Secangkir Senja Untuk Sore #5

By: Noviani Gendaga

 

Tiga bulan berlalu begitu saja. Meninggalkan jejak-jejak telapak kaki di padang pasir, Kairo. Terik membakar siapa saja yang tinggal di dalamnya. Kairo rasanya semakin panas dari tahun ke tahun. Namun kenangan indah di negeri Al-Azhar ini, seolah merekat tak mau pergi.

Arial sudah menyandang Master of Al-Qur’an dengan predikat mumtaz. Kini ia sedang mendalami ilmu tafsir Al-Qur’an yang tertinggal beberapa kali, sebelum ia terbang kembali ke tanah air.

Arial memandang Sungai Nil yang keemasan pada petang. Rasanya baru kemarin ibunya menangis hingga tergugu, untuk melepaskan Arial sendiri di negeri orang. Namun ternyata, kini ia sudah tiba pada akhir perjumpaannya dengan Kairo. Ia pasti akan sangat merindukan negeri ini. Negeri yang banyak memberikannya pelajaran dalam pengalaman hidup yang pernah ia jelajah.

Arial merogoh sakunya. Mengeluarkan Nokia N73 yang kadang suka kehilangan sinyal di saat-saat yang tidak tepat. Tak banyak waktu baginya untuk pergi ke toko elektronik dan mengganti handphone pemberian Sarah itu. Meski uang pada tabungannya, seolah tidak pernah habis barang sepeser pun.

Kini Arial mengenakan kacamata dengan frame atas berwarna perak. Rambutnya memiliki jambul kecil di bagian depannya. Membuat garis wajahnya terlihat lebih tegas dan dewasa. Beberapa bintik bekas jerawat mengisi dahinya. Arial kini benar-benar bukan pria dengan seragam SMA lagi.

Pria berkacamata itu memelototi layar handphone-nya, nyaris tanpa satu kali pun kedipan. Beberapa menit setelah itu, sebuah pesan singkat masuk menerobos imajinasinya.

Assalamu’alaikum. Bgmn kabarmu, Ar? Aku dengar km sdh lulus dgn predikat mumtaz? Aku bangga skl pdmu, Ar. Salam utk keluargamu, dari aku dan Mahesya. Smg km segera pulang ke tanah air. Jgn lupa mampir ke rmhku ya kalau ke Bandung!

Dzaki.

Arial tersenyum sambil menggamit handphonenya.

“Mahesya… Rasanya sudah lama sekali.” Arial bergumam. Matanya menerawang langit yang semakin oranye. Awan-awan seolah melukis wajah Mahesya dalam balutan kerudung oranye keunguan yang kalem. Arial buru-buru menghapus pikirannya dengan istighfar. Awan-awan di atas kepalanya seolah ikut berhamburan, membentuk formasi baru yang tidak bisa ditebak.

Pria dengan nama unik itu sudah mengkhitbah seseorang. Dia sudah tidak ingin mengingat-ingat Mahesya lagi. Atau pun Sarah yang sebenarnya sama sekali tidak pernah menerimanya sebagai pacar. Sarah tidak ingin pacaran karena ia tidak pernah diizinkan orang tuanya. Namun, Arial tidak bisa menghalangi perasaannya ketika masih SMP kali itu. Ia jatuh cinta pada Sarah. Namun Sarah pergi, tanpa bisa kembali lagi. Sarah meninggal dengan tumor otak yang menyebar hingga setengah tubuhnya tidak berfungsi lagi.

Arial memijat tengkuknya. Berusaha tidak termakan memori masa lalu.

Besok Arial pasti sangat sibuk dengan pengurusan paspornya. Beberapa minggu lagi, ia akan kembali ke Bandung. Rencananya ia akan membawa keluarga kecil dari calon istrinya yang tinggal tidak begitu jauh dari tepi Sungai Nil.

Arial memijit keypad-nya dengan tangan bergetar. Dia memang begitu tiap kali ingin mengabari sesuatu kepada calon istrinya.

