Mendung di Tashkent

By: Malik Karim

 

Wajah Lembah Fergana memerah, hampir setiap hari terjadi penangkapan. “Asyhadu al-Laa ilaha illa Allah, Muhammad ar-Rasulullah. Allahu akhbar..” Rustam kembali berteriak. Gentar di hatinya telah sirna, berganti tekad untuk berjuang di jalan Allah, mengembalikan kemuliaan dan kejayaan Islam.

ooOoo

Lembah Fergana kembali menangis, tidak ada lagi sosok seorang pemimpin seperti Ustadz ‘Abdullatif Rusmanov. Siang itu, selepas sholat dzuhur, satu kompi pasukan antiteroris Uzbekistan datang mengunjungi masjid ‘Abdurrahman Maskarov. Mereka bukan ingin mengikuti ta’lim yang biasa dilaksanakan. Tanpa membuka lars dan mengucap salam, mereka langsung mengacungkan senjatanya ke kepala Ustadz ‘Abdullatif, menyeret dan langsung membawanya ke dalam mobil. Seminggu kemudian, satu kompi pasukan itu kembali. Mereka membawa sesosok mayat. Ya, mayat ustadz ‘Abdullatif Rusmanov.

“Kalian semua jangan banyak bertanya, cepat sholatkan mayat teroris ini dan kuburkan.” Ucap seorang laki-laki berpangkat sersan dengan kasar.

“Hey.., terlalu mudah baginya untuk mati. Karena gagal jantung, aku jadi kehilangan jatah untuk menyiksanya…” sambung sersan itu sambil menghisap cerutunya dalam-dalam.

Semua jamaaah yang melihat mayat itu hanya bisa diam sambil memandangi tubuh jenazah yang lebam penuh luka itu, mereka hanya bisa berbisik-bisik meragukan pembicaraan sersan tersebut.

“Wahai sersan. Apakah anda jujur dengan apa yang anda katakan..?” tiba-tiba sesosok lelaki paruh baya datang dari balik kerumunan warga dan bertanya.

“Apa maksudmu hai kakek tua..? tanya si sersan

“Aku tidak percaya dengan segala omonganmu itu. Ustadz bukanlah teroris, dia adalah seorang ‘alim yang jujur dan ikhlas. Tidak mungkin dia menjadi teroris seperti yang engkau katakan.” Ucap si Kakek.

“Hai kaum Muslimin. Percayakah kalian dengan ucapan sersan ini..?” sambung si kakek. Para jamaah kembali diam.

“Aku tidak percaya..” sebuah suara ikut ambil bagian. Sambil mendekati jenazah, laki-laki itu kembali berkata.

“Mana mungkin jenazah orang yang dikatakan gagal jantung lebam seperti ini, pasti kalian telah menyiksanya dengan kejam..”

“Hai anak muda, berani sekali kau menyangkal ucapanku. Apakah kau ingin menyusul mayat ini..?” tanya si sersan sambil menyepak kepala jenazah ustadz ‘Abdullatif.

“Dengarkan oleh kalian semua, lihatlah mayat ini. Inilah contoh orang bodoh, yang berusaha menggulingkan kekuasaan Presiden Karimov. Jika kalian berusaha menyangkal ucapanku, maka nasib kalian akan sama seperti mayat ini. Kalian paham..?” ancam sersan itu dengan nada sombong

“Hmm… sudah kuduga.” kakek tua kembali bersuara.

“Kalian hanyalah budak diktator itu. Kalian hanyalah antek-antek Yahudi karimov, kalian hanya..” belum sempat kakek tua itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba…

“Dor…!” sebuah peluru menyarang di dadanya. Si kakek meregang nyawanya. Syahid.

“Sudah kukatakan, jangan pernah menyangkal ucapanku.” Kata sersan itu sambil menginjak sisa cerutunya dan pergi.

ooOoo

Asrama Universitat Berlin.

“Rustam, apakah engkau jadi pulang ke Fergana..?” tanya Fateeh sambil memegang Sahwah ar-Rajul al-Mariid au as-Sultan ‘Abdul Hamid.

“Kau bertanya padaku..?” Rustam yang sedang berkemas balik bertanya.

“Apa kau pikir, aku bertanya pada Dr. Mouaffaq bani al-Marjih, penulis buku ini?” Fateeh rada kesel, Rustam tidak menyimak apa yang dia tanyakan.

