Selarik Misteri Di Pondok Kayu

By: Eryani Widyastuti 

Uir-uir-uir-uir-uir-uir……

Kriiikk….kriiik…kriiiik…..

Uir-uir-uir-uir-uir-uir……

Kriiikk….kriiik…kriiiik…..

Aku selalu mendengar orkestra serangga setiap malam dari rumah ini. Rumah mungil yang aku sebut dengan pondok kayu. Dibangun menggunakan bahan kayu-kayu hutan pilihan; hampir seluruh bagian rumah dan perabotnya terbuat dari kayu, kecuali beberapa hal seperti kaca jendela, pengunci pintu, dan kamar mandi. Selain karena keunikan bangunannya, aku membeli rumah ini beberapa waktu lalu, karena jatuh cinta kepada lingkungan sekitarnya yang asri.

Rumah ini dibangun di atas bukit kecil di daerah pegunungan yang hanya tersentuh oleh modernitas kecil; yaitu jalan raya aspal halus, berkelok panjang menuju tempat wisata air terjun yang sangat populer di atas sana, dan beberapa tower pemancar perusahaan telekomunikasi. Karena berada di daerah pegunungan, tak heran jika lingkungan di sini dipenuhi dengan pepohonan, kebun-kebun sayur, areal persawahan, dan berbagai macam rerumputan liar yang berbunga indah. Jangan tanya tentang suhu udaranya. Dingin! Bahkan di siang hari, para penduduk di sini memakai pakaian berlengan panjang supaya badan mereka tetap hangat.

“Kamu sudah gila ya, Fik? Kenapa kamu beli rumah di atas bukit itu?” Tanya Romi, sahabatku.

“Memangnya kenapa sih, Rom? Untuk rumah seunik itu di lingkungan alam yang indah seperti itu, harganya termasuk murah, lho.” Kataku.

“Iya, murah sih boleh. Tapi apa kamu tidak merasa seram? Rumah itu berdiri sendirian di atas bukit. Agak jauh dari rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Lalu, rumah itu juga rumah tua yang sudah lama tidak ditinggali. Apakah kamu tidak merasa, situasi ini sama dengan situasi rumah di film-film horor?” Romi tetap ngotot.

Aku tergelak.

“Rom…Rom…. Makanya, jangan overdosis menonton film horor. Akhirnya kamu kehilangan akal sehatmu. Rumah sebagus itu kamu bilang horor! Justru karena dia sendirian di puncak bukit, makanya aku beli. Aku bisa mendapatkan ketenangan, sekaligus inspirasi. Udaranya dingin sejuk, airnya bening segar dan melimpah, pemandangannya indah, para penduduknya ramah…. Sebelah mana horornya? Hahahaha.”

Romi menggeleng-geleng mendengar jawabanku. “Heeeh, dasar penulis! Aku tidak paham dengan cara berpikirmu!”

Hehehehe. Aku masih suka tertawa sendiri mengingat percakapan waktu itu.

Malam ini, adalah malam ketiga aku menginap di pondok kayu. Sejauh ini, aku sangat menikmati. Cuma…, ada sesuatu yang menggelitik. Kata-kata dari bapak tua yang kutemui saat jalan-jalan pagi tadi.

“Adik yang tinggal di rumah kayu itu?” tanya Si Bapak Tua. Ia memikul dua ikat besar ranting-ranting kering yang dikumpulkan dari hutan.

Aku tersenyum. “Iya, Pak. Betul. Nama saya Taufik.”

Si Bapak Tua memandangku heran. “Oooh. Nama saya Kandar. Anak muda jaman sekarang pemberani, ya?”

“Kenapa dengan rumah saya, Pak?”

Pak Kandar tak henti-hentinya mengamati aku, sampai aku harus mengulangi pertanyaanku.

“Ah, tidak apa-apa. Tapi, dulu, ceritanya, yang punya rumah itu adalah seorang laki-laki yang…aneh. Dia jarang sekali bergaul dengan orang-orang di sini. Kami cuma tahu, dia sering keluar masuk hutan-hutan kecil di sekitar sini bersama temannya. Eh, tahu-tahu, setahun kemudian, dia meninggal di dalam rumah.” Cerita Pak Kandar dengan nada bicara yang polos.