Assalamu’alaikum. Insya Allah hari ini saya mau silaturahmi ke rumah. Dan ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan.

Pesan terkirim!

Tak lama kemudian handphone Arial kembali bergetar.

Oke! Keluargaku pasti sangat senang.

Senyum Arial mengambang. Dia selalu bahagia di saat-saat seperti ini. Calon istrinya bukan orang yang pandai bicara. Bahkan ia sama sekali tidak bisa bicara. Ya, dia bisu. Tapi, Arial berusaha mencintainya melewati cello yang hampir setiap malam ia gesekkan di depan rumah sakit. Ya, gadis bermata bulat waktu malam itu, ketika Arial dirawat di rumah sakit. Kali ini, Arial tidak terlambat lagi. Arial mampu mencuri hati gadis yang lima tahun lebih muda di bawahnya itu.

ooOoo

Mata biru itu sudah kehilangan beberapa persen cahayanya. Namun wajahnya tak lagi muram seperti minggu-minggu biasanya. Kali ini, senyumnya malah seolah tidak mau lepas dari bibir merah muda miliknya.

Mahesya kini menyadari ada yang berbeda dari hatinya.

Jika aku tidak mencintai, mengapa aku rindu? Jika aku masih patah hati, mengapa aku tidak menangis? Jika aku tidak rindu, mengapa aku menanti? Jika benar ini jatuh cinta, apa ini rasa yang dulu sempat aku rasakan?

Suara hatinya selalu berdengung mengisi ruam-ruam jiwa. Pipinya merona setiap kali pertanyaan itu mucul dalam benaknya. Tidak dapat Mahesya pungkiri lagi. Mahesya jatuh cinta pada suaminya sendiri. Dan kali ini, ia benar-benar malu ketika berpapasan di dalam rumah megah itu. Hingga beberapa saat, Mahesya memutuskan untuk mengunci diri di dalam kamar mandi. Menunggu Dzaki pamit ke masjid untuk sholat shubuh berjamaah.

Suara ketukan menyentaknya. Hawa dingin tiba-tiba menggerogoti ujung-ujung jari kaki dan tangannya.

“Sya, aku berangkat ke masjid dulu ya…”

Mahesya membeku sesaat. Dia bahkan mampu mendengar degup kencang jantungnya. Batinnya berbicara dalam diam, suara menenangkan itu… Sudah lama aku menantinya…

“I… iya, Kak.”

Beberapa menit Mahesya menunggu suara pintu ruang utama terbuka lalu tertutup – menandakan Dzaki telah keluar dari rumah. Dering ponsel Mahesya nyaring sekali. Membuat Mahesya kalang kabut sendiri untuk mematikannya, dan berlari-lari dari kamar mandi seperti orang kerasukan.

“Oh, Gina! Kamu mengagetkanku!” Mahesya geram sendiri dengan nama yang tertera di atas layar handphone-nya.

“Assalamu’alaikum! Aduh, kamu ini mengagetkanku saja!”

“Walaikumussalam. Hahaha… Maaf, Sya! Habisnya, kamu kemarin tidak menjawab teleponku. Emangnya lagi sibuk?” Suara di seberang sana terdengar gembira setengah mati. Namun, Mahesya tidak tahu penyebabnya.

“Enggak, Gin. Kemarin, Kak Dzaki mengajakku pergi ke taman. Ha…nya berdua.” Tiba-tiba wanita bule itu tergagap. Mahesya bahkan bingung mengapa ia harus mengatakan kalimat sebodoh itu. Suara di seberang sana berubah menjadi tawa nyaring yang memekikkan telinga. Mahesya bahkan harus menjauhkan handphone-nya dari telinga.

“Ah! Akhirnya aku bisa mendengar suaramu yang begitu lagi! Gagap ketika jatuh cinta! Seharusnya dari dulu kamu begini, Sya! Hahaha…” Gina tidak berhenti tertawa hingga beberapa menit. Mahesya menunggu hingga berubah menjadi kepiting rebus. Menahan malu yang seolah nyaris memecahkan ubun-ubunnya.

