Senandung Ceking

By: Nafiisah FB

 

Ceking berjalan tegap. Wajahnya menampakkan amarah. Di belakangnya seekor kambing mengikuti setengah hati. Kambing kurus berwarna hitam legam itu berjalan pasrah ditarik paksa oleh Ceking.

Ceking berteriak,”Mak! Mak! Si Jenggot makan nasiku, Mak! Maaak!”

Emak tergopoh-gopoh berjalan keluar. ”Ada apa, sih, King?! Teriak-teriak kaya’ begitu?!”

Emak mendelik. Ceking menunduk. Emak melihat ke Kambing Hitam. Dia bertambah mendelik. Kaget.

”Untuk apa kamu bawa-bawa kambingnya Pak Money?! Mau jadi maling kamu, King?!”

Ceking menggeleng kuat-kuat. Dia perlahan melepas tali pengikat kambing.

”Ndak, Mak,” lirih Ceking.

”Lalu?!” Suara Emak masih tinggi.

”Aku tadi mau ambil nasi jatah di rumah Pak Money, Mak. Aku lari secepat-cepatnya supaya ndak kehabisan. Tapi, pas aku sampai di rumah Pak Money aku cuma lihat bakul kosong, dan … ”

Ceking memutar kepalanya perlahan ke arah Kambing Hitam. Perlahan nafasnya berubah memburu. Kedua tangannya mengepal, bergetar.

”Dan dia ada di sana. Dia yang makan nasi jatahku! Tega! Tega!”

Tangis Ceking pecah. Tangan mungilnya yang tinggal tulang berbalut kulit memukul-mukul tubuh Kambing Hitam yang gempal. Kambing Hitam mengembik keras lalu berlari menjauh. Panik.

Marah Emak mereda seketika. Dia merangkul Ceking meredakan tangisnya.

”Kambing ndak makan nasi, King,” ujar Emak sambil mengelus-elus rambut Ceking.

Ceking perlahan menengadahkan kepala, menatap Emak dalam tanya.

”Lalu siapa yang makan nasiku, Mak?” tanya Ceking setelah mengusap airmata dan menarik lendir yang sempat mengalir dari hidungnya.

Emak berusaha tersenyum. ”Jatah nasi sudah ndak ada lagi.”

Emak menyusutkan air yang sempat menitik dari sudut matanya. Ceking memeluk pinggang Emak lebih ketat. ”Tapi, Ceking lapar, Mak.”

”King! Bulek!” Sebuah suara tiba-tiba memanggil.

Ceking menoleh. Dilihatnya Buncit berjalan mendekat dari arah sungai, riang. Dia menunjukkan sebuah bakul.

Ceking perlahan tersenyum. Tanpa diketahuinya, air di sudut mata Emak kembali mengalir, kini lebih deras. Emak berusaha sekuat tenaga menghapusnya.

”Emakku tadi baru masak nasi ini,” info Buncit gembira.

Ceking berbinar melihat isi bakul yang telah diletakkan Buncit di dipan dekat pintu belakang.

”Wah, Bulek masih punya nasi! Enak, enak,enak,” cerocos Ceking sambil mengusap-usap perutnya.

”Kalian makan saja sekarang. Sebentar Emak ambilkan piring.”

Emak tidak lama kembali dengan dua piring di tangan. Ceking dan Buncit menerima dengan senang.

”Emak tinggal dulu.”

”Emak ndak makan?” imbuh Ceking.

”Kalian saja dulu. Emak harus selesaikan anyaman. Sudah sana.”

Emak pergi lalu Ceking bersenandung. ”Aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat semasa aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi, dan imunisasi …”

Buncit bergumam, ”Itu nyanyian Surga. Indahnya ….”

Mereka berdua lalu tertawa sambil tetap semangat melahap nasi aking paling enak sedunia. Dan Emak … wanita kurus ringkih itu kembali hanya bisa berurai airmata, mengintip mereka dari balik dinding dapur.

ooOoo

Desa Makmur senja hari itu kembali berduka. Anak semata wayang Kang Soro meninggal dunia. Busung lapar kembali memakan korban. Buncit, anak Kang Soro itu adalah korban ke 113 dari jumlah anak-anak Desa Makmur yang tersensus sebanyak 120 orang.

