Salah Sangka

By: Fathimah NJL

 

Pulang sekolah, Vera, Reva dan Fira tidak naik jemputan. Bunda dan Ayah berjanji akan menjemput di taman sekolah. Kata Bunda, karena mulai besok liburan semester, Bunda akan mengajak Vera, Reva dan Fira ke rumah nenek Azizah. Nenek Azizah adalah ibu dari Bunda Rahma.

“Vera! Fira! Di sini!” terdengar suara dari gerbang taman sekolah. Itu adalah suara Ayah. Ayah sudah datang, tapi Kak Reva belum tiba. Vera menggandeng tangan Fira sambil berjalan dengan bingung. Fira bergembira. Ia tidak menyadari kalau Kak Reva belum ada.

“Ayo naik!” kata Bunda. Tiba-tiba, pintu terbuka dan terlihat seorang perempuan berkerudung putih menjuntai sampai ke dada. Ternyata itu Kak Reva.

“Kok Kak Reva tidak pergi ke taman sekolah sih?” tanya Fira begitu melihat Kak Reva sudah berada di dalam mobil.

“Iya, tadi kakak ada tugas teka-teki di kelas. Lalu saat mau ke taman, kakak bertemu mobil Ayah.” jawab Kak Reva sambil menggeser tempat duduknya dan mempersilahkan adik-adiknya masuk.

“Sudah, tidak apa-apa, Fira. Yang penting, kita sudah bersama di sini.” kata Vera menutup pintu. “Oh, iya, Bunda. Kita langsung ke rumah Nenek Azizah?”

“Iya. Tapi kalian makan siang dulu nih. Pasti sudah lapar.” kata Bunda sambil menyodorkan tiga tempat makan kecil dan tiga botol air minum.

ooOoo

Akhirnya, sampai juga di rumah Nenek. Vera melihat Kak Reva yang sedang memainkan jarinya ke tuts handphonenya. Kemudian, ia juga melihat adiknya sedang tertidur kelelahan. Digoncangnya dengan halus sambil berkata, “Fira, bangun. Sudah sampai, nih di rumah Nenek.” Kata Vera yang langsung di jawab dengan permintaan.

“Turun, yuk.” Katanya. Vera mengangguk.

Di dalam, Nenek sudah menunggu bersama Kakek Firman. Vera langsung menyalami mereka dengan santun. Fira mengikuti dari belakang.

“Sudah, kalian bersih-bersih diri dulu. Nanti Nenek buatkan teh hangat.” Kata Nenek ramah. “Oh, iya. Besok sepupu dari Amerika bernama Lusia mau datang. Ikut temenin Nenek jemput ya?” katanya lagi yang disusul dengan anggukan. Vera berlari menuju kamar anak perempuan. Di sini memang dibagi kamar-kamarnya. Tujuannya, agar anak-anak bisa belajar mandiri.

“Aku tidak sabar ingin bertemu Lusia.” kata Fira membuka pintu kamar. Di sana ada  9 tempat tidur, meja kecil dan lemari kecil bermotif bunga. Barang-barang itu berfungsi untuk menampung cucu-cucu Nenek Azizah. Vera, Reva dan Fira menyimpan barang mereka di tempat yang berdekatan di dekat pintu. Karena memang tempat itu yang kosong. Di tengah-tengah ruangan itu, terdapat karpet bulu besar untuk duduk di bawah. Vera mengajak Fira untuk mengobrol bersama.

”Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Lusia.” kata Fira. ”Tapi aku belum bisa bahasa inggris.” katanya lagi sambil merunduk.

”Tidak apa-apa.” kata Vera menenangkan adiknya. Tiba-tiba pintu dibuka. Dari luar terdengar banyak orang bercanda.

”Eh, Vera sudah datang!” kata Mbak Hanifah yang pertama kali masuk. Ia langsung membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan yang lain masuk.

”Wah. Sudah lengkap, ya.” kata Fira. Memang benar, ada: Mbak Farah, Mbak Khairunnisa, Mbak Azkiya, Mbak Shafira, dan Mbak Hanifah. Mereka bersalam-salaman. Kemudian mereka berbincang-bincang tentang rapor semester mereka. Mereka juga membicarakan tentang kedatangan Lusia. Mereka tidak sabar ingin segera menjemputnya.

Tak terasa, jam dinding berbunyi menyanyikan lagu ’Twinkle Star’ minus one. Itu tanda waktu untuk tidur. Karena jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Mereka pergi ke tempat tidur masing-masing, dan bergegas tidur sebelum Nenek sempat menengok.

ooOoo

”Siapa yang mau ikut menjemput Lusia?” tanya Paman Ali.

