YHVH EYE

By: Tulus Sajiwo

 

Mei 2008, New York City

“…Satelit ini dirancang oleh puluhan pakar dari berbagai benua. Setiap benua diwakili oleh minimal seorang saintis dan atau engineer yang menguasai di bidangnya. Investasi yang kami keluarkan untuk barang ini tidaklah sedikit, $US 20 triliun. Dibuat dengan tujuan yang mulia untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia di planet bumi.

Saat ini peran teknologi informasi, sangatlah maju pesat bagaikan bola salju yang sulit dibendung. Bermacam kemudahan bisa kita rasakan saat ini akibat informasi yang kita dapati. Misi utama satelit ini, membantu eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam di planet bumi. Kesulitan yang kita hadapi saat ini masih susahnya mendeteksi sumber daya alam berupa mineral, barang tambang, gas, minyak bumi, dan sumber daya alam vital lainnya. Sebelum munculnya satelit ini, kita sulit dan seringkali gagal dalam mendeteksi sumber-sumber alam tersebut, sehingga memakan kerugian waktu dan biaya cukup besar, sementara kebutuhan semakin mendesak.

Satelit ini juga mampu meramalkan dan menginformasikan kondisis cuaca di bumi dalam perubahan detik, bahkan mampu mendeteksi seekor tikus yang berada di kedalaman tanah 100 meter, termasuk mampu mengetahui jenis kelamin dan usia tikus tersebut. Selain itu, satelit ini juga bisa membuat mapping (pemetaan) sebuah negara hingga detailnya, sekaligus mampu mendeteksi sebuah percakapan suami-istri membicarakan masalah dapurnya.

Bayangkan lagi, andapun sanggup mengakses data dan informasi-informasi tersebut hanya melalui ponsel Anda. Cukup dengan satelit ini, tanpa perlu menggunakan puluhan satelit untuk tujuan yang banyak dan bermanfaat.

Demikianlah saudara-saudara saya rasa cukup sekian, mari kita manfaatkan teknologi ini sebaik-baiknya dengan disempurnakan oleh undang-undang yang mengatur penggunaannya serta digunakan bagi kesejahteraan umat manusia. Satelit ini dapat menjadi “roti” atau “nuklir” bagi manusia. Wassalam……….”

Profesor Abdussalam 66 tahun, mengakhiri pidatonya di depan Kongres Asosiasi Antariksawan Seluruh Dunia. Gemuruh tepuk tangan mengantarnya turun dari podium. Sementara puluhan lampu blitzh menerpanya silih berganti. Ia kembali duduk di kursinya bersebelahan dengan asisten penelitiannya, Prof. John Owen. Di sebelah kanannya berturut-turut Jend. Clark, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, dan Kepala Dana Project, Mr. Adam Smith. Di belakang mereka terpampang layar LCD ukuran raksasa yang menampilkan gambar satelit bertuliskan YHVH EYE, berbentuk udang laut raksasa dengan latar belakang galaksi Bimasakti.

 

——-

 

Institut Teknologi Antariksa Florida, Amerika.

Semetara itu di sebuah daerah pegunungan yang sejuk dan indah di kawasan Institut Teknologi Antariksa Florida, nampak sibuk puluhan ilmuwan dan engineer dari berbagai benua lalu-lalang dengan pakain serba putih. Mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing. Beberapa ilmuwan Eropa sedang mengutak-atik rangkaian elektronik dengan komputernya. Ilmuwan Afrika sibuk melakukan simulasi satelit “udang” itu. Beberapa ilmuwan Asia sibuk berpikir di depan komputernya. Seorang ilmuwan dari Asia kelihantannya sedang berpikir keras, memecahkan suatu kunci rahasia pemograman sistem kerja satelit YHVH EYE.

Tiba-tiba suara kencang menegur pria Asia yang sibuk di depan komputernya itu.

“ Hai Jay, bagaimana sistem programnya sudah bisa dicoba?” Lelaki Asia itu segera menoleh dan tersenyum kaget.

“Kelihatannya sudah sempurna program ini. Mungkin besok pagi bisa kita coba sambil menunggu professor Abdussalam, Tuan Bosnik “.

