Rapor

By: Putra Gara

 

Pukul tiga belas tujuh menit.

Gerah.

Ada ucapan salam.

Lelaki itu menjawab tanpa beranjak dari hadapan komputer kerjanya. Karena si anak yang mengucapkan salam itu pasti segera masuk ke dalam ruang kerjanya dan bersalaman.

“Siang, Pak. Sedang buat apa, nih?” Rahmat menyalami dan mencium punggung jari tangan lelaki itu, bapaknya.

“Biasalah,” si Bapak menjawab tanpa menoleh. Ia sedang asik dengan kibot dan untaian kata yang tengah dirangkainya.

Bapk Rahmat seorang penulis. Penulis artikel atau cerita. Tulisan bapaknya banyak tersebar di media ibukota.

Kerja Bapak Rahmat memang kebanyakan di rumah. Toh yang penting kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah Rahmat terpenuhi. Karena kata bapaknya, profesi penulis tidak semua orang bisa. Bakat hanyalah penunjang yang kesekian. Sebab ketika penulis menulis – bagaimana menulis gejala yang ada atau membuat cerita – dapat tersusun rapi dalam rangkaian kata-kata yang enak untuk dibaca, tidak menjelimet, mudah dimengerti dan dapat dipahami, itu tidak mudah. Tidak semua orang bisa seperti itu.

Rahmat bangga dengan profesi bapaknya.

“Kenapa lemas begitu, Mat? Bagaimana bagi rapornya?” tanya Bapak, ketika menoleh dilihatnya si anak tak bergairah.

“Payah, Pak. Sekarang Rahmat kalah,” kata Laila.

“Lho, kalah kenapa? Memangnya kamu ikut perlombaan apa?” Bapak heran.

“Juara kelas bukan di tangan Rahmat lagi,” keluh Rahmat

“Oh, itu rupanya,” Bapak tersenyum. Beliau menyudahi pekerjaannya. “Siapa sekarang yang menjadi juara kelas di kelas kamu?” tanyanya setelah itu.

“Anak baru, Pak, Dulah namanya. Pindahan dari sekolah lain,” jelas Rahmat

Bapak menghembuskan nafas. Ia pandang wajah Rahmat yang kelihatannya begitu kecewa dengan rapornya catur wulan ini. “Yah, sudahlah,” kata Bapak. “Bapak kan nggak menuntut kamu harus jadi bintang kelas, Mat. Lagi pula, di atas langit kan masih ada langit. Jadi kalau ada orang pintar, pasti masih ada lagi yang lebih pintar.”

Rahmat menoleh ke Bapak, sebentar.

“Buat Bapak, yang penting kamu belajar dengan sungguh-sungguh, jujur dan tetap punya semangat. Nggak lemas seperti sekarang ini,” kata Bapak.

Rahmat menghembuskan nafasnya. “Mendapat rangking kedua bukannya baru kali ini saja, Pak,” katanya. “Di kelas satu dulu pun Rahmat pernah mendapatkannya, dan Rahmat menerima kenyataan itu. Tapi sekarang,” Rahmat menggeleng-gelengkan kepala. “Rahmat nggak terima dan nggak puas.”

Bapak mengernyitkan kening. “Nggak puas kenapa?” tanyanya, heran dengan kalimat rahmat yang penuh tekanan.

“Menurut Rahmat, persaingan di kelas nggak sehat, Pak. Nggak murni dan nggak bersih,” kata Rahmat.

“Coba ceritakan kepada Bapak ketidakbersihan itu, Mat ….” Bapak tersenyum.

“Pertama, Dulah keluarga orang kaya, Pak.”

“Ah, masak. Buktinya apa?” pancing Bapak

“Dulah punya apa saja. Apa yang dia mau, bisa dia beli.”

“Lantas, apa hubungannya dengan prestasi di sekolah?”

“Yah, akibat kekayaannya itulah Dulah bisa membeli segala macam buku pelajaran. Bisa menyewa guru privat juga untuk segala macam pelajaran.”

“Bapak bisa mengerti itu,” sela Bapak. “Tetapi faktor belajar juga sangat menentukan bukan? Biar semua fasilitas itu dimiliki, kalau nggak punya kesungguhan, toh hasilnya akan tetap jelek.”

“Memang benar,” balas Rahmat. “Tetapi masih ada yang kedua, Pak,” katanya.

“Yang kedua? Apalagi itu?” Bapak kembali heran.

“Kalau ulangan atau ujian, Dulah sering nyontek. Mejanya penuh coretan-coretan untuk cetakan. Bahkan dia juga suka membuat gulungan kertas kecil berisi bahan contekan yang diselipkan di saku celana atau bajunya.”

“Wah, kalau yang ini sudah nggak sehat, Mat. Persaingan seperti ini nggak bisa dibiarkan, karena akan merugikan orang lain. Kalau suasana ketidakjujuran merajalela di kelas, kasihan dong, murid-murid jujur yang kalah persaingan.”

“Itu belum seberapa, Pak,” kata Rahmat. “Masih ada yang lebih hebat lagi.”

“Apa?” kejar Bapak.

“Waktu ujian catur wulan kemarin, Dulah sudah tahu soal mata pelajaran yang akan diujikan,” jelas Rahmat.

“Ha?! Bagaimana bisa begitu?” Bapak makin heran.

