Trio Bebek Bikin Sunatan Massal

By: Boim Lebon

 

Masih inget kan sama Trio Bebek: Andra, Gugun, dan Boy yang sekolah di SMU Mandiri?

Okay, kalo udah lupa, terpaksa dingetin dulu. Jadi Trio Bebek ini adalah anak-anak kelas 2 SMU Mandiri yang dikenal sebagai pengarang top dan super ngocol! Mereka bertiga paling hobi ngarang, nggak cuma di pelajaran bahasa Indonesia aja, kadang-kadang di pelajaran matimatika juga pada ngarang, kalo bingung ama jawaban, ya udah ngarang-ngarang aja, gitu! Hehehe.

Selain itu mereka juga mengelola sebuah mading alias majalah dinding yang selalu aptudet tiap minggunya dengan tulisan-tulisan yang informatif,   kritik konstruktif dan mampu mengundang ketawa cekakak, cekikik dan cekukuk!

Dan kenapa dikatakan sebagai ‘bebek’, karena mereka cenderung ‘cerewet’ lewat tulisan-tulisan ngocol yang mereka buat dalam menyikapi sebuah situasi dan kondisi yang tidak kondusif. Bahasa kerennya sih kritis! Tapi anak-anak senang menyebutnya dengan ‘bebek’ aja, gitu!

“Lagian bebek juga punya sifat yang baik!” tukas Andra.

“Apaan?” tanya Gugun.

“Ya itu tadi, cerewet! Wek, wek, wek! Cerewet kan sama dengan vokal! Nah, vokal itu artinya kritis! Kritis itu artinya peduli!” papar Andra.

“Dan bebek juga enak buat dirujak!” sambung Boy.

“Rujak apa?” tanya Gugun.

“Rujak bebek! Hehehe!”

Ya, selama ini mereka selalu menyalurkan aspirasi lewat tulisan yang mereka tuangkan melalui majalah dinding tersebut!

“Tapi sekarang kita bikin kegiatan off air!” kata Andra mengajukan usulan.

“Maksudnya?” tanya Gugun.

“Aduh, kok lo nggak ngerti juga, sih?” Andra memandang ke Gugun yang punya badan tinggi jangkung dan jago bikin tulisan puitis.

Off air itu maksudnya kegiatan konkrit yang bisa dilihat dan dirasakan secara langsung oleh audien!” terang Andra yang pinter bikin tulisan melankolis dan mendayu-dayu.

“Dan kegiatan itu berlangsung di atas air?” sambung Boy yang paling seneng bikin tulisan humor dan mencatat pengalaman-pengalaman lucu.

“Bukan, off air itu hanya istilah yang biasa digunakan oleh orang radio dan tv. Kalo kegitan siaran itu on air, nah kegiatan outdoornya itu namanya off air. Begitu juga dengan majalah dinding yang kita miliki ini, kalo bikin tulisannya itu sama juga dengan kegiatan on air, tapi ketika kita bikin kegiatan di luar, namanya off air!”

“Oh, gitu,” ujar Boy. “Okay, terusnya mau bikin kegiatan apaan?”

“Tentu aja yang cocok dengan misi dan visi majalah dinding kita!” timpal Gugun.

“Visi dan misi majalah dinding kita adalah menyebarkan informasi yang baik dan benar kepada banyak orang, jadi menurut saya kegiatan yang memiliki chemistri dengan visi dan misi kita adalah … Gimana kalo sunatan masal?” ujar Andra tiba-tiba.

“Setuju!” teriak Boy.

“Lho, kok langsung setuju aja bikin sunatan masal?” Gugun masih belum mecing dan memandang heran ke aray Boy.

“Eh, majalah dinding ini dibaca oleh banyak orang kan? Artinya masal, kan? Nah, kita juga harus bikin kegiatan yang bisa diikutin banyak orang, ya sunatan masssal gitu loooh!”

“Tapi plis deeeh!”

“Sumpeee lo?”

 ooOoo

Kini di mading megah yang terpampang di dinding sekolah, (ya ukurannya nggak tanggung-tanggung, hampir seluruh dinding kepake buat majalah, dan mereka beri nama ‘SUARA BEBEK YG PALING DALAM’) ada sebuah pengumuman …

“Barang siapa yang mau disunat, maka kirimkan segera via surat dalam amplop tertutup ‘barang siapanya’ itu eh sory, maksudnya nama dan alamat si ‘barang siapanya’ itu ke alamat di bawah ini!”

