Secangkir Senja Untuk Sore #4

By: Noviani Gendaga

 

Sudah tengah malam. Arial masih terjaga. Efek obat tidurnya sepertinya hampir habis. Arial menyeret tiang air impusannya mengikuti tubuhnya berjalan. Tak banyak yang bisa ia kerjakan di dalam ruangan rumah sakit negeri ini. Sedang, Dzaki tengah terlelap di sofa yang terletak beberapa centi di depan ranjang pasien.

Arial menatap ke luar jendela. Ia seolah mendapati bayangan Adrian di atas awan malam. Teringat kasus pembunuhan kakak sulungnya yang terjadi tepat ketika Arial baru masuk kuliah semester satu. Waktu itu, kebetulan Arial sedang pulang ke Indonesia.

Kali itu, secara tak disengaja ia mendapati tubuh Adrian terbujur kaku di atas tempat tidur, dengan luka tembakan di dada kirinya. Ubun-ubunnya koyak, dan memamerkan bagian otaknya yang bersimbah darah. Mamanya dan Kak Vio sedang menghadiri pesta pernikahan sepupunya, waktu itu.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, baru diketahui bahwa si pelaku memiliki dendam lama. Adrian pernah melaporkan kasus korupsi karyawannya pada tahun 2004. Setelah beberapa tahun keluar dari penjara, karyawan itu melampiaskan dendamnya kepada Adrian.

Lamunan Arial tiba-tiba senyap.

Gesekkan cello dari luar rumah sakit terdengar begitu merdu. Seseorang memainkan instrumen Only Human milik Susumu Oeda. Nyaris tak ada kesalahan di dalamnya. Meski Arial tak banyak tahu tentang permainan cello. Namun, ia tahu benar instrumen itu.

Arial melongok ke luar jendela.

Seorang gadis dengan rambut rambut hitam lurus yang terurai hingga pinggang, memainkannya di depan gedung rumah sakit. Beberapa orang mulai mengerubungi gadis tersebut. Beberapa orang di antaranya ada yang duduk, menikmati keindahan permainan cello-nya.

Arial dapat menatap wajah gadis itu. Gadis berkaca mata itu memejamkan matanya. Seolah menghayati tiap gesekkan yang menghasilkan bunyi dari cello berukuran sedang berwarna coklat kayu yang lembut.

“Belum tidur, Ar?” Dzaki tiba-tiba muncul di belakangnya.

“Eh… Belum, Bang. Belum ngantuk.” Pandangan Arial tak lepas dari gadis di pekarangan rumah sakit itu.

“Kamu suka cello?”

Arial menggeleng.

“Saya suka musik klasik. Mungkin, menurun dari kesukaan ayah dan kakak laki-laki saya.”

Dzaki mengangguk.

“Besok kamu sidang skripsi kan? Bagaimana kabar skripsimu, Ar?”

“Tiga hari di rumah sakit, ternyata ada hikmahnya juga, Bang. Walaupun bosan, saya jadi bisa lebih konsentrasi mengerjakan skripsi saya. Dan, Alhamdulillah sudah selesai. Besok sudah boleh keluar dari rumah sakit kan, Bang?”

“Alhamdulillah. Kata dokter, In sya Allah sudah boleh, Ar. Tapi kamu tidak boleh terlalu capek. Pokoknya kalau ada apa-apa, hubungi saya aja, Ar.” Dzaki menepuk punggung Arial.

Jazakallah khairon katsir, Bang.”

Waiyaka.

Arial bertepuk tangan. Gadis itu telah selesai memainkan cello­-nya. Tanpa disangka, gadis berwajah bulat itu menatap ke arah Arial yang berada di lantai dua, lalu tersenyum sebagai tanda terima kasihnya. Arial tertegun.

“Istirahat, Ar. Kalau kelamaan di sini, kamu jadi susah gadhul bashor, lho!” Dzaki menyenggol lengan Arial. Arial jadi salah tingkah dan segera menutup kaca jendelanya.

“Saya ingin menikahi gadis itu, Bang.” Arial tidak sedang bercanda. Namun wajahnya sedikit bersemu. Mata Dzaki membulat.

