Selamat Datang, Revolusioner!

By: Dian Auliya

 

Pekan kedua dalam bulan Oktober. Artinya sudah lebih satu bulan Reza menjalani masa kuliah. Dia sudah sedikit mengecap dunia kampus. Sementara aku, sedikit demi sedikit mulai memperkenalkan hiruk-pikuk dunia kampus dengan segala organisasi intra dan ekstranya. Satu tekadku sejak awal dia akan kuliah, ingin memperkenalkan padanya dunia yang selama ini aku geluti di kampus dengan teman-teman seperjuangan: dunia dakwah. Tentunya di samping menjalankan amanah ortu mengejar prestasi akademik.

Dunia dakwah, dunia yang telah menjadikan persepsiku tentang hidup menjadi paradigma lebih futuristik dibanding sebelumnya. Bahwa hidup ini hanyalah untuk ibadah. Maka harusnya hidup itu diisi dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah dan RasulNya, dalam segala hal.

Manusia selaku hamba seharusnya tak hanya mentaatiNya dalam hal ibadah ritual semata, tapi lebih dari itu dia harus mengikatkan diri terhadap aturanNya dalam seluruh aspek kehidupannya. Sayangnya, tak banyak hambaNya yang tahu akan hal itu, apalagi melaksanakannya. Boro-boro taat, mereka malah semakin jauh meninggalkan syari’atNya dan mencari aturan lain yang kini telah terbukti menyengsarakan hidup umat manusia.

”Perlu gerakan revolusi untuk mengembalikan manusia pada hukum-hukumnya dan untuk menyebarkan ide-ide Islam di tengah-tengah masyarakat, termasuk masyarakat kampus,” itu yang selalu dikatakan teman-teman seperjuanganku. Untuk misi mulia itu, butuh peran para pemuda Islam untuk mengembalikan kejayaan Islam hingga terbukti bahwa Islam memang untuk seluruh alam. Islam menanti peran kita adikku, yang dengannya kita menjadi mulia. Haru terasa menjalari sekujur tubuhku seiring dengan tersematnya tekad untuk memberikan yang terbaik untuk Islam.

Dua bulan berlalu. Reza semakin enjoy dan tambah sibuk dengan kuliahnya. Dari pantauanku, juga ittishal-ku, tak ada tanda-tanda ketertarikan Reza pada ide-ide yang kuajukan. Atau aku yang terlalu tak sabaran menanti tujuan itu tercapai? Ah, entahlah. Yang pasti saat kutanyakan pada Akh Rifqi, seorang sahabat yang kuamanahkan mengisi halaqah-nya, Rifqi justru mengatakan kalau Reza sering tidak menghadiri halaqah.

”Aku sibuk Mas. Banyak tugas dan kegiatan. Aku tak punya kesempatan!” jawab Reza enteng saat kutanyakan hal itu.

Astagfirullah. Ternyata pikiranmu sama saja dengan mahasiswa kebanyakan.

”Za, justru waktu yang diberikan Allah harusnya kita gunakan seefisien mungkin dalam mengisi hidup. Jika untuk akademik kita rela mengorbankan segalanya demi sederet gelar yang belum tentu bisa membawa kita pada ridhaNya, maka untuk dien yang mulia ini, apa yang telah kita korbankan? Harusnya lebih dari itu, Za. Dan belajar tsaqafah Islam adalah cara menjembatani itu, yang akan menjadikan pengetahuan kita tentang Islam bertambah. Mas yakin, kamu sudah paham akan pentingnya menuntut ilmu, karena kamu dulu pernah nyantri”. Reza acuh tak acuh terhadap apa yang kuucapkan. Sepertinya dia lebih asyik memperhatikan gambar hidup di depannya sambil sesekali menekan remote control yang ada di tangannya untuk mengganti channel.

”Nanti aja Mas, kalau aku sudah sempat.” Akhirnya dia bersuara juga meski tanpa melihatku.

”Za, kamu tidak akan pernah sempat jika tidak disempatkan. Jadwal kuliahmu kan tidak sampai malam bahkan ada yang cuma sampai siang. Jadi, kamu bisa halaqah di waktu yang kosong itu,” aku menimpali.

