Pejantan Sejati

By: Koko Nata

 

“Sudah siap pesta Al ? Let’s Party!” seru Dodo. Dua tangannya mendorong Al, Jai, dan Toni masuk ke sebuah cafe di areal plaza semanggi.

Hingar bingar musik menyambut kedatangan mereka. Teriakan DJ menyemangati seisi ruangan temaram untuk bergoyang. Lampu kerlap-kerlip menyirami tubuh-tubuh yang asyik bercengkrama. Tawa gembira dan bau parfum bercampur keringat menyeruak. Wajah-wajah polos yang setiap pagi berseragam putih abu-abu telah berubah jadi pangeran dan putri kota.

Ini untuk pertama kalinya Al menikmati dunia gemerlap malam. Kemeriahan seperti ini hanya pernah dilihatnya di televisi. Beginilah suasana pesta. Inilah kafe full music. Inilah irama techno. It’s party time. Inilah kehidupan malam Jakarta.

“Yiha!!! “ teriak Dodo yang langsung ikut menghentakkan badan. Teriakannya hampir tak terdengar. Tertelan dentuman musik.

“Nggak ada acara potong kue nih!” tanya Al heran, agak berteriak.

“Itu sih acara pesta anak TK, Al!” sahut Toni.

“Mungkin sudah dari tadi. Kita ngucapin selamat dulu sama tuan rumah yuk.” Jai mendorong bahu Al ke depan. Seorang gadis menjadi bunga primadona kumbang. Dialah Rani, si ratu pesta. Pakaian mengkilap tanpa lengan dengan rok menggantung beberapa senti di bawah lutut, membuatnya terlihat dewasa beberapa tahun. Al mengikuti Jai mengucapkan selamat pada Rani. Setelah itu ia kembali mengekori Jai mencari minuman pelepas dahaga.

Di sebuah sofa berwarna merah, Al menghempaskan diri. Tak jauh darinya duduk sepasang remaja. Al tak mengenalinya. Tapi ia memastikan usianya belum menyentuh angka dua puluh. Asap rokok mengepul dari mulut si cowok. Jambulnya nampak basah dan keras. Kancing bajunya terbuka. Memamerkan petak dada tegap. Gadis pasangannya duduk merapat, mendekap si cowok. Menikmati hembusan asap dari mulut si cowok. Sesekali mereka menegak cairan kuning dari gelas berkaki di meja.

Al mengalihkan pandangannya. Menyapu seluruh pengunjung ruangan. Semua bergaya trendy. Dandanan serupa iklan pakaian di majalah dan televisi. Pantas saja Dodo menganggap penampilannya anak mami sekali. Kemeja lengan pendek putih bergaris hitam yang ujungnya tersimpan rapi di balik celana kain casual hitam. Pantofel licin senada celana menyelubungi kakinya.

Al menduga-duga, kalau Bunda tahu ia datang ke tempat seperti ini apa yang akan dikatakannya? Pasti Al tidak akan pernah sampai di sini. Untuk pergi saja ia sempat menyamarkan informasi tempat pesta.

“Cuma pesta ulang tahun kok, Bun! Bukan pergi kelayapan macem-macem,” ujar Al beberapa jam yang lalu.

“Tempatnya di mana? “

“Al kurang tahu persis. Nanti pergi bareng Jai. Dodo bawa mobil. Dia jemput ke sini.”

Bunda diam menimbang. Tak yakin dengan ucapan Al.

“Ayah percaya sama kamu, Al. Tapi apakah pergi ke pesta malam ini sangat penting dan tidak bisa dibatalkan.” Ayah ikut buka suara.

Al menghela napas panjang. Jika Ayah sudah angkat bicara ia jadi agak segan.

“Rina itu teman sekelas Al, Yah. Duduknya tepat di depan Al. Nggak enak kalau sampe nggak datang. Al juga sempet diledek anak bau kencur lantaran nggak pernah keluar malam,” ujar Al lirih.

“Tidak perlu diambil hati ejekan mereka. Buat apa keluar malam kalau tiada artinya. Keluar malam boleh saja kalau ada perlu.”

Al ingin tertawa mendengar kalimat Bunda yang mirip syair lagu begadangnya Rhoma Irama.

