Twin Connection

By: Wita Dahlia

Brak!!

“Ya Tuhan, kau gila Areta! Kau sudah gila!” jeritku. Tanganku meremas gagang pintu. Aku masih berharap mataku salah menyampaikan pesan gambar yang ditransfer oleh otakku. Namun meski aku berkedip berkali-kali, Areta tetap di sana, dengan pakaian putih anehnya, membeku di tempatnya. Dalam sepersekian detik, kami saling menatap. Lalu kesadaran itu membuncah. Areta berlari ke arah pintu dan menyeretku paksa, masuk dalam kamarnya. Lalu kudengar ia membanting pintu di belakangku dan menguncinya dua kali.

Kini kami berdiri berhadap-hadapan. Areta menggosok wajahnya dengan tangan, lalu memiringkan kepalanya ke arahku. “Apa yang kau lihat, Ardelle?” Perlahan ia membuka dan melipat pakaian anehnya. Tangannya gemetar.

“Aku melihat orang gila berpakaian putih aneh, yang bergerak dengan gerakan asing di mataku.” tuturku dingin.

“Meski kita belakangan ini tak terlalu dekat, aku harap kau mempercayai keputusanku ini. Kau pasti ingat, ketika kau memutuskan untuk berdandan dan berpakaian yang berbeda denganku, aku mempercayai keputusanmu.”

“Oh, kau memanfaatkan stok cerita masa lalu. Kau berharap cerita itu bisa menjadi alat barter bagiku untuk menerima keputusanmu?” aku mendengus.

Dia menghirup napas dengan frustasi lewat hidungnya. Ia bagai anak kecil yang coba menyusun puzzle agar kembali utuh. Sayang puzzle itu telah kehilangan kepingan-kepingan gambarnya.

“Kumohon mengertilah. Aku tahu ini tak mudah. Tapi bagaimanapun, kau adalah saudaraku. Aku butuh dukunganmu.”

“Kali ini kau memanfaatkan status kekembaran kita ya? Aku takkan mendukungmu. Tidak akan.”

Aku bergegas keluar. Meninggalkan mata birunya yang lelah menatapku. Sebelum aku benar-benar meninggalkan kamar, sempat kudengar ia memohon lagi.

“Tolong jangan ceritakan pada ayah, bahwa kau melihat aku sholat.”

Aku mendengus. Lagi. Sebenarnya aku bisa saja menginterogasinya kali ini. Menanyakan di mana ia mendapatkan gerakan bodoh itu, pakaian aneh itu, atau bahkan pemikiran aneh itu. Namun hal itu enggan kulakukan. Masalahnya sepele, dua tahun lalu, ketika kami SMA, menjelang kelulusan, ia keluar dari tim pemandu sorak sekolah kami, tepat sehari sebelum pementasan. Ia keluar begitu saja, dan memporak-porandakan format kami.

Sebagai saudaranya, kembar identik pula, akulah yang didaulat paling besar memikul tanggung jawab kepergiannya. Seperti orang bodoh, aku terus membujuk dan menanyakan alasan ia keluar. Menjadi anggota tim pemandu sorak adalah impian setiap gadis di sekolah kami. Hal apa yang kira-kira terendap dibenakmu hingga kau keluar dari tim yang paling bergengsi di sekolahmu?

Bila kau tak tahu jawabannya, begitulah kira-kira yang terjadi padaku. Aku benar-benar frustasi dibuatnya. Namun begitu aku tahu alasannya, gelombang kemuakan menerpaku. Areta keluar, hanya untuk sebuah alasan: ia tak ingin tampil dengan rok di atas lutut.

Aku sangat marah hingga ubun-ubunku nyaris meledak. “Kenakan saja gaun tidurmu saat kau tampil nanti. Kau akan tampil tertutup dan tak satu pun sudi menontonmu.” Kataku saat itu. Ia bergeming. Benar-benar tanpa perlawanan. Namun lelehan air matanya menjawab satu hal, ia sangat terluka lebih dari apa yang kulihat.

