Putri Biru

by: O. Solihin

 

Pulang sekolah, Ogi bersiul ceria sambil menyenandungkan lagu lawas milik Male Voice; Putri Biru. Yang syairnya kayak begini, “Putri Biru kamu membuat diriku terpesona, Putri Biru kamu membuat diriku terpana..” Saking khusyuknya, sampai-sampai Ogi lupa kalau dirinya sudah berada di depan rumah. Mendadak terhenti karena kakinya yang tak diasuransikan itu mencium batu. Ogi meringis sambil terpincang-pincang menuju gerbang rumahnya.

Hanya sebentar Ogi meringis, karena nggak terlalu parah kayak kalo ditackel saat main bola. Eh, ngomong-ngomong soal tackling, Ogi juga memang suka main bola, lho. Apalagi kalo lawannya cetek banget. Ditang­gung Ogi bisa memasukkan ke gawang sendiri (Lho kok?)

Ogi terus berjalan menuju pintu depan sambil tetap bersiul ceria mengikuti syair lagu unik milik Male Voice itu. Kenapa Ogi begitu tampak ceria?

“Ah, menarik juga anak berjilbab biru itu,” Ogi ngomong sendiri. Ia merapikan tas dan baju sekolah­nya. Berlenggak-lenggok di depan cermin. Ia menyisir rambut­nya ke belakang, kemudian ditariknya lagi pas jambul dengan jari tangannya. Sejurus kemudian Ogi memburu meja makan yang sudah berjejal hidangan yang bakal memenuhi ruang kosong lambungnya. Ogi langsung tancap gas. Pertama ia mengambil nasi satu sendok saja (jangan kaget, maksudnya satu sendok semen!), kemudian disabet lalaban yang masih fresh asli baru dari kulkas. Nggak lupa sambil matanya jelalatan, tangannya meraup ayam goreng sisa malam tadi (tapi bukan sisa kucing!). Dan sementara mulutnya dipenuhi dengan makanan, tangan Ogi masih juga mencomot perkedel kentang. Wuih, lapar apa rakus?

“Terus terang aku terpana sama gadis misterius tadi,” kembali Ogi bergumam sambil senyam-senyum. Dalam hatinya bertarung macam-macam pikiran. Tentu tentang gadis misterius yang dijumpainya di halte bus tadi.

“Wajahnya yang bulat oval itu, mengguratkan kedewasaan. Aku suka dengan gadis yang dewasa,” Ogi membatin.

“Tapi siapa dia, ya?” Ogi bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Sejenak kemudian, Ogi siap-siap lengser dari meja makan, meski nggak perlu ada yang mendemonya. Maklumlah orang sekarang lagi mabuk reformasi. Atas nama reformasi mereka merasa sah saja melakukan tindakan yang dianggapnya masuk dalam agenda reformasi. Nggak boleh dengar isyu tentang KKN, rame-rame ngadain unjuk rasa. Gelar poster sekaligus beryel-yel seolah jadi syarat mutlak berdemo. Payah memang, mudah termakan isyu-isyu yang belum tentu salah, eh, sori, maksudnya isyu yang belum tentu benar!

Ogi membereskan meja makan. Eh, perlu diketahui bahwa Ogi bukan cuma rajin menghabiskan makanan di meja makan, tapi Ogi juga tipe cowok yang care, dan mau berusaha membantu meringankan kerjaan Bi Iyam pembantunya. Ya, Ogi suka mencuci peralatan bekas makannya. Rajin, ya?

Baru saja selesai mencuci piring, terdengar bunyi instrumentalia lagu Beethoven’s Fur Elise. Dan itu tanda­nya berarti ada orang yang telah dengan sengaja memencet tombol bel di depan pintu rumahnya. Buru-buru Ogi berjalan ke ruang depan. Di luar terdengar suara orang mengucapkan salam.

“Ya, Wa’alaikum salam!” jawab Ogi sambil berlari kecil mendekat ke pintu.

Ogi membuka pintu dan ternyata wajah polos Jamil tengah menyeringai, eh sori, maksudnya melemparkan senyum memperlihatkan gigi putih bersihnya.

“Kamu Mil. Ayo masuk!” Ogi mempersilakan makh­luk yang bernama Jamil itu untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Baru beres makan Gi?” tanya Jamil.

“Lho, kok tahu?”

