Sepatu Kaca Nin

By: S.Tari

 

“Cihuiii! Yiiihaaa! Akhirnya sampai juga kita…”

Suara gaduh dan mobil yang memasuki halaman mengejutkanku yang sedang menyiram bunga di halaman sore itu.

“Assalamu’alaikum Kak Rini yang manis…” salah satu dari mereka memberi salam padaku dengan nada menggoda. Ternyata mereka kawan-kawan Nin, adikku. Disamping si pemberi salam tampak Nin berdiri cengar-cengir.

“Waalaikumsalam warahmatullah…” jawabku sambil berusaha tersenyum ramah pada anak-anak itu.

“Kenalkan nih Kak , kawan-kawan Nin. Ini Roy, Ela, Dyo dan Nela. Kebetulan sore ini kami ada latihan teather di kampus, dan Nin ajak mampir dulu.”

Aku menerima uluran tangan Ela dan Nela. Tapi menyimpan untuk Roy dan Dyo. Nin tampak ngeloyor ke dalam rumah, mungkin mengambil minuman.

“Em, teman-teman Nin di IKJ semua nih?” tanyaku berusaha ramah dan mengajak mereka duduk di kursi teras.

“Yoi! Kite satu jurusan and satu angkatan ame Nin!” jawab Dyo cuek.

“Yeah! Kita sama-sama sedang merintis karir sebagai artis. Biasalah, kita kan jurusan teather IKJ!” timpal Ela tak kalah cueknya. Aku meringis.

Diam-diam aku mengamati penampilan mereka. Duh, Gusti! Dandanan mereka itu lho! Si Roy berambut gondrong, dekil dan kumal. Rokoknya mengepul bagai lokomotif. Tubuhnya yang kurus terlintas kesan morfinis. Si Ela tak kalah heboh. Gelang, kalung dan anting-anting gede menghiasi tubuhnya. Bahkan ada anting di hidungnya. Dengan sepatu boot gede, gaya Ela persis lady rocker. Si Nela beda lagi. Bajunya full pressed body. Dyo sendiri tak kalah nyentrik. Dandanannya sih rapi tapi rambutnya dicat warna merah dan sebelah telinganya beranting. Olala! Astaghfirullah! Nin sendiri rambutnya dipotong cepak habis dan dicat ungu. Telinganya dihiasi enam anting-anting. Ck! Ck! Ck! Tak sadar aku mengeleng-gelengkan kepala sendirian.

“Eh, Kak Rini, Nin cabut dulu ye! Tolong pamitin Mami, Nin latihan teather di kampus sore ini.”

“Oke baby, beautiful girl…gue tinggal dulu ye!” mereka melambaikan tangannya padaku.

Aku terpana. Bengong. Asli!

Setahuku, tak ada seorangpun dari silsilah keluarga kami yang memiliki darah seni. Anehnya, dalam jiwa Nin, adikku semata wayang yang cantik itu mengalir darah seni yang demikian besar. Sejak kecil dia jago menari, baca puisi, menyanyi dan bermain teather. Jadilah Nin orang yang besar di panggung . Di usia sepuluh tahun saja Nin sudah sering tampil bareng bintang-bintang terkenal. Piala yang diraihnya dari dunia senipun berjajar demikian banyaknya di lemari kamarnya. Mami dan papi sendiri tidak keberatan Nin menekuni dunia seni. Hingga seusai SMU Nin memilih mengambil jurusan teather di IKJ. Aku sendiri ikut senang punya adik yang berprestasi seperti Nin, tapi perkembangan Nin akhir-akhir ini membuatku miris. Aku takut Nin salah pergaulan sehingga terjerumus pergaulan bebas.

“Nin, apa nggak sakit tuh telinga ditindik banyak begitu? Nggak risih pakai anting-anting banyak gitu?” tanyaku suatu waktu.

“Nggak dong Kak. Gue kan artis!” jawabnya ceria.

“Ehm, Nin…kamu mau nggak ikut Kak Rini dengerin ceramah di Walisongo besok? Ntar Kak Rini traktir deh sehabis dari sono,” rayuku. Bagaimanapun dia adikku. Aku wajib mengajaknya kembali ke jalan Allah.

