak tau, tapi matematika dan fisika jagonya.

“Kalo cinta dari mata turun ke hati, kalo bemo dari tanjakan turun ke kali! Hehehe… Soalnya remnya blong, bo!”

Budi tersenyum.

“Terus kalo dipegang lembek, tapi dipukul bikin panik? Tahu nggak lo?”

Budi menggeleng lagi.

Peuyeum nempel di kentongan pos ronda! Iya kan?”

Budi tersenyum lagi.

 

ooOoo

 

Nah, sekarang giliran si Bejo yang ngarepin pertolongan Budi.

Jadi ceritanya begini ….

            Wali kelas yang berasal dari tanah karo itu tiba-tiba berteriak lantang…

“Siapkan selembar kertas di atas meja kalian!”

Pak Tinjak menulis soal-soal ulangan di papan tulis berwarna hitam.

Bejo tampak PeDe. Jaman sekarang jelas beda sama jaman dulu. Kalo dulu setiap ulangan, Bejo harus nyiapin kebetan-kebetan. Kalo sekarang? Nggak lah Bejo tersenyum sambil menoleh ke mejanya Budi, “Lho, lho, di mana si B-budi?”

Bejo bergetar keras bak air yang mendidih di atas kompor.

Budi kok nggak ada?

Baru saja Bejo ingin menanyakan perihal Budi kepada seseorang di sebelahnya, Pak Tinjak sudah bicara–seperti mengetahui apa yang diinginkan Bejo, “Oh ya, ada sedikit pengumuman, tadi Ibunya Budi datang memberi kabar pada Bapak, ngasih tahu kalo Budi sakit panas, katanya karena kemaren pulang ke rumah sampai malam. Tidak biasanya Budi melakukan hal itu. Entah pergi bersama saipa dia? Nah, kita doakan saja, agar Budi cepat diberikan kesembuhan oleh Tuhan”

“Ya Allah, nggak bisa, ini nggak adil! Kemaren dia gue tolongin, gue ajak jalan-jalan, harusnya dia hari ini masuk, dong!” teriak Bejo yang membuat heran seisi kelas.

“Kenapa kamu Bejo?” tanya Pak Tinjak mengernyitkan jidatnya.

Bejo menghela napas. Tak menjawab. Tertunduk lemas.

 

ooOoo

 

Bejo lupa kalau menolong orang itu tidak boleh mengharapkan balasan. Nggak Ikhlas namanya!

Nah, jadi begitu ceritanya….

Tapi esoknya, si Andra juga tidak masuk sekolah. Gugun sama Boy bingung mencari-cari. Karena tulisan pada mading itu disukai orang. Mereka mau ngasih tahu kalau feature-nya Andra sukses berat.

Tapi yang kemudian orang ingin tahu, apa betul Bejo anak sekolah Mandiri, soalnya setelah diselidiki, dilakukan investigasi report, survey yang mendalam–gak ada tuh yang namanya Bejo?

“Wah, jangan-jangan itu kisah pribadinya si Andra lagi?” tebak Boy.

“Ya, bisa jadi,” Gugun. “Sekarang kan banyak penulis memakai figur orang lain untuk mengungkapkan buah pikirnya.”

“Hmm, besok gue mau bikin juga ah,” kata Boy.

“Tapi mau lo tulis di mana? Dindingnya udah kepenuhan begitu?”

“Ya, gue bawa dinding sendiri dari rumah!” jawab Boy cuek.[]

 

Tangerang, 29 Muharram 1427 H

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 18/April 2006