“Baiklah kalau begitu, divisi instrumentasiku sudah siap, begitu pun dengan divisi yang lain kelihatannya mereka sudah matang juga. Oke Mr. Wijaya semoga berhasil!” tegas Bosnik, pria berkebangsaan Eropa Timur, tepatnya Kroasia.

Baru saja Mr. Bosnik keluar dari ruangan Wijaya, dering telepon menyapa telinga ilmuwan Asia bermata sipit itu.

“Assalamualaikum. Akhi Wijaya, bagaimana kabarnya? Semoga sehat selalu. Amin. Bagaimana programnya sudah dapat dicoba?” terdengar suara wanita dari speaker telepon.

 

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Alhamdulillah saya baik saja, begitupun dengan program kita saat ini sudah sempurna semua, tinggal saatnya mencoba kembali besok bersama Profesor,” sapa Wijaya.

“Bagaimana pula kabar Anda, ukhti Dewi? Semoga rahmat Allah bersama Anda!” lanjut Wijaya.

“Alhamdulillah saya baik sekali hari ini Amin,” jawab wanita yang ternyata bernama Dewi.

“Ukhti, baimana jika nanti malam kita ke rumah Professor Abdussalam. Di sana kita bersama sholat hajat agar misi peluncuran satelit ini berhasil sekaligus ada yang harus kita bertiga perbincangkan?”

“Insya Allah Akhi. Jam berapa tepatnya?”

“Ba’da Isya. St. John Park 39. Profesor menunggu kehadiran kita”

“Baiklah kalau begitu,”

Keduanya merupakan kawan senegara dan sebenua. Mereka berasal dari salah satu negeri kaum muslimin, Indonesia. Mereka berdua adalah putra-putri terbaik dengan otak jenius dan cemerlang yang telah lulus seleksi oleh tim antariksawan dunia. Usia mereka masih sangat muda saat ikut program ini.

Wijaya nama lengkapnya Antonius Wijaya. Setelah masuk Islam namanya berganti Ahmad Wijaya. Pernah menjuarai Olimpiade Fisika dan Matematika se-Asia tingkat SMU, dengan judul proyek “JAYA++ Sebagai Bahasa Pemograman Komputer Indonesia Pertama”. Dengan kecerdasannya inilah ia mendapat beasiswa melanjutkan studinya. Pilihannya jatuh pada jurusan ilmu komputer, di Institut Teknologi Antariksa Florida sekaligus atas permintaan Asossiasi Antariksawan Dunia. Wijaya berdarah Cina-Jawa. Ayahnya seorang pengusaha kebun kopi di daerah Semarang. Sementara ibunya Jawa-Semarang mereka awalnya keluarga Nasrani yang patuh. Namun hidayah Allah rupanya berkenan mampir ke rumah orang tua Wijaya.

Sementara Dewi, adalah muslimah dengan jilbabnya yang rapi. Dahulu adalah seorang mahasiswi yang aktif dan jenius di sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Kejeniusannya, khususnya ilmu fisika, spesialisasi Fisika Quantum yang hitungannya sangat kusut dan kompleks sanggup ia pecahkan. Ia pun sanggup menyelesaikan sarjananya dalam waktu 2,5 tahun dan langsung mendapatkan tawaran beasiswa di lembaga NASA. Nama panjangnya Dewi Wulandari. Anak seorang guru agama di kampungnya. Mengenyam pendidikan Islam dan Sains di kampusnya. Kecerdasannya ini akhirnya membawanya pergi ke negeri Paman Sam.

 

——-

 

Pukul 20:00 waktu Florida,

St. John Park 39. Di kawasan rumah bernuansa alami sederhana namun bersih dan tertata rapi. Saat memasuki ruangannya terasa hawa yang teduh dan damai. Demikianlah penilaian setiap orang yang singgah ke sana. Kediaman Professor Abdussalam pria tua keturunan Palestina yang dibesarkan di Amerika. Kejeniusannya banyak disegani ilmuwan dunia.

“Assalamualaikum.” suara wanita memecahkan kesunyian malam yang dingin itu.

“Waalaikum salam warahmatullah wabarokatuh. Silahkan masuk Nak Dewi “ dari balik pintu muncul pria berwajah tua dengan rambut hampir seluruhnya putih bersama seorang wanita tua berjilbab putih dan rapi.