“Ditunggu selambat-selambatnya 30 hari setelah Anda membaca pengumuman ini, dan bagi sepuluh pendaftar pertama akan mendapat tiket gratis nonton film 30 hari mencari cinta!”

“Adapun yang dibolehkan mengikuti kegiatan sunatan massal ini adalah sebagai berikut:

  1. Cowok
  2. Belum pernah disunat!
  3. Berani (disunat) karena benar!
  4. Takut (disunat) karena salah!
  5. Tidak memiliki biaya yang cukup untuk menyunat sendiri!
  6. Siap tidak menjerit waktu disuntik!
  7. Bersedia dan tidak malu-malu mengikuti audisi yang akan dilakukan oleh lima dokter ahli!
  8. Bersedia mengikuti road show di lima kota setelah dan sebelum disunat!
  9. Bersedia dikontrak selama satu tahun untuk mengampenyakan pentingnya ‘disunat’ di kota-kota besar!
  10. Tidak boleh melakukan perjanjian yang sama dengan pihak lain pada saat Anda sedang disunat di tempat kami!
  11. Bagi perserta yang diterima untuk mengikuti sunatan masal tapi berdomisili di luarkota, tidak boleh diwakili!
  12. Apabila ada yang tidak cocok dengan butir-butir perjanjian ini maka akan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat di muka … Irfan Hakim!

ooOoo

Berita tentang rencana sunatan masal menjadi HL di majalah dinding, dan setiap anak SMU Mandiri membicarakan itu, dan seperti biasa ada yang pro dan kontra. Tapi Trio Bebek nggak peduli, pokoknya meskipun dianggap kegiatan yang kurang hightech-lah, nggak funky, nggak berperikemanusiaan atau whatever-lah, pokoknya kata mereka, “The Sunat Must Go On!

Selain dijadikan headline mereka juga menurunkan topik sunatan masal di rubrik yang disukai pembaca, yaitu rubrik AMKM; Anda Meminta Kami Memble Aje! Isinya pesan-pesan antar siswa.

 

Dari : Bonar Sirait kelas 2 Sos 1

Buat: Anak-anak kelas 2 Sos 2

Ucapan: Hayo, ngaku siapa yang belon disunat? Daptar, daptaaar!

 

Tentu saja ada balasannnya.

 

Dari: Anak-nak kelas 2 sos 2.

Buat: Bonar Sirait di Sos 1

Ucapan: Kita semua udah disunat lagi … tapi belum dapat hadiahnya, hayo mau ngasih hadiah ke kita ya?

 

Juga ada kiriman lain.

 

Dari: Dino Saurus klas 1 3

Buat: Anak-anak yang hobi Futsal!

Ucapan: Ati-ati ah, kalo lagi main futsal, apalagi yg jadi kiper, jangan sampe ntar ngedaptar jadi peserta sunatan masal lagi! Hehehe.

 

Yang jelas anak-anak Trio Bebek berusaha mengampanyekan rencana mereka lewat medianya dan juga lewat beberapa relasi yang telah mereka bina selama ini, seperti Bang Dul tukang pangsit yang rela gerobaknya ditempeli ajakan menyukseskan sunatan masal itu!

ooOoo

Mereka juga sudah ijin ke kepsek, ke beberapa ketua ekskul terutama Osis dan Rohis, yang ternyata semuanya mendukung dan bahkan siap ikutan menjadi panitia.

Makanya Trio Bebek langsung berinisiatif miting dadakan.

“Kita harus mempercepat kegiatan ini, yang semula akan diadakan minggu depan maka dirubah menjadi minggu besok, respon dari teman-teman luar biasa, maka miting ini pun saya buka!” tukas Andra yang kadang nggak sabaran itu. Padahal di situ cuma ada ketua osis dan dua anak rohis yang lagi iseng main-main ke kantor redaksi.

“Ya, saya setuju, terus terang ini kegiatan bagus banget,” kata ketua Osis yang badannya kekar mirip Ade Ray, “karena sosial banget, dan gue banget getu loooh!”

“Maksudnya ?” tanya Gugun bingung.

“Ya, dulu gue juga ikutan sunatan masal tau!” kata si ketua OSIS malu-malu.

“Pantesan lo jadi hoby ama apa-apa yang serba gratisan!” komentar Boy cuek.

“Kita juga mendukung dan siap membantu, tapi kita nggak tau harus membantu apa?” ujar Ema dan Rita yang dari rohis.

