Opera SMU

By: Ria Fariana

 

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, kata banyak orang sih. Minimal itu pula yang dikatakan guru PPL di sekolahku. Tahu guru PPL kan? Itu lho, sekelompok mahasiswa yang kuliah di keguruan dan mengajar beberapa bulan di sekolah tertentu untuk praktik. Aku sih bodo amat, aku merasa jati diriku udah mantap di jalur ini bareng teman segangku, club PUNK (baca pang). Memang sih kami belum ‘kaffah’ jadi punker beneran. Tapi paling tidak dari segi gaya kami harus menunjukkan jati diri sebagai penganut aliran punk, dan sekaligus counter bagi aliran underground.

Rambut diberi jelli sehingga tegak menyerupai landak, baju kedombrongan dan gaya cuek menjadi ciri khas aliran punk di sekolah ini. Kelompok punk dari sekolah lain lebih berani dengan mencat rambutnya dan menindik kuping atau hidungnya. Kami tidak bisa seperti itu karena ancamannya dikeluarkan dengan tidak hormat dari sekolah.

Cenderung pendiam dan memakai make-up gelap tipis dengan gaya berjalan sangar ditunjukkan kelompok underground. Bila di luar sekolah, mereka lebih suka memakai kaos hitam atau yang warna gelap. Aliran ini mulai ngetop sejak tahun ajaran baru lalu dimotori oleh anak kelas 1A.

Awal tahun ajaran ini cukup membosankan karena kelas tiga hanya diberi guru PPL bimbingan karier. Itu juga sudah ‘habis’ dikerjai teman-teman. Padahal masih banyak guru PPL bidang studi lain seperti Fisika, Sejarah, Bahasa Inggris, termasuk juga Olahraga. Ini nih yang asyik, guru PPL Olahraga ada yang berjenis cewek, cantik lagi. Dengan rambut cepak tapi masih terlihat feminin. Tubuh atletis dan tinggi sekitar 170 cm plus kulit putih, pantesnya nih calon guru jadi foto model aja. Asyiknya lagi, lapangan olahraga berada tepat di sebelah kelas kami, 3 IPS 1.

Ada juga guru sejarah yang ‘endut’ dan nyebelin banget tiap lewat depan kelas kami. Teman-teman selalu memanggilnya ‘BUL’. Tahu Bul kan? Itu lho yang temannya Bil di Saras pahlawan kebajikan yang endut banget dan selalu kalah (iihh….ketahuan maniak Saras nih).

Lalu ada lagi dua guru PPL yang pake kerudung putih tiap kali ngajar. Yang satu guru Fisika. Orangnya cukup manis juga dan selalu disuit-suitin setiap lewat. Dan yang satunya nggak jelas tuh guru apa. Nggak populer menurut kami karena nggak begitu cantik, apalagi dengan pakaian putih hitam terusan yang sedikit aneh menurutku.

Ketika guru fisika yang manis itu pakai rok hitam panjang dengan hem putih dimasukkan ke rok plus kerudung putih yang diikat di leher gaya anak muda sekarang, guru yang satu ini memakai terusan putih hitam seperti jubah dan kerudung yang cukup lebar menutup dada. Ah…pusing amat, toh nggak ada yang istimewa pada dirinya.

Hari Rabu siang, setelah pelajaran matematika, the most hated pelajaran di kelas IPS. Tinggal satu pelajaran Bahasa Inggris, lalu pulang. Wah, kalau pelaajran ini sih aku sedikit suka, meski nggak ngefans banget. Tujuan utama suka pelajaran ini sih pingin bisa nyanyi sefasih Limp Bizkit ketika melafadzkan lirik-lirik lagu. Nggak lucu khan kalau tongkrongan udah oke abis tapi waktu manggung nyanyi bareng bandku, kosakata Inggrisnya belepotan. 15 menit berlalu, Bu Rosa yang killer itu belum masuk kelas juga.

Deg. Tiba-tiba di depan kelas sudah ada sosok aneh dan misterius itu. Suitan-suitan nakal mulai terdengar dari mulut teman-teman geng-ku. Tapi mereka pun tetap tidak beranjak dari meja yang didudukinya, seakan-akan tidak peduli. Yang lainnya hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan obrolannya terutama yang cewek. Bahkan di antara mereka ada yang dengan cueknya sibuk makan makanan kecil.