“Yah, mungkin ada oknum-oknum tertentu di balik tindak-tanduk si Dulah. Dia kan orang kaya, jadi apa pun bisa dibelinya. Yah, mungkin termasuk membeli soal-soal ujian itu.”

Bapak geleng-geleng kepala. “Apakah kecurangan temanmu itu ada yang berani mengingatkan, Mat?” tanyanya setelah itu.

“Ada, Pak.”

“Siapa?”

“Saya….” jawab Rahmat.

“Kamu?!” Bapak memandang anak semata wayangnya. “Eh, berani juga kamu, Mat. Bagaimana hasilnya?”

“Nggak ada, Pak,” kata Rahmat. “Dulah menganggap tindakannya itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Dia nggak merasa bersalah dengan kecurangannya itu. Malah dia mengancam Rahmat untuk tutup mulut. Kalau Rahmat ikut campur dengan urusannya, katanya dia nggak segan-segan akan melukai Rahmat dengan teman-temannya.”

“Kamu berani?” tanya Bapak, memancing.

“Kalau cuma melawan si Dulah itu, Rahmat nggak takut, Pak. Tapi kalau dikeroyok, mikir dua kali Rahmat. Soalnya teman-teman Dulah banyak. Bapak nggak mau kan kalau pulang sekolah mendapati wajah anak Bapak sudah nggak ketahuan mana yang depan sama yang belakang,” kata Rahmat sambil tersenyum.

Bapak turut tersenyum. “Ya, sudah, kalau begitu, langsung saja kamu laporkan tindakan si Dulah itu ke guru atau kepala sekolah.”

“Kalau ada apa-apa, bagaimana?” sela Rahmat.

“Bapak akan membela kamu sekuat tenaga,” kata Bapak sambil menepuk-nepuk pundak anak itu.

“Oke, Pak,” Rahmat tersenyum. “Besok akan saya laporkan kecurangan si Dulah itu,” dia bangun dari duduknya. “Berhubung sekarang perut sudah keroncongan, Rahmat mau makan dulu, Pak,” katanya.

Bapak mengangguk sambil tersenyum. Lalu kembali dengan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.

ooOoo

Pukul tiga belas kurang tiga menit.

Langit agak mendung.

Bapak duduk di beranda rumah, dengan koran di tangannya. Sekali-kali pandangannya menoleh ke depan. Ia memang tengah menunggu Rahmat pulang dari sekolah. Kepingin tahu bagaimana hasilnya dari laporan tentang kecurangan temannya.

Rahmat harus dididik berani, pikir Bapak. Harus bisa mengatakan yang salah kalau memang salah, dan harus berani mengatakan yang benar bila memang benar. Harus tegas.

Bagi Bapak, rangking dalam kelas bukanlah hal yang utama. Tapi situasi yang jujur dan adil yang perlu diciptakan untuk menyehatkan mutu di dalam pendidikan. Kejujuran dan keberanian itulah yang harus ditanamkan sejak dini. Dan itu kepingin ditanamkan oleh Bapak kepada anak satu-satunya itu. Sebab ia adalah Bapak sekaligus Ibu buat Rahmat. Sejak kelas lima SD Rahmat sudah ditinggal ibunya ke hadirat Ilahi, Bapak harus dapat berperan ganda. Memberi kasih sayang seperti Ibu, dan mendidik seperti Bapak.

Pas pukul tiga belas lima menit, Rahmat sudah pulang. Bapaknya langsung menyambutnya.

“Bagaimana hasilnya, Mat?” tanya Bapak tak sabar.

“Nggak ada, Pak,” Rahmat terlihat lemas.

“Mengapa?” Bapak tidak mengerti.

“Kepala Sekolah membela dan melindungi Dulah. Ternyata Dulah adalah saudaranya kepala sekolah,” jelas Rahmat.

Bapak tak berkata apa-apa.

Diam.

Koran di tangan, yang isinya berita tentang perang, korupsi, kolusi, dan manipulasi dihempaskan.

Bapak kecewa, kecewa dengan diri sendiri. Tentang yang salah jadi benar, dan yang benar jadi salah, ia sudah tahu dan sering melihat itu. Tapi ia hanya ingin mendidik Rahmat, bahwa kebenaran harus diluruskan. Kenyataannya … pelan-pelan Rahmat akan tahu, bahwa dalam hidup, kesalahan bisa dibenarkan, dan kebenaran bisa disalahkan.

Bapak khawatir, khawatir kalau ketidakjujuran sudah merasuk ke jiwa anak-anak penerus bangsa.

Tapi bagaimana, Bapak juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah sering kali ia menulis tentang ketidakadilan seperti ini, tetapi orang baik dan jahat memang sudah ketentuan.

Hanya karena untuk nilai di rapor, Dulah dan Kepala Sekolah yang bersaudara itu rela berbuat tidak adil. Rela membohongi hati nuraninya. Padahal rapor sebenarnya, yang akan kita dapatkan adalah ketika jantung tak lagi berdetak, nafas terhenti, dan amal ibadah dalam kehidupan kita yang fana telah menjadi nilai dalam rapor pertanggungjawaban kita terhadap Sang Pencipta.

Rapor ini, yang sering dilupakan banyak orang. []

Sanggar “Bening” 2003

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 16/September 2003