Warga berkumpul untuk menyertai perjalanan jenazah Buncit menuju pemakaman sederhana dengan membawa peralatan seadanya. Buncit dikebumikan tanpa nisan.

Pak Money, Sang Kepala Desa, sebelumnya memberitahukan hanya bisa membantu memberikan kain kafan. Dia bahkan mengantarkannya sendiri kepada Kang Soro dengan mengendarai mobil kencananya yang mewah. Namun, Kang Soro tidak kuasa membendung amarah.

”Bawa saja lagi kain kafan itu! Bawa saja belas kasihan Tuan yang pura-pura! Bawa saja mobil kencana Tuan yang seharusnya bisa menyelamatkan anak saya dan 112 anak lainnya dari kematian!” Kang Soro mendorong-dorong Pak Money dalam gelegak emosi.

Beberapa bapak segera menahan Kang Soro agar tidak bertambah kalap.

”Kang tahan, Kang!”

”Sabar, Kang!”

Para bapak itu berusaha menenangkan Kang Soro. Kang Soro tidak surut. Airmata sudah tidak ada. Tinggal teriakan kemarahan yang tersisa. Teriakan lemah.

”Bawa sajaaaa!”

Kang Soro melempar kain kafan ke wajah Pak Money. Pak Money tetap berdiri dengan tatapan dingin. Sedetik kemudian dia bergerak tanpa rasa kembali ke mobil kencananya.

Yu Soro sesegukan di bahu Emak. Emak pun menangis. Dia menangis untuk senja itu, untuk Buncit. Dia juga menangis untuk Ceking yang entah kapan namun tinggal menanti hari menyusul Buncit.

 

”Cit, kok kamu tidur aja?”

Ceking termangu menatap jasad Buncit. Saudaranya kembali hilang satu. Dia tidak mengerti kenapa harus dia, harus mereka. Dia mengusap-usap air mata, lalu menarik lendir dari hidungnya.

ooOoo

 

”Pak Money perutnya juga buncit, Mak. Tapi, Pak Money selalu punya uang dan ndak pernah kelaparan. Dia pasti ndak bisa mati!”

Ceking mengobrolkan isi hati perihal kematian Buncit. Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, memang hanya dia dan Emak yang menempati kamar itu. Pa’e sudah lama meninggal tiga tahun lalu ketika kerja di ibukota sebagai kuli bangunan.

”Setiap manusia itu pasti mati, King. Gusti Allah yang menentukan kapan. Tapi, kita manusia yang menentukan bagaimana,” jelas Emak sambil merapikan jemuran yang rata-rata telah kusam dan usang.

”Ceking ndak ngerti, Mak.”

Ceking masih berkerut kening sambil terus mengikat erat perutnya. Itu yang diminta Emak kalau waktu tidur akan tiba. Resep anti lapar, begitu Emak pernah katakan kepada Ceking.

”Gusti Allah saja yang tahu kapan manusia itu akan meninggal, karena Gusti Allah yang menciptakan manusia. Tapi, manusia yang harus berusaha dalam keadaan bagaimana dia menghadapi kematian. Apakah dalam keadaan taat kepada Gusti Allah atau menentang Gusti Allah.”

Emak menuntaskan pekerjaannya. Dia menjulurkan kaki, memijit-mijit bagian lutut.

”Kalo Ceking mati pas Ceking mengaji atau sholat di surau apa berarti Ceking mati dalam taat kepada Gusti Allah, Mak?”

Emak terhenyak. Pijitan tangan di atas kedua lututnya terhenti.

”Ceking enggak mau, Mak! Ceking mati pas Ceking berantem! Ceking tobat, Mak! Ceking ndak bakal ganggu Kambing Hitam Pak Money lagi!”

Ceking tersedu. Emak segera merangkul Ceking menahan gemuruh sedih dan gundahnya.