“Kenapa meninggal? Kok, yang menjual rumah ini kemarin tidak bercerita begitu pada saya?”

Pak Kandar menghela nafas.

“Nah, dia itu kan ahli warisnya. Anaknya. Kalau dia cerita, rumah itu tidak mungkin ada yang mau membeli! Waktu meninggalnya juga tidak ada yang tahu, Dik. Sudah tiga hari meninggal, baru ada yang tahu. Kata keluarganya meninggal karena sakit. Tapi, ada yang bilang juga, dia meninggal digigit Damar Mabur. Darahnya dihisap sampai kering!” Bisiknya.

Damar Mabur itu apa?” Aku menelan ludah, membayangkan makhluk penghisap darah Drakula yang melegenda di luar negeri.

“Saya tidak berani cerita banyak-banyak. Saya takut digigit juga nanti, kalau Damar Mabur tahu saya membicarakan dia. Sudah ya, Dik? Saya mau pulang.”

Pak Kandar melangkah pergi begitu saja.

Aaah! Kenapa harus ada cerita aneh seperti ini? Jadi terpikir terus! Membuatku tidak bisa istirahat tenang!

Aku bangkit dari tempat tidur, menuju meja tulis yang menempel di dinding bawah jendela kamar, tempat di mana aku meletakkan kotak biolaku.

Aku membukanya. Mengambil biolaku, lantas pergi ke teras rumah.

Suasana sepi. Udara dingin. Langit sedang berawan malam ini. Hanya beberapa kerlip bintang saja yang nampak.

Aku menghembuskan nafas dari mulut. Uap hangat keluar dari mulutku. Kemudian, aku meletakkan biolaku di pundak, dan mengapitnya dengan sisi samping kepala. Aku mulai memainkannya.

Melodi lembut mengalun sendu dari gesekan biolaku. Aku senang memainkan lagu-lagu nasional yang kupelajari ketika sekolah dasar. Kuawali dengan Tanah Air, berlanjut ke Rayuan Pulau Kelapa, Desaku…Ah… kegundahan hatiku tadi terurai sejenak. Sungguh Maha Suci Allah yang telah menanamkan rasa keindahan bermusik dalam diri setiap manusia.

Zlap!

Silau! Spontan, aku memicingkan mata.

Apa itu tadi? Ada selarik kilatan cahaya! Lewat dekat di depan mataku dengan cepat. Tidak begitu terang, tetapi cukup mengganggu mata.

Aku memandang sekeliling. Sepi. Gelap. Tidak ada siapapun. Tidak ada sesuatu apapun. Tapi, dari mana asal cahaya itu tadi? Apakah aku salah lihat?

Ah. Biarkan saja.

Aku kembali memainkan biola.

Zlap!

A’udzubillahiminasyaithanirrajiiim…!

Baru beberapa menit berlalu, kilatan cahaya itu lagi! Tengkukku terasa dingin mendadak. Maka, kuputuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah. Aku terpikir tentang cerita Damar Mabur.

Esok malamnya, aku pergi ke teras lagi. Memainkan biola. Dengan lagu-lagu yang sama. Tiba di lagu Desaku, kilatan cahaya itu mucul lagi!

Selama empat malam berturut-turut aku memainkan biola di teras. Setiap tiba pada lagu Desaku, kilatan cahaya itu selalu muncul beberapa kali, kemudian menghilang di kegelapan malam. Apa ini?? Aku semakin penasaran.

Selain melihat kilatan-kilatan cahaya, aku juga mulai mendengar ketukan-ketukan kecil di kaca jendela ruang tamu. Bila kusibakkan tirai jendela, maka suara itu tiba-tiba terhenti. Tidak ada siapapun. Tidak ada suatu apapun.

Tapi, keingintahuanku melebihi rasa takutku. Mengabaikan kemungkinan darahku terhisap sampai kering, seperti cerita Pak Kandar. Aku pun memutuskan untuk menyelidiki fenomena misterius ini.

