Tarkam

By: 341

 

Dari kejauhan sayup-sayup terdengar orang riuh ramai. Mendekati sumber suara, tampak orang-orang tengah berkumpul mengelilingi lapangan. Teriakan memberi semangat terdengar silih berganti. Malah sempet ada yang melakukan aksi Mexican Wave darurat. Iya. Karena yang melakukannya hanya dua orang!

Mereka tengah asyik menyaksikan sekelompok orang yang berebut bola di lapangan coklat yang dihiasi rumput hijau. Sekali lagi terdengar sorak-sorai saat si kulit imitasi bulet hampir mangkal di jaring gawang.Kali ini dilengkapi dengan bunyi terompet dan tabuhan pantat aqua galon yang dipaksa menjadi gendang. Semeriah tahun baruan!

“..Daus…! Daus…! Daus..?!” para penonton bersemangat mengelu-elukan salah seorang pemain tuan rumah. Kepiawaian Firdaus dalam memainkan si kulit imitasi bulet memukau ratusan penonton yang memadati lapangan bola di tengah sawah itu. Bola “asal” itu seakan tak mau berpisah dari kaki Daus. Kaya yang dipakein BB Harum Sari. Nempel terus. Postur tubuhnya yang agak kurus memudahkan ia berkelit dari hadangan para pemain lawan. Wajar jika para penonton menjulukinya “Kapten Tsubasa”.

ooOoo

“Selamat ya Us…” ucap pak RT selepas menyaksikan tim yang dibinanya menang.

“Makasih Pak…” jawab Daus sambil menyalami tangan pak RT.

“Kita patut bersyukur atas kemenangan kali ini. Tapi ingat, jangan lengah. Minggu depan kita akan bermain di babak semi final. Jadi jaga kondisi kalian. Dan jangan absen latihan.” Pak Edy sang pelatih dengan berapi-api mengingatkan Firdaus dan kawan-kawan selepas pertandingan. Tapi nggak pake acara nendang sepatu kaya Alex Ferguson.

“Assalaamu’alaikuum….!”

“Wa’alaikum salam. Eh, Daus. Gimana maennya? Menang? Berapa skornya? Kamu masukin gak?” dengan penuh antusias sang Ibu menyambut kepulangan anak kesayangannya. Kalah deh wartawan gosip yang nyari berita.

“Alhamdulillah Bu. Menang. Skornya 3 – 2. saya masukin dua.”

“Waah..bagus. itu baru anak Ibu. Persis Bapakmu dulu. Udah sana mandi. Ibu sudah siapkan sayur sop, dan balado teri kering kesukaanmu.”

Wajah Daus berubah sumringah. Agak terobati rasa lelahnya saat mendengar makanan favoritnya. Dia bergegas menuju kamar mandi. Akan tetapi dia terpaku sesaat ketika melewati kamar kakaknya Anshari. Dari dalam kamar terdengar samar-samar orang tengah diskusi. Dia tempelkan kupingnya di pintu kamar.

“…setelah mimpi basah buat anak laki, dan datangnya tamu bulanan buat perempuan, sejak saat itulah Allah akan memperhitungkan setiap amal perbuatan kita. Termasuk dalam berpakaian. Islam memerintahkan umatnya untuk menutup aurat secara sempurna ketika sudah baligh. Karena itu akan menjaga kehormatannya sekaligus membedakannya dari hewan yang hoby telanjang bulat…” Anshari tengah bercuap-cuap di depan anak-anak sekitar rumah.

Daus cuman mengernyitkan dahi mendengar penjelasan kakaknya. Nggak lama kemudian dia segera meluncur menuju kamar mandi. Bersihin badan, kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki biar …byur..!.

ooOoo

 “Kamu ikut tarkam ya?” anshari membuka pembicaraan saat menemani Firdaus makan malam selepas mengisi pengajian.

“Iya. Nggak percuma dulu aku sempet latihan di SSB Fortuna. Aku jadi deket lagi ama anak-anak sini setelah 2 tahun kost.”

“Kamu enjoy ikut turnament itu?” tanya Anshari datar.