“Omongan Bunda kayak lagu begadang aja.” Ayah tersenyum. Rupanya ia sadar juga. Untuk beberapa saat ketegangan agak cair.

“Gimana, Yah? Al boleh pergi, kan?”

Hening untuk beberapa saat.

“Jam berapa kamu pulang?”

“Belum tahu. Tapi Al usahain secepetnya. Sebelum tengah malam, deh!”

“Janji!”

“Janji, Yah!”

“Baiklah kamu boleh pergi”

Yes!!! Al mengepalkan tangan ke udara.

Ekspresi wajah Bunda datar. Ia tak berkata apa-apa meninggalkan Al dan Ayah. Ayah mengambil tempat duduk di samping Al. Tangan kanannya merangkul Al. Pelan ia berkata. “Ingat Ayah dan Bunda percaya padamu. Tolong jaga kepercayaan itu.“ Tepukan pelan dirasakan Al di bahu. Ayah mengikuti langkah Bunda menuju dapur.

Al mengingat baik-baik ucapan Ayahnya itu. Kepercayaan. Ya, kepercayaan! Tidak berbuat macam-macam. No smoke, No alcohol and especially No free sex!

“Woi, Al! Bengong aja. Minum nih!” Jai sudah berada di depannya, menyodorkan segelas minuman seraya duduk di sampingnya. Toni ikut duduk di sebelah Jai Kepalanya terangguk-angguk mengikuti irama musik.

“Apaan, ni?”

“Tenang aja! Cuma cola biasa!”

“Lo takut amat sih, Al, nyantai ajalah kita nggak bakal mabok kok!”

Toni menyulut sebatang rokok. Menawarkan pada Jai dan Al. Spontan Al menggeleng. Sedang Jai mengambil satu. Meminjam pematik api dari Toni. Mengisap dalam sebelum menghembuskannya. Asap berputar-putar di sekitar wajah Jai.

“Kamu ngerokok juga, Jai?” Al terkejut. Nggak nyangka Jai yang agak pendiam dan terkesan sedikit bijak perokok juga.

“Sekali-sekali aja, Al. Apalagi kalo lagi suntuk!”

Al masih menatap lekat Jai dan Toni. Ingin sebenarnya ia menjauh dari dua temannya itu. Meskipun tidak merokok. Dia ikut mengisap asap rokok tersebut. Jadi perokok pasif.

“Sekali-kali ngerokok itu nggak papa, Al. Nggak jantan kalo nggak ngerokok!” cetus Toni.

“Letak jantannya di mana, Ton?” gugat Al.

“Ya, di berani ngerokoknya itu. Berani menempuh resiko. Rokok lambang kejantanan cowok melawan mitos rokok merusak kesehatan. Itu kan cuma slogan orang-orang-orang lemah yang penyakitan.”

“Itu bukan mitos, Ton. Emang bener kok. Ngerokok bisa merusak kesehatan.”

“Buktinya Omku sudah belasan tahun merokok tetap segar bugar tuh.”

“Belum aja. Nanti deh cepat atau lambat bakal terganggu juga paru-parunya.” Al teguh berpendapat. Ia sudah kenyang mendapat penjelasan dari Ayah tentang bahaya rokok. Ia juga pernah melihat sendiri sahabat Ayah yang sekarat gara-gara terlalu banyak merokok. Sahabat Ayah itu harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit sebelum meregang nyawa dengan meninggalkan anak yang masih kecil-kecil. Pengalaman itu begitu membekas di benak Al. Maka dari itulah ia selalu memegang teguh prinsip bahwa merokok itu merusak kesehatan. Baik itu kesehatan badan maupun kesehatan kantong.

“Sudah nggak perlu ribut. Itu hak Al kalo dia nggak mau ngerokok, Ton.” Jai menengahi. “Aku nggak terlalu sepakat kalo ngerokok itu jadi simbol kejantanan. “Tapi emang sih kalo cowok ngerokok itu terlihat keren.”

Al agak tersudut. Secara tak langsung Jai mendukung Toni.

“Yup setuju banget. Selain itu cowok jantan juga selalu suka tantangan. Berpetualang. Olahraganya keras. Maka dari itu fisiknya harus kuat, berotot. Kayak cowok itu tuh.” Toni menunjuk seorang cowok kekar yang baru lewat.