“Hm, jadi bagian pengumpulan aja, ya, setelah disunat kan … nanti …” jelas Andra.

“Hiiii … nggak mau, mau …” Ema dan Rita langsung bergidik.

“Eh, bukan ngumpulin gituan! Iiih, kalian ini kok ya sampe sejauh itu?” tegas Andra. “Melainkan ngumpulin hadiah yang akan diberikan kepada peserta sunatan masal.”

“Sponsornya apa aja, sih?” tanya ketua Osis lagi.

“Banyak,” jawab Boy, “di antaranya sarung cap gajah berbaring!”

“Eh, bukan gajah duduk?” jelas ketua Osis.

“Dari dulu duduk melulu, capek tau!” ucap Boy asal. “Sekali-kali berbaringlah gajahnya…”

“Terus berapa orang nih yang mau disunat?” tanya Ema lagi.

“Oh, ya jumlahnya belum ditulis, tuh? Syarat yang lainnya sih, udah!” ingat Andra. “Nanti pesertanya membludak lagi?”

“Jadi gimana?” tanya Gugun yang sejak kecil hobi nanya.

“Ya, sebaiknya dibatasin aja. Dokternya kan cuma satu,” jelas ketua OSIS.

“Dokter siapa?” tanya Gugun lagi dan lagi.

“Namanya Dokter Sudiyanto, biar nanti saya yang menghubungi. Dia rela nggak dibayar waktu menyunat, kok.”

“Wah, luar biasa baik sekali!” komentar Boy salut. “Jarang dokter kayak gitu.”

“Karena dia baru mau dibayar setelah acara sunatan selesai …” sambung ketua Osis lagi tanpa dosa.

“Yeee, sama aja bodong!” umpat Boy sebal.

“Jadi berapa orang nih yang harus kita undang?” tanya Gugun lagi.

“Ya, kalo gitu seratus orang, deh!” tukas Boy asal.

“Gila, untuk nyunat satu orang diperlukan waktu setengah jam, terus dikali seratus, bakalan selesai berapa jam? Ntar dokternya kecapekan, bisa salah sunat lagi!” tukas Andra.

“Ya, udah sepuluh orang aja!” usul Rita.

“Ya, setuju! Karena ini kegiatan kali pertama di sekolah kita, jadi kita tetapkan sepuluh orang aja!” jelas ketua Osis seraya memutuskan.

“Okay rapat ditutup!” kata Andra mengakhiri rapat kilat itu.

 ooOoo

Meski tulisan tentang rencana kegiatan sunatan masal beberapa kali menjadi HL, dan banyak dapat dukungan, tapi anehnya menjelang hari H belum kelihatan yang mendaftar.

“Aneh? Kok belum ada yang ngedaftar, ya?” Andra bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Padahal tinggal sehari lagi?”

“Iya, kenapa ya?” tanya Gugun yang cuma bisa bertanya dan bertanya.

“Apa karena kita percepat?” Andra seperti menggugat keputusannya sendiri.

“Mungkin mereka nggak tau, kalo ikutan sunatan masal di sini bakalan dapat hadiah?” ujar Boy coba memberi jawaban.

“Ah, enggak juga, di mading kan udah dijelasin?” tukas Andra.

“Di mading?” tanya Gugun.

“Eh, iya kan selama ini pengumumannya cuma di mading?” Andra ikut bertanya.

“Dan gerobak mi Bang Dul!” tukas Boy.

“Di kantin?” tanya Gugun.

“So, pengumumannya hanya di lingkungan sekolah aja, wah jangan-jangan yang di luaran malah nggak tau, jadi nggak ada yang ngedaftar!”

“Hm, bisa jadi. Atau bisa juga anak-anak di sekitar sekolah ini sudah disunat semua?”

“Iya, bisa jadi, kita kan belum survey!”

“Atau mereka malu ikutan sunatan masal?”

“Iya, bisa jadi, lingkungan sekolah kita kan lingkungan elit!”

“Astagfirullah, kenapa nggak terpikirkan sejak awal?” tukias Gugun. “Jadi gimana, dong?”

“Yach, terpaksa malam ini kita harus bergerilya mencari orang yang mau ikutan sunatan masal!”

“Tapi nyarinya ke mana?” tanya Gugun lagi.

“Eh, kita kan bertiga wartawan majalah dinding, kita punya naluri jurnalis!” tukas Boy. “Cuek aja lagi!”