“Akhi Wijaya sudah tiba ustadz?” tanya wanita muda manis dan cantik itu.

Bagi Dewi dan Wijaya, Professor Abdussalam dianggap sebagi ustadz sekaligus orang tuanya. Sekalipun beliau adalah atasannya di Proyek Antariksa NASA.

“Belum Nak Dewi. Silahkan masuk! Saya dan ibu sudah menunggu kalian. Ummi tolong Nak Dewi diajak ke dalam ”.

Selama ini professor Abdussalam hanya hidup berdua dengan sang kekasih istri tercinta. Allah ternyata sampai saat ini belum memberikan mereka keturunan. Sang istri, seorang warga muslim Amerika. Bernama Wardah, juga seorang ilmuwan namun sudah mengundurkan diri.

Sepuluh menit kemudian, terdengar deru suara sepeda motor dari arah belakang rumah. Segera saja Professor menuju sumber suara. Dari balik tirai diintipnya, dan nampak sesosok tubuh pria bermata sipit tergopoh-gopoh menuju pintu belakang rumahnya sampil membawa komputer jinjing.

“Asssalmualaikum…”

“Waalikum salam warah matullah wabarokatuh”

“Maaf Ustadz saya terlambat. Di luar tadi ada sedikit masalah” nafasnya masih terengah-engah.

“Mari masuk. Kita bicarakan di dalam. Nak Dewi dan ibu sudah menunggumu”

Lelaki itu ternyata Wijaya yang juga murid kesayangan Profesor Abdussalam. Belum lagi ditanya, Wijaya menceritakan masalahnya.

“Pada saat saya ke sini. Beberapa orang mengikuti saya dengan berkendaraan Jeep. Saya ambil inisiatif melalui perkebunan. Kebetulan saya tahu menuju arah kebun belakang Professor. Ya, sampailah di sini,” kisah Wijaya.

Tepat pukul 20:30. Setelah mereka minum-minum kopi hangat pertemuan mereka dimulai. Profesor, istrinya serta dua muridnya menuju sebuah ruangan rahasia. Ruangan tersebut berada di bawah tanah berlantai dua. Dirancang oleh mereka berempat lengkap dengan fasilitas penelitian serta buku-buku yang lengkap. Layaknya laboratorium modern saat itu. Fasilitas keamanan yang lengkap dan terjamin membuat mereka lebih leluasa. Sebab, mereka menyadari betul akan kelicikan musuh mereka serta antek-anteknya yang juga kawan mereka sendiri dalam penelitian di lembaga NASA.

Di sinilah mereka bicara dan membahas masalah kaum muslimin dan keislaman serta penelitian sains dan satelit mereka. Mereka membahas hal-hal rahasia menyangkut proyek satelit serta strategi menghadapi kelicikan dan kejahatan kaum Barat dan Yahudi, serta membahasa masalah rahasia mereka. Di ujung pertemuan itu Professor Abdusalam membahas sekaligus memberikan pelajaran Islam kepada murid-muridnya itu.

“Muridku, perjuangan kita nampaknya masih panjang dan semakin berat. Belumlah seberapa perjuangan kita ini dibandingkan dengan perjuangan saudara kita di belahan dunia yang lain. Apalagi dibandingkan dengan perjuangan para sahabat Rasulullah. Mereka rela menyerahkan seluruh jiwa dan raga mereka. Apalah artinya jika dibandingkan dengan kita. Namun, sementara hanya ini yang bisa kita berikan untuk Islam dan umat. Begitupun halnya dengan kalian berdua, yang sudah kuanggap sebagai anak dan muridku. Tetaplah di jalan Allah dan Rasul-Nya. Jangan engkau menyimpang darinya. Pesan dan anjuranku, segeralah kalian menikah agar perjuangan ini dapat dilanjutkan oleh generasi kalian. Insya Allah benih yang bagus akan menghasilkan buah yang bagus pula. Perjuangan ini harus dilanjutkan!” Profesor Abdusalam mengakhiri wejangannya.

 

——-

 

Keesokan harinya, di ESMC (Eastern Space and Missile Centre) Pantai Forida.