”Hanya dengan Islam hidup kita akan mulia Za. So, waktu yang ada harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk menghimpun bekal menuju akhirat. Bagi waktu juga buat belajar Islam hingga kita tahu apa yang harus kita lakukan. Jangan cuma dipakai untuk dunia doang. Rugi! Hidup kita akan sia-sia. Hampa akan makna,” lanjutku sambil membolak-balik buku ’Menjadi Pembela Islam’ yang ada di tanganku tanpa mempedulikan reaksinya.

Hari demi hari berlalu. Reza semakin jauh dariku. Tak jarang dia pulang lepas Isya. Padahal kuliahnya tak ada yang sampai malam. Aku mulai mengkhawatirkan pergaulannya. Aku teringat akan nasihat guru SMA-ku dulu pada detik-detik perpisahan kelas.

”Saat kuliah nanti, akan kalian temukan beribu warna karakter dari teman kuliahan dari berbagai pelosok. Dari yang kalem sampe bandel setengah hidup, bahkan dari yang alim hingga yang enggan dengan agama pun ada. Kalianlah yang berkuasa memilih sendiri, mau bergaul dan berteman dengan yang mana. Pastinya, dengan siapa kita berteman, akan sangat berpengaruh pada perilaku kita sendiri,” kata-kata Pak Chaerul mengiang di telingaku.

Ah, Za. Meski di rumah tak ada tanda-tanda kebrutalan pergaulannya, namun aku tak tahu pasti seperti apa dia di luar sana. Dan kekhawatiranku semakin bertambah ketika suatu hari, tanpa sengaja aku temukan formulir pendaftaran sebuah organisasi intra kampus yang sudah terisi lengkap di meja belajarnya. Aku merasa merinding dengan keprihatinan mendalam. Za…bukannya aku ingin menghalangi kreativitasmu dalam berorganisasi. Aku tahu hobimu, kau sangat menyukai petualangan di alam bebas. Tapi aku harap, kau juga tahu mana yang terbaik untuk dirimu sendiri.

ooOoo

 

”Za…! Besok ada Talk Show tentang Palestina sekaligus pemutaran film dokumenter perjuangan para pejuang Intifadah merebut tanah Palestina. Mas sudah belikan tiketnya. Kalo kamu mau, kita bisa pergi sama-sama, atau bisa juga kamu ajak temanmu untuk pergi bareng. Ntar Mas tunggu di sana,” kataku begitu memasuki rumah kos-an kami dan mendapati Reza sedang mengutak-atik komputer. Setelah itu, aku berlalu meninggalkannya tanpa menanti persetujuan. Hanya dengan cara ’paksa’ seperti itu aku bisa membawanya mengikuti acara. Semoga akan ada perubahan pada dirinya. Allah, Kaulah yang Kuasa membolak-balikkan hati.

ooOoo

 

Sudah jam sepuluh malam. Reza belum pulang. Biasanya kalau akan sangat terlambat pulang dia memberi kabar. Aku mulai khawatir. Mungkinkah sesuatu telah menimpanya? Kucoba menghubungi ponselnya: Veronica!

Minggu lalu dia bahkan tak pulang. Alasannya kerja tugas dirumah teman. Malam terus beranjak. Masya Allah, minggu lalu dia tidak pulang pada malam… malam yang sama dengan hari ini!” jantungku berdetak lebih cepat. Jangan-jangan ada yang dia sembunyikan dariku.

Ya Allah, Rabbi, kalaupun ada yang dia sembunyikan, tak masalah bagiku, asalkan bermanfaat baginya dan Dien ini. Tunjukkan jalan-Mu padanya Rabb.

Lima puluh menit berlalu dari pukul 22.00. Dia belum juga datang. Aku sudah tak kuasa menahan gejolak kekhawatiranku. Harusnya kau beri kabar kalo memang tidak akan pulang, biar kutahu keberadaanmu, Za. Berbagai hipotesa bermunculan dalam benakku. Bagaimana kalau uangnya dicopet atau jatuh lantas dia tak punya ongkos untuk pulang dan terdampar di jalanan? Atau ponselnya yang sekarang tidak bisa dihubungi itu dicuri orang dan dia sekarang masih berpikir untuk pulang? Ah… apapun yang terjadi, pulanglah, Za, di mana pun kau berada. Amanah Mama untuk selalu memperhatikan dan menjagamu jauh lebih penting ketimbang sebuah ponsel. Atau adakah aku berbuat salah yang menyakitkan baginya lantas memilih kabur dariku? Atau jangan-jangan dia diculik! Ah, pikiran ngawur! Mana ada penculikan pada mahasiswa seperti Reza. Tapi bisa saja. Pikiranku yang lain bersuara. Aku jadi semakin khawatir. Beberapa kali aku mondar-mandir dan melongokkan kepala di pintu yang terbuka.