“Tahu, dong. Jangan mentang-mentang abis makan, pake pamer nasi segala,” kata Jamil sambil ketawa.

Ogi buru-buru mengusapkan tangannya ke daerah dagu. Ternyata betul, sebutir nasi masih ngetem di sana. Ogi cuma senyum kecut.

“Gi, bisa pinjam gim-nya nggak?” Jamil tembak langsung.

“Pinjam yang mana?” Ogi sambil ngeloyor ke kamarnya.

“Sini, Mil, pilih aja deh!” kata Ogi sambil memberi­kan setumpuk CD gim koleksiknya.

“Ya, Final Fantasy sama FIFA Soccer 2002!” Jamil mantap.

“Cari sendiri deh!” Ogi menyilakan sambil beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman.

“Kamu pengen yang dingin atau yang panas?” Ogi ngasih pilihan.

“Boleh deh, yang panas dingin juga!” Jamil malah bercanda.

Sementara Ogi ke belakang, Jamil asik mencari-cari gim yang diinginkannya. Ia hidupkan komputer untuk men­cobanya barang sebentar.

Nggak lama, Ogi sudah datang dengan dua gelas berisi es jeruk plus tapai.

“Wah, ada peuyeum Bandung. Boleh juga nih!” kata Jamil sambil meraih potongan kecil tapai khas Bandung itu.

“Siapa yang bawa, Gi?” Jamil bertanya sambil mulutnya dipenuhi makanan.

“Kemarin papaku pulang dinas dari Bandung!” ujar Ogi datar.

“Waduh, enak juga nih,” kata Jamil sambil tangannya menggerak-gerakkan mouse.

Sejurus kemudian mereka asik main gim di komputer dan cemilannya.

“Mil, kalau kamu suka tipe akhwat kayak apa?” tiba-tiba Ogi membuka omongan baru.

Sebelum menjawab, Jamil melirik Ogi yang lagi tiduran sambil menyangga kepala dengan lipatan dua tangannya.

“Kamu lagi jatuh cinta, ya?” Jamil malah balik nanya.

“Lho, kok malah diblok sih?” Ogi melotot.

“Emang, harus selalu ketika bicara akhwat itu berarti sedang falling in love?” Ogi melanjutkan omongannya.

“Jangan marah, dong Gi! Aku kan cuma tanya,” Jamil buru-buru menimpali.

“Eh, ada nggak ya, akhwat yang kayak Siti Nurhaliza, misalnya?” Jamil mulai mengeluarkan pendapatnya.

“Oh, rupanya kamu suka dengan tipe begitu, ya?” Ogi langsung nyamber, kayak api bertemu bensin.

“Mungkin aja ada, Mil” ujar Ogi sambil ketawa.

“Ah, yang benar?” Jamil rada-rada serius.

“Ada. Ya dia aja suruh ngaji dulu!” Ogi cepat menyam­bar sambil ketawa-ketawa.

“Itu sih, bukannya mirip, atuh!” Jamil gondok, meski tahu temennya itu cuma bercanda.

“Kalau kamu, suka tipe apa, Gi?” Jamil balik nanya.

“Kalau aku sih, biarin wajahnya mirip Shakira juga, asal solehah dan taat, udah gitu aktivis dakwah lagi,” ucap Ogi diiringi derai tawa panjang.

“Huuuh., maunya!” ujar Jamil sambil ngelempar bantal ke arah Ogi.

“Lho, emang nggak boleh?” Ogi mendelik guyon.

“Bukan boleh apa nggak boleh, tapi ada nggak akhwatnya yang kayak begitu?” kata Jamil ngasih pandangan. Disusul deraian tawa kedua anak cowok itu.

“Ada dong. Ya, itu tadi, kalau Shakira-nya sadar dan disuruh ngaji!” Ogi malah tambah ngelantur dan tetap tertawa.

Selanjutnya keduanya larut dalam rumpian khas cowok. Malah Ogi sempat juga menceritakan pertemuan­nya dengan seorang gadis misterius. Yang menurut perkiraannya, usianya kira-kira dua tahun di atasnyalah. Paling juga mahasiswi tingkat dua atau tingkat satu. Ogi betul-betul ingin berjumpa lagi dengan gadis pujaannya. Tapi untuk sampai pacaran, rasanya Ogi nggak berani karena kata kakak kelasnya, pacaran itu dilarang dalam ajaran Islam. Ya, siapa tahu kesampaian. Tapi itu nanti bila dirinya kuliah. Kalau kuliah kan boleh nikah. Pernikahan dini dong? Siapa takut? Begitu kira-kira pikiran Ogi. Lama juga dua cowok yang sama-sama baru ikutan ngaji itu ngobrol ngalor ngidul sambil diselengi ketawa-ketiwi. Saking asiknya, sampai-sampai nggak terasa es jeruk sudah tak bersisa. Apalagi peuyeum Bandung, sudah ludes duluan.