“Yo’a! Meski cuman turnament antar kampung, tapi semua orang di kampung kita mendukung banget. Orang-orang pada nanyain kakak. Katanya ‘mana kakak kamu, Anshari, Us? Udah lama dia nggak pernah maen lagi? Sibuk ya?’ aku cuman bilang ada di rumah. Emang kenapa sih ka nggak mo ikut tarkam kaya dulu lagi, bukannya dulu kakak pemain sekaligus kapten tim kampung kita?”

“Ntar juga kamu paham kenapa kakak nggak maen tarkam lagi. Kapan kamu maen lagi?”

“Minggu depan. Semi final. Datang ya..?”

“Gimana ntar aja. Kakak khan harus ngisi pengajian?”

Huh…Payah..! Daus agak kecewa dengan jawaban kakaknya. Padahal dari dulu dia pengen banget ditonton kakaknya. Karena Anshari yang dulu mengenalkan dia dengan si kulit imitasi bulet. Kakaknya juga yang mensupport Daus untuk ikut SSB Fortuna di daerahnya. Sampai dia mampu unjuk kaki di lapangan rumput.

Nggak tahu kenapa kakaknya berubah sejak setahun terakhir. Mirip Schemeitchel atau Michael Jordan yang berhenti dari klubnya saat sedang di puncak karirnya. Anshari juga sama. Ketika orang kampung menggantungkan harapan penuh padanya agar terus menjuarai turnament sepakbola antar kampung, dia tiba-tiba gantung sepatu. Untungnya nggak pake gantung diri. Tapi nggak ada yang tahu alasannya. Anshari seakan-akan hilang ditelan kegiatan keislaman yang akhir-akhir ini dia geluti. Aneh. Sudah tidak ada sosok beck setangguh Marcel Desaily atau Alesandro Nesta yang mengawal pertahanan tim sepakbola kampung Daus. Yang ada sosok ustadz muda yang terbiasa ber-jeans dan kaos oblong. Tanpa janggut apalagi kopiah haji. Tapi jangan salah, tutur katanya yang gaul tapi gak norak mampu mempengaruhi beberapa teman Daus untuk ikut ngaji. Itulah Anshari, jebolan STM yang dulunya hoby tawuran van bolos. Kini berubah menjadi penyambung lidah ajaran Islam yang agung nan mulia.

 ooOoo

“Sariiii….!!!” Suara tenor sang ibu membahana memecah kesunyian rumah Anshari.

“Iya bu..” Anshari menghampiri ibunya di muka pintu. Sebetulnya Anshari keki juga dengan panggilan sayang sang Ibu. Ghimana nggak, tampang sangarnya yang mirip Morpheus dipanggil dengan nama imut nan centil. Sari!

“Ibu mau nonton Daus. Kamu mau ikut nggak?”

“Nggak Bu. Anshari janji ngisi pengajian.”

“Ya udah. Ibu sudah siapin makanan di lemari kalo kamu lapar. Tapi jangan dihabisin, itu spesial buat Daus. Ibu pergi dulu ya…Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikum salam…”

“…sudah seharusnya selaku muslim, kita kudu ngikutin aturan maen dari Allah sang Pencipta. Biar hidup nggak awut-awutan…” Anshari memulai kajian rutin mingguannya.

“Bisa jadi di antara kita ngerasa susah banget jadi orang baik atau alim. Karena lingkungan kita sudah mulai asing dengan yang namanya kebaikan. Apalagi kalau itu membawa-bawa aturan Islam. Akan selalu ada pihak yang belum merestui kita untuk stay tune dengan aturan Islam. Bisa jadi orang tua, keluarga, sampai teman dekat. Atau bisa juga kepentingan pribadi kita. Di sinilah Allah akan menguji sejauh mana keimanan dan keyakinan kita akan kebenaran yang berasal dari Islam.

“Mmm…berat juga ya untuk istiqomah..” gumam Rudy, siswa kelas 2 SMU yang dari tadi konsen menyimak.

“Memang berat. Tapi don’t worried, karena Allah akan selalu bersama kita. Saat kita berusaha untuk istiqomah. Juga saat hati kita begitu berat mengajak orang untuk ngikutin aturan Allah…” Anshari berhenti sesaat. Pikirannya teringat adik dan teman-temannya yang tengah terlena di lapangan bola dengan kostum yang mengumbar aurat.