“Jadi jemput bola?” tanya Gugun.

“Jemput bola?” sela Boy. “Jemput orang lagi!”

“Eh, itu istilah honey!” tukas Gugun sebal.

“Yeee, gitu aja dibahas!”

ooOoo

Besok paginya Dokter Sudiyanto, yang ditemani ketua OSIS dan wakil anak rohis, Ema dan Rita, juga beberapa anak teater, anak pecinta alam, PMR, serta Paskibra sudah pada siap. Tapi belum kelihatan tanda-tanda acara bakal dimulai. Yang mau disunat juga belum kelihatan batang idungnya, begitu juga dengan penggagas acara itu.

“Eh, mana anak-anak Trio Bebek? Kok belum kelihatan?” tanya ketua Osis bingung.

“Yang mau disunat juga belum ada, nih?” tanya Ema.

“Iya, nggak enak ama dokternya!” bisik seorang anak pecinta alam. “Dia udah stenbai dari tadi.”

“Udah, deh, biar dia nggak nganggur elo aja disunat lagi!” ujar anak teater bercanda.

“Enak aja luh!”

“Eh, tuh mereka!” teriak Ema dan Rita menunjuk ke pintu gerbang.

“Ya, amplop ke mana aja sih?” sergah si ketua Osis.

Di belakang Trio Bebek ada sekitar sepuluh anak yang penampilannya dekil en de kumel!

“Abis ngejemput anak-anak yang mau ikut sunatan masal!” jawab Andra yang nampak lelah itu.

“Jemput di mana, kok kayaknya jauuuh banget?” tanya Ema.

“Mereka ini anak-anak jalanan yang suka ngamen, jadinya ya kita nemenin mereka ngamen dulu!” tukas Boy.

“Okay, deh, kita mulai aja!” tukas ketua Osis sambil mempersilakan pak dokter masuk ke ruang aula yang sudah didesain menjadi tempat penyunatan masal. Kesepuluh anak itu juga ikut masuk.

Tapi tak berapa lama, dokternya keluar lagi sambl geleng-geleng kepala.

“Eh, kenapa Dok?” tanya Andra khawatir.

“Ketinggalan gunting, ya?” tebak Boy.

“Atau pisaunya udah nggak tajem?” tebak Gugun.

“Bukan, bukan itu!” kata pak dokter seraya mengatur napasnya. “Kok, mereka itu, sudah pada disunat semua, sih?”

“Hah?” semua kaget.

Andra langsung masuk dan menanyai semua anak itu, “Eh, kalian gimana, sih? Udah disunat tapi kok ya ikut-ikutan sunatan masal?”

“Lho, semalam kan kakak-kakak ngomongnya begini; ayo siapa yang mau ikutan sunatan masal, nanti dapat hadiah? Ya, kita sih mau aja dikasih hadiah, tapi kan kakak enggak nanya apakah kami sudah disunat atau belum? Hehehe, iya kan?”

Tiro Bebek geleng-geleng kepala. Pusing.

“Ya, amplop!” semuanya juga nggak tau harus berbuat apa.

“Jadi gimana, nih?” tanya Gugun.

“Aduh, jadi nggak enak ama pak dokter!” ujar Andra.

“Sudahlah, nggak apa-apa,” kata dokter berusaha bijaksana, “saya malah bersukur kalo anak-anak di sekitar sini sudah disunat semua dan mereka sudah bisa menyunat dengan biaya sendiri. Apalagi para anak jalanan ini, jadi kita nggak usah repot-repot lagi, kan?

“Nah, karena niat kalian ingin memberikan hadiah ya sebaiknya hadiah-hadiah itu   diberikan kepada mereka, toh anak-anak jalanan itu juga orang yang perlu dibantu meskipun semuanya ternyata sudah disunat …. “

“Iya kan?”

Trio Bebek manggut-mangnut dan kemudian memberikan hadiah-hadiah itu ke para anak jalanan.

Dan setelah dokter pulang bersama anak-anak jalanan, yang lain langsung menatap Trio Bebek dengan tatapan menghujam!

“Eh, lain kali kalo mau bikin acara persiapannya kudu mateng, ya?”

Anak-anak Trio Bebek langsung duduk menggelesor di koridor sekolah sambil menangis bersama dengan birama empat per empat.

“Ihik, ihik, ihiiiks ….”[]

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 09/Juni 2005