“Gi, udah setengah empat nih. Aku cabut dulu, ya?” Jamil pamitan.

“Udah diambil belum gim-nya” Ogi meyakinkan.

“Beres! Udah di dalam tas,” kata Jamil singkat sambil bersiap-siap keluar dari kamar. Ogi mengantar­kan sampai teras depan.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam,” balas Ogi sambil menatap lekat temannya itu sampai menghilang di tikungan depan rumah.

 

ooOoo

                Malamnya Ogi asik mendengarkan siaran radio kesukaannya sambil mengerjakan tugas-tugas sekolah. Terutama tugas dari Pak Mardi guru matematikanya. Entah kebetulan atau tidak, tiba-tiba ada juga pendengar yang me-request lagu Putri Biru. Buru-buru Ogi sedikit memperbesar volume suara radionya. Sebentar kemudian mengalirlah olah vokal dari Male Voice membawakan lagu kesayangannya.“Putri Biru kamu membuat diriku ter­pesona, Putri Biru kamu membuat diriku terpana..” Ogi langsung gigit pena dan menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia lalu teringat kembali pertemuannya dengan gadis misterius siang tadi yang berhasil menggoyahkan dinding ketegaran hatinya.

Entahlah, ia sendiri nggak begitu ngerti. Kenapa ia harus menyukai wanita yang lebih tua dari usianya. Ogi cuma berpikir, bahwa wanita yang dewasa itu bisa dijadikan teman ngobrol yang enak. Nggak kolokan dan lebih tahan meng­hadapi kenyataan.

Tak terasa bait demi bait dari syair lagu unik itu hampir selesai. Ogi kembali memencet tombol-tombol angka kalkulatornya. Ia pun larut dalam hitungan-hitungan matematika yang diberikan Pak Mardi.

 

ooOoo

                Suasana begitu hiruk pikuk. Waktu masih pagi sebenarnya. Baru jam enam. Ogi udah siap-siap nongkrong di halte menunggu bus (idih, nongkrong. Emang apaan?). Ia perhatikan berbagai macam ekspresi orang dalam menunggu. Ada yang gelisah. Ada pula yang santai sambil mengepulkan asap rokok bagai cerobong kereta api. Malah ada juga yang sebentar-sebentar kepalanya terbentur ke dinding halte karena ngantuk. Mungkin orang ini begadang nonton siaran big-match-nya World Cup 2002 di RCTI antara Brasil lawan Turki.

Ogi sudah nggak sabar menunggu bus. Merasa jenuh, ia berjalan melangkah menuju penjual koran yang mangkal dekat halte. Ia lihat-lihat head line berita dari koran dan majalah yang terbit hari itu.

“Ya, urusan bola!” gumamnya.

Ajang bal-balan sejagat itu udah jadi santapan sehari-hari, paling nggak selama sebulan ini. Wah, di mana-mana demam bola. Sampai-sampai banyak karyawan yang nekat bolos demi menonton tim favoritnya berlaga. Maklum, banyak pertandingan yang ditayangkan siang hari.

Sudah merasa cukup melihat-lihat, ia mulai melemas­kan otot-ototnya dengan memutar ke kiri dan ke kanan badannya, hingga terdengar bunyi khas tulang punggung­nya beradu. Lalu giliran kepalanya ia goyangkan ke kiri dan ke kanan.

Ia langkahkan kaki dan kembali berdiri mematung menunggu bus. Tiba-tiba ada mikrolet yang nyelonong lalu berhenti di depan halte. Kemudian turun salah seorang penumpangnya. Ogi kaget. Soalnya wanita berjilbab biru yang ditemuinya kemarin hadir kembali di hadapannya. Ia perhatikan gadis berjilbab itu yang kebetulan hari ini ia kenakan juga jubah berwarna biru meski dengan motif yang berbeda. Kemudian si “Putri Biru” itu mendekat ke halte. Ogi makin deg-degan. Matanya sebentar-sebentar diarahkan pandangannya ke wajah ayu milik gadis manis itu. Gadis itu melirik arloji yang melingkar di lengannya. Ogi menangkap guratan wajah yang kelihatan sedang gelisah. Matanya melemparkan pandangan ke sekitarnya. Dan begitu menatap Ogi. Si Putri Biru itu menundukkan pan­dangan­nya karena Ogi kebetulan sedang menatapnya. Ogi juga kaget, makanya buru-buru memalingkan tatapannya.