“Bener kata kak Rudy…” suara cempreng salah seorang anak binaan Anshari yang masih duduk di bangku kelas 4 SD bernama Heri memecahkan keheningan.

“Teman saya mau nutup aurat sempurna. Seperti kata Kak Anshari, pake jilbab. Tapi orang tuanya melarang. Padahal orangtuanya udah dijelasin. Tapi masih nggak mau ngerti.”.

“lho..kenapa?” Tanya Anshari antusias.

“Nggak tahu. Padahal orangtuanya itu Haji lho kak.”

“Oh ya….saat seperti inilah kita kudu tetep istiqomah. Meski orang-orang terdekat kita belum mendukung. Memang siapa nama teman kamu?”

“Joko..” dengan polos Heri menjawab. Diikuti gelak tawa teman-teman yang lain. Anshari juga ngakak, sekaligus keki.

ooOoo

“Kamu sih Ri, nggak nonton. Seru banget. Apalagi pas Daus masukin saat jam dicuri. Iya khan Us” Ibu mulai nyerocos di hadapan Firdaus dan Anshari yang lagi nge-charge perutnya di meja makan.

“bukan jam dicuri Bu, tapi injured time…” Daus meluruskan.

“Iya. Maksud ibu gitu. Sari, kamu denger nggak kata Ibu. Kamu nggak ngasih selamat ke adikmu” Ibu agak esmosi ngeliat Anshari yang khusyu makannya.

“Oh…iya. Selamat ya us. Kamu masukin gol penentuan ya? Kapan finalnya?”

“Iya ka. Minggu depan. Finalnya di Lapangan Cibedug. ”

“Ooh…” ujar Anshari tanpa emosi.

Nggak biasanya, suasana makan malam kali ini sedingin kediaman orang eskimo. Meski sang Ibu cuap-cuap bak ikan mas kekuranga air, tetep aja Firdaus dan Anshari saling membisu. Entah apa yang ada di masing-masing benak kedua kakak beradik ini. Ada apa gerangan….?? Mari kita tanya Galileo….hehehe…

Hari-hari terus berlalu mendekati akhir pekan pelaksanaan final tarkam. Anshari sibuk dengan kegiatannya yang lagi membuka lahan pengajian remaja di lingkungan rumah temannya di daerah Tajur. Sementara Firdaus and the team, sibuk mempersiapkan fisik dan mental menghadapi final.

“Kamu besok ikut main?” tanya Anshari saat menghampiri Firdaus yang lagi sibuk menyemir sepatu bola Nike-nya.

“Iya dong. Sayang, dilewatkan. Momen kaya gini yang saya tunggu-tunggu sejak saya ikut SSB dulu. Emangnya kenapa” acuh tak acuh Firdaus menjawab.

“…mmm…kamu tahu, kemunduran saya dari dunia sepak bola bukan tanpa sebab. Padahal dunia itu yang menjadi cita-cita saya sedari kecil. Seperti kamu. Tapi….ada beberapa hal dalam dunia sepakbola yang seharusnya megganjal hati kita selaku muslim. Mulai dari seragamnya yang mengumbar aurat sampai fanatisme yang berlebihan dari penonton yang sering memakan korban. Bahkan ada beberapa oknum yang menjadikan tournament sepakbola sebagai ajang judi.”

“Saya tahu. Tapi itu khan kasus kak, nggak bisa disamaratakan gitu dong. Dan saya nggak terlibat langsung dengan kegiatan para oknum itu. Untuk seragam, saya bisa pake pelindung yang menutupi atas sampai bawah lutut. Beres khan?” ujar Firdaus ketus.

“Buat kamu memang beres. Tapi gimana dengan teman-teman yang lain? Apa kamu senang menyaksikan mereka mengumbar aurat di depan mata kamu? Apakah tidak lebih baik jika kita meninggalkan tempat terjadinya kemaksiatan saat kita tak kuasa merubahnya?”

Firdaus terdiam memikirkan kata-kata Anshari.