Al mengawasi sosok yang baru melintas itu. Dia hanya mengenakan rompi. Lekuk-lekuk kekar lengannya terlihat jelas. Bentuk perut six pack dan dada bidangnya sungguh membuat iri. Wajahnyapun terlihat sangat lelaki. Bekumis dan berjambang. Tampangnya persis model iklan produk perawatan pria di televisi. Pria yang selalu digambarkan merontokkan hati para gadis.

Al tidak bisa membantah ucapan Toni. Ia sepakat bahwa tipe ideal cowok memang harus macho seperti cowok barusan. Iapun sependapat bahwa cowok jantan pasti suka tantangan dan selalu berani menghadapi petualangan beresiko.

“Cowok jantan selalu jadi pujaan cewek, Al. Lo lihat aja di sini. Cowok-cowok macho pasti punya gebetan.”

“Jadi maksud lo kalo nggak punya gebeten nggak jantan gitu?” sergah Jai.

“Maksud gua bukan begitu. Tapi lo perhatiin sendiri. Cewek mana sih yang nggak mau sama cowok macho atletis?”

“Ah sudahlah. Kayaknya bakal ada lelang dansa tuh. Kita lihat yuk!” Jai menyudahi topik pembicaraan cowok jantan. Kerumunan beberapa meter di depan menarik perhatian. Ketiganya bergabung dalam lingkaran manusia di dekat panggung.

Sungguh Al tak begitu paham. Dari mana asal muasal permainan yang digelar ini. Rina bersedia menjadi pacar semalam orang yang berani membayar dengan harga tertinggi. Memang, sih, uangnya akan disumbangkan ke sebuah yayasan panti asuhan. Tapis rasanya kok aneh ada lelang seperti ini.      

Al melirik pergelangan tangannya. Sudah tiga puluh menit dari pukul sepuluh malam. Teringat janjinya pada Ayah. Tidak boleh pulang lewat dari tengah malam. Al meninggalkan kerumunan manusia yang ditingkahi teriakan-teriakan nilai uang. Menyepi di sudut ruangan. Menikmati cola. Sendiri.

Acara selanjutnya sungguh di luar dugaan Al. Parade cowok jantan.Tiga pria bertelanjang dada berdiri di panggung. Sorot lampu mempertegas setiap lekuk tubuh yang terlatih itu. Mereka bergoyang seraya bertepuk tangan pelan di atas kepala. Memamerkan kebagusan rupa dan keelokan tubuh.

Ketiga pria itu menantang siapapun yang merasa perkasa dan jantan untuk maju. Adu panco dengan ketiga cowok itu. Selain itu akan dilangsungkan adu nyali, siapa yang berani adu minum bir. Mereka yang merasa punya badan tegap dan nyali besar maju. Membuka pakaian dan ikut memamerkan tubuh mereka. Musik makin keras menghentak gendang telinga. Penonton riuh memberi semangat. Kekuatan otot, kebagusan rupa dan kegarangan wajah seolah menyimbolkan keperkasaan sejati. Al terpaku di tempatnya.

ooOoo

 

Al memandang pantulan wajah dan tubuhnya pada cermin toilet cafe. Tampangnya cukup terlihat jantan dengan hiasan kumis tipis di atas bibir. Badannya lumayan tegap meskipun balutan lemak agak menyembul di pinggang dan perut.

Perlu sedikit perubahan untuk terlihat jantan, bisik hatinya. Al mengeluarkan ujung bajunya dari pinggang celana. Kancing kemeja atas sedikit dibuka. Al membasahi telapak tangannya, mengacak-acak rambut, lalu meratakannya lagi dengan sisiran tangan.

“Terlihat lebih jantan sekarang,” pujinya sendiri.

Seseorang mendekat dari belakang. Berdiri di samping Al. Ternyata dia cowok macho yang lewat di depan Al saat membahas masalah kejantanan dengan teman-temannya. Al bisa lebih jelas mengamati sosok itu.

Al harus mengakui, secara fisik si cowok perfect. Rambut-rambut kasar di atas bibir, dagu dan sebagian pipi membuatnya terlihat garang. Kulit wajah dan tubuh bersih bersinar tanpa noda. Mungkin rajin dirawat juga, pikir Al. Ia menaksir usia si cowok, mungkin sekitar dua puluh limaan.

