SAKURA Kami

By: Eryani Widyastuti

 

Dulu, simbol persahabatan kami adalah Sakura. Bunga khas negara Jepang, berkelopak mungil dengan semburat warna merah yang muda. PerSAhabatan KUrnia dan RAhma. SA-KU-RA. Begitulah kami menamai hubungan kedekatan kami. Merangkai kebersamaan lewat kejadian-kejadian kecil namun bermakna. Mewarnainya dengan perbedaan pembawaan kami. Kurnia adalah seorang gadis yang lemah lembut dan penyayang. Sedangkan aku, seorang gadis yang keras kepala dan selalu berterus terang. Jika aku sedang bergolak, Kurnia yang menenangkan aku. Jika dia yang sedang dipenuhi rasa khawatir, maka, tugasku untuk menguatkan hatinya. Seumpama ber-ikebana, kami berhasil menjadikan persahabatan kami sebagai sebuah tatanan bebungaan cantik, penuh bunga sakura, yang senantiasa indah bila dikenang.

“Nia, aku ingin berkerudung.” kataku kepada Kurnia, sepulang kuliah.

Kurnia menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Matanya melebar.

“Beneran, Ma? Kenapa kamu tiba-tiba ingin berkerudung?” Tanyanya.

Aku memindahkan selempang tasku. Dari kiri ke kanan. “Ramadhan kemarin, aku banyak berpikir. Kalau ini memang kewajiban kita sebagai muslimah, kenapa tidak dilaksanakan saja? Kemarin, aku sempat coba-coba memakai kerudung di rumah. Ribet juga sih. Tapi, ini kan hanya masalah kebiasaan. Lagipula, setiap kesulitan yang kita hadapi dalam melaksanakan perintah Allah, insyaallah pahala ganjarannya!” Jelasku berapi-api.

Kurnia tersenyum. Matanya tampak berbinar. “A…aku juga!” Serunya.

“Maksudmu?”

Kurnia memegang erat tanganku. “Ramadhan kemarin, aku sering membaca Qur‟an dan terjemahannya. Walaupun tidak sampai khatam, sih. Entah mengapa, perintah menutup aurat dalam surat An-Nur ayat 31 terus terngiang-ngiang dalam pikiranku. Sampai sekarang.”

Dengan antusias, aku mengayun-ayunkan tangannya dan tanganku yang bergandengan erat.

“Alhamdulillah!! Kalau begitu, ayo pakai kerudung sama-sama!” Hatiku bergemuruh haru. Aku melihat perasaan yang sama di wajah Kurnia.

“Terus, bagaimana dengan komentar orang-orang nanti?” Tanyanya.

“Ah, peduli amat! Yang pakai kerudung kan kita! Bukan mereka!” Sahutku lugas.

“Kita hadapi bersama, ya? Semangat!!!”

Kami pun melompat-lompat kegirangan layaknya dua anak kecil yang akan dibelikan es krim ber-scoop jumbo.

Kebersamaan semacam ini memang sering terjadi. Sebelum ini, kami juga selalu kompak melakukan banyak hal bersama-sama. Pulang-pergi kuliah bersama, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, pergi ke kajian masjid kampus bersama, dan masih banyak lagi. Kami saling memotivasi satu sama lain untuk memperbaiki pencapaian akademis kami dan perbaikan diri kami. Bahkan, pernah, suatu semester, kami meraih Indeks Prestasi Kumulatif yang sama: 3,45. Tanpa berbuat curang semacam contrek-mencontek sedikit pun.

Musim semi. Benar-benar musim semi saat itu.

Setelah kami lulus kuliah, seperti para sarjana pada umumnya, kami pun mencari pekerjaan. Melamar kesana-kemari.

Pada masa itu pun kami berjuang bersama-sama. Jika aku mempunyai informasi lowongan pekerjaan, aku pasti memberi tahu Kurnia. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, sering sekali, kami mendatangi tes pekerjaan bersama-sama. Itulah yang kami lakukan. Selama satu tahun.

Lalu, musim gugur pun tiba. Dingin. Kering. Disertai angin kencang. Menggugurkan banyak kelopak sakura kami.

Waktu itu, sudah dua bulan kami tidak bertemu. Karena, Kurnia memutuskan untuk mencari kerja di luar kota. Komunikasi kami pun mulai tersendat. Aktivitas kami juga sudah banyak berbeda.

Suatu sore, Kurnia datang ke rumahku. Dia tampak anggun mengenakan kerudung ungu yang terlilit di leher. Dulu, kerudungnya masih mengulur sampai menutupi dada. Seperti yang kupakai.

Tapi, sudahlah. Toh, itu pilihan pribadi. Yang penting, kami bisa bertemu kembali. Ucapku dalam pikiran.