Aku menelepon Mas Bintoro, yang dulu menjual pondok kayu ini kepadaku, untuk bertanya mengenai kilatan-kilatan cahaya yang kulihat dan suara ketukan-ketukan yang kudengar. Sebenarnya, hubungan kami tidak dekat, hanya sebatas urusan jual-beli rumah. Tapi, ia pasti lebih tahu cerita tentang pondok ini daripada diriku ataupun para penduduk desa.

Biarlah, jika nanti Mas Bintoro tidak mempercayai apa yang kulihat, dan menertawakanku.

“Kilatan… cahaya?? Benar kilatan cahaya, Mas Taufik?”

“Iya, Mas Bin. Kapan-kapan kalau ada waktu, tolong mampir ke sini ya?”

Tak perlu menunggu lama, esok malamnya, Mas Bintoro datang ke pondok menaiki mobil Jeep warna hijau tua. Ia adalah laki-laki berperawakan tinggi besar, seumuran denganku. Tak seperti penampilannya yang garang, Mas Bintoro sangat ramah.

Seusai kuceritakan pengalamanku, Mas Bintoro meminta aku untuk memainkan biola di teras. Kali ini, langsung masuk pada lagu Desaku. Dan, kilatan cahaya itu mucul!

Aku dan Mas Bintoro menahan suara dan gerakan berlebihan. Sesuai kesepakatan kami sebelumnya, aku tetap memainkan lagu Desaku secara berulang-ulang, sedangkan Mas Bintoro menangkap gerakan kilatan cahaya itu dengan handycam di tangannya. Ketika dirasa cukup, aku berhenti memainkan biola.

Terakhir kali, kami melihat, kilatan cahaya itu menghilang dalam kegelapan pepohonan sebelah timur. Kami berdua memutuskan untuk menyimpan keinginan untuk mengikutinya. Sebab, bila terus dikejar, kami khawatir, cahaya itu enggan untuk muncul kembali di pondok. Jika itu terjadi, maka hilanglah kesempatan kami untuk menyeledikinya.

Aku mempersilahkan Mas Bintoro untuk masuk ke dalam pondok.

“Tidak ada kejadian-kejadian aneh belakangan ini?” Tanyanya.

“Tidak ada, Mas. Hanya itu, ketukan-ketukan kecil di kaca jendela depan. Seperti yang saya ceritakan.”

Kemudian, kami menonton video yang dibuat Mas Bintoro tadi di teras. Kami tidak menemukan apa-apa kecuali larikan-larikan cahaya dalam kegelapan malam.

“Mirip kunang-kunang raksasa, ya, Mas?” Komentarku.

“Hm. Iya. Tapi, pola geraknya berbeda dengan kunang-kunang. Lagipula, kunang-kunang tidak bisa bergerak secepat itu. Lihat dalam gerak lambat. Aku rasa ini lebih mirip dengan bola cahaya kekuningan. Lihat pendaran cahayanya. Kira-kira, sebesar kepalan tangan anak kecil. Hanya, ada makhluk apa di tengah cahaya itu? Sayang, video ini tidak bisa menangkap gambar lebih jelas.”

Aku menggosok-gosok daguku. Makhluk apa ini? Hewan? Ataukah…..

“Oya, Mas Fik. Ini buku agenda Ayah yang dulu saya temukan di rumah ini. Ayah saya juga mencatat hal yang sama dengan yang Mas Taufik alami. Kilatan cahaya…ketukan di kaca jendela…”

Mas Bintoro menyerahkan sebuah buku agenda bersampul kulit coklat yang lusuh. Serpihan debunya menggelitik hidungku, membuatku bersin.

“Kenapa Mas Bin tidak pernah menceritakan ini pada saya saat menjual rumah ini?” Tanyaku sambil menggosok-gosok hidung.