“Sudah ah, Gin! Kamu membuatku malu nih! Iya… aku akui, aku sudah jatuh cinta pada Kak Dzaki. Tapi, aku jadi malu menyapanya kalau di rumah!” Mahesya memainkan ujung seprei-nya. Lagi-lagi Gina terbahak hebat.

“Dia itu suamimu, Sya! Buat apa malu padanya, kalau kamu sudah banyak memproduksi anak?” Gina terbahak terus-terusan di seberang sana.

“Jangankan menyapa, kalian sudah melakukan sesuatu yang ‘spesial’ kan?” Gina menggoda sambil terus-terusan tertawa. Mahesya sudah tidak tahan lagi.

“Gina, can you silent, please…” Mahesya membenamkan wajahnya dalam bantal. Wajahnya terasa sangat panas. Ia bahkan mampu melihat wajahnya yang merah padam pada pantulan dirinya di cermin. Mahesya tidak pernah merasakan perasaan semalu ini.

“Oke… oke!” Gina mengatur napasnya, namun masih sesekali terkikik. Mahesya menunggu Gina tenang sambil senyum-senyum sendiri.

“Jadi… sebenarnya… ada yang mau aku beri tahu kepadamu. Tapi ini rahasia.” Suara di seberang sana berubah tegang. Mahesya menajamkan indera pendengarannya.

“Rahasia apa?”

“Ngg… anu…”

“Apa sih anu anu?”

“Aku… sudah dilamar, Sya.” Suara Gina terdengar lembut. Dapat Mahesya pastikan, Gina sedang senyum-senyum sendiri di sana. Mahesya bergeming. Mencerna, apakah Gina sedang serius atau sedang membuat lelucon.

“Jangan main-main deh, Gin.” Mahesya mendelik.

“Aku serius, Sya. Aku lagi enggak bercanda.”

“Siapa yang melamarmu?”

“Aku takut kamu marah…” Gina membiarkan suaranya menggantung. Jantung Mahesya terpacu untuk mengetahui, pria beruntung mana yang bisa mendapatkan hati Gina. Namun firasatnya berkata bahwa ia mengenal calon dari sahabatnya itu.

“Mengapa aku harus marah?”

“Karena kamu mengenalnya, Sya. Kamu mengenal dia.”

Mahesya terperanjat. Mencoba menebak satu persatu orang yang dikenalnya dan juga Gina, dalam hati. Hingga ingatannya berhenti pada mantan kekasihnya itu. Arial.

“A… rial?”

Gina menghembuskan napas. Keduanya merasakan lagi ketegangan masa SMA kali itu. Mahesya menunggu sambil mendengarkan hembusan napasnya sendiri, yang berhembus dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. Gina masih membeku di ujung telepon.

“Kamu marah padaku, Sya?”

“Dia benar-benar melamarmu?” Mahesya tidak lagi sakit hati mendengar nama itu. Namun, rasanya aneh saja kalau harus melihat Gina dan Arial menjadi sepasang suami-istri. Dia membayangkan, bagaimana kecanggungan yang luar biasa menyelimuti mereka ketika berjumpa.

“Tentu saja tidak! Hahaha…” Gina tertawa dua kali lebih nyaring dari biasanya. Gina benar-benar puas menggoda Mahesya hari ini. Tubuh Mahesya bergetar. Ia sungguh-sungguh gemas pada sahabatnya itu. Bertahun-tahun bersahabat, Gina selalu sukses menjadikannya obyek lelucon yang ia buat.

“Awas ya! Kalau ketemu, aku kunyah kamu sampai jadi abon!”

“Hahaha… Kamu mau tahu enggak siapa yang sebenarnya melamarku?”

“Tidak mau! Kamu kan tukang bohong!” Mahesya medengus.

“Gerio. Dia yang melamarku. Dan aku menerimanya.” Gina tersipu-sipu. Mahesya terkapah-kapah [bersambung…]

 

Noviani Gendaga, santriwati Pesantren MEDIA

Leave a Reply

*