Jam ke jam, menit ke menit, detik ke detik seakan begitu menegangkan bagi kru antariksa NASA. Mungkin sebagian orang di belahan dunia lain tidak mengindahkan, khususnya dunia Islam atau mereka tidak tahu menahu akan hal itu. Tapi tidaklah demikian dengan Presiden Amerika dan PM Israel. Mereka tersenyum bangga dan bahagia melihatnya. Inilah saatnya kejayaaan mereka.

“Mata Tuhan (YHVH EYE)” sudah kumiliki. Hahahaha….” Mereka tertawa bahagia.

Itulah anggapan mereka. Mereka mengira bahwa mereka sudah mampu memperdaya kaum muslimin. Anggapan mereka telah mampu menandingi Tuhannya. Astaghfirullah al adzim.

Pukul 3:00 waktu Amerika. Peluncuran roket tak berawak yang membawa Satelit YHVH EYE, segera diluncurkan menggunakan sistem PAMD. Hitungan mundur dimulai. Lima, empat, tiga, dua, satu, nol dimulai. Untuk peluncuran ini menghabiskan dana $US 5,8 triliun. Beda halnya dengan enam tahun yang lalu, peluncuran roket menggunakan bahan bakar hidrogen dan oksigen cair. Kini mereka menggunakan teknologi laser, yang nyaris tanpa asap dengan kekuatan dorong yang lebih cepat. Hidrogen dan oksigen cair digunakan sebagai cadangan bahan bakar saja setelah berada di ketinggian maksimal lapisan bumi.

Beberapa saat kemudian satelit mulai diorbitkan. Mimpi mereka dan manusia akan segera terwujud. Komunikasi bertambah maju dan bergerak cepat luar biasa serta kemudahan mengeksplorasi sumber alam semakin mudah. Krisis sumber energi akan segera dapat ditanggulangi. Kesuksesan tim peneliti NASA, dirayakan dengan pesta-pora di gedung laboratorium antariksa terbesar dan tercanggih di dunia itu.

Lain halnya Dewi, Wijaya, Profesor Abdussalam dan istrinya mereka mensyukuri karyanya dengan sujud syukur dan jusrtu berkecil hati kepada Allah yang menciptakan mereka sehingga bisa menghasilkan karya tersebut. Sikap tawadhu mereka membuat rekan-rekannya semakin salut walaupun ada yang merasa dengki dan benci juga. Keempat muslim itu ternyata memiliki kekhawatiran yang sama akan efek dan penggunaan satelit itu. Mereka sangat khawatir dengan antek-antek Yahudi dan Amerika. Pembacaan mereka berempat akan penyelewengan fungsi satelit untuk kepentingan Barat dalam memata-matai kaum muslimin di dunia semakin nyata. Antisipasi yang mereka susun pada malam hari kemarin masih menimbulkan peluang kegagalan. Itulah kekhawatiran mereka berempat.

“Mari Professor, kita bersulang” sapaan ramah asisten proyeknya memecahkan lamunan Professor Abdussalam.

 

“Maaf, agamaku melarang meminum minuman yang memabukkan seperti itu” jawab Professor dengan tegas.

Oh, sorry Prof. I’m for get it “ sambil tertawa sang asisten berjalan menuju kelompok berseragam militer di barisan belakang.

“Selamat datang Tuan Jenderal Clark, mari bersulang”

“Ya, selamat atas keberhasilan kalian Professor Owen. Mari kita bersulang”

Sementara itu Profesor Abdussalam beserta istri dan kedua muridnya segera menuju kediamannya menghindari pesta-pora yang memabukkan. Gemuruh pesta bir, musik disko serta tiupan terompet membuat kepala mereka pusing. Bagi mereka saat ini adalah permulaan, bukan akhir.

Kepergian mereka ternyata sudah diawasi oleh Jenderal Clark, asisten proyek Professor Owen, dan Kepala Dana Proyek Mr. Adam Smith. Mereka semuanya di mata dan hati Professor Abdussalam adalah srigala berbulu domba. Ia bahkan sudah membacanya jauh-jauh hari. Data dan Informasi bagi Professor Abdussalam adalah hal yang mudah dan bukan segalanya tentang mereka. Prinsip beliau, sebisa mungkin mengajak setiap manusia untuk menuju Islam kaffah adalah lebih penting, seperti ajaran Islam untuk senantiasa amar ma’ruf nahi munkar.

Pesta