Layar-Layar Hati

By: Jazimah al-Muhyi

 

‘Adik sakit hati. Adik kecewa. Salahkah, Kakak?”

“Tidak. Tidak salah.’

‘Adik merasa kehilangan.’

‘Mengapa harus merasa kehilangan, jika sebenarnya kita tak pernah memiliki?’

Kutatap layar komputerku. Mataku yang sedari tadi berkaca-kaca telah menumpahkan bah. Aku tidak bisa menjawab lagi. Kak Arini benar. Aku tak pernah memiliki. Sama sekali tak pernah. Karenanya, aku tak boleh merasa kehilangan.

‘Dik, kenapa? Ada yang salah dengan kata-kata kakak?’

Tak sanggup kujawab. Aliran bah dari kedua sudut mataku menderas. Kusudahi chatting dengan salam lengkap. Mungkin Kak Arini jadi bingung dengan caraku yang tak biasanya. Tapi biarlah. Aku…aku tak sanggup. Logikaku mampu menerima, sedang hatiku……

Kubuka lagi undangan warna pink yang dikirim via attachment. Arini Kusuma Dewi. Menikah dengan Bagus Wira Prayuda. Mengapa? Mengapa ada rasa tersisih yang menyeruak? Mengapa ada rasa kehilangan yang begitu menghentak? Mengapa aku tak bahagia dengan kebahagiaan Kak Arini? Adik macam apakah aku ini?

‘Dik Raka, Kak Arini mau menikah. Kalau ada waktu, datanglah!’

Satu kalimat yang mengawati attach undangan itu. Yang membuatku terpaku di depan komputer dengan gemuruh rasa yang tiada mudah didefinisi. Yang membuatku linglung dan tak tentu arah berhari-hari.

“Ya Allah, Kak Arini bukan milikku. Namun mengapa…sakit yang merajam dadaku, yang mengiris tiap keping hatiku, tak mudah sirna.”

Kutengadahkan luka yang menganga pada tetes air mata. Kuharap terobati karenanya. Kuharap dukaku menjelma suka. Kuharap laraku hanya sementara.

“Sabar, Dik Raka!”

“Terus semangat, jangan pernah menyerah!”

“Apa yang bisa Kakak bantu untuk Adik?”

Sajadahku basah. Sarungku basah. Kopiahku terasa menyempit. Kalimat-kalimat pelipur hatiku.. akankah kembali kuperoleh…akanlah tetap menjadi milikku…..akankah tetap menemani hari-hari sulitku…. setelah Kak Arini menikah nanti?

Bagus? Bagus Wira Prayuda? Siapakah engkau? Apakah kau masih ijinkan aku menjadi adik Kak Arini setelah kau memilikinya? Entah dari mana asalnya, ada desir kebencian menyusup dalam aliran darahku. Pada laki-laki bernama Bagus Wira Prayuda itu. Sehebat apakah dia? Cemburukah aku?

Arini Kusuma Dewi. Seorang Kakak yang penuh perhatian, kuperoleh dari dunia maya setahun yang lalu, lewat satu miling list penyuka binatang piaraan. Padanya aku bisa bicara banyak hal. Padanya aku tak sungkan mengungkapkan persoalan pribadi. Padanya aku melabuhkan segenap kerinduanku pada sosok seorang kakak perempuan yang selalu kuimpikan.

Semuanya terasa indah. Hidupku terasa lebih bergairah. Aku punya kakak yang baik. Meski aku belum pernah melihatnya, aku selalu dihibur oleh nasehat-nasehatnya. Juga humor-humor segarnya. Bagiku, dia adalah Dewi Kehidupan. Sampai hari itu. Ketika awan kelabu, langit biru terlihat lesu, mentari meredup, dedaunan berhenti bergoyang. Angin pun seakan enggan membagi semilirnya kepadaku. Kak Arini memberitahukan rencana pernikahannya. Dan aku…terpaksa shock sendirian menerima kenyataan itu.

Pagi ini kujumpai dia. Dengan segenap sakit yang masih tersisa.

‘Apakah Raka masih adik Kak Arini?’

‘Tentu.’

‘Bolehkah seorang adik mencintai kakaknya?’

‘Harus itu!’

‘Seperti laki-laki dewasa mencintai perempuan dewasa?’

Sedetik..dua detik…tiga puluh detik……semenit…….lima menit……kutunggu. Kucoba sabar. Tiada jawaban. Aku terisak. Pasti Kak Arini marah dengan pertanyaanku. Pasti Kak Arini menganggap aku adik yang kurang ajar. Pasti! Kupencet dengan hati gusar tombol-tombol kibor. Disconnect.

“Raka, Mama ke airport dulu. Kalau mau berangkat bareng Papa, sejam lagi sudah harus siap. Mbok Jah, cepet siapkan sarapan buat Raka!”

Aku tak merasa perlu untuk menoleh, ataupun menjawab. Mungkin memang sangat tidak sopan. Masalahnya, aku sudah teramat bosan dengan semua robot yang ada di rumah ini. Keteraturan-keteraturan yang dipaksakan oleh remote kontrol bernama gengsi dan harga diri. Lagipula, aku sedang terluka. Terluka oleh kesendirianku. Terluka oleh keinginanku yang menggebu agar ada satu orang saja yang mau sungguh-sungguh memperhatikanku. Menyayangiku tanpa pamrih duniawi. Seperti yang sering Kak Arini katakan. Aku terluka …..oleh sebuah kenyataan bahwa Kak Arini akan segera menikah. Kini, siapakah yang mampu menyembuhkan luka hatiku?