”Andai saja Pak Money mampu menangis seperti Ceking menangis saat ini, Ya Allah….,” pinta batin Emak.

ooOoo

Desa Makmur siang bolong seminggu berikutnya tiba-tiba gempar. Pak Money kehilangan Kambing Hitam miliknya. Ternyata penduduk Desa Makmur yang melakukannya. Mereka bahkan sudah menyembelih dan kini sedang mengulitinya.

”Biar Pak Money enggak bisa lagi bikin alasan pake’ Kambing Hitam! Apa-apa Kambing Hitam!” teriak Pak Tepo berapi-api.

”Iyaaa!” akur yang lainnya.

Para penduduk memilih aksi nekad seperti itu karena Pak Money tidak mau menanggapi aspirasi warga. Pak Money ternyata diam-diam sudah bertransaksi dengan Mister Jos Wush yang penguasa negeri Liberty untuk menjual Desa Makmur kepada dirinya. Mister Wush berbisik-bisik tentang keberadaan tambang emas di Desa Makmur.

 ooOoo

 

Ruang Pribadi Pak Money, sehari sebelumnya

”I akan kasih you 4 persen bagian dari hasil tambang kalau you mau jual desa ini ke I. I janji you. You mau janji ke I?”

”Ahai 4 persen! Lumayanlah! Emas gitu loh! Daripada enggak!” ujar Pak Money berbisik kepada Pak Sais yang saat itu menemani Pak Money.

”Tapi, bagaimana mana saya bilang ke warga Mister? Mereka pasti ndak mau pindah kalau saya bilang terus terang! Mereka pasti minta bagian juga! Wah,saya ndak mau! Masa’ 4 persen harus dibagi-bagi lagi!”

Mister Wush tertawa sambil mengepulkan asap putih pekat dari cerutu mahalnya.

”You memang orang pintar! You berpikir sejauh itu! I suka you! Yes, yes … jangan mau untuk membagi 4 persen yang jadi hak you itu! Never!”

Puji-puji Mister Wush membuat dada Pak Money naik-turun. Hidungnya pun kembang-kempis. Dia bangga.

”Begini saja. I kasih saran sama you untuk bilang kalau desa ini sudah waktunya untuk dibangun. Kambing Hitam milik you saatnya punya teman kambing-kambing yang lain. Desa ini bisa kaya dengan beternak kambing!”

”Tapi, Mister. Untuk mendatangkan kambing-kambing yang lain dan memberikan gratis untuk warga pasti butuh modal,” respon Pak Money sambil menunduk malu-malu takut.

”Oh, yes. Betul you! Makanya, I minta transaksi ini bisa segera selesai. Supaya I bisa segera kasih tahu anak buah I untuk secepatnya menggali tambang. Kalo emas bisa ditambang dalam waktu cepat, uang juga akan segera cair. Empat persen untuk you dan kambing-kambing untuk warga you!” jelas Mister Wush sambil terkekeh.

Pak Money mengangguk-angguk tunduk. Pak Sais meliriknya dengan pandangan penuh kegeraman.

ooOoo

Kambing Hitam telah tiada. Pak Money kehilangan transaksinya. Empat persen keuntungan tambang emas tinggal impian.

Pak Money di depan mobil kencananya saat ini berhadapan dengan para warga. Amarahnya tampak jelas dari rona merah di wajahnya. Beberapa pengawalnya berjaga-jaga.

”Takutlah kepada Gusti Allah, Money! Kekayaanmu tidak akan membuat dirimu masuk Surga tanpa taubatmu!” teriak Kyai Kaji yang berdiri gagah memimpin warga.

Pak Money semakin menggelegak.

”Wahai pengawal-pengawal Money! Kalian adalah manusia-manusia terbaik yang Allah turunkan untuk mengawal desa ini menuju kemakmuran, menuju keadilan! Apakah kalian rela untuk terus-menerus membela kezoliman! Padahal anak kalian, ibu kalian, bapak kalian, saudara-saudara kalian telah banyak yang menjadi korban! Padahal mereka semua rindu akan pembelaan kalian! Kalian yang terbaik di antara kami! Gusti Allah akan memberikan berkah bagi hidup kalian! Surga!” teriak Kyai Kaji dalam semangat yang semakin berkobar.

