Ramadhan Party

By: Tito Firmanto

 

Sampai puasa menginjak hari kelima, Arie dan temen-temennya masih sibuk di rohisnya.

“Udara makin panas aja hari ini,” batin Arie sambil mengusap keringat yang jatuh di dahinya. Arie istirahat setelah bantu-bantu untuk kegiatan Pondok Ramadhan yang rutin diadakan satu tahun sekali dan yang pasti di bulan Ramadhan. (Kalo di bulan Sya’ban namanya bukan Pondok Ramadhan tapi pondok Sya’ban dong. Hehehe…).

“Hey Ar, bantuin aku dong ngangkat barang-barang ini!” teriak Cella sambil melambaikan tangan ke atas kayak orang yang mau tenggelam. Arie melihat Cella di seberang sana dengan mata tajam bagai elang yang sedang mengincar mangsanya.

“Oke. Aku akan segera membantumu,” jawab Arie sambil menekuk kepala persis kayak onta Arab. Setelah membantu Cella, Arie berjalan menuju mushala untuk nemenin Tyo yang sedang siap-siap mukul bedug, tanda shalat dhuhur akan dimulai. Tyo itu selain jago gebukin drum, dia juga jago nggebukin bedug sampe pada waktu SMP pernah ngancurin stik bedug dan njatuhin bedugnya. Untung nggak kena sapa-sapa.

“Waktu ngobrol kurang dua menit lagi,” kata Arie yang sengaja menggoda para cewek cheer yang tanpa diundang dan pake baju muslim dateng ke base camp. Rencananya, hari ini anak rohis mau mematangkan lagi tentang rencana pondok ramadhan yang diadakan di alam terbuka selama tiga hari ngabuburit bareng GIGI dan Ares Band (Dreamband 2005) Serta Olif Band yang di buka oleh Fuyenk Band tentunya.

“Cha, liat Fuad nggak?” tanya Arie pada Icha yang sedang siap-siap sholat dhuhur.

“Nggak. Aku tadi sempet ketemu di kantin dan nyuruh aku untuk berangkat duluan,” jawab Icha.

“Makasih ya..!” kata Arie sambil ngloyor pergi ngambil air wudhu. Memang anak yang punya nama Fuad itu sangat dibutuhkan di rohis. Selain dia itu baik, dia juga tahu duluan berita yang terjadi di dunia saat ini. Anak-anak Fuyenk curiga, jangan-jangan setiap malam Fuad keliling dunia naik Bouraq. Setelah Arie wudhu, dia segera masuk ke mushalla skulnya yang merupakan base camp-nya anak rohis. Selang beberapa lama, shalat dhuhur pun dimulai dengan khusyuk.

“Hah, si Velie kok tumben ikut shalat. Padahal kalau aku ajak, biasanya dia nolak dengan seribu alasan,” kata Icha di dalam hati sambil keheranan. Velie itu anak cheer di skul. Selain dia anak cheer, sebenarnya dia juga tertarik dengan rohis sejak pertama kali masuk di sekolah ini. Mudah-mudahan ini menjadi jalan kedua dan yang terakhir ditempuh Velie di hidupnya (Aminnnnn…). Setelah beberapa menit dan detik, shalat pun berakhir dengan damai (Emangnya barusan main bola yang identik dengan kerusuhan?).

“Hey Cha, aku mau ikut rapat ini. Boleh nggak?” kata Velie memohon kepada Icha.

“Kok tumben kamu mau ikut acara kayak gini. Kamu nggak latihan?” jawab Icha.

“Nggak ah, aku males latihan lagi sekarang. Boleh nggak?” kata Velie sambil meyakinkan Icha.

“Oke, bro,” jawab Icha dengan senyuman.

“Makasih ya, Cha,” kata Velie sambil membalas senyuman Icha. Icha pun menggandeng Velie masuk ke dalam karena tadi shalatnya yang akhwat di luar.

“Assalamu’alaikum,” ucap Icha dan Velie ketika masuk ke mushalla.

“Wa’alaikumsallam,” jawab anggota ikhwan yang dari tadi udah ngumpul duluan.

“Kok tumben, Vel?” kata anak-anak Fuyenk keheranan dengan kompak disertai Fuad. Velie hanya tersenyum dengan senyumannya yang manis kayak gulali.

“Bagaimana? Tempatnya jadi di kebun teh atau di Bumi Perkemahan Cibubur?” buka Fuad yang penggagas rencana ini sekaligus ketua rohis yang baru menggantikan Kak Arif.

“Silahkan memberi pendapat lain mulai dari pojok kanan sana!” sambung Fuad kayak sedang nyambung benang layangan. Setelah semua selesai memberi pendapat, sekarang tinggal Velie.

“Gimana kalo di kebun duren. Khan di sana kita bisa makan duren sepuasnya!” usul Arie dengan konyolnya.

“Kamu diem aja kenapa seh?” jawab Icha dengan serius.

“Ya, maaf” kata Arie singkat.

“Bagaimana Vel, kamu usul di mana tempatnya?” tanya Fuad.