Sejak itu kami tak lagi dekat. Kami menghabiskan waktu remaja kami dengan teman dan pergaulan yang berbeda. Meski akhirnya kami sama-sama masuk Tulane University, New Orleans, kami mengambil jurusan yang berbeda. Aku memilih Liberal Arts dan hukum adalah pilihannya.

Kendati kami berpenampilan berbeda –sejak kecil ayah kami, Jorell Barnes, memberi kebebasan pada kami dalam memilih jenis pakaian. Karena tampil sama, menurut ayah artinya tidak mengakui hak kebebasan kami— banyak orang salah mengenali kami, kecuali Mom tentunya. Setelah Mom meninggal, maka otomatis tak ada lagi orang yang benar-benar dapat membedakan kami.

Aku gemetar menuruni anak tangga. Bayangan Areta dalam balutan pakaian putih anehnya terus menggumpal di otakku. Dari mana Areta mempelajari agama yang asing bagi keluargaku itu?

ooOoo

Aku termangu di depan kanvasku. Beberapa rekanku telah menumpahkan emosinya pada masing-masing kanvas di hadapan mereka yang ditopang kaki tiga. Bagai tersihir, masing-masing dari mereka mulai tak menyadari meski ada orang lain di dekat mereka. Seperti ada tirai-tirai putih dari langit yang melingkupi, sehingga yang ada hanya kau dan kanvasmu. Tak perlu ada objek, karena tema lukisan kali ini adalah melukis yang ada di kepala. Aku mulai memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi. Mula-mula aku hanya mendapatkan bayangan dalam kepalaku. Perlahan-lahan bayangan itu kian jelas, kian dekat, hingga aku mendapatkan gambaran hingga ke garis-garis detailnya. Kuas –yang konon terbuat dari bulu musang— yang ada di tanganku terus bergerak, bergerak dan bergerak.

“Nona Barnes, apa yang kau lukis?” Suara bariton Mr. Frank mengejutkanku, mengembalikan kesadaran akan suasana kelasku. Aku menoleh, mendapati pembimbing kelas melukisku itu berdiri di sampingku, dengan mata menyipit menatap lukisanku. Aku berbalik kembali, turut menatap hasil lukisanku yang belum sempurna. Seraut wajah cantik perempuan dengan penutup kepala yang terjulur hingga dadanya. Penutup kepala yang biasa dikenakan perempuan-perempuan Arab.

Aku tersentak, aku mengenali wajah itu. Astaga, itu wajahku. Tapi, tidak mungkin. Aku tidak pernah bisa melukis wajahku sendiri tanpa bantuan foto. Aku pernah mencobanya beberapa kali, dan gagal. Lalu kesadaran itu datang, itu bukan wajahku, itu wajah Areta.

Bersamaan dengan itu tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa pada lengan kiriku. Lengan kiriku berasa lumpuh dan terkulai. Terhuyung-huyung aku bangkit. Tak kupedulikan lagi suara Mr. Frank yang terus memanggilku. Aku berjalan tersaruk mencari pintu. Lukisan itu, rasa sakit ini, bayangan Areta menari-nari di kepalaku.

Sebelumnya, aku pernah merasakan hal seperti ini. Waktu itu umurku 5 tahun. Mom mengajakku dan Areta menemaninya berbelanja di Wall Mart. Namun ketertarikanku akan seperangkat alat lukis pertamaku mengalahkan segalanya. Aku menolak turut serta. Saat itu aku sibuk menumpahkan banyak warna dan tiba-tiba aku berguling kesakitan. Saking sakitnya, hingga aku merasa ada tulangku yang patah. Ketika ayah menghampiriku dan berkata kami harus ke rumah sakit, baru kusadari bukan aku yang menderita, namun Areta yang ternyata celaka. Di kemudian hari aku tahu, Areta mengalami patah tulang akibat terjatuh dari tangga, yang lupa disingkirkan oleh petugas Wall Mart.

Para ahli fisika kuantum mendeskripsikan itu sebagai ‘partikel kembar’. Foton-foton energi yang terpisah meski ribuan mil, berperilaku sama ketika dihadapkan dengan suatu pilihan. Ada semacam hubungan yang tak terlihat, yang mengikat antara keduanya dengan kecepatan yang tidak bisa dibandingkan dengan kecepatan cahaya.