“Wah! Gerak cepat rupanya kamu, Ar! Hahahaha…”

“Saya serius, Bang.” Arial menarik selimut putih dengan leres hitam di bagian atasnya.

“Jangan gegabah, Ar. Tapi kalau niatmu sudah bulat begitu, saya hanya bisa mendukung. In sya Allah saya akan bantu mencari info tentangnya.” Dzaki memamerkan senyum menggodanya. Dzaki kagum pada kesungguhan adik kelasnya itu.

“Tidak perlu, Bang. Yang satu ini, biar saya usaha sendiri.” Arial tertawa kecil. Ia berjanji pada dirinya sendiri, kali ini aku tidak ingin terlambat lagi.

*

Mahesya mengaduk teh dengan ekstrak pepaya dalam cangkir putih berukuran mini. Semalam, Langit mengigau dalam tidurnya. Tidak jelas ia berkata apa. Pagi hari, anak sulung Mahesya itu akhirnya siuman juga setelah lima hari mendekap di rumah sakit.

“Bunda, La… ngit mau mi… num teh ju… ga.” Tidak sadar diri selama lima hari rupanya membuat pria mungil di depannya itu kesulitan dalam berbicara.

“Mau dibuatkan juga? Atau mau punya Bunda saja?” Mahesya mengelus rambut Langit. Rasa syukur yang sangat besar kepada Allah, karena masih memberikan Langit kesadaran di saat hatinya tengah sendu.

“Sa… ma Bun… da saja.” Langit berusaha bangkit dari tempat tidurnya.

“Kalau susah bangun, pakai sedotan aja minumnya…” Mahesya membantu Langit bersandar pada dipan ranjang rumah sakit.

“Langit ca… pek bo…bo terus. Mau du… duk aja.” Langit menyeruput teh hangat milik bundanya. Mahesya membantu Langit memegang cangkirnya.

“Ayah mana, Bun… da? Belum pu… lang dari Kairo?” Langit mulai lancar berbicara. Mahesya meletakkan cangkirnya di atas meja stainless di samping ranjang.

“Nanti Ayah pulang, kalau sudah selesai kuliah. Sabar ya, Langit…”

“Langit sudah bobo lama banget ya, Bun… da? Pas… ti Bunda kangen sama Langit.” Langit tersenyum. Wajahnya lebih cerah meski masih sangat pucat. Mahesya menahan rasa rindunya dalam-dalam.

“Iya dong! Abang Angkasa dan Dede Pelangi juga kangen banget sama Langit. Makanya, Langit harus segera sehat ya.”

“Emangnya, ke… napa Langit harus sehat, Bun… da?”

“Ya… Biar Langit bisa menghafal Al-Qur’an lagi, Skype-an sama Ayah lagi, belajar di sekolah lagi, ketemu teman-teman Langit di sekolah, main sama Abang dan Dede…” Kalimat Mahesya terputus.

“Langit enggak mau se… kolah lagi, Bunda.” Langit membuang pandangannya ke luar jendela rumah sakit.

“Lho, emangnya kenapa? Emangnya Langit enggak kangen sama Feri, Babas, dan Kiko?”

“Langit kangen kok sama mereka. Ta… pi Langit pengin di rumah aja sama Bunda.”

Mahesya terharu. Namun ia tidak pernah ingin anak-anaknya melihat keresahan yang tengah melanda hatinya.

“Langit mau selamanya sama Bunda. Langit enggak mau jauh-jauh dari Bunda la… gi.” Langit tiba-tiba memeluk erat Mahesya. Pelukan hangat milik anak kelas empat sekolah dasar ini, mampu membuat Mahesya tersentuh. Mahesya menyeka air matanya yang hampir tumpah seraya mengangguk.

“Iya, Sayang…”

“Bunda, Langit pengin pulang. Langit enggak mau di sini terus. Bo… san.” Langit tergugu dalam pelukan Mahesya. Mahesya mengangguk lagi.

“Iya. Boleh. Nanti Bunda minta tolong sama Om Dokter, ya.”

“Sekarang aja, Bunda. Langit pengin pulang. Langit enggak mau di sini.”