“Boleh nggak aku usul di tempat lain?” tanya Velie.

“Boleh aja. Dimana?” tanya Fuad lagi.

“Bagaimana kalau di lapangan daerah utara. Lapangan itu nggak kalah bagusnya sama di Cibubur. Daripada uangnya dipake semua, mending sebagian di sumbangkan ke fakir miskin” usul Velie yang disambut tepuk tangan anak-anak rohis.

“Bagus usulmu itu, Vel” kata Fuad sambil tersenyum.

“Jadi kita ke sana naik apa?” tanya Tyo yang dari tadi khusyuk ngocol bareng bersama Aziz.

“Kalau yang punya motor ato mobil kan boleh aja bawa sendiri. Dijamin pakirnya aman. Aku mau bawa mobil bokap aja. Lebih luas. Bagaimana?” kata Velie memberi solusi.

“Baik, aku akan tanya mereka. Bagaimana, kalian semua setuju?” tanya Fuad kepada anak-anak yang dari tadi khusyuk mengikuti rapat ini. Mereka mangangkat jari manisnya.

“Setuju paketu. Kita langsung jalan aja,” jawab Cella dengan semangat.

“Oke deh, kita akhiri acara rapat ini sampe di sini. Hari Sabtu kita ngumpul lagi. “Assalamu’alaikum,” kata Fuad sambil ngloyor pergi diikuti anak-anak rohis lainnya.

ooOoo

 

Keesokan harinya, Velie ditegur ama guru yang menjadi pembina x-cool cheer karena kemaren Velie nggak ikut latihan.

“Hai Vel, kemana kamu kemaren?” tanya gurunya tersebut.

“Maaf bu, aku mau mengundurkan diri dari cheer ini,” jawab Velie dengan sedikit takut.

“Lho kenapa? Kamu itu murid paling berbakat di cheer. Tapi… kenapa kamu mau mengundurkan diri?” tanya guru itu lagi yang biasanya guru bahasa Inggris di kelas X.

“Ah, nggak papa.. Aku cuma ingin berhenti aja. Boleh nggak Bu?” jawabVelie disertai pertanyaan lagi.

“Oke deh Vel, kalau itu yang kamu mau,” jawab gurunya yang konon katanya bernama Bu Tere itu. (idih, lurus amat, nggak pake konflik-konflik segala. Yee.. mau-maunya yang nulis dong. Pegel dan pusing tahu kalo ada konflik lagi hihihi…)

“Makasih bu Tere,” kata Velie kegirangan sambil langsung ngacir ke kantin. Velie kelihatan mau insyaf beneran dari x-cool yang mengumbar aurat itu. Velie sepertinya telah tersadar terhadap apa yang selama ini dia lakukan. Tiba-tiba Velie ketemu Icha di kantin.

“Assalamu’alaikum, Cha aku udah mengundurkan diri dari cheer,” ucap Velie pada Icha yang sedang khusyuk menikmati makanannya.

“Wa’alaikumsallam. Ah, yang bener. Kamu kan anak cheer yang paling berbakat?” jawab Icha setengah kagetdan hampir keselek bakso yang paling besar di skulnya. Bakso Giant!

“Ya iyalah. Sekarang aku boleh ikut rohis nggak?” tanya Velie dengan yakin.

“Boleh aja,” jawab Icha dengan senang.

“Makasih ya, sekarang aku mau ke kelas dulu. Assalamu’alaikum,” kata Velie kepada Icha.

“Iya, Wa’alikumsallam” jawab Icha dengan senang yang kedua kali karena temannya sudah mau ikut rohis. Padahal dulu dia paling anti yang namanya berbau tentang Islam.

ooOoo

 

Hari sabtu pun telah tiba. Seperti kata Fuad, Semua anak rohis ngumpul setelah shalat dhuhur.

“Assalaamu’alaikum, maaf aku terlambat,” kata Velie sambil mengatur nafasnya yang dari tadi tidak teratur.

“Wa’alaikumsallam,” jawab anak rohis semuanya yang ada di situ.

“Eh, bagaimana kalau kita ngundang UJ alias Ustadz Jeffry. Kan lebih enak dan kalau bisa kita ngundang juga penulis buku Jangan Jadi Bebek itu. Sapa namanya?” usul Velie sacara tiba-tiba.

“Oh, Kak Oleh. Oleh Solihin nama lengkapnya. Hmm.. boleh juga. Aku akan menghubungi mereka secepat mungkin. Moga-moga aja mereka bisa,” jawab Fuad diamini Arie.

“Bagaimana?” tanya Fuad kepada anak-anak. Seperti biasa, mereka semua mengangkat jari manis mereka tanda setuju.

“Kalau Kak Oleh, biar aku aja yang ngomong,” kata Arie menawarkan diri.

“Oke, kita ambil keputusan terakhir hari selasa. Assalaamu’alaikum,” kata Fuad sambil berpamitan.

“Moga-moga aja ya Cha, Semua yang kuusulkan berhasil,” kata Velie berharap.