“Waduh, kena nih!” pikirnya dalam hati sambil deg-deg plas.

Hampir dua puluh menit ia berdiri di halte. Namun bus yang ditunggu tak kunjung tiba. Ogi begitu tampak gelisah. Sesekali ia melirik G-Shock-nya yang melingkar erat di lengan kirinya. Dan si gadis yang dijuluki Ogi “Putri Biru” juga tampak semakin gelisah sambil matanya telaten mencari bus yang akan ditumpanginya.

Ogi makin salting aja dengan kehadiran seseorang yang telah mampu mengusik relung hatinya. Ah, cinta itu memang datang tanpa diundang. Ia begitu saja datang. Begitulah yang sekarang dirasakan Ogi.

Akhirnya, bus yang ditunggu-tunggu datang juga. Ogi buru-buru mendekati bus yang akan mampir ke halte. Sejurus kemudian, dengan susah payah Ogi sudah berada di dalam bus yang kebetulan sesak dengan penumpang. Sebelum berangkat, kembali Ogi melemparkan pandangan matanya ke arah si “Putri Biru” yang ternyata sedang memperhatikannya juga. Kontan keduanya kaget. Saking kagetnya, jantung Ogi terasa deg-deg plas, lalu buru-buru memalingkan wajah­nya. Begitu pun dengan si “Putri Biru”, sebentar kemudian bus melaju meninggalkan halte.

“Ah, akhirnya…” Ogi menghela napas.

 

ooOoo

                Pulang sekolah Ogi nggak langsung ke rumah. Karena diajak Jamil untuk membetulkan komputernya yang ngadat. Entahlah, katanya sih rusak hard disknya. Maklum, Jamil belum bisa memperbaiki sendiri. Makanya, suka diledekin sama Ogi, bahwa Jamil spesialis bongkar komputer, tapi nggak bisa masangin lagi (he..he..he..).

Ogi dan Jamil sudah berada di tengah hiruk pikuk lalu lintas Jakarta. Jamil menjalan­kan vespanya dengan begitu lihai meliuk-liuk diantara bus-bus yang antre memadati jalan-jalan utama. Kalau nggak macet bukan Jakarta namanya. Kemacetan memang identik dengan Jakarta. Terik matahari yang seakan mem­bakar kulit itu terasa begitu panas siang hari ini. Hingga membuat pengguna jalan merasa kehausan dan kepanas­an. Debu-debu beterbangan ber­campur dengan kepulan asap kendaraan yang berisi timbal yang dikeluar­kan dari knalpot. Membuat muka terasa begitu tebal dengan debu yang menempel.

Nggak nyampe setengah jam, Ogi dan Jamil sudah memasuki pintu gerbang sebuah rumah yang tampak teduh dengan halaman yang luas ditumbuhi pohon Mangga dan Rambutan.

“Wah, boleh juga nih ngerujak mangga,” Ogi cengegesan.

“Boleh, nanti barengan sama Shakira!” Jamil bercanda sambil ketawa.

“Huh, kamu, Mil!” Ogi menjitak pelan kepala temannya yang suka ngocol itu.

“Langsung masuk aja, Gi. Di rumah lagi nggak ada siapa-siapa. Bapakku lagi ke kantor. Dan ibu lagi ke Bogor nengok nenek yang lagi sakit,” Jamil ngasih penjelasan.

“Mana komputer bututmu itu, Mil?” Ogi sekenanya.

“Sembarangan, gitu-gitu juga hadiah naik kelas kemarin, Gi!” ucap Jamil sambil ngeloyor ke belakang.

Ogi lalu asyik ngutak-ngatik komputer Jamil yang ngadat. Dari mulai mengencangkan kabel-kabel di dalam CPU sampai ngutak-ngutak Set-up CMOS-nya.

Hampir setengah jam Ogi membedah isi perut kompu­ter itu. Dan akhirnya bisa juga tuh komputer dijalanin.