Kukira, hari itu akan menjadi hari yang menyenangkan. Kami bercanda dan bertukar cerita tentang hal-hal serius dan hal-hal konyol yang kami alami selama tidak bertemu. Kemudian, tibalah pada berita terpenting dari maksud kedatangan Kurnia.

“Rahma, alhamdulillah, aku sudah diterima kerja,” Ucap Kurnia lembut.

“Ah, alhamdulillah! Bener, nih?! Di mana?” Tanyaku senang. Sekaligus iri. Aku belum juga mendapatkan pekerjaan. Kondisi pengangguran benar-benar membuat lelah!

“Di Bank Samudera Indonesia.” Kurnia tersenyum ragu. Seakan segan.

Samudera….

Oh! Tunggu! Aku ingat! Bank Samudera Indonesia adalah bank besar berskala nasional, yang dulu tesnya pernah kami ikuti bersama. Sampai pada tes wawancara. Sayang, waktu itu, manajemennya mensyaratkan aku untuk melepas kerudung. Sesuatu yang tidak disebutkan dalam informasi lowongan. Kurnia juga menghadapi syarat yang sama. Dan, kami pun kompak menolaknya.

“Wuaahh!! Hebat kamu, Nia! Bagaimana caranya kamu bisa membuat manajemennya berubah pikiran? Kereeen!!” Aku sungguh kagum kepada Kurnia. Di balik kelembutannya, tersimpan kekuatan yang hebat.

Kurnia tersenyum. Senyum segan itu lagi. Aku jadi merasa sedikit aneh.

“Kenapa, Nia? Nggak apa-apa, kok, kalau kamu yang diterima. Aku ikut senang. Hmm, berarti, kamu minta tambahan kain untuk bikin seragam panjang, dong!” Candaku, berusaha mencairkan suasana.

“Enggak juga.”

“Lho, terus? Kan, setahuku, pegawai Bank Samudera Indonesia memakai rok selutut? Iya kan? Kan, tidak mungkin kamu….”

Kurnia menatapku memelas. Seperti dulu, saat ia minta pengertianku karena lupa membelikan cheese cake yang dia janjikan.

“Kamu ke kantor pakai seragam apa?” Intonasiku mendatar. Dingin.

“Rahma, maaf.” Dia memegang tanganku. Aku bisa merasakan kegelisahannya yang menjalar melewati tangannya. “Waktu tes wawancara tentang kerudung itu, aku bilang ke interviewernya: akan saya pertimbangkan, Pak. Lalu, bulan kemarin, aku mendapatkan telepon bahwa aku diterima…” Terang Kurnia sangat hati-hati.

Aku menelan ludah. Aku memandangnya tak mengerti.

“Oooo… begitu ya…” Kataku lirih. Aku menarik tanganku darinya.

Kenapa kamu bohong padaku?? Kenapa dulu kamu bilang, kamu menolak persyaratan itu, sama seperti aku??

Aku merasa tidak terima. Seandainya saja aku bisa meneriaki Kurnia dengan kalimat-kalimat itu. Tapi, entah, mengapa aku melembek. Mungkinkah, karena aku juga merasakan sendiri betapa sulitnya mencari kerja?

“Jadi, kalau kamu kerja, kamu tidak berkerudung?” Tanyaku sewajar mungkin untuk menutupi kekecewaanku Tapi, aku tidak bisa menyembunyikan nada suaraku yang ketus.

“Mmm… iya. Ta-tapi, kalau keluar rumah, aku pakai kerudung kok. Se-seperti sekarang ini.” Kurnia tampak berusaha membela diri.

Aku terkejut dengan jawaban Kurnia. Apakah kerudung itu adalah aksesoris yang bisa kita lepas-pakai sesuka hati?

“Tapi, kamu tahu, kan, itu tidak boleh? Kamu juga sudah tahu kan kalau kita wajib berkerudung? Apa kamu sudah lupa dengan semangat kita dulu??” Kata-kata itu meluncur tak tertahankan dari mulutku.

Mata Kurnia berkaca-kaca menatapku.

“Rahma kan tidak tahu sulitnya kalau tidak punya bapak….” Jawabnya terbata-bata sambil berusaha membendung air mata. “Bertahun-tahun ibuku bekerja keras demi menghidupi dan menyekolahkan aku dan adikku… Aku ingin cepat-cepat menggantikan ibuku bekerja. Sudah cukup ibuku—”

Kurnia membekap mulutnya sendiri. Suara tangisnya terdengar tercekat di tenggorokan. Hanya air matanya yang mengalir deras.

Apakah aku sudah menyakiti hatinya? Jelas.

Aku terdiam melihat reaksi Kurnia. Selama ini, aku belum pernah melihatnya menangis. Kurnia sering tampak cemas atau mengkhawatirkan sesuatu. Tapi, dia tidak pernah menangis. Malahan, aku yang keras kepala ini, sering menangis di depannya. Karena jengkel, kecewa, atau tidak suka terhadap sesuatu. Kurnia yang selalu menenangkan aku.

