Pupusnya Rasa Cinta

By: Noviani Gendaga

Adrian tersenyum sambil menggigit tutup pulpen. Ia dibuat salting dengan isi pikirannya. Seorang ukhti, mahasiswa baru Undap (Universitas Dapur), telah memikat hatinya. Memang sih, tu ukhti udah cukup lama juga pindah ke kampusnya. Sekitar, 3 bulan yang lalu. Kebetulan, ukhti dengan kacamata bergagang hitam itu, satu jurusan + satu kelas sama Adrian. Jurusan akutansi, jurusannya anak-anak pinter bahasa Sunda (apa hubungannya?)

Adrian terkenal cuek dan dingin terhadap perempuan. Parasnya yang ke-bule-bule-an, memang memikat hati banyak wanita. Namun, dia tetep keukeuh dengan pendiriannya. ‘Nggak bakalan pacaran, kalo nggak ngedapetin ukhti-ukhti’. Wal hasil, cewek-cewek kampus Undap yang terkenal seksi-seksi bin bohay-bohay, sama sekali tidak masuk kriteria wanita idamannya. Sekalipun Betti, cewek ter-famous di kampus, sama sekali tidak memikat hatinya. Meski, kadang-kadang hatinya berdesir juga kalo ngeliat badan Si Betti yang kayak pianika. Udah gitu, bajunya yang bolong-bolong kayak jaring-jaring ring basket.

Sejak pertama kali Si Ukhti masuk Undap, Adrian sangat mengaguminya. Kesholihan serta kecerdasannya, benar-benar membuat Adrian terkesima. Belum lagi, kerudungnya yang panjang + bajunya yang enggak kayak lemper, menambah rasa kagum Adrian. Setiap ada kelas, ia selalu memperhatikan dosen. Nggak kayak kebanyakan mahasiswa lain, yang suka ngutik-ngutik hape, dengerin musik, ataupun ngerumpi, ketika dosen lagi sibuk berkhotbah.

Mia Tulaitul. Ya, itulah nama yang terkenal di kalangan anak-anak aktivis LDK (Lembaga Dukun Kuper). Banyak mahasiswa, yang minta petunjuk agar bisa mendapatkan hati Mia. Mulai dari pasang susuk, minta jimat sama dukun, nyalon tiap 5 menit sekali, sampe-sampe ada yang manggil pawang hujan (enggak nyambung bray!).  Tapi, enggak mempan!. Akhirnya, para penggila Mia itu, memutuskan untuk mundur daripada dompet mereka menipis, buat bayar dukun beranak.

ooOoo

 Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tidak terasa, Adrian dan kawan-kawan kini beranjak menuju semester tiga. Mia, wanita pujaan hatinya juga makin dewasa saja. Tanpa Adrian sadari, ternyata ia telah mengagumi dan mencintai seorang anak manusia selama dua tahun sembilan bulan. Adrian juga heran, mengapa ia bisa selama ini memendam perasaan yang susah untuk diungkapkan dengan apapun (duile). Padahal, Adrian terkenal cepat bosan dan tidak mudah jatuh cinta. Ia pun mudah illfeel dengan lawan jenisnya.

Pernah waktu SMA dulu, dia naksir sama seorang ukhti. Seorang senior, lebih tua satu tahun di atasnya. Kebetulan saat itu, dia bersekolah di SMA CA (Sekolah Menengah Atas Cakit Athie). Sekolah elit, buat anak-anak gaul Bojonegoro, yang hobinya makan daging kuda. Setelah memendam rasa selama dua belas bulan, dia baru tahu, ternyata senior yang dia taksir itu hobinya nyiumin kaos kaki guru. Adrian memutuskan untuk menandaskan rasa cintanya itu.

Tapi, dia yakin benar, wanita yang satu ini benar-benar tidak akan membuatnya illfeel. Mia yang cantik dan cerdas itu, sudah menjadi belahan jiwanya. Adrian selalu terngiang-ngiang wajah Mia, tiap kali mau makan, minum, berangkat ke kampus, nongkrong di wc, sampe pas mau ngorek gigi. Mia benar-benar mempengaruhi hidupnya. Adrian juga lebih bersemangat berangkat ke kampus, dan mengerjakan skripsinya. Ia takut tertinggal kelas dan menjadikannya tidak bisa sekelas dengan gadis pujaannya itu.

Hari Minggu, adalah hari yang sangat tepat untuk ke toko buku. Walaupun panuan, Adrian masih doyan baca buku (jangan-jangan, majalah Girls) . Toko Buku Hj. Jubaedah, begitu menyedot perhatiannya dari pertama kali bangunannya belum ada. Dan dia menempatkan hari Minggu sebagai hari yang pas, buat mengunjungi toko buku tersebut. Karena, selain hari Minggu, dia sibuk ngitungin jenggot kalajengking.

Sekitar jam sebelas pagi, toko buku di pusat kota Bojonegoro menjadi tempat singgah pertama di hari Minggunya. Deretan buku Ekonomi Islam, menyeretnya untuk segera membeli dan membaca semua buku yang ada di deretan itu. Adrian pun akhirnya mencair dengan prinsipnya yang kedua ‘ke toko buku, untuk numpang baca buku, tanpa keluar biaya’. Dia tidak bisa menahan nafsunya untuk membeli buku-buku Ekenomi Islam.

Belum sampai dideretan buku-buku Ekonomi Islam, seorang gadis berkerudung panjang berwarna ungu muda, dengan jilbab putih  memalingkan pandangannya. Adrian kenal betul dengan postur tubuh wanita itu, serta ciri khasnya, yaitu kacamata dengan gagang hitam.

Ah! Itu Mia!

Glek! Adrian kaku. Jantungnya berdegup kencang, hampir jatoh ke usus besar. Lidahnya kelu ketika ingin menyapa wanita, yang dua tahun sembilan bulan itu menghantui pikirannya. Adrian komat-kamit berdoa agar Mia tidak menyadari keberadaanya. Tapi,

Dia berbalik!

Tapi…

Adrian terhenyak. Dia memergoki Mia berbalik dengan telunjuk yang masuk ke dalam lubang hidung kanannya. Mia? Ngupil?

Karena Adrian sangat mudah illfeel, wal hasil ia memutuskan untuk tidak melanjutkan rasa cintanya itu.

Memang benar ternyata, tidak ada manusia yang sempurna.[]

 Bogor, 17 April 2013

Noviani Gendaga, Santriwati Pesantren MEDIA