“Alhamdulillah!” ujar Ogi.

Mata Jamil berbinar kembali.

“Hebat kamu Gi!” kata Jamil sambil menepuk bahu temannya itu.

“Minum dulu deh, siropnya!” Jamil mengangsurkan segelas sirop dingin.

“Nah, sekarang aku coba dulu main FIFA Soccer 2002” ujar Ogi sambil membuka CD gim kesukaannya.

Kemudian keduanya larut dalam permainan sambil ngerumpi ke sana kemari. Tak terasa sudah jam tiga. Ogi buru-buru bangun dan menyiapkan tas gaul-nya.

“Mil, aku pulang dulu deh!” Ogi pamitan.

“Mau saya antar nggak?” Jamil menawarkan jasa.

“Nggak usah!” Ogi menolak halus.

“Yuk, Assalamu ‘alaikum!” Ogi ngucapin salam sambil jalan menuju gerbang rumah Jamil.

“Wa’alaikum salam. Hati-hati, Gi!” Jamil teriak.

“Yup!”

 

ooOoo

Jam empat sore Ogi sudah berada di depan rumahnya yang kelihatan agak rame.

“Wah, ada apa ya?” Ogi bertanya dalam hati, sambil terus melangkahkan kakinya, pelan-pelan.

Ogi duduk dulu di bangku yang ada di teras. Ter­dengar obrolan ibunya dengan sang tamu.

“Iya, udah lama saya merencanakan mau ke sini. Tapi nggak jadi-jadi,” terdengar suara laki-laki yang akrab di telinga Ogi.

“Paman Danu!” Ogi langsung berseru dan memburu ke ruang tamu.

Kontan saja yang di dalam kaget.

“Nah, ini anak bandel, ya?” Paman Danu sambil men­jewer pelan kuping Ogi.

Ogi ketawa dan semua yang hadir juga pada ketawa.

“Kemana waktu Paman nikah?” adik ibunya yang paling kecil itu bertanya lagi.

“Biasa, Paman. Ogi waktu itu ada tugas kegiatan di sekolah!” Ogi ngasih alasan sambil tetap menebarkan senyum.

“Nggak dibawa istrinya, Paman?” Ogi basa-basi.

“Ada. Lagi ke belakang dulu,” ujar Paman Danu.

Hampir lima menit mereka ngobrol. Ogi memang payah, pamannya nikah saja nggak datang. Baru sekarang setelah dua bulan nikah ketemu. Itupun di rumahnya.

“Memang sekarang tinggal di mana, Paman?” Ogi nanya lagi.

“Ya, baru seminggu Paman di Jakarta ini. Kebetulan dekat kalian sekarang. Insya Allah mulai minggu depan Paman sudah bekerja,” kata Paman Danu.

“Lho, emang sudah kelar kuliahnya?” Ogi nggak ngeh.

“Lho, dua minggu yang lalu kan diwisuda. Gimana kamu ini, Gi! Makanya sering silaturahmi dong. Biar ngeh sama kerabat” Paman Danu nasihatin Ogi.

“Iya deh, Ogi emang cuek ama saudara sekalipun. Jarang silaturahmi sih. Maafin ya..” Ogi mengakui kekeliruannya.

“Eh, ngomong-ngomong. Istri Paman satu kuliahan?” Ogi mengalihkan pembicaraan.

“Nggak. Dia di diplomanya. Baru lulus juga. Dan baru beberapa hari ini ngajar di salah satu SMP swasta di sini,” Paman Danu ngasih penjelasan.

“Ohh…” Ogi manggut-manggut.

Lagi enak-enak ngobrol, dari ruang tengah muncul sosok wanita berjilbab dengan jubah biru, lagi. Belum jelas sama wajahnya, Ogi sudah kaget duluan, soalnya ingat si “Putri Biru” yang di halte tadi pagi. Dan begitu mendekat ke ruang tamu, kontan Ogi benar-benar kaget dibuatnya. Lebih-lebih pas pamannya bilang, “Ini istri Pamanmu, Gi!” ujar Paman Danu menunjuk ke arah wanita berjilbab biru itu.

Wacksss…!! Ogi kaget setengah hidup. Begitu pun dengan si “Putri Biru” ketika melihat Ogi[]

*Untuk saudaraku, “Pererat silaturahmi dengan kerabatmu, dong!”

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 03/Juli 2002