“Maafkan aku saudaraku, aku kira kau sedang melantur. Membayangkan indahnya hidup di bawah naungan Khilafah. Benar saudaraku, aku akan pulang. Aku rindu Fergana.”

“Engkau tidak ingin menghadiri pengadilan terhadap kasus Arif..?”

“Maafkan aku, kerinduanku sudah memuncak. Jika tidak sekarang, entah kapan aku bisa pulang. Besok, setelah aku selesai meng-upload situs ini, aku akan segera mengurus tiket dan segala keperluan lainnya. Engkau sendiri bagaimana? Apakah engkau tidak rindu Istambul..?” Rustam balik bertanya.

“Aku akan pulang nanti, setelah studiku selesai. Sudahlah, aku ingin menyelesaikan bacaanku ini.” Fateeh kembali mengarahkan pandangannya ke buku.

“Hai, Rustam. Aku jadi berpikir, Universitas ini seolah-olah telah kita jadikan asrama para teroris. Apakah engkau pernah berpikir seperti itu..?” tanyanya kembali.

Rustam melotot mendengar pertanyaan dari kawannya itu.

“Mengapa engkau berpikir seperti itu? Apakah berjuang mengembalikan Islam ke muka bumi adalah aktifitas teror? Bukankah menjadi kewajiban kita? Apakah bukan menjadi hak kita sebagai seorang Muslim untuk hidup di bawah naungan Islam?”

“Sudahlah saudaraku, sudah. Aku hanya bercanda. Aku hanya sering kesal terhadap opini yang dikembangkan Barat. Mereka selalu mencap orang-orang yang berjuang untuk Islam seperti teroris”

“Yah, itulah mereka..”

ooOoo

“Insert your password, please” sebuah kotak dialog terpampang di depan layar monitor. Rustam sedang berusaha mengakses internet. Dia akan meng-upload data dari situs yang dia bangun bersama kawan-kawannya. Namun entah kenapa, bayangan Uzbekistan, terus saja membayangi. Segera dia buka sebuah jendela internet explorer. www.muslimuzbekistan.com. Segera dia arahkan kursor menuju sebuah menu yang terpampang, News today.

“Satu lagi, korban yang berjatuhan sebagai tumbal “War Againt terrorism” yang di kobarkan Presiden Karimov. Ustadz ‘Abdullatif Rusmanov, imam di masjid ‘Abdurrahman Maskarov, telah menemui Rabb-nya dengan tersenyum. Setelah ditangkap dan penjara selama satu minggu di penjara Jaslik, jenazahnya dikembalikan dalam keadaan yang menyedihkan. Tubuhnya penuh memar. Pihak yang berwenang menyangkal telah menyiksanya. Menurut mereka, Ustadz ini meninggal akibat gagal jantung. Do you believe it..?

Rustam hampa.

Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un..

Wajahnya memerah. Ayahnya tercinta meninggal dunia.

“Yahudi laknat..!” Rustam langsung melempar mouse yang dipegangnya. Keinginannya untuk segera pulang sudah tak terbendung. Dan sesaat, ia terkenang kembali masa kecil.

“Abi.., lihatlah.! Aku sekarang sudah memanggul Raya’” Ucap Rustam kecil sambil mengusung sebuah replika panji Islam.

“Aku ingin seperti Mush’ab bin Umeir, Abi. Aku ingin menjadi seorang haritsan..!” sambungnya.

“Apa kau tak takut dengan orang-orang kafir dan munafik nak..?” tanya Abi.

“Tidak Abi.., tidak. Aku ingin masuk surga Abi. Aku akan menjadi seorang penjaga Islam yang tangguh. Aku berjanji Abi..” jawab Rustam sambil mengibarkan raya’ kecilnya.

Astaghfirullah al-‘adzim…” kenangan masa kecilnya kembali datang. Segera saja Rustam berdiri. Setelah keluar dari lab. Komputer, dia langsung menuju kamar.

“Jadi kau pulang sekarang?” tanya Fateeh. Ternyata kali ini Fateeh tidak sendiri. Ada ‘Iqbal, Fareedh, dan banyak lagi.

“Ya.., aku sudah tak kuat lagi menahan rasa ini. Coba kau buka situs muslim Uzbekistan. Ayahku telah wafat, dibunuh dengan keji antek-antek yahudi terlaknat itu. Aku harus berbuat sesuatu di sana” Jawab Rustam.

“Balas dendam? Apa itu niatmu pulang saudaraku..?” Fareedh ikut bicara. Dihampirinya Rustam.