Herannya, tidak ada sepatah kata pun keluar dari sosok itu selain tersungging senyum tipis mengamati kami semua dari depan kelas. Untuk beberapa saat situasi itu berlangsung ketika suasana berubah sedikit tenang meskipun teman-teman masih tetap di posisi semula. Dan suasana seperti itu dimanfaatkan oleh sosok itu untuk unjuk suara. Tapi belum sempat aku mendengar apa yang diucapkannya, teman-teman sudah ramai lagi dengan konyolnya seakan-akan tidak ada suara itu.

“Kok ada suara tapi nggak ada orangnya ya,” celetuk Sony dengan ekpresi seperti orang mencari barang yang jatuh di kolong-kolong bangku. Teman-teman yang lain tertawa keras-keras melihat kelakuan Sony. Kulirik sosok di depan itu, tetap dengan ekspresi wajah semula dan senyum tipisnya yang tidak berubah. Ketika tawa itu sedikit mereda,

“Cuma segini yang bisa kalian tunjukkan ke saya?” tanya sosok itu.

Spontan mereka kembali tertawa keras-keras lagi meski aku sendiri tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Sepertinya mereka, maksudku kami karena termasuk aku hanya ingin melihat sejauh mana mental sosok itu menghadapi kelas kami.

“Hanya segini? Apa tidak bisa lebih lagi?” tanyanya dingin. Sikap dan ekpresinya itu membuat kami pelan-pelan membenahi posisi duduk. Yudi yang semula membelakangi papan tulis sambil duduk di meja mulai memutar badannya untuk bisa mengamati sosok itu dengan lebih jelas. Hendro yang semula kakinya di atas meja mulai diturunkan, Bimo bahkan mulai turun dari meja dan duduk di bangkunya. Toro pun menghentikan dentingan gitarnya dan mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku pun cuma tersenyum menanggapinya. Kesemua geng-ku itu melihat ke arahku untuk mendapatkan persetujuanku apakah sosok ini memang pantas diberi perhatian atau tidak. Kuanggukkan kepalaku. Gengnya Lisa cs pun mulai menghentikan obrolan gosipnya. Tari dan Sulis cs menghentikan kunyahannya dan memasukkan makanan kecil itu ke tas masing-masing.

“Kenapa malah diam? Saya menantang kalian untuk kenakalan yang lebih dari ini.”

Gile bener, ketika dia sudah mulai mendapat perhatian kami, dia malah balik menantang. Beberapa dari kami mencemooh dan bertingkah sedikit over dengan tantangan itu. Tapi terlihat sekali kalau mereka melakukannya setengah hati dan tidak kompak karena sebagian besar memilih diam dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Sambil memegang buku di tangannya, sosok itu kembali melanjutkan,

“Biasanya siswa yang nakal itu punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Saya ingin tahu, apa yang bisa kalian banggakan terhadap saya. Kelas IPS itu lemah di pelajaran ilmu pastinya, tapi harus lebih di pelajaran sosial atau bahasanya.” Dia diam sejenak.

Lalu dia berbicara sedikit panjang dan lebar yang membuat kami tidak berkutik. Ya…sosok itu ternyata guru Bahasa Inggris dan sekarang nyerocos dalam Bahasa Inggris yang sangat fasih, bahkan tidak ubahnya seperti ‘native speaker’ yang cuma aku dengar di Lab bahasa dan film-film asing. Benar-benar ‘unbelievable‘!

“Kenapa diam? Jangan-jangan kalian tidak mengerti apa yang saya bicarakan.”

Kelas hening.

“Saya dulu dari kelas A3, IPS juga seperti kalian. Ketika semua memandang bahwa kelas IPS itu kelas buangan dan terdiri dari anak-anak kurang pintar yang bisanya cuma bolos dan nakal, saya berusaha membuktikan bahwa mereka salah. Paling tidak saya berusaha membuktikan bahwa ada anak IPS yang bisa berprestasi. Saya tidak menyombong, tapi beberapa kejuaraan pidato dan debat dalam Bahasa Inggris bisa saya menangkan. Lalu tembus perguruan tinggi negeri juga bisa saya lalui.”