“Oke oke. Sebentar ya…” Mahesya menekan tombol yang menghubungkannya dengan perawat rumah sakit.

“Bunda, kalau nanti Langit pulang. Bun… da jangan sedih lagi ya. Kan Langit sudah pulang.” Langit kembali berbaring di atas kasurnya. Mahesya hanya dapat mengangguk seraya mengelus lembut putra sulungnya itu. Seorang perawat dengan khimar panjang menutupi dada, masuk ke dalam ruangan Langit.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

“Iya, Suster. Anak saya sudah boleh pulang belum ya hari ini? Soalnya dia pengin pulang.” Mahesya tersenyum getir.

“Oh… Boleh saya periksa dulu, Bu? Siapa tahu kondisi Langit sudah membaik dan bisa segera pulang.” Suster itu tersenyum pada Mahesya. Mahesya mempersilakan suster dengan name tag: Rahayu itu mendekat dengan Langit yang kembali tertidur.

Rahayu menempelkan teleskop-nya ke dada Langit. Tiba-tiba ekspresinya berubah. Cepat-cepat ia meraba denyut nadi pada pergelangan tangan kanan Langit. Rahayu berubah pucat.

“Se… sebentar ya, Bu. Saya akan hubungi dokter dulu.” Cepat-cepat suster muda itu merogoh sakunya, dan menyambungkan panggilan kepada seseorang.

Mahesya keheranan. Firasatnya semakin buruk. Segera ia membangunkan Langit yang masih terpejam.

“Nak… Bangun, Nak. Kita mau pulang.” Mahesya mengguncang tubuh langit yang semakin dingin. Mahesya menggigit bibirnya. Batinnya mengatakan sesuatu yang tidak-tidak.

“Langit! Bangun, Nak!” Kali ini ia lebih kuat mengguncang tubuh Langit. Mahesya terduduk ketika menyadari sesuatu. Ia menahan isakkannya dalam-dalam. Rahayu mendekat seraya merangkul Mahesya.

“Ikhlas-kan, Bu… Ini sudah menjadi keputusan Allah. Percayalah ini takdir terbaik yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya.” Tatapan Rahayu berubah sendu.

“Tolong… ambilkan handphone saya, Sus… Saya mau menghubungi suami saya. Tolong bantu saya hubungi nomor nenek Langit, yang pernah saya tulis di registrasi.” Mahesya terus menangis. Rahayu mengambil handpone berwarna putih di atas televisi di dekatnya. Mahesya segera menyambungkan panggilannya kepada Dzaki.

Tak lama, beberapa pria dan wanita berseragam putih-putih masuk ke dalam ruangan. Semuanya sibuk mengeluarkan alat-alat medis berwarna perak. Pandangan Mahesya berbayang-bayang.

“Assalamu’alaikum, Bun. Ada apa?” Ujar suara di seberang sana.

“Pulang, Kak… Pulang sekarang… Langit…” Tangis Mahesya pecah.

“Masya Allah! Ada apa, Sya? Langit kenapa?”

“Langit, Kak… Langit… Tolong pulang sekarang!”

“Oke, oke! Ayah akan segera cari tiket. Ibu mana, Sya? Bisa aku berbicara dengannya?”

Mahesya terus menangis hingga tergugu. Padangannya tak sekali pun lepas dari tubuh mungil Langit. Beberapa pihak rumah sakit menenangkan Mahesya yang semakin lemas.

“Mahesya… Ada apa, Sayang?” Suara di seberang sana terus-terusan mengisi indera pedengarannya. Mahesya tidak dapat berbicara lagi.

“Ibu, pihak rumah sakit sudah mengubungi nenek Langit. Sekarang, beliau sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.”

Awan-awan abu-abu nan kumal, bergelayut pada langit Bandung yang semakin suram. Gerimis membeku di tengah-tengah bumi. Menemani air mata Mahesya agar ia tak sendiri. Menghantarkan Langit pada detik-detik kepergiannya pada akhir dari pembaringannya. [Besambung…]

 

Noviani Gendaga, santriwati Pesantren MEDIA, Bogor.