Tanpa selera aku connect lagi. Iseng-iseng kulihat inbox yang baru sekitar sepuluh menit yang lalu kucek. Hatiku bersorak. Ada email baru. Dari Kak Arinikah?

Pengirim, Melati. Subjek, Cinta itu. Tak salah lagi!

Dengan debar yang pelan-pelan kuatur, kubaca email panjang lebar dari Kak Arini. Kuringkas intinya di dalam hati.

‘Bukan salah adik jika cinta jenis itu tumbuh di hati. Cinta yang terkontaminasi oleh nafsu-nafsu kita. Maafkan kakak. Cinta itu hanya pantas berlabuh pada haribaan pemiliknya. Sang Maha Pemilik Cinta. Tak seharusnya semua berakhir seperti ini.’

Kulalui malam dengan gelisah yang mendera. Kutunggu langit kelam segera berubah warna. Susah payah kukatupkan kelopak mata, agar berjalannya waktu bisa kulupakan dalam ketidaksadaran.

Pagi pun menjelang. Kulirik arloji yang kuletakkan di meja samping ranjangku. Pukul tujuh pagi. Aku melesat menuju ruang komputer. Saatnya aku bertemu Kak Arini.

‘Salahkah bila adik cemburu?’

‘Tidak. Tidak salah.’

‘Mengapa dia adalah Bagus? Dan bukan Raka?’

Lima detik…sepuluh detik. Kurasakan jarum panjang jam berjalan menyaingi siput. Akankah terulang kejadian kemarin? Jantungku berdetak lebih cepat.

‘Dik Raka, sepertinya kita harus bertemu.’

Dadaku berdebar kencang. Bertemu muka dengan Kak Arini? Yang selama ini hanya ada dalam angan-anganku?

‘Tentu, tentu saja Adik mau. Di mana? Kapan?’

Dengan semangat yang meluap sepenuh rongga dada, kucatat tempat dan waktu pertemuanku.

Tibalah hari yang kututnggu-tunggu. Kukenakan baju yang paling kusuka. Kubawakan hadiah sepasang sepatu paling manis yang kutemukan di toko. Semoga ukurannya pas dengan kaki Kak Arini. Juga sebuah jilbab berenda warna hijau lumut. Semoga Kak Arini berkenan menerimanya.

Aku mondar-mandir dengan gelisah. Berkali-kali melirik jam, berusaha konsentrasi baca koran, lalu berjalan hilir mudik tak karuan. Kucoba membuka rekaman ingatan tentang wajah Kak Arini dalam attachment pas foto hitam putih. Senyumnya yang tulus mudah kuingat. Yah, semoga dengan senyum itu aku bisa mengenali Kak Arini dengan mudah. Jam sepuluh lebih lima menit. Sudah lima menit berlalu dari janjiku dengannya. Apakah Kak Arini lupa? Apakah…….

“Dik, bisa pinjam korannya?”

Kuturunkan koranku. Kuperhatikan perempuan berjilbab yang ada di hadapanku. Dia tersenyum. Dan…ingatanku segera menangkap senyum itu. Kak Arini? Ya Allah…benarkah perempuan di hadapanku ini adalah dia?

“Dik Raka?”

Aku mengangguk.

“Perkenalkan ini Aditya, adik bungsu Kak Arini.”

Kusalami laki-laki tegap yang mendorong kursi roda Kak Arini. Kutahan rasa ngeri yang sempet membersit di hatiku ketika melihat luka bakar di pipi Kakak perempuan yang selalu kuimpikan siang malam itu.

“Mas Bagus mana?” Kucoba menetralisir rasa.

“Kami kan belum menikah, Dik. Tentunya belum boleh pergi berdua.”

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Segala materi pembicaraan yang kupersiapkan sejak di rumah menguap entah ke mana.

“Datang ya Dik, ke pernikahan kami!”

Aku hanya mengangguk pelan. Tertunduk menatap tanah tempat kakiku berpijak. Menggeser pandanganku pada rok Kak Arini. Aku kembali terkesiap. Rok itu…rok itu sangat lebar, hingga menyentuh dasar kursi roda. Rok itu dihembus angin dari arah yang berlawanan dengan posisi duduk kak Arini…dan….. Astaghfirullah…Kak Arini tidak punya kaki? Ya Robbi, kucoba bersikap wajar untuk menetralkan kekagetan.

Seolah memahami keterkejutanku, Kak Arini berkata. “Sudah kembali pada Allah, Dik. Dua tahun yang lalu, saat kecelakaan kereta api.”

Kurasakan ranselku makin berat. Sepatu yang hendak kuhadiahkan pada Kak Arini. Jilbab yang telah kubungkus rapi? Bagaimana?

“Insya Allah Raka akan datang ke pesta pernikahan Kakak. Tapi sekarang, sudlilah menerima kado dari adik.” Kuambil kado kecil yang berpita hijau dengan tergesa, Kuharap kak Arini tidak sempat melihat satu kado yang lebih besar di dalam tasku.

Menatap kado yang tertinggal di ransel, aku merasa tertohok sampai ke dasar jiwa. Bagus Wira Prayuda. Rangkaian nama yang semula kubenci itu, mendadak bagaikan Dewa Kehidupan baru bagiku. Dia lebih pantas dariku untuk bersanding dengan kakak sebaik Kak Arini. Dia pastilah seorang laki-laki yang baik, ikhlas, tulus, dan bertanggung jawab. Dia….semoga dia mau menjadi kakak laki-laki untukku. Seperti Kak Arini selama ini.

(Kepada adik yang sering membuatku menangis pada-Nya: Tetaplah berjuang di jalan-Nya! Selamanya!)

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 25/Juli 2004