Kelas semakin hening.

“Saya salut dengan remaja nakal, tapi harus ada yang bisa kalian banggakan.”

Clap. Calon ibu guru itu memukulkan buku yang dipegangnya ke meja di depannya.

“Tidak usah tegang, rileks saja. Saya hanya pengganti sementara kosong guru, karena tidak ada yang mau masuk kelas ini,” katanya sambil tersenyum.

Tidak heran, beberapa guru PPL yang lain telah gagal dengan sukses di kelas ini. Bahkan guru senior pun enggan berurusan dengan kelas kami.

“Ada tugas dari Bu Rosa, soal latihan bab 2 dikumpulkan minggu depan.”

Terdengar gemerisik dari seluruh penjuru kelas, kasak-kusuk. Akhirnya si Niko, cowok blasteran China-Jawa yang kayak Jerry Yan (tahu Jerry Yan kan? Itu lho yang main Tom & Jerry, eh..salah ding) mengacungkan jari kelingking, eh telunjuknya.

“Bu, eh….panggil Mbak aja ya?” katanya canggung sedikit nervous setelah dengar ketegasan sang calon ibu guru ini.

“Sudah punya pacar belum?”

Huuuuu……suara langsung ramai, riuh rendah mengiyakan pertanyaan si Niko.

“Belum dan tidak akan pernah” jawaban itu jelas dan tegas.

Itulah kali pertama kelasku mau terdiam untuk mendengarkan penjelasan tentang banyak hal dari guru PPL yang sudah tidak misterius lagi. Namanya Anisa, seindah dan seanggun akhlaknya. Dia banyak memperkenalkan hal-hal baru pada kami. Ketika aktivis rohis sekolah punya konsep pacaran islami, dia datang meluruskan pemahaman itu. Uniknya lagi pendekatan yang dia lakukan adalah mengajak kami berpikir apa dan bagaimana aktivitas pacaran yang cenderung mendekati zina itu dilakukan sebelum merujuk ke dalil dalam Islam. Terlalu muluk bila kami melulu diajak ngomong dalil, dan dia tahu itu.

Dia datang menyentuh banyak hal dari sisi kehidupan kami. Tentang konsep diri, tujuan hidup; terlebih mau ke mana setelah lulus SMU, apa tujuan bersekolah dan menuntut ilmu dan ini nih yang paling penting…”Setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan tentang apa yang dipimpinnya.” Weckss….dia menyentil posisiku sebagai pemimpin generasi punk meski secara tidak langsung.

ooOoo

Hari ini sedikit beda. Tomi menyambutku di depan pintu gerbang sekolah. Dia membisikkan sesuatu ke telingaku. Di belakangnya Ion, Jali, Agus mengangguk mengiyakan. Gerahamku mengeras. Ternyata kelompok underground mulai menyebarkan pengaruhnya. Hmm…..menantang perang ini namanya.

Seharian kusiapkan strategi dengan teman-teman. Akhirnya strategi berhasil disusun. Lokasi sudah ditetapkan dan jadwal pun sudah matang. Hari Sabtu di terminal belakang sekolah adalah tempat yang ideal untuk menghadang dan menghajar anak kelas satu yang sok jagoan itu.

Hari ini waktu terasa lambat sekali. Hingga akhirnya tiba juga pukul 12 ketika bel pulang berbunyi. Hampir separo kelas yang kesemuanya adalah geng-ku tinggal di kelas ketika yang lain berebut pintu untuk keluar. Rencananya akan ada sekitar tigapuluhan anak dari generasi punk. Setelah beberapa saat, mereka menyebar ke kelas lain untuk mengumpulkan dukungan. Tinggal aku dan Tomi, sahabatku sekaligus pelaksana hampir semua rencana. Lalu Tomi keluar untuk melihat situasi dan meyakinkan bahwa semua guru sudah meninggalkan sekolah. Sambil menunggu Tomi kembali, kukeluarkan lem UHU dan mengeluarkan isinya ke telapak tanganku sebelum kuusapkan ke rambut dengan arah ke atas ala Mohawk. Yah, untungnya wajahku gak ancur-ancur amat, gak kalah sama David Beckham. Maksudnya kalah jelek gitu. Eh, enggak ding.

