Secangkir Senja Untuk Sore #6

By: Noviani Gendaga

 

Arial terbangun. Tubuhnya dingin, seolah ia baru keluar dari kulkas. Ia masih gemetaran. Buru-buru ia mencari handphone-nya, lalu mengubrak-abrik kontaknya. Jempolnya memijit keypadnya dengan gemetar. Arial menekan tombol 6 satu kali. Membuat huruf ‘M’ tercetak di atas layar, menyajikan semua kontak dengan semua huruf awal yang pria itu maksud.

Madi, Mae, Maggs, Mama Kantin, Mery, Mimi, Mukhlas R…

Bolak-balik ia mencari nama seseorang. Berharap ia melewati satu kontak di dalam sana. Sedetik kemudian, jari Arial beralih pada tombol 7. Ia menekannya sebanyak tiga kali. Membuat huruf ‘R’ tercetak di atas layar, menyajikan semua kontak dengan semua huruf awal yang pria itu maksud.

Rana R, Recca, Ridho, Rizhaldy, Rohis SMA…

Tidak ada! Tidak ada nama Metta, atau Rumetta. Nama itu yang sedang dia cari-cari. Setengah mati Arial berharap kejadian tadi bukan sekadar mimpi. Ia berharap benar-benar telah melamar gadis pemain cello itu. Tapi mengapa, nama itu tidak tercantum dalam daftar kontaknya?

Arial mendongak melihat jam dinding di atasnya. Hampir jam lima sore. Arial menyesal karena baru bangun di akhir waktu sholatnya. Buru-buru ia berlari ke tempat wudhu di dekat kamar mandi. Air segar khas kota Bandung menyegarkan otaknya yang berantakan. Setelah wudhu, ia sholat asar dengan khusyuk di dalam kamarnya yang syahdu.

Sholat asar sudah selesai Arial kerjakan. Setelahnya, pria jangkung itu menengadah. Begitu banyak pinta Arial pada Ilahi. Ia bahkan berharap mimpinya barusan menjadi nyata dalam hidupnya. Betapa ia berharap pada keputusan Allah, Tuhan pemiliknya. Betapa ia memohon agar dipilihkan gadis sholihah yang akan menjadi pendampingnya kelak. Arial benar-benar ingin menikah.

Masih ada waktu beberapa jam lagi menuju waktu maghrib. Arial mengambil mushaf Al-Qur’an mini, dan memasukkan ke dalam saku bajunya. Arial melangkahkan kakinya ke luar kamar.

Suasana sepi. Kosong melompong. Sudah dua hari ibu kandung Arial tidak pulang, untuk menjaga kakeknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Kakak perempuannya, sedang menyelesaikan kuliah S2 semester akhirnya, di Bogor. Sedang ayah Arial, biasanya pulang larut malam.

Sungguh bukan keluarga yang harmonis. Masing-masing punya kesibukan yang entah dimana ujungnya. Arial bahkan bukan alasan spesial bagi keluarganya untuk ambil cutti barang sehari-dua hari. Arial sudah biasa dengan kondisi begini dari masih belum mengerti untuk apa ia hidup di dunia ini. Namun inilah yang dihasilkan dari kenikmatan dunia yang sangat melenakan. Rumah super megah nan angkuh, dengan tiang-tiang raksasa menjulang ke langit-langit. Namun sepi diisi angin hingga melempem.

Arial membuka pintu utamanya. Ia mendapati pria tua bungkuk yang sangat ia kenal. Pak Suhendra. Tukang kebun yang bibirnya selalu basah dengan hafalan Al-Qur’an. Pria tua itulah yang mengenalkannya pada Islam, setelah ia putus dari Mahesya. Pria tua itulah yang kadang lebih ia anggap sebagai orang tua yang seratus persen peduli pada kehidupan akhiratnya kelak.

Ketika hendak menyapa, Pak Suhendra sedang menyapu pekarangan rumahnya yang ditumpuki daun-daun coklat kering. Ia sedang serius mengulang hafalan surah Ar-Rahman, sampai-sampai tidak sadar ada seorang Arial di belakangnya. Arial pun segan untuk mengganggu.

Arial keluar dari gerbang rumahnya yang berwarna hitam mengilap. Arial memutuskan untuk pergi ke cafe di depan kompleknya dengan berjalan kaki. Cafe itu baru buka beberapa minggu yang lalu. Lokasinya sangat strategis, karena berhadapan langsung dengan matahari terbenam.

“Selamat sore, Kak. Ada yang bisa kami bantu?”

Seorang pelayan cafe menyapanya di depan pintu, seraya menyodorkan menu yang dipahat di atas kayu ulin berwarna coklat tua. Pria di hadapannya itu memiliki wajah bulat dengan tubuh yang gempal. Namun senyumnya persis dengan penyanyi bernama Tulus. Arial baru menyadari, bahwa cafe ini dibangun dengan percampuran aksen Meksiko dan Indonesia. Sungguh brilian!

“Minuman andalan di sini ada apa aja, Mas?” Arial masih membaca menunya.

“Kami punya Espresso Madu-Jahe, sebagai menu dalam negeri. Dan Espresso Glazzed Caramell, sebagai menu luar negeri.”

“Kalau menu yang bukan kopi ada, Mas?”

“Kita ada Teh Tarik, Teh Ekstrak Buah, Teh Hangat Yogya, dan menu teh yang lainnya.” Pria dengan name tag “Genta” itu, menyodorkan menu lain di tangannya. Kali ini, menunya dipahat di atas kayu yang berwarna lebih pucat dan tidak mengilap. Tapi ada ukiran-ukiran batik berwarna hitam di bagian pinggirnya.