“Saudaraku.., jaga niat dan buang egomu itu. Islam bukanlah agama dendam. Begitu pula dengan peradabannya. Dan terlalu mulia untuk itu. Islam Ideologi kita, ideologi yang mulia. Kemuliaan yang hanya milik Allah, dan hanya akan datang dari Allah untuk kita. Aku tidak akan mengurungkan niatmu untuk pulang. Pulanglah, bumi ini sudah terlalu lama kehilangan Islam yang agung…” sambung Fareedh dengan lirih.

Rustam hanya tertunduk sambil menangis. Dia tidak kuasa untuk tidak membenarkan ucapannya sahabatnya itu. Setelah memeluk erat semua kawan-kawan yang hadir, dia segera berkemas dan berangkat menuju flughafen.

Sore di flughafen Berlin. “Jaga dirimu baik-baik sobat. Besarkan hatimu dan sampaikan salam kami untuk seluruh saudara di sana..” ujar Fareedh sambil menepuk bahu sahabatnya itu.

Setelah check-in, Rustam berangkat menuju ruang tunggu pesawat. Ba’da Ashar, pesawat berangkat menuju Tashkent. Ibukota Uzbekistan.

ooOoo

Rustam memasang sabuk pengaman. Setelah terbang selama hampir enam jam, dan transit di London, pesawat akhirnya landing di Tashkent. Segera dia mengantri untuk segera keluar. Namun baru saja dia menginjakkan kakinya di atas landasan bandara Tashkent. Satu kompi pasukan anti teroris Uzbek telah menjemputnya.

“Apakah anda yang bernama Rustam Ali Akhbar Rusmanov..?” tanya pimpinan pasukan dengan logat Inggris-nya yang bad.

“Ya.., benar. What happen Officer..?”

“Kami menerima informasi dari GSG-9 bahwa akan datang seorang anggota teroris ke negeri ini. Dan mereka juga menyerahkan foto dan biodatanya lengkap”

“Lalu, apa hubungannya dengan saya?”

“Anda ingin tahu? dan benar-benar ingin tahu..?”

Belum sempat Rustam menjawab pertanyaan pimpinan pasukan itu, sebuah pukulan dari laras senapan hinggap di wajahnya.

“Bugg” Rustam pun tersungkur.

Sambil menatap anggota pasukannya, sersan itu berteriak. “Tangkap keparat itu..! jika dia melawan, habisi saja dia..!”

Dalam keadaan terseret dan setengah sadar akibat pukulan laras senapan, Rustam kembali teringat ucapannya kepada Abi waktu kecil.

“Abi.., aku ingin seperti Mush’ab. Aku ingin menjadi seorang pejuang Islam yang tangguh.”

Rustam terpikir, apa yang di alaminya sekarang sama dengan apa yang di alami oleh sahabat-sahabatnya. Arif di Jerman, Ian, Majed, Reza di Mesir dan para orang-orang terdahulu. Fitnah selalu ditimpakan kepada para pengemban dakwah.

ooOoo

Ruang sidang utama pengadilan tinggi Tashkent.

Rustam berdiri di sudut ruang sidang, di tempat tertuduh. Matanya masih nanar akibat pukulan-pukulan yang diterimanya di penjara. Tak ada orang yang menyaksikan sidang ini, bahkan tidak ada seorang pengacara yang mendampingi Rustam. Rustam sempat berpikir. “Inikah keadilan di peradilan yang dijanjikan Yahudi Karimov saat ia dilantik menjadi presiden? Ah, ini dusta. Dia adalah pengemban ideologi kapitalis. Tidak akan pernah mungkin seorang pengemban sebuah ideologi membiarkan pengemban ideologi lain hidup tenang. Jangankan membiarkan ideologi yang dianutnya berkembang, keadilan pun menjadi sebuah kemustahilan baginya.”

Sampai waktunya sidang digelar. Seorang jaksa datang membawa sebuah mushaf al-Qur’an.

“Berjanjilah, bahwa anda akan mengatakan yang sejujurnya” kata jaksa tersebut.

Rustam hanya duduk, dia tidak mau berdiri. Sambil memegang mushaf al-Quran sakunya, dia kemudian berkata, “Tuan, apakah anda seorang Muslim? Apakah anda memahami makna syahadat yang telah kau ucapkan..? lihat, aku selalu membawa al-Qur’an. Aku tidak akan pernah berdusta. Tapi dengarkan olehmu, aku tidak akan berkata baik hanya untuk menyenangkan hati tuanmu yang Yahudi itu.”