Tomi kembali sambil mengacungkan jempol tanda semuanya beres. Kukeluarkan hem putihku dari celana sambil berjalan menuju terminal. Hanya beberapa meter, terminal sudah di depan mata. Terlihat beberapa dari geng-ku sudah menempati posisi masing-masing. Dan seperti rencana..

“Itu dia, anak kelas satu yang berani berulah sedang jongkok bersama teman-temannya,” Aku berjalan menuju ke arahnya dan berdiri tepat di hadapannya. Dia tengadah tanpa berusaha merubah posisi jongkoknya.

“Kamu Awang, anak 1A ya?” tanyaku garang.

“Kenapa?” jawabnya singkat.

Jab! Satu pukulan telak kuarahkan ke wajahnya. Sebelum aku sempat memukul lagi ada suara tepuk tangan dari belakangku. Teman-teman pun berlarian ke arahku untuk mengeroyoknya seperti rencana semula. Tapi belum sempat itu terlaksana satu sosok sudah berdiri di depanku, memisahkan pandanganku dari Awang.

“Jadi begini siswa terpelajar menyelesaikan masalahnya” katanya tegas. Duh, dia lagi.

“Saya mengenali kalian semuanya. Walaupun saya bukan guru bidang studi kalian, tapi saya bisa mempengaruhi nilai kalian” katanya lagi ketika melihat teman-teman mulai tidak sabar.

“Begini saja. Biarkan keduanya menyelesaikan masalahnya secara laki-laki. Awang, kamu berani?”

“Iya Bu,” anak kelas satu itu di luar dugaanku mengiyakan tantangan ini.

“Kamu?” Sialan. Guru yang satu ini benar-benar tidak mau berhenti.

Kupandang teman-temanku dan ada rasa harap dari wajah mereka agar aku mengiyakan.

“Boleh,” kupandang tajam mata calon ibu guru yang sok itu. Tapi dengan entengnya dia tersenyum dan berjalan ke arah sekolah sambil berkata,” besok jam enam pagi di AULA sekolah. Jangan lupa atau ketidakdatangan kalian secara otomatis menobatkan siapa yang pengecut.” Glek. Kutelan ludah dengan susah payah.

Hari Minggu pagi itulah titik tolak dari seluruh kesadaranku, setelah diperdaya dengan sukses oleh Bu Anisa. Dia sudah siap di sana ketika aku datang. Dia tidak sendirian tapi ditemani guru olahraga yang semula kukagumi kecantikannya itu. Tapi kharisma Bu Anisa mengalahkan itu semua. Ketika aku sudah siap berhadap-hadapan dengan Awang, saat itulah dia memberi pertanyaan unik. Dia bertanya apakah kami ini ayam atau manusia. Ya, kami adalah manusia yang mempunyai akal dan berbeda dengan ayam. Tapi kami bertarung dan memakai otot untuk memperebutkan sesuatu yang tidak beda dari ayam. Saat itulah aku tersadar bahwa kami bukanlah ayam untuk disabung. Dan sesungguhnya antara geng punk ataupun underground tidak ada sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. Karena memang kami bersaudara, seakidah…

Tap. Ada yang menepuk pundakku.

“Mas, rapat persiapan panitia bedah buku sudah siap nih.” Aku tersenyum.

“Teringat Bu Anisa ya?” Awang menggodaku. Yah, di kampus ini aku dipertemukan lagi oleh Allah dengan musuh besarku yang sekarang bahkan seperti adikku sendiri. Akidah Islam telah menyatukan kami dalam dakwah. Bahkan kami bertekad untuk terjun langsung di arena dakwah dengan anak-anak SMU sebagai target utama. Dan hari ini adalah rapat panitia bedah buku ‘Jangan Jadi Bebek’.[]

(Teruntuk ‘the unforgetable memory’ di SMUN Maospati)

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 11/April 2003