“Ada yang aneh ?” tanya si cowok tiba-tiba. Suaranya empuk seperti penyiar radio anak muda.

Al tergagap, “eh, nggak, maaf.” Ia salah tingkah. Al mundur beberapa meter dari wash table. Al jongkok di sudut toilet yang agak gelap. Membetulkan Kaus kakinya yang melorot.

Seseoarang masuk lagi ke dalam toilet. Mendekati si macho yang masih bercermin. Tampangnya tidak kalah keren dengan si macho. Hanya saja penampilannya lebih rapi, klimis. Stelan jas casual membalut tubuh proporsionalnya.

“Hai, honey, pulang yuk!”

Telinga Al menegak, mendengar kalimat itu. Matanya melihat si rapi memeluk si macho dari belakang. Si macho berbalik. Keduanya berpandangan. Lalu…

Hampir satu menit Al terpaku tak berkedip. Pemandangan di depannya sungguh unbelieveable.

“O, honey, kumis dan jenggotmu harusnya dipotong,” keluh si rapi.

Si macho menyentuh bibir si rapi dan berkata lirih, “tapi kau suka, kan?”

“Iya sih, lalu mereka menempel lagi. Erat dan…

Hoek! Al mual seketika. Ia langsung keluar toilet. Sungguh kalau tak melihat dengan kepala sendiri ia tak akan percaya kalau dua cowok sempurna itu gay. Al duduk jongkok sambil memegangi perutnya.

ooOoo

 

Sendiri, Al pulang menumpang taksi. Ketiga temannya masih larut dalam pesta. Suasana pesta makin memanas. Menggila. Bukan hanya pria-pria kekar saja yang ada. Entah dari mana muncul pula perempuan-perempuan berpakaian minim. Acara sudah semakin bebas. Tak jelas lagi mana undangan mana yang bukan. Tak jelas lagi antara remaja SMA dan kaum dewasa. Semua lepas berpesta.

Di dalam taksi Al merenung. Bayang-bayang kemesraan si rapi dan si macho terus memenuhi benaknya. Al berusaha mengusirnya. Fisik sempurna ternyata tak menjamin seseorang berkepribadian sempurna pula.

Al teringat obrolannya dengan Ayah suatu malam.

“Kejantanan seorang pria itu lebih pada kepribadian, Al. Pada sikap dan tingkah laku. Kalau dengan merokok seseorang dikatakan jantan, bagaimana dengan kaum waria yang gemulai tapi merokok juga? Bagaimana seseorang bisa dikatakan jantan bila ia ingin menghilangkan stress dan tekanan hidupnya dengan minum-minum dan memakai obat-obatan terlarang?

“Simbol-simbol pria sejati yang sering digambarkan di televisi tak akan bisa menutupi sikap dan tingkah laku asli seseorang. Ia seperti topeng yang sering membuat kita tertipu. Pejantan sejati tak akan menggunakan topeng untuk menarik perhatian orang lain. Jadilah diri sendiri. Dengar hati nuranimu.”

Kelebat bayang-bayang hitam pepohonan berseliweran di luar. Temaram lampu jalan mengiringi laju taksi. Satu dua mobil ikut menderu bersaing. Dingin alami bercampur hembusan AC perlahan menusuk badan Al.

Sayup-sayup dari radio taksi mengalun Pejantan Tangguhnya Sheila On 7

Jantan… pejantan tangguh

Itu yang kuharap ada padaku

Agar… agar diriku

Bisa melumpuhkan tingkah liarmu…

 

FLPDepok.multiply.com, 121105

—-

Koko Nata Kusuma, nama lengkapnya. Lahir di Palembang 19 April 1980. Koko Nata telah menulis banyak buku fiksi, beberapa di antaranya: Kucing Tiga Warna, Semua Atas Nama Cinta, Ketika Nyamuk Bicara, dan Can You Keep The Secret. Lulusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya ini sekarang menjadi Ketua Forum Lingkar Pena Cabang Depok. Silahkan kontak via e-mail ke: ko2nata@gmail.com. Cuap-cuapnya juga bisa dinikmati di: http://kokonata.multiply.com.

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 19/Mei 2006