“Saya pesan Teh Ekstrak Buah saja.” Arial mengembalikan menunya.

“Maaf, Kak. Ekstrak buahnya dipilih dulu.”

“Pepaya.” Arial menyebut asal. Namun terdiam sejenak, ketika menyadari bahwa itu adalah buah kesukaan Mahesya.

“Baik. Kita akan mengantarkan dalam kurun waktu kira-kira tiga menit ya, Kak. Silahkan masuk!” Genta membukakan pintu cafe. Aroma kopi dan roti menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Sepertinya suhu cafe ini sudah diatur terlebih dulu oleh pemiliknya. Tidak dingin, tidak juga panas, namun hangat.

Arial duduk di bangku yang paling dekat dengan kaca etalase, yang langsung menghubungkannya dengan matahari yang semakin oranye. Ia mengeluarkan mushaf kecilnya. Membacanya hingga pesanannya datang lebih dari tiga menit. Bisa jadi hampir tujuh menit. Wajarlah, mungkin karena cafe baru dan lumayan banyak pembeli.

Arial menyesap teh ekstrak pepaya miliknya. Aroma pepaya mengisi ruang-ruang penciuman dan indera perasanya. Dalam waktu singkat, hangat menyelimuti aliran darahnya. Uap panas membuat kaca matanya berembun. Arial memutuskan untuk melepas kaca matanya sesaat. Pandangan berubah buram. Ia melihat segalanya berbayang-bayang. Namun ia tetap menikmatinya.

Teh-nya tinggal sedikit lagi. Namun Arial urung untuk menghabiskannya terlalu cepat. Ia mendapatkan ketenangan di sini. Secara tiba-tiba ia merasakan atmosfer lain yang mengalir dalam tubuhnya. Atmosfer ini masih kalah dengan atmosfer yang ia rasakan ketika sholat dan mengaji. Namun, ini benar-benar membuatnya nyaman. Hingga membuat Arial betah berlama-lama di dalam sini.

Arial tidak sadar ada seorang gadis yang memerhartikannya dari jauh. Gadis yang ia taksir setengah mati ketika di Kairo. Gadis bemata bulat yang ia ajak berkenalan pada hari itu. Gadis yang lima tahun di bawahnya, dan memiliki darah campuran Indonesia-Meksiko. Gadis yang ingin belajar Islam lebih dalam ketika ayahnya mengajaknya masuk Islam, dan pindah kota ke Kairo. Gadis bisu yang menginspirasi banyak hal dalam hidupnya. Gadis berambut hitam pekat – sepunggung yang berbicara dengan gerakan-gerakan isyarat yang sulit untuk Arial pahami. Gadis pemain cello setiap malam di rumah sakit untuk almarhum ibunya, yang meninggal beberapa tahun silam di rumah sakit itu. Gadis mungil yang kini mengenakan kerudung panjang sepaha warna hitam, sepadan dengan gamis lebarnya. Gadis yang tidak sempat ia raih dalam tumpukan mimpi-mimpinya.

Pria berjambul kecil itu tidak menyadari, apa nama cafe itu. Padahal sudah tercetak jelas di pinggir piring kecil sebagai alas cangkirnya. Rumetta Cafe. Bukankah itu nama yang setengah mati ia cari dalam kontaknya? Mengapa Arial tidak menyadari bahwa ia sedang menikmati rekaman suara cello yang pertama kali ia dengan di rumah sakit waktu itu? Only Human milik Susumu Oeda. Mengapa Arial tidak membaca tulisan tegak bersambung yang tercetak pada dinding di depan matanya?

Kita berhak berusaha agar mulia. Ada pertemuan dan perpisahan beratus kali dalam hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Bahkan merabanya sekali pun, kita tak punya kuasa atas itu. –Rumetta Maryam

Adzan maghrib berkumandang. Arial menghabiskan sisa teh miliknya. Buru-buru ia memasang kaca matanya. Gelasnya tersenggol, nyaris jatuh dari atas meja kayu berwarna putih mengilap di hadapannya. Arial terpaku beberapa detik. Ia membaca tulisan di atas piring kecil itu.

Rumetta Cafe.

Pandangannya ia lempar ke seluruh ruangan yang hanya diisi dengan beberapa sisa pembeli. Ia kini sadar, tadi ia sempat mendengarkan gesekkan cello itu. Tapi kini ia sudah kehilangan suara merdu itu.

Apa itu hanya perasaanku saja? Kamu pikir, ada berapa banyak nama Rumetta di dunia ini, Arial? Apa itu benar suara cello miliknya?

Batin Arial terus-terusan berdebat. Hingga matanya berpapasan dengan sepasang bola mata bulat itu. Lalu pemiliknya buru-buru masuk ke dalam ruangan dengan tulisan ‘DILARANG MASUK SELAIN KARYAWAN’. Arial kenal betul siapa pemilik mata bulat persis dengan anime Jepang itu.

Jantung Arial melompat-lompat riang. Tidak bisa ia gambarkan lagi perasaannya saat itu. Lebar-lebar kakinya melangkah ke luar cafe. Arial segera mencari masjid di dalam komplek rumahnya. Ada satu hal yang belum Arial sadari. Secangkir senja hari ini adalah untuknya. Untuk Arial. Arial Sore.

Kali ini tidak akan lepas, Rumetta. Aku berjanji akan melamarmu selepas maghrib. [Selesai]

 

Noviani Gendaga, santriwati Pesantren MEDIA