“Amin,” jawab Icha sambil ngajak Velie pulang ke rumah.

ooOoo

 

Hari penentuan pun telah tiba. Mereka semua ngumpul tak terkecuali anak-anak Fuyenk.

“Bagaimana Ar? Apa Kak Oleh bisa?” tanya Fuad kepada Arie.

“Sip, Kak Oleh bisa menghadiri acara kita. Bagaimana dengan Ustadz Jeffry?” tanya Arie balik.

“Maafkan aku. Dia nggak bisa datang karena kita telat ngomongnya. Bagaimana Vel?” tanya Fuad lagi.

“Ah, nggak papa. Kita laksanakan saja yang ada, oke?” kata Velie dengan tenang.

“Oke. Jadi kita ngundang GIGI, Ares Band, Olif Band, penceramah Kak Oleh, dan…” kata Fuad sambil mikir namanya band yang jadi pembukaannya.

“Fuyenk Band” jawab anak-anak Fuyenk serempak.

ooOoo

 

Hari acara pun tiba. Mereka semua udah siap melaksanakan acaranya. Tinggal nunggu yang diundang aja. Para bintang tamu pun udah hadir di tengah anak rohis yang sedang berdoa bersama agar acaranya berjalan lancar.

“Ya Allah, Berikan RidhaMu kepada kami agar acara kami berjalan lancar,” Fuad yang memimpin doa.

“Amin.” doanya Fuad diamini oleh seluruh yang ada disitu.

“SkUngu” kata Fuad menyemangati anak-anak.

“Ungunya Gimana Gitu..?” jawab anak-anak yang merupakan password rohis. Selang beberapa menit, mereka semua udah datang di tempat.

“Ini acara Pondok Ramadhan bukan konser, jadi yang cowok di sebelah kanan panggung dan yang cewek di sebelah kiri panggung. Oke man?” Arie mengumumkan yang disuruh Fuad.

“Oke” seru anak-anak yang udah datang.

“Pertama kita berdoa dulu yang dipimpin oleh GIGI. Arie membuka acaranya disertai tepuk tangan meriah dari penonton semua. Setelah berdoa, GIGI membawakan lagu “Keagungan Tuhan” yang merupakan lagu di album religiusnya. Setelah GIGI tampil, tiba-tiba temenya Velie membawa Ustadz Jeffry untuk ngisi acara yang heboh dari SkUngu ini.

“Lho, kok Ustadz Jeffry bisa hadir di sini?” tanya Fuad ke anak-anak. Antara seneng dan heran. Abisnya dibilangan nggak bisa. Jadi surprise banget kan?

“Iya, ternyata jadwal semula di tempat lain dibatalin sama panitia di sana. Terus manajernya ngubungin aku kalo mau pake UJ,” Velie ngasih penjelasan.

“Oo.. “Fuad cuma bisa membulatkan mulutnya.

“Alhamdulillah, ini kejutan bagi kita Foo,” Arie ngasih semangat!

“Iya. Bener. Nggak nyangka kita bisa ngundang orang-orang terkenal ke sekolah kita,” Fuad sumringah.

“Ini persembahanku Foo untuk rohis ini,” kata Velie sambil tersenyum manis menatap Fuad. Setelah temenya Velie membawa Ustadz Jeffry ke panggung, mereka langsung menuju ke Fuad untuk minta izin mau ikut kegiatan rohis.

“Foo, kita-kita ini mau ikut di rohis, boleh nggak?” tanya salah satu temenya Velie yang dulunya ikut cheer juga.

“Boleh aja kita malah seneng kalian mau ikut bergabung. Ya nggak temen-temen?” kata Fuad sambil memasang wajah senang.

“Oke paketu” jawab anak-anak rohis serempak.

“Moga-moga aja mereka ikut rohis nggak hanya pada bulan yang suci ini. Tetapi di bulan-bulan yang lainnya,” kata Arie di dalam hati.

“Dan mudah-mudahan mereka semua mendapat hidayah dari Allah. Amin,” Arie berdoa sendiri dan diamini sendiri. Acara ini telah berlangsung aman selama tiga hari berturut turut dan akhirnya berakhir dengan damai. Sejak sekolah ini berdiri, baru kali ini salah satu x-cool di SmUnGu yang ngadain acaranya dengan dana sendiri dan mendapat respon banyak dari berbagai media dan masyarakat. Ini membuktikan bahwa nggak selamanya anak rohis itu nggak gaul dan ketinggalan jaman. Buat kamu yang ikut rohis, Anak Rohis… Ya keren Deh. Oke.[]

 

Tito Firmanto adalah bagian dari geng rohis, di SMAN 7 Surabaya. Meski masih SMA, tapi tongkrongan Tito bongsor lho. So, jangan berani-berani malakkin Tito ye. Nih anak ngaku-ngaku ngefans sama Si Ogi (duiele pede banget!). Cita-citanya pengen jadi penulis yang baik hati, sopan, santun, rajin beribadah dan membela Islam.

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 23/Oktober 2006