Sambil mengacungkan al-Qur’an sakunya Rustam lalu berdiri.

“Inilah ideologiku, apakah ideologimu sama denganku..?” tanyanya pada si jaksa.

Hakim yang melihat kejadian ini, memukulkan palunya.

“Anda berhak bicara hanya bila ditanya. Jika tidak, anda lebih baik diam. Sekarang saya minta anda untuk bersumpah..”

“Aku tidak akan pernah diam melihat kezaliman ini. Dan aku tidak akan bersumpah sampai kalian bersumpah bahwa tidak ada Ilah selain Allah, Muhammad rasul-Nya, Islam yang tinggi, dan syari’at-Nya lah yang harus diterapkan.” ucap Rustam dengan lantang. Semua orang yang ada di ruang sidang terpana. Rustam kembali berbica.

“Kalian pasti sudah tahu siapa aku, aku seorang muslim, dan aku putra Uzbek. Salahkah aku jika aku menuntut hanya ingin diperintah dengan hukum Islam yang Kaffah? Apakah itu salah dan menjadi sebuah dosa?” suara Rustam bergema memenuhi ruangan sidang.

“Diamlah. Sudah kukatakan, anda hanya boleh berbicara jika anda ditanya. Sidang ditunda minggu depan. Sementara, tertuduh ditempatkan di penjara Jaslik”.

Di penjara Jaslik Rustam tidak sendirian, karena di sana sudah ratusan kaum muslimin lainnya yang dijebloskan ke tempat sunyi dan gelap itu. Karimov ingin membungkam semua penentangnya yang akan menegakkan Khilafah Islamiyah. Ia sangat khawatir, bahwa tegaknya Khilafah secara tidak langsung akan mendepaknya dari tampuk kepimpinan di Uzbekistan. Itu sebabnya, sikap paranoidnya terhadap Islam membuatnya gelap mata.

“Aku tidak tahu warna langit siang hari ini. Tidak ada satupun organisasi kemanusiaan di dunia ini yang tahu, apa yang sesungguhnya telah terjadi di penjara Jaslik. Semuanya luput dari pemberitaan, atau memang sengaja ditutup-tutupi oleh rezim Karimov. Yang pasti, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Pemberi Pertolongan. Ya Allah, matikan aku sebagai seorang syuhada…”

Rustam mengetahui, penempatan dirinya di dalam penjara Jaslik, bukanlah untuk menunggu persidangan selanjutnya. Melainkan hanya sebuah kedustaan. Penjara Jaslik, adalah tempat yang strategis bagi para anjing-anjing Yahudi itu untuk menyiksa kaum muslimin yang rindu tegaknya Islam di bawah naungan Negara Khilafah.

ooOoo

Seminggu kemudian, di situs resmi sebuah kantor berita Amerika.

“Pemerintah Uzbekistan kembali menghukum mati salah seorang anggota jaringan teroris internasioanal. Rustam Ali Akbar ditangkap di bandara Tashkent beberapa menit setelah mendarat setelah penerbangannya dari Jerman. Di dalam tas kecil yang dibawanya, pihak yang berwenang di Tashkent menemukan setengah kilo gram heroin. Selain itu, Rustam juga diduga menjadi bagian dari jaringan organisasi teroris internasional. Ia langsung di tembak mati setelah menyerang petugas. Sebuah kemajuaan besar bagi sebuah negara yang baru belajar demokrasi”

Mendung menyelimuti Tashkent, melepas kepergian seorang Syuhada…[]

(Teruntai salam untuk saudaraku di Kassel, Jerman. Take care, n keep in touch, bro..)

 

Catatan:

Flughafen: Bandara

GSG-9: Salah satu dinas Intelijen Jerman, yang bernaung langsung di bawah Departemen Pertahanan. Dan merupakan Tim ter-elit dari pasukan Jerman. Dinas ini ambil bagian dalam pengopinian keganasan gerakan Neo-Nazi, dan penjegalan terhadap beberapa gerakan Islam yang berkembang di sana.

Penjara Jaslik: Penjara di pinggiran kota Tashkent, merupakan penjara terkumuh. Dan merupakan salah satu tempat penyiksaan terkeji untuk menghentikan gerak langkah bagi para pengemban dakwah yang ingin nmelanjutkan kembali kehidupan Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Di penjara ini, para pengemban dakwah hanya merindukan syahid.

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 16/September 2003