Kucoba sekali lagi hubungi ponselnya. Aktif! Kutunggu beberapa detik hingga ada yang menjawab.

”Hallo….,” Alhamdulillah masih suaranya yang menjawab. Berarti hipotesisku tertolak.

”Za, kamu di mana? Bikin Mas khawatir aja!”

”Lagi di perjalanan pulang. Bentar lagi sampai kok!” suaranya ringan seakan tak peduli akan kekhawatiranku. Hi..i..ii, andai dia masih anak-anak kayak dulu, ingin rasanya segera menjitak kepalanya. Tapi tak urung perasaanku plong. Bernapas pun sudah tak sesak lagi. Aku menghempaskan badan ke sofa sambil menarik napas panjang. Lega. Hilang semua beban kepanikan yang sempat menggerogoti pikiranku.

Beberapa saat kemudian.

“Assalamu’alaikum,” dia muncul di depan pintu.

“Wa’alaikumussalam. Kamu dari mana aja Za?! Kok nggak bilang-bilang? Mas sempat panik mikirin kamu!”

”Lho, bukannya Mas sudah tahu kalo hari ini aku ada halaqah sama Mas Rifqi? Mulainya ba’da Isya, habis temen-temen bisanya ngumpul cuma ba’da Isya. So, telat pulang deh!”

”Apa? Kamu halaqah? Yang bener?” aku setengah tak percaya.

”Akh Rifqi nggak pernah bilang. Kamu juga nggak pernah cerita.”

”Emangnya Mas nggak ingat, minggu lalu aku nggak pulang, kan? Saat itu aku juga halaqah, setelahnya pergi nginap sekalian kerja tugas di rumahnya si Agus!”

Subhanallah, yang bener?”

”Mas gimana sih, nggak ada manfaatnya bohong. Sengaja aja nggak bilang. Mau tobat kok bilang-bilang ke orang. Cukuplah aku yang berjanji pada Allah untuk tidak lagi nyia-nyiakan kesempatan yang telah diberi-Nya.”

Hm… tumben. Baru kali ini bicaranya lebih bijak, agak dewasa dan berisi. Dapat materi apa nih.

”Bener, mau tobat dan beralih peran jadi pejuang Islam?” aku menggodanya.

”Iya lah, tidak elit kalau tobat bohong-bohongan. Adik siapa dulu!”

Bibirku mengulum senyum. Tersipu.

”Mas, aku ingin punya andil dalam perjuangan ini. Aku tak rela hanya berpangku tangan. Sementara di belahan bumi yang lain seperti Palestina, saudara-saudara kita justru bertarung mempertaruhkan harta dan jiwa mereka demi merebut tanah al-Aqsha dan mempertahankan kehormatan. Aku sudah liat perjuangan mereka melalui film dokumenter itu. Berjuang sendiri tanpa keterlibatan kaum muslimin dari dunia yang lain. Padahal kita ibarat satu tubuh yang seluruhnya harus merasakan nyeri jika satu bagian saja ada yang sakit. Berempati gitu! Iya kan?”

Aku terharu mendengar uraiannya. Itu memang yang kuharapkan. Meski tak terbayangkan sebelumnya, dari orang super hedon seperti dia akan mengalir kata-kata seindah itu. Sebuah perkataan yang mencerminkan isi hati yang paling dalam. Aku hanya bisa mengangguk membenarkan kata-katanya. Lalu mengulum senyum tulus, sambil menepuk pundaknya.

Kini saksikanlah wahai dunia! Adikku kini adalah sosok pejuang yang akan segera memperkokoh barisan perjuangan demi tercapainya kebangkitan Islam yang hakiki. Perjalanan waktu telah mengubah segalanya. Selamat datang Revolusioner!! Kita akan berjuang bersama hingga Islam jaya kembali.[]

Makassar, 2005/2006

 

Catatan:

Ittishal: melakukan kontak

Halaqah: mengikuti kajian

Tsaqafah Islam: ilmu-ilmu keislaman yang bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah.

 

Dian Auliya bernama asli Undiana. Lahir 13 April 1983. Adalah mahasiswa Smtr. akhir Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Makassar (UNM).

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 21/Agustus 2006