“Ha…ha…ha…Kak Rin, Kak Rin… Kakak ini nggak berubah-berubah. Dari dulu yang diomongin akhirat melulu. Nin mau jadi artis dulu deh. Pengen konsentrasi sama profesi yang Nin rintis sejak kecil. Ntar deh, kalo udah nikah atau nenek-nenek gitu mikir yang begituan!” jawabnya sambil mengangkat kakinya ke atas meja di depan kami.

“Bukan begitu Nin. Manusia kan nggak tahu kapan umurnya akan berakhir. Maut menjemput kita kapan saja. Apa kamu tahu kalau umurmu masih sampai usia nenek-nenek nanti? Izroil akan datang kapan saja. Mungkin besok atau bahkan saat ini, ketika kita sedang ngobrol begini. Lantas apa bekal kita kalau tiba-tiba Izroil datang menjemput?”

“Sudahlah Kak Rin, simpan saja cerita Izroil itu untuk Kakak sendiri. Nin belum berminat saat ini. Nin pengen jadi artis dulu. Oke?”

“Tapi Nin, apa salah kalau jadi artis namun juga belajar mengaji?”

Nin tertawa terbahak lalu bergegas meninggalkanku begitu saja. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Laa haula wa laa quwwata illa billah…

ooOoo

“Kak Rin mau ikut nyumbang untuk beli sepatu kacamu asal mau belajar ngaji,” kataku saat kami makan malam bersama di meja makan.

Sudah seminggu ini Nin kasak kusuk mencari sumbangan untuk membeli sepatu kaca. Sepatu kaca itu akan digunakan untuk pementasan teather di TIM dengan judul Cinderela. Kebetulan Nin sebagai pemeran utamanya. Jadilah dia heboh untuk tampil prima di pementasan itu. Bahkan kabarnya, Nin bakal main bareng bintang-bintang teather kawakan dan tentu saja akan diliput berbagai media. Proposal sumbangan dana sepatu kaca diajukan ke aku, mama dan papa, karena ternyata uang tabungannya sendiri tidak mencukupi untuk membeli sepatu kaca itu.

“Berapa sih sebenarnya harga sepatu kaca itu?” tanya papi sambil menambahkan nasi ke piring.

“Lima ratus ribu! Sementara uang Nin ditabungan tinggal dua ratus ribu.”

“Apa? Lima ratus ribu?” tanyaku hampir tersedak. “Mahal amat…”

“Mami tambahin seratus ribu deh, asal Nin mau ngaji ,” tambah mami.

“Papi juga deh, jadi yang tiga ratus dibagi bertiga. Rini, Mami dan Papi. Asal… ya itu tadi, Nin mau belajar ngaji mulai sekarang.”

Yes! Aku surprise banget lihat kekompakan mama dan papa. Biasanya sih papa dan mama agak cuek lihat kebadungan Nin.

“Gimana Nin? Are you agree?” tanyaku sambil memasukkan sepotong bakwan ke dalam mulut. “Biar Kak Rin ambil uangnya sekarang di ATM!”

“Hmmm, gimana yah? Berat amat syaratnya. Gini aja deh, Nin pinjam aja diuitnya yang tiga ratus ribu itu. Hutang dulu deh! Ntar bayarnya pakai uang jatah bulanan Nin. Jadi Mama potong aja uang jatah Nin setiap bulannya limapuluh persen. Gimana, setuju? It’s fair? He… he… he…”

Huuu…itu mah bukan hutang namanya. Tapi uang yang muter-muter. Tak urung uang mama juga yang dipakai. Ih, dasar si Nin!

ooOoo

“Rongsokan! Koran bekas! Botol bekas!”

Seperti biasa wanita kurus setengah tua dan anak perempuan kecil nan dekil itu menghampiri tempat sampah kami. Kulihat Nin menghampiri mereka dan bercakap-cakap akrab. Entah apa yang sedang dibicarakannya. Yang sempat kulihat, Nin memberikan koran-koran bekas serta botol bekas yang terkumpul di halaman samping. Sesaat kemudian mereka tampak saling melambaikan tangan.