“Maaf. Saya pikir, ini cuma imajinasi ayah saya. Mas Fik, ayah saya itu orangnya agak nyentrik. Beliau adalah pensiunan guru Biologi yang suka menyendiri. Dan terobsesi untuk menyelidiki hewan-hewan aneh. Mmmm… apa istilah dalam buku ayah saya… ada kok tulisannya.” Mas Bintoro mencoba mengingat-ingat. Begitu pula aku, berusaha menemukan istilah yang cocok dengan deskripsi Mas Bintoro dalam buku catatan lusuh ini.

Cryptozoology!” Kami berbicara hampir serempak. Mas Bintoro baru saja berhasil mengingatnya, dan aku baru saja menemukan keterangannya dalam buku ayah Mas Bintoro, secara tidak sengaja.

Cryptozoology merupakan istilah yang diambil dari bahasa Yunani. Crypto berarti tersembunyi. Zoology berarti ilmu tentang binatang.

“Apa ini ada hubungannya dengan Damar Mabur?” Tanyaku.

Mas Bintoro mengernyitkan dahi. “Kok tahu tentang Damar Mabur?

“Ada penduduk sini yang cerita pada saya. Dan, mereka bilang, ayah Mas Bin meninggal di rumah ini gara-gara digigit oleh Damar Mabur.

Mas Bintoro menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya nampak prihatin. “Saya tidak tahu harus menjelaskan berapa kali kepada orang-orang itu, bahwa ayah saya meninggal di rumah sakit, karena penyakit jantung yang dideritanya. Bukan meninggal di rumah ini. Bukan pula karena digigit Damar Mabur. Itu rumor. Saya rasa, ada yang tidak suka pada ayah saya, lalu menyebarkan berita bohong. Ayah saya memang sangat tertarik dengan Damar Mabur. Bahkan kejadian yang dialaminya sama dengan Mas Fik di pondok ini, juga beliau kaitkan dengan keberadaan Damar Mabur. Serius menyelidikinya hingga keluar masuk hutan sana, yang konon, merupakan tempat tinggal Damar Mabur.

Aku sedikit menyesal telah menanyakan hal ini kepada Mas Bin. “Maaf, Mas. Kalau pertanyaan saya menyinggung hati Mas Bin.”

“Tidak, tidak apa-apa. Saya maklum. Hmmm. Saya hanya menyesalkan kehadiran rumor ini saja. Oiya, mengenai Damar Mabur. Damar Mabur, artinya Cahaya Terbang. Memang mirip dengan cahaya yang kita temui tadi. Tapi, Damar Mabur lebih mengarah pada urban legend. Legenda yang beredar di masyarakat sini. Tentang makhluk halus yang bercahaya dan mempunyai kemampuan terbang. Ia memiliki sayap seperti serangga, tetapi bertubuh manusia dengan taring yang tajam. Kegemarannya adalah menghisap darah manusia. Sedangkan yang tadi… bukan. Saya yakin bukan makhluk halus. Entahlah. Saya lebih suka menghubungkannya secara ilmiah. Daripada menganggapnya makhluk halus, saya lebih suka menganggapnya hewan yang belum teridentifikasi oleh ilmu pengetahuan modern.”

Aku kagum mendengarkan penjelasan Mas Bintoro. Hebat! Pemikiran yang unik!

Masalahnya, konsep pemikiran kita tentang sesuatu yang belum diketahui atau sesuatu yang aneh, sudah diberangus oleh konsep-konsep acara mistis di televisi. Yang menjual kengerian dan rasa penasaran untuk dinikmati pemirsanya. Akibatnya, jika kita mendengar suara aneh atau melihat sekelebat bayangan di malam hari, kita langsung berpikir bahwa itu hantu, setan, yang lantas membuat hati kita menciut, dan akal sehat kita mengerut. Bukankah, bisa jadi, itu adalah suara benda yang jatuh, atau kelebat seekor kucing yang sedang mencari mangsa?