Penjelasan dari sisi human interest-nya adalah orang akan selalu memiliki perhatian dan kepedulian terhadap orang yang mereka kasihi. Karena itu, pada suatu titik, perasaan itu akan saling mengikat sehingga ketika mereka merasakan sesuatu, maka perasaan itu pun akan menjadi kenyataan.

Apa pun nama dan bentuknya, itulah yang terjadi antara aku dan Areta. Energi itu tak hanya menerpaku, namun juga menimpa Areta. Dan perasaanku saat ini, kuyakini sebagai suatu kondisi yang menimpa saudara kembarku.

Setengah berlari aku menuju parkiran. Tergesa kubuka kunci mobil dengan remote dan menghempaskan tubuhku di belakang kemudi. Dalam beberapa detik, aku sudah menyusuri St. Charles Avenue dan melewatkan keindahan Audubon Park. Pohon ek yang menjulang di kanan kiri jalan bagai tangan-tangan yang ingin meraihku. Tujuan awalku adalah rumah. Jika tak kutemukan Areta di sana, aku akan mencarinya di tempat lain.

Tiba di halaman rumahku yang luas dan berumput lembut, kuparkirkan mobil sembarangan dan melesat menuju kamar Areta. Namun, di anak tangga yang menghubungkan perpustakaan dengan lorong kamarnya, tubuhku membeku. Di ambang kamarnya, aku menyaksikan tubuh Areta terkapar. Baju berlengan panjang yang ia kenakan, sebelah kiri lengket karena darah. Yang mencengangkan, Areta menggunakan penutup kepala berwarna coklat dan berpakaian seperti yang biasa digunakan perempuan-perempuan Arab. Pada  tangga teratas, 2 meter di hadapanku, ayah berdiri tegak. Senjata otomatis kaliber 0,40-nya terarah ke Areta dengan keheningan yang absolut. Bau alkohol menguar dari tubuhnya.

Melihat kehadiranku, Areta berusaha bangkit. Aku berlari kencang, melompati anak-anak tangga dengan panik. Dengan kekuatan penuh, kutubruk tubuh ayah. Tepat saat itulah, nyala jingga meledak dari moncong senjata ayah. Aku terhempas. Saat itu aku merasa, aku benar-benar mati.

ooOoo

Cahaya putih menyilaukan retinaku. Kesadaranku belum penuh, saat kudengar sebuah suara menyerupai dengungan. Awalnya terdengar asing, namun perlahan, suara itu menghipnotisku. Ia mengalun bagai sebuah simfoni yang keindahannya tak setara dengan apa pun yang pernah kudengar selama hidupku.

Sebuah perasaan damai dan nyaman datang merayapi sudut-sudut hatiku yang basah. Ada rasa sakit yang sangat pada pinggangku. Namun sungguh, kebahagiaan itu bagai membasuh rasa sakit, yang demi meraihnya, aku rela melakukan apa saja.

Aku kira aku sudah mati. Namun tatkala bayangan sebuah wajah mengambang di atas mataku, aku sadar, nyawaku masih menjadi bagian dari jasadku.

“Areta?” suaraku serak.

Ia tertegun. Menurunkan kitab Arabnya dan menatapku. Lagi-lagi penutup kepala itu, membalut wajah tirusnya. Lengan kirinya tertutup perban.

“Alhamdulillah.” Ucapnya. Matanya bersimbah airmata.

“Itu yang tadi kau baca?” mataku mengarah ke kitab yang dipegangnya.

“Ya. Ini….al-Qur’an.” Ia terbata.

“Berapa lama kau belajar membacanya?”

“Dua tahun. Tepat saat aku berhenti dari tim pemandu sorak.”

Aku terdiam. “Rasa seperti itukah yang kau rasakan, tiap kali kau membacanya?”

“Apa?” ia mengerutkan keningnya tak mengerti.

Aku terdiam. Mengabaikan pertanyaannya. “Mau kau mengajariku membacanya?”

Matanya mengerjap. Tak percaya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

“Tentu Adelle Barnes. Tentu.”[]

 

Bogor, 14 April 2013

Wita Dahlia, ibu rumah tangga, tinggal di Bogor