Para pengawal Money saling pandang satu sama lain. Kata-kata Kyai Kaji memunculkan sinar bagi mereka. Sebuah terang ada di hadapan.

”Heh, kenapa kalian diam! Habisi mereka! Mereka cuma wong deso bodoh! Kyai Kaji itu cuma kasih mimpi ke kalian! Jangan percaya dia! Percaya saja sama aku! Money!” teriak Pak Money panik.

Pak Money menarik peti-peti uangnya dari dalam mobil kencana. Tertatih. Peti-peti itu terbuka. Uang bertumpuk di dalam. Emas beribu gram teronggok di dalam. Para pengawal menatapi peti-peti lalu perlahan mengalihkan pandangan menuju pemakaman di seberang.

Uang berdarah. Emas kematian. Mereka kembali memandangi Pak Money, lalu melangkah perlahan menuju barisan Kyai Kaji. Cahaya dari kata-kata Kyai Kaji semakin benderang. Mereka kini muak. Uang dan emas tidak lagi mereka hiraukan.

Pak Money panik dan semakin. Dia berteriak kepayahan dalam rasa kecutnya.

”Kalian bodoh! Goblok!” umpat Pak Money sambil melempar-lempar uang dan emas dari peti-peti.

Pak Money menangis! Emak tercenung melihat itu.

”Apakah itu Pak Money yang aku lihat Ya Allah? Dia menangis! Apakah doaku saatnya kini Engkau kabulkan?” batin Emak tidak berhenti bertanya.

ooOoo

Kyai Kaji sedang memimpin rapat. Wajahnya yang semakin menampakkan kerut dan janggut panjang yang semakin memutih tidak membiaskan kharisma kepemimpinannya.

Sebagai pemimpin desa dialah pemegang kendali kini. Beberapa perwakilan warga berkumpul melingkarinya. Ruang utama di lantai satu mesjid megah itu ramai dengan argumentasi dengan sesekali diinterupsi oleh suara Kyai Kaji yang bijak mengingatkan.

”Untuk hal seperti ini kita butuh ahlinya. Kita tunggu sebentar beliau datang.”

”Tapi, Kyai, kita sudah menunggu tiga puluh menit.” Seorang bapak menyatakan ketidaksetujuannya.

”Sabar. Dia sedang menuju ke sini. Dia baru saja memberitahu ojek yang ditumpangi terpeleset. Jadi, agak terlambat.”

”Assalamu’alaikum!”

Sebuah suara berat terdengar membahana. Semua mata mengarah kepadanya. Sosok tinggi tegap itu sudah berada di ambang pintu.

”Masuk Money!” sila Kyai Kaji.

Pak Money masuk dan langsung duduk bersila di hadapan warga.

”Baik! Karena ahlinya sudah tiba, baiknya kita lanjutkan segera diskusi kita. Silakan, Money.”

Pak Money tersenyum, mengangguk hormat kepada Kyai Kaji. Dia kemudia menebar pandangan kepada semua warga termasuk seorang pemuda tampan yang duduk di antara mereka.

”Saya ingin anak saya membantu menjelaskan, Kyai. Jadi, saya minta ijin dia duduk di depan bersama saya.”

”Oh,ya. Silakan. King, ke sini kamu!” Lambai tangan Kyai Kaji.

Pemuda tampan itu mendekat. Dia tetap dipanggil Ceking walaupun tidak lagi kurus kering. Diskusi dilanjutkan.

Ceking melihat Pak Money menguraikan penjelasan dengan diringi senyuman kebanggaan dan syukur yang mendalam. Dia bersyukur dia tidak melihat lagi anak-anak kurus kering berperut buncit di Desa Makmur. Dia bersyukur bisa bahu-membahu mempersembahkan yang terbaik bersama bapak tirinya, Pak Money. Dan dia tetap menyenandungkan doa dalam batinnya. Doa untuk keberkahan bagi desa, dan doa agar dia dimatikan dalam keadaan taat kepada Allah, Rabb-nya.[]

 

Sumber Tulisan: Majalah JEJAK, edisi Mei/2008