“Ya betul, Mas Bintoro. Dulu, ketika Gorila masih belum familiar diketahui keberadaannya, ia juga merupakan salah satu hewan legenda. Katanya: manusia berbulu, bertaring tajam yang ganas, suka memakan manusia, dan menculik para wanita. Sekarang, bisa kita lihat faktanya. Gorila adalah sekelompok hewan penyendiri. Mereka bahkan tidak suka didekati oleh manusia. Dan, mereka adalah jenis hewan pemakan tumbuhan dan serangga. Bukan pemakan daging. Jadi, untuk apa mereka memakan manusia dan menculik para wanita?” Aku menimpali dengan antusias.

“Ya. Itulah jika ketakutan yang berbicara. Makanya, sekarang, kita harus tetap berpikir tenang untuk mencari tahu tentang makhluk ini.”

Tuk-tuk-tuk. Tuk-tuk-tuk.

Suara ketukan itu.

Aku dan Mas Bintoro terkisap.

“Mainkan biola!” Bisik Mas Bintoro.

Aku kebingungan mencari-cari biolaku. Begitu ketemu, aku langsung memainkannya. Lagu Desaku…

Pet!

Lampu mati! Keadaan menjadi gelap gulita.

“Mas Bin??” Bisikku.

“Lampu aku matikan dari pusat. Terus bermain! Aku akan buka pintu depan. Pancing ia masuk ke dalam rumah. Lalu, pancing masuk ke dalam kamar tidur. Bisa, kan?”

Mas Bin setengah berseru dalam bisik.

“Bisa!” Jawabku sok yakin.

Greek…

Pintu depan terbuka. Nada-nada merdu dari lagu Desaku mengalun memenuhi kegelapan. Terus kugesek biolaku setenang mungkin. Meski, hatiku berdegup-degup tegang dengan bumbu sedikit rasa takut.

Tak ada yang terjadi. Lalu…. cahaya! Cahaya itu bergerak-gerak cepat dalam kegelapan pondok.

Tenang…tenang….Allah…Allah… Batinku berkata.

Perlahan, aku bergerak menuju kamarku. Aku hanya mengira-ngira saja jalannya. Sebab, aku masih baru di rumah ini. Semoga berhasil!

Cahaya itu bergerak melambat dengan pola acak. Tetapi, ia mengikutiku. Terus….terus…terus mengikuti.

BLAM!

Suara pintu kamar ditutup. Cahaya itu seakan terkejut dengan suara keras pintu tadi. Ia terbang tak karuan dengan cepat ke segala arah. Aku terus memainkan biolaku.

Tiba-tiba, lampu menyala kembali. Seluruh ruangan kamar kembali terang. Mataku mengerjap-ngerjap. Peralihan dari gelap ke terang membuat penglihatanku agak berkunang-kunang.

“Mas Fik! Sudah dapat? Saya tidak berani membuka pintu! Takut dia lepas nanti.” Suara Mas Bintoro terdengar dari luar kamar.

Prek-prek-prek….

Aku mendengar suara pelan. Segera, kuletakkan biolaku di atas kasur. Dan, di atas meja kayu di bawah jendela kamar, sesuatu tergeletak di sana.

Makhluk itu. Ia tergolek terlentang di lantai. Nampak lemah dan rapuh.

“Mas Bin, masuk! Aman!” Seruku.

Mas Bintoro menyelinap di sela pintu kamar yang ia buka sesempit mungkin, lalu segera menghampiri aku.

Kami berjongkok dan saling berpandangan. Di depan kami, ada seekor…atau sesosok…entah, kami sendiri tidak mengerti. Makhluk itu berukuran sepanjang genggaman tangan anak kecil. Di punggungnya tumbuh dua pasang sayap transparan seperti capung. Tubuhnya berwarna kecoklatan, kurus. Mirip ranting kecil yang kering. Kepalanya persis seperti kepala belalang. Namun, kedua matanya yang lebar lebih mirip bentuk mata kucing; berwarna kuning, dengan pupil hitam yang menyempit. Mata itu berkedip lemah. Tak berdosa.

“Ya Allah…Masyaallah… Badannya mirip badan manusia, Mas!” Kataku heran, sekaligus merinding. Bagaimana bisa ada makhluk seperti ini?

