Surat Terakhir

By: Farid Ab

 

“Titiiit! Pos!”

Suara tukang pos itu membuyarkan lamunanku. Seketika suara itu berubah menjadi getar-getar tenaga yang mengalir dari telinga tuaku menuju ke seluruh tubuh. Memberikan tenaga baru di tubuhku yang sudah sekian lama tergolek lemah dikerubungi penyakit. Aku pun bergerak cepat menuju ke depan rumah.

Namun, begitu aku sampai di beranda rumah, aku melihat tukang pos itu berdiri di depan rumah Mbok Surti, tetanggaku. Ternyata dia hendak menyampaikan surat pada tetanggaku itu. Seketika getar-getar tenaga yang mengalir di tubuhku lenyap. Aku linglung dan terduduk di kursi bambu usang di beranda rumahku. Pikiranku kembali melayang kemana-mana.

Sudah enam bulan terakhir ini aku menunggu tukang pos yang tak juga kunjung datang. Biasanya, tukang pos rutin mengunjungi rumahku ini satu bulan sekali untuk menyampaikan surat dari anak gadisku yang saat ini berada di negeri tetangga nun jauh di sana, Malaysia. Dia mengadu nasib ke sana sebagai TKW.

Kini, setelah surat terakhirnya enam bulan yang lalu, aku tak lagi menerima surat darinya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya di sana, aku tidak tahu. Siang malam aku memikirkannya. Makan tak lahap. Tidur tak nyenyak. Sementara dada ini seakan semakin mengecil dan sesak. Aku pun jatuh sakit.

Tak ada anggota keluarga yang merawatku. Semenjak ditinggal putriku satu-satunya merantau, aku hanya bisa bercengkrama dengan Mbok Surti. Suamiku sudah meninggal satu tahun yang lalu. Dan, kematian bapaknya inilah yang membuatnya putriku bersikeras menjadi TKW.

“Biarkan aku pergi, Mak. Kalau aku tak jadi ke Malaysia, kita mau makan apa?” Rengeknya suatu hari.

Aku membelai rambut kritingnya dengan lembut. Memang, suamiku meninggal dunia tanpa mewariskan harta yang melimpah, kecuali hanya seekor sapi tua kurus yang juga sakit-sakitan. Kami hanyalah keluarga miskin yang hidup di sebuah desa pedalaman yang juga miskin. Tak ada orang kaya yang mau berinvestasi di sini.

“Kalau kamu pergi, siapa yang menemani Mak di sini, Nduk?” Ujarku menahan haru.

“Kan masih ada Mbok Surti, Mak. Kan hampir setiap hari dia main ke sini. Jadi, Emak tak akan kesepian.”

Begitulah. Dan, semua alasan yang aku buat agar dia tak jadi pergi berhasil dia mentahkan. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Linangan air mata mengiringi perpisahan kami. Tak lupa kubelai rambut keritingnya sebagai ungkapan sayangku yang terakhir.

“Jangan lupa pesan Mak, tulis surat begitu kau sampai di sana. Tiap bulan kau juga harus kirim surat. Kabarkan keadaanmu.”

“Baik, Mak.” Ucapnya lirih.

ooOoo

Sudah dua hari aku di Malaysia. Mencari alamat tempat kerja putriku, yang aku dapatkan setelah melabrak kantor PJTKI, ternyata tak mudah. Aku hanyalah seorang wanita tua dari desa yang masih awam dengan kondisi perkotaan, apalagi sampai ke luar negeri seperti ini.

Aku menjual murah sapi peninggalan suamiku untuk ongkos perjalanan ke Malaysia. Bermodal ongkos yang pas-pasan dan juga kenekatan, aku pun berangkat sendirian ke negeri ini. Kekhawatiran dan kerinduan kepada putri semata wayangkulah yang menyulut api keberanianku.

Setelah dua hari ke sana-kemari, akhirnya, melalui petunjuk Bu Mashitoh, wanita paruh baya baik hati yang iba dengan kondisiku, aku pun menemukan alamat putriku. Dia juga menemaniku selama masa pencarianku ini. Mengantarku dengan mobilnya ke mana pun aku minta.

“Maaf Bu, setahu saya, pembantu yang bernama Iyem ini sudah lama pindah. Dia sudah berhenti bekerja di sini.” Tegas si satpam rumah.

“Terus sekarang dia di mana?” Cercaku penuh kekalutan.

Satpam itu pun menulis di secarik kertas dan memberikannya padaku. Kubaca. Aku menggeleng tanda tak mengerti. Bagiku, butuh waktu lama untuk menemukan alamat ini. Dan yang pasti, aku tak bisa kemana-mana karena uangku sudah habis.

“Tenang saja, Bu. Saya bersedia mengantar Ibu selama ada di Malaysia ini. Saya senang membantu orang yang dilanda kesusahan.” Ujar Bu Mashitoh memecah keheningan.

Tanpa pikir panjang lagi, kami pun bergegas mencari alamat yang diberikan satpan tadi. Hingga tibalah kami di sebuah komplek perumahan super mewah. Tak sulit bagi Bu Mashitoh untuk menemukan alamat ini. Alamat ini membawa kami ke gerbang sebuah rumah paling besar di komplek ini.

“Oh, Nyonya Iyem sedang keluar. Sebentar lagi beliau pulang. Silahkan masuk.” Satpam rumah mempersilahkan kami masuk.

Aku melonjak girang. Sebentar lagi aku akan bertemu putriku. Tapi, ada yang mengganjal di hatiku. Kenapa tadi satpam memanggil putriku dengan sebutan nyonya?

Belum sempat berpikir lebih jauh, nampak sebuah sedan mewah memasuki halaman rumah. Aku terpaku melihat seseorang yang keluar dari mobil itu.

“Ya, itu benar Iyem putriku.” Gumamku dalam hati.

Matanya, tubuhnya, alisnya, dan terutama rambut keritingnya tak bisa membohongiku bahwa dia adalah putriku yang kurindukan selama ini. Namun, penampilannya saat ini berubah. Dia tak lagi memakai pakaian sederhana seperti dulu.

“Sayang, kayaknya ada tamu, tuh. Siapa mereka?” Celetuk seorang pria parlente di sampingnya, yang sepertinya suaminya.

Pandanganku bertemu dengan pandangan putriku. Aku sempat melihat bayangan keterkejutan di matanya. Namun, ekspresi selanjutnya dari kedua bola matanya benar-benar tak kuduga, menusuk dan merobek-robek jantungku.

“Siapa kamu?” Hardiknya.

“Aku Emakmu, Nduk. Kamu Iyem kan?” Rengekku mulai meneteskan air mata.

“Iya benar. Tapi aku tak pernah punya orang tua kampungan kayak kamu. Pergi!”

Kata-kata terakhirnya bak halilintar yang menyambar kepalaku. Dan, tubuhku pun ambruk bak pohon kelapa yang tumbang diterjang badai.[]