“Kenapa kakak membesar-besarkan masalah ini? Kalau kakak nggak senang dengan apa yang saya lakukan, jangan halangi saya. Saya sudah besar dan bisa menentukan jalan hidup saya sendiri.” Ucap Firdaus setengah berteriak. Untung cuman setengah. Kalo full, bisa KO tuh axl Rose.

“Daus….tolong beliin ibu beberapa dus Aqua gelas di Sukasari buat besok. Pake motor punya kakakmu aja…!” Ibu berteriak dari ruang tengah.

“Iyaa Bu…!” Jawab Firdaus. Bergegas dia pergi meninggalkan Anshari dengan penuh emosi. Anshari terdiam. Inilah yang selama ini dia khawatirkan. Belum pernah sebelumnya ada perselisihan di antara dia dan Daus.

Jalan raya menuju Sukasari terlihat sepi. Firdaus menjalankan Honda Astrea-nya dengan kecepatan sedang. Seakan menikmati angin malam kota Hujan yang bertiup se poi dua poi. Dalam benaknya masih berkecamuk berbagai pikiran tentang pembicaraan dengan kakaknya tadi. Bukannya tanpa usaha dia mengingatkan teman-temannya akan kewajiban menutup aurat. Bahkan sempat mengajak mereka untuk kompakan pake celana sontog. Tapi itu semua mental dengan aturan baku persepakbolaan. Dalam benaknya terjadi kemelut. Di satu sisi dia paham apa maksud pembicaraan kakaknya tadi. Kewajiban terikat dengan aturan Islam tidak hanya saat ibadah aja. Tapi di sisi yang lain, dia belum bisa berpisah dari dunia sepak bola. Baginya sepak bola ibarat candu. Yang bisa membantu meredakan ketegangan jika ada masalah. Tiada hari tanpa kehadiran si kulit imitasi bulet buah hatinya. Apalagi besok final. Saat yang dinanti-nanti oleh dirinya, ibu, juga teman-teman satu team. Seharusnya tidak ada alasan untuk tidak berlaga esok hari. Kalaupun dia akan gantung sepatu mengikuti jejak kakaknya, biarlah esok menjadi pertandingan terakhir baginya…..

ooOoo

Bau obat menusuk hidung pesek Firdaus yang baru siuman. Mulutnya meringis saat merasakan denyutan di kepalanya berbalut perban putih campur obat merah. Dengan susah payah dia berusaha menegakkan badannya di tempat tidur. Dia masih belum menyadari tempat dia berada. Tangannya terbalut perban dengan selang infus menghiasi kedua lengannya. Sementara balutan gips membuat pergerakan lehernya begitu kaku. Jadi kaya robocop.

Matanya coba men-scan keadaan. Dia lihat Anshari tengah terlelap di bawah tempat tidurnya. Di sampingnya terlihat beberapa teman satu team yang juga terbaring lemah dengan perban, gips, dan selang infus menghiasi tubuhnya. Perlahan Anshari terbangun saat tiang infus yang tertarik tangan Firdaus terjatuh menimpanya.

“Maaf kak…nggak sengaja.” Ujar Firdaus melihat kakaknya yang terbangun sambil merintih kesakitan.

“nggak papa. Kamu udah siuman ya?”

“Ada di mana saya? Apa yang terjadi?”

“Kamu ada di PMI. Setelah pertandingan final itu, para penonton tuan rumah tidak puas dengan kepemimpinan wasit. Karena tuan rumah kalah. Walhasil, setelah pertandingan usai, para penonton menyerang wasit dan para pemain lawan. Bahkan ada yang pake senjata tajam segala. Makanya sudah beberapa hari mereka dirawat di sini” tangan Anshari menunjuk teman-teman Firdaus yang masih terbaring.

“Tapi kenapa saya tidak ingat kejadian itu? apa saya amnesia?”

“Kamu tidak amnesia. Buktinya kamu masih ingat saya. Tapi kamu tidak pernah mengalami kejadian itu. Malam sebelum pertandingan final, motor kakak yang kamu bawa menghantam Hijet 1000 yang hendak berputar haluan di depan Auto 2000 sukasari. Sudah tiga hari kamu tidak sadarkan diri terbaring di PMI ini….”[]

Des’ 99

Selalu ada hikmah,

Di balik setiap musibah…

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 15/Agustus 2003