Semua mengangkat tangan. Akhirnya, Paman Ali membawa 2 mobil. Yang satu, disetir Paman Ali, yang satu lagi disetir Ayah.

”Ayo, yang ikut Ayah adalah, Fakhri, Rizal, Abdullah, Reva, Fikri, Azkiya, Hafidz, Vera, dan Fira. Nah, sisanya ikut Paman Ali.” kata Paman Ali.

ooOoo

”Hello. I’m Lusia. Nice to meet you.” kata Lusia dengan logat Amerikanya. Lusia ikut dengan mobil Ayah. Selain Lusia, mereka berbisik-bisik lalu tersenyum. Lusia terlihat bingung.

”Nice you meet you too.” sahut mereka serempak. Lusia tertawa. Mereka malu untuk berbicara kepada Lusia. Tiba-tiba Vera berkata,

”Hi, Lusia. My name is Vera. She is my little sister, Fira.” Katanya yang disambut dengan lambaian tangan. Kemudian mereka berkenalan satu sama lain. Lusia memang yang paling muda diantara mereka semua.

ooOoo

”Vera, antarkan Lusia ke kamar! Di sana sudah disiapkan perlengkapan untuknya.” perintah Nenek.

”Baik, Nek. Lets go to bedroom, Lusia.” kata Vera.

“Aku ikut, kak.” Kata Fira. Vera mendorong koper kecil Lusia. Tampaknya, Lusia senang dengan Vera. Fira hanya diam saja. Ketika Lusia berbincang-bincang dengan Vera, ia tidak mengerti.

”Wow, this room is beautiful.” kata Lusia begitu masuk kamar. Vera hanya menjawab bahwa kamar itu Nenek yang mengatur. Lusia tidur tepat berhadapan dengan pintu keluar. Vera mengantarkan kopernya.

”Where will you like to sleep?” tanya Lusia. Vera menunjuk tempat tidur di dekat pintu.

”I like to sleep beside your bed.” Kata Lusia memandang Vera. Kali ini, Fira mengerti.

”That’s inpossible. Because our Grandma decided” jawab Vera yang membuat hati Fira lega. Lusia diam. Mereka memasukkan baju Lusia ke lemari kecilnya. Setelah rapi, mereka turun untuk makan siang.

”Makan apa kita sekarang?” kata Fira.

”Ayam goreng, rendang, sop, dan mangga. Kau mau sirup Fira? Kau juga Vera?” kata Kak Reva. Mereka berdua mengangguk.

”Wow. I like fried chicken.” kata Lusia tanpa perlu di terjemahkan.

”Do you understand?” tanya Kak Reva.

”Yes. But, i can’t speak it in Indonesian.” jawab Lusia. Ia makan dengan lahap dan menghabiskan makanannya.

”Lusia, you tired, you must to sleep now!” kata Ibu Lusia, Tante Aisyah. Oya Tante Aisyah ini adalah istri Paman Rizki, anak bungsu Nenek. Tante Aisyah, asli orang Amerika. Nama aslinya sebelum menikah dengan Paman Rizki adalah Maria Margaretha Smith.

“Yes, Mom.” Kata Lusia bergegas masuk kamar. Fira lega. Ia bingung, apa yang kakaknya bicarakan dengan Lusia.

Malamnya, Lusia memamerkan nilai test masuk ke ’primary school’nya. Nilainya cukup besar, tapi masih lebih besar nilai test Fira. Dari tadi, hanya Vera yang berbicara dengan Lusia. Ini membuat saudara-saudara yang lain kagum dengan rasa bersahabat dan kefasihan berbahasa inggris Vera. Tapi, Fira malah iri terhadap Lusia. Lusia begitu akrab dengan kakaknya.

Saat ingin tidur, Lusia susah sekali diajak tidur. Ia bersikeras ingin tidur di dekat Vera. Tapi itu bisa diatasi oleh Nenek yang mendongeng. Fira juga ikut senang.

ooOoo

Pagi ini, Paman Ihsan mengajak Vera dan saudara-saudaranya pergi berenang. Karenanya, pagi itu mereka mengemas baju renang mereka.

”Kita akan berenang di halaman belakang rumah Nenek.” kata Kak Reva.

”I’m very happy.” kata Lusia kegirangan. Vera menangguk.

”Me too.” kata Fira yang sudah terbiasa sedikit- sedikit. Mereka melakukan pemanasan yang dipimpin oleh Mas Abdullah. Kemudian, mereka berenang dengan asyik. Mereka melakukan lomba renang tercepat, terindah, dan terjauh. Yang menjadi jurinya adalah yang belum bisa berenang, termasuk Lusia. Dalam hati, Fira merasa Lusia itu adik kecil.