Aku tak pernah membayangkan, bagaimana jika Kurnia yang menangis? Terus terang aku terkejut. Tidak menyangka. Dan, tidak tahu harus berbuat apa.

“Menurut kamu– Apakah aku harus mempertahankan kerudungku, sedangkan keluargaku butuh uang untuk hidup?” Suaranya bergetar.

Pertanyaan filosofis Kurnia memancing idealismeku untuk berbicara.

“Kalau kamu mau bersabar, Nia, pasti ada jalan. Kamu bisa kerja. Juga tetap berkerudung! Masa kamu harus menjual keyakinanmu demi uang?” Jawabku penuh emosi. Berharap dia mendapatkan pencerahan dari kata-kataku.

Tapi, rupanya tidak.

Kurnia kaget. Wajahnya menegang. Situasi di antara kami semakin menggelap. Dia menyeka air matanya, dan berdiri.

“Aku pamit dulu, Ma.” Kurnia mengangguk kaku dengan senyuman pendek yang dipaksakan. Kami bahkan tidak mengakhiri perjumpaan itu dengan assalamu’alaikum.

Kejadian sore itu sudah dua tahun berlalu. Namun, aku masih sering memikirkannya. Merutuki diri, menyesali kata-kataku yang tidak paham situasi dan tidak bijak. Terlepas dari perkara benar atau salah.

Akhirnya, karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, aku membuka usaha sendiri, yaitu membuat cheese cake. Usaha ini aku beri nama SAKURA.

Kenapa?

Ini adalah sebagai permintaan maafku yang tak pernah terucap pada Kurnia. Juga, sebagai rasa terimakasihku padanya. Sebab dulu dia sering berkata: Kalau kamu memang suka makan cheese cake, kenapa tidak belajar membuatnya sendiri? Siapa tahu kamu nanti jadi pengusaha cheese cake!

Nama ini merupakan bentuk kenangan atas persahabatan kami. Mungkin tidak sesempurna keindahan bunga Sakura. Tetapi, tetap, aku merasa bersyukur, Allah telah menjadikan kami sahabat. Dalam kebaikan. Walaupun akhirnya, kami berbeda jalan.

Sampai hari ini pun, dia tetap sahabatku.

“Mbak Rahma, ini lho, ada orang dari Bank Samudera Indonesia lagi. Yang ini mau pesan 100.” Bisik Risa, asistenku.

Aku tersenyum. Kini, hasil dari perjuanganku sudah mulai terlihat. Tanpa harus dihitung secara detail pun sudah kelihatan bahwa penghasilanku tidak kalah dengan orang-orang kantoran. Tak salah bila aku dulu bertekad: Kalau tidak menjadi karyawan, ya jadi wiraswastawan.

“Akhir-akhir ini kok banyak yang pesan dari bank Samudra Indonesia, ya?” Celetukku. Sekelebat, sosok Kurnia muncul dalam bayanganku.

“Iya, Mbak. Ketagihan sama cheese cake kita paling! Hihihi!” Sahut Risa, mengiringi langkahku menemui pelanggan.

Di teras depan rumah, aku melihat seorang wanita berpostur tinggi, berwajah cantik, dan berkulit bersih. Ia memakai seragam warna biru laut berlengan panjang dengan rok selutut.

“Mbak Rahma, ya? Saya Adelia. Bisa tidak kira-kira, Mbak?” Tanyanya penuh harap.

“Tentu bisa, Mbak Adelia. Tidak usah khawatir.” Aku tersenyum ramah.

“Syukurlah! Orang-orang kantor banyak yang suka cheese cake buatan Mbak, lho!”

“Alhamdulillah! Saya juga senang. Wah, dulu siapa ya, yang merekomendasikan untuk beli cheese cake di sini? Harus dapat harga khusus, nih, kalau ke sini!” Aku mencoba berbasa-basi, meski itu bukan keahlianku.

“Ah, iya, Mbak Rahma. Teman seruangan saya, kok. Katanya, sahabat dekat Mbak dari kuliah.”

Keinginanku berbasa-basi langsung sirna. Nada bicaraku berubah serius. “Siapa namanya, Mbak?”

“Kurnia Wijayanti.”

Hatiku tergetar.

Kurnia.

Ah, semoga saja musim semi segera datang untuk memekarkan kembali bunga-bunga Sakura kami. Semoga. []

 

Tentang Penulis

Eryani Widyastuti. Seorang ibu rumahtangga yang gemar menulis, membaca, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Tinggal di Gresik – Jawa Timur bersama suami dan seorang putra. Saat ini aktif menulis cerpen di blog pribadinya www.jejakembunpagi.wordpress.com dan menjadi salah satu kontributor artikel di sebuah website homeschooling www.aprinesia.com.