“Kamu kenal mereka Nin?” tanyaku sambil tergesa memakai kaos kaki dan sepatu. Pagi ini ada kuliahnya Pak Jani tepat pukul tujuh. Berarti satu jam lagi! Dan aku tak boleh telat!

“Kenal dong Kak. Masak Kak Rin nggak kenal? Kan tiap hari mereka lewat sini? Ngaji terus baik Kak, tapi jangan lupa penerapannya dong!” jawab Nin dengan mimik sedikit mengejek.

Aku tersenyum. Tak urung kata-katanya barusan sedikit menohok dadaku.

“Hm, oke deh, berangkat dulu ya…Assalamu’alaikum.” Kuambil tasku dan bergegas meninggalkan Nin.

“Walaikumsalam, hati-hati Kak!” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Di dalam metromini wajah Nin terus terbayang. Adik dan saudara semata wayangku itu cantik, tinggi, modis meski tomboy. Tetapi sebenarnya berhati lembut dan gemar menolong. Ia tak pernah tega melihat anak-anak jalanan dan para gelandangan. Selalu saja kalau bertemu mereka, Nin sibuk membagi-bagikan uang recehnya. Bahkan tak jarang membeli banyak makanan untuk dibagi-bagikan pada mereka. Namun bagaimanapun, aku mencemaskan pergaulannya akhir-akhir ini. Lagipula, rasanya aneh, aktivis rohis sepertiku punya adik metal seperti itu.

Tak bosan-bosannya aku melakukan pendekatan pada Nin. Tapi sampai hari ini belum juga ada hasilnya. Kadang sedih juga…, mengapa dakwah ke orang lain lebih mudah daripada ke keluarga sendiri. Yah, mungkin inilah ujian.

“Ajak saja Nin ikut sanlat Rin!” ujar Ratih ketika kami baru saja rapat rohis membahas pesantren kilat yang diadakan untuk mengisi liburan semester.

“Iya Nin, aku juga mau ngajak Asma kok. Ntar biar Nin bareng Asma di sana!” timpal Lisna.

“Ngajak Nin ikutan sanlat? Sejak kapan dia berminat mengaji?” gerutuku.

“Hush! Jangan begitu dong Rin. Siapa tahu hidayah Allah tiba-tiba datang? Lagipula nggak ada jeleknya berusaha kan?” sergah Ratih tiba-tiba.

“Rambutnya masih suka dicat? Teman-temannya masih nyentrik-nyentrik?” tanya Lisna tiba-tiba. Aku memajukan bibirku beberapa senti. Lisna dan Ratih memang sahabat terdekatku. Bahkan mereka akrab dengan keluargaku.

“Iya, masih. Pusing aku mikirin anak satu itu.”

“Hati-hati lho Rin, salah pergaulan bisa celaka. Bisa kena narkoba adikmu itu. Juga virus HIV!”

Aku agak tersinggung dengan ucapan Lisna. “Nin nggak separah itu kok Lis!”

“Iya aku tahu.” Lisna menukar tempat duduknya.

“Hati-hati saja. Kamu kan sedikit banyak tahu bagaimana hidup dan pergaulan orang-orang panggung. Biasanya mereka sangat bebas dan rawan terkena narkoba. Kamu nggak mau kehilangan adikmu kan? Sayang sekali kalau itu sampai terjadi. Nin cerdas, cantik dan berpotensi. Kenapa nggak kamu coba arahkan dia masuk ke teather yang Islami saja? Misalnya, teather muslimah seperti teather Bening-nya Mbak Helvy Tiana Rosa itu lho! You tahu kan? Toh, disana, Nin tetap dapat menyalurkan bakat seninya.”

Aku hanya mengangkat bahu mendengarkan ceramah Lisna yang panjang lebar. O…o! Kok ngomongnya jadi menakut-nakuti sih?

ooOoo

Sabtu malam…

Kulirik jam di dinding ruang tengah. Pukul 00.30, dan Nin belum juga pulang. Malam ini memang malam pementasan Cinderela seperti yang sudah direncanakan di TIM. Dan Nin berhasil membeli sepatu kaca itu dari hasil berhutang pada mama.

Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Semua cerita Lisna kembali berdenging di telingaku. Pergaulan bebas, narkoba, HIV dan ah…

“Kok kamu gelisah amat Rin, ada apa sih?” tanya mama lembut, sambil menjajari dudukku di depan TV. Papa tampak juga masih mengikuti serial kesayangannya.

“Nin kok belum pulang sih, Ma?”

“Mungkin masih sibuk. Namanya juga pentas besar,” jawab Mama sambil menguap.

“Iya, tapi biasanya kan nggak semalam ini? Rini khawatir kalau ada apa-apa di sana.”

“Doakan saja tidak terjadi apa-apa dan pentasnya sukses. Sebenarnya tadi papa menawarkan untuk mengantar, tapi Nin menolak,” kata papa.

Waktu terus bergulir dan kami tak bisa memejamkan mata! Kami berharap telepon di samping kami akan berdering dan Nin yang bicara tapi harapan itu sia-sia. Kucoba menghubungi handpone beberapa kawan Nin yang kukenal tapi hasilnya nihil juga. Semua tidak diaktifkan.

Tepat pukul 03.00 dini hari pintu diketuk. Aku berlari ke arah ruang tamu dan mengintip dari jendela diikuti papa dan mama.

“Itu dia Nin, kenapa langkahnya terseok-seok begitu?” kataku setengah bertanya entah pada siapa. Buru-buru kubuka pintu dan cepat-cepat kami menghampiri Nin. Bajunya memerah terkena cipratan darah. Mama langsung berlari dan memeluk Nin panik.

“Kamu kenapa Nin? Bajumu berdarah. Ya Allah…”

“Robbi…” aku menggigit bibirku kuat-kuat. Persendianku terasa lemas seketika. Bayangan buruk menyerangku tiba-tiba. Benarkah apa yang dikatakan Lisna tempo hari? Ah…

Papa membimbing Nin duduk di ruang tamu , sementara aku berlari ke dapur mengambilkan segelas air putih.

“Nin nggak jadi pentas. Sebenarnya tadi mau nelpon…”

“Ke..kenapa?” tanyaku tak sabar sambil memberikan segelas air putih padanya.

“Waktu berangkat siang tadi Nin ketemu Aminah. Itu lho, anak perempuan yang tiap hari memulung di tempat sampah kita bareng emaknya.”

“Te…terus?” suara ibu tampak bergetar.

“Emaknya tertabrak mobil di jalan depan. Si penabrak melarikan diri dengan mobil mewahnya. Huh! Dasar orang kaya gila!” Nin bersungut-sungut tampak kesal sekali.

“Lantas?” kini papa yang tidak sabar menunggu cerita Nin.

“Tak ada seorangpun yang menolong. Waktu Nin lihat Aminah, ia menangis dan…dan…nyawa emaknya tidak tertolong lagi,” suara Nin serak. Parasnya memerah kini, air mata berdesakan di sudut matanya.

“Akhirnya Nin mengantar jenasah emak Aminah ke rumahnya dan mengurus pemakamannya hingga menjelang malam.”

“Em, terus kamu dapat duit dari mana untuk mengurus keperluan pemakaman itu?” tanyaku tiba-tiba.

“Nin menjual lagi sepatu kaca itu. Biarlah, Nin Rela membatalkan pentas itu. Kak Rin benar, maut, kematian akan menghampiri kita kapan saja. Tadi pagi emaknya Aminah masih memulung di depan sana, siangnya…” Nin kembali terisak-isak.

Semua terdiam. Hening dan haru. Nin yang slengekan, Nin yang badung, Nin yang nyentrik, tak disangka hatinya selembut sutra.

“Ma, Pa, Kak Rin…Nin mulai sekarang mau belajar ngaji asal…”

“Asal apa?” sahutku cepat.

“Asal semua mau bantu Nin. Nin ingin mengasuh Aminah di rumah ini. Kasihan dia sebatang kara. Bapaknya sudah meninggal setahun yang lalu.”

Kami saling berpandangan lalu menganguk serempak. Kurangkul bahu adikku penuh kasih. Rabbi, bawalah cahaya hidayah-Mu padanya. Air mataku menetes.[]

*Jakarta, 13 April 2002

Sumber: Majalah Permata, Edisi 06/Oktober 2002