Selesai berlomba, mereka bergegas mengganti baju. Tapi, Lusia masih bermain-main air di tempat yang dangkal.

“Vera, tolong bawakan handuk dan baju ini untuk Lusia.” perintah Nenek kepada Vera. Vera mengambil barang itu dan memanggil Lusia.

”Lusia, come here!” panggil Vera begitu sampai di pinggir kolam. Lusia mendekat dan naik dengan bantuan Vera. Melihat itu, Fira berpikir bahwa Lusia lebih disayang oleh Vera. Fira sedih. Selesai mengganti baju, Fira segera berlari menuju kamar Nenek. Ia meminta izin kapada Nenek, ”Nek, Fira mau tidur siang di sini, ya!” Fira meminta. Nenek bingung.

”Kenapa tidak di kamar? Lagi pula, sekarang juga masih jam 10 pagi.” jawab Nenek halus. Fira terus meminta sampai Nenek mengizinkan Fira tidur di kamar Nenek.

Ketika Fira sedang tidur dan bersedih di kamar Nenek, Vera bingung mencari-cari Fira. Sejak mengganti baju, Fira sudah berlari masuk rumah. Vera bertanya-tanya kepada semua orang, termasuk Nenek.

”Oh. Fira tadi ingin tidur di kamar Nenek. Jadi Nenek izinkan.” kata Nenek. Mendengar itu, Fira merasa lega. Ia menengok ke dalam kamar Nenek dan melihat adiknya sedang tidur. Setelah itu Vera pergi.

ooOoo

Fira tidak mau ditemui siapapun kecuali Nenek. Tapi, Fira belum mau mengatakan isi hatinya kapada Nenek. Fira juga tidak keluar kamar. Ia keluar hanya untuk mengambil makan saja. Vera bingung. Sedang tangannya ditarik-tarik oleh Lusia yang ingin bermain. Bersama saudara-saudara yang lain selain Fira, Vera meminta izin kepada Nenek untuk pergi jalan-jalan keliling daerah tempat tinggal Nenek.

Sebelum Nenek mengizinkan Nenek masuk ke kamar untuk mengajak Fira.
”Fira, ikut saudara-saudaramu jalan-jalan ke luar sana. Mungkin Fira suka.” kata Nenek dengan lembut. Tapi, jawaban Fira hanya,
”…”. Akhirnya Nenek mengizinkan kami pergi tanpa Fira.

ooOoo

Dengan asyik, mereka pergi. Mas Fakhri, Mas Rizal, Mas Abdullah, Kak Reva, Mbak Azkiya, dan Mbak Shafira berjalan kaki sambil membawa peralatan bermain. Vera, Lusia, Mbak Farah, Mbak Fakhrunnisa, Mbak Hanifah dan Umar naik sepeda. Vera memboncengkan Lusia, dan Mbak Hanifah membonceng Mas Umar. Seandainya ada Fira, Vera lebih memilih Fira untuk dibonceng. Nah, sisanya adalah Mas Fikri, Mas Farhan, Mas Hafidz, Mas Ibnu, Mas Mujahid dan kakak Lusia, Devin, yang memakai sepatu roda.

Mereka berjalan sampai di taman. Di dekat sana ada lapangan sepak bola, bulu tangkis, dan basket. Mereka bermain asyik sekali.

”Sayang Fira tidak ikut.” kata Vera. Lusia mengangguk. Ia selalu ada di samping Vera.

Di sana, ada yang bermain dengan sepeda dan sepatu roda, basket, dan bulu tangkis. Di taman juga ada arena untuk bermain. Ada ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan masih banyak lagi. Kebanyakan laki-laki yang bermain basket. Kecuali Mas Umar dan Mas Mujahid. Mereka bermain bulu tangkis. Mbak Farah, Mbak Azkiya, Mbak Shafira, dan Kak Reva berbincang-bincang di sebuah kursi melingkar tak jauh dari sana. Mereka seperti sedang merencanakan sesuatu. Mereka tertawa-tawa. Sedang Vera, Lusia dan Mbak Fakhrunnisa bolak-balik sambil berkejar-kejaran. Senang sekali.

ooOoo

Mereka pulang dengan wajah yang cerah. Hanya saja, Vera masih bingung tentang Fira. Tapi bingungnya nanti dulu. Sekarang Vera sedang diajak ngobrol dengan Lusia, sementara saudara-saudaranya yang lain di kamar perempuan.