Yang membuat tubuh makhluk itu memiliki bentuk mirip manusia adalah karena ia memiliki sesuatu yang komposisinya mirip kedua tangan dan kaki manusia. Dengan jari-jari panjang seperti duri-duri tumpul. Sedangkan cahaya kekuningan yang berpendar dari tubuhnya sudah tidak nampak lagi.

Mas Bintoro mengangguk, tanpa melepaskan pandangan dari hasil tangkapan kami. “Makhluk seperti ini pantasnya dikagumi, bukan malah ditakuti. Lihatlah bagaimana Allah mendesain ciptaanNya. Makanya, saya lebih suka melihat sesuatu berdasarkan sains. Sains yang akan mengantar kita memahami kebesaran Sang Pencipta.” Ia mengeluarkan handycam-nya untuk merekam sosok sosok ganjil ini tanpa berani menyentuhnya. Begitu pula aku.

Awalnya, aku menyeringai ngeri melihat pemandangan ini. Tapi, semakin lama diperhatikan, makhluk ini semakin mengundang rasa belas kasihan.

“Mas Bin, aku kok merasa dia ini tidak kuat kalau terkena cahaya terang. Aku akan matikan lampunya.” Aku berjalan ke arah saklar listrik kamar.

Pet!

Suasana kamar gelap gulita kembali.

“Mas Taufik! Lihat! Pelan-pelan cahayanya bersinar lagi!” Seru Mas Bintoro.

Ya, benar! Tak berapa lama kemudian, makhluk itu mencoba terbang. Awalnya, terseok-seok, namun selanjutnya, ia berhasil terbang ke sana kemari dengan lincah seperti semula.

Krek!

Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar. Makhluk bercahaya kekuningan itu pun keluar, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam.

Mas Bintoro menghidupkan kembali lampu kamar. Ia tersenyum kepadaku. “Saya tadi juga berpikir begitu. Sebaiknya dilepas saja. Kasihan…”

“Seandainya ayah Mas Bin bisa melihatnya, beliau pasti akan senang sekali.”

Mas Bintoro tersenyum dengan mata sayu. “Ya, benar. Tapi, tidak apa-apa. Ayah pasti sudah menemukan kebahagiaannya sendiri di alam sana.”

Kepalaku melongok keluar jendela, menatap langit malam yang bersih dari awan.

“Malam ini cerah, Mas! Pemandangan di atas sana sangat bagus!”

Mas Bintoro ikut melongokkan kepala keluar jendela. Memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit gelap.

“Mas Fik, tahu tidak. Belum tentu bintang-bintang yang kita lihat sekarang ini masih ada di tempatnya. Sebagian bintang-bintang itu sudah mati.”

“Ha? Yang benar? Lalu, apa yang kita lihat sekarang ini?”

“Itu hanyalah cahaya yang dipendarkan oleh bintang-bintang di masa lampau. Cahayanya menempuh jarak milyaran kilometer untuk sampai ke mata kita. Perjalanan cahaya itu membutuh waktu yang sangat-sangat lama. Bahkan, saking jauhnya, waktu yang dibutuhkan melebihi masa hidup sang bintang itu sendiri.”

Aku menghela nafas panjang.

Ya Allah, begitu dalam misteri ciptaanMu. Begitu luas IlmuMu. Tak pantaslah kami manusia berjalan di muka bumi dengan kepala tengadah dan hati yang congkak.

“Dibandingkan alam semesta yang luas ini, kita manusia hanyalah setitik debu yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Benar, Mas Bin?” Gumamku.

“Benar.” Jawab Mas Bintoro. Menghela napas panjang dan lega.[]

Tentang Penulis

Eryani Widyastuti. Seorang ibu rumahtangga yang gemar menulis, membaca, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Tinggal di Gresik – Jawa Timur bersama suami dan seorang putra. Saat ini aktif menulis cerpen di blog pribadinya www.jejakembunpagi.wordpress.com dan menjadi salah satu kontributor artikel di sebuah website homeschooling www.aprinesia.com.

 

Sumber: dari blog JEJAKEMBUNPAGI