”Tok! Tok! Tok! Assalamu `alaikum!” terdengar suara Nenek dari pintu.

”Wa`alaikumus salam!” jawab mereka serempak. Mbak Shafira yang berada paling dekat dengan pintu membuka pintu. Dan benar, di balik pintu ada Nenek. Nenek membawakan sebuah tas berisi banyak baju.

”Apa ini, Nek?” tanya Mbak Shafira.

”Itu seragam untuk cucu-cucu Nenek. Sekarang kalian mandi. Lalu memakai seragam itu. Kita akan jalan-jalan ke luar rumah. Semua bergembira. Tiba-tiba Vera bertanya,

”Fira mana, Nek? Fira ikut, kan?!” tanyanya. Nenek mengangguk

”Ia akan datang untuk mengambil seragamnya. Sekarang ia sedang mandi. Mereka bergantian mandi. Kemudia memakai baju seragam yang sudah diberi nama itu. Saat Fira datang, semua sedang berada di kamar mandi yang berbeda. Sehingga Fira mengambil baju tanpa sepengetahuan siapa-siapa.
Bajunya lucu lho. Yang perempuan memakai baju kaos lengan panjang bergambar anak perempuan sedang berdo`a. Ada tulisan di bawahnya, Muslimah Sholehah. Sedang yang laki-laki bergambar anak laki-laki sedang berdo`a. Tulisannya Muslim Sholeh.

ooOoo

Semua berangkat dengan keluarga masing-masing. Fira tetap diam saja walaupn Vera bertanya. Akhirnya Vera diam juga.

Ternyata mereka pergi ke taman ria. Ada berbagai permainan di sana. Mereka bermain sepuasnya. Tapi, Fira duduk menyendiri di kursi. Melihat itu, saudara-saudara yang lain merasa tidak enak. Termasuk Vera dan Lusia. Akhirnya Lusia memberanikan diri untuk bertanya,

”What happened with you? Are you sick?” tanya Lusia. Fira bingung.

”Ada apa?” kata Vera menerjemahkan. Fira berlari. Semua bingung.
Fira berkata kepada Nenek,

”Kak Vera sayang aku kan, Nek?” katanya. ”Kok Kak Vera mainnya sama Lusia terus?” katanya lagi. Nenek mengerti.

”Ya, Kak Vera sayaaang sekali sama Fira.” jawab Nenek dengan lembut.

”Bukannya Kak Vera tidak mau bermain dengan Fira. Kak Vera Nenek lihat sering bingung. ’Fira mana, Nek?’ gitu katanya.”

Dalam hati Fira merasa bersalah. Ia merasa terlalu berprasangka buruk terhadap Kakaknya itu. Benar, Kak Vera memang sayang kapadaku. Kata Fira dalam hati.

”Lalu kenapa mainnya sama Lusia terus?” Fira ingin mengorek lebih dalam.

”Bukan Veranya, tapi Lusianya. Vera sering mengajak Fira, kan?” Fira mengangguk. ”Lusia menganggap Vera itu seperti kakak kandungnya.” kata Nenek lagi. ”Apalagi yang bisa bicara bahasa Inggris lancar dengan Lusia kan Vera.”

”Kenapa kok dianggap seperti kakaknya sendiri?” tanya Fira bingung. Nenek tersenyum.

”Lusia saat ini adalah yang terkecil dari semuanya. Perbedaan umur dengan kakaknya berbeda jauh. Lagi pula kakaknya laki-laki. Jarang mengajak Lusia main. Akhirnya, begitu ia melihat Vera, ia langsung menganggap Vera adalah kakak yang baik baginya. Fira juga, kan?” Fira mengangguk. Akhirnya Fira mengerti.

”Terima kasih ya, Nek.” kata Fira sambi belari menuju Vera.

”Kak, aku minta maaf, ya. Sudah berprasangka buruk terhadap kakak dan Lusia.” kata Fira sambil menunduk. Vera tersenyum.

”Iya, kakak tidak pernah marah terhadap Fira.” kata Vera senang karena adiknya tidak sedih lagi.

”I like you to.” kata Lusia memeluk Fira. Fira jadi ingin punya adik. hee
Mereka bersenang-senang bersama. Mereka menaiki menaiki kincir bertiga. Mereka tertawa bersama. Dari jauh, Nenek melihat sambil tersenyum.

”Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk bersedih. Masih ada dua minggu lagi untuk bermain bersama-sama.” kata Fira yang disambut dengan tawa semuanya.[]

 

Fathimah NJL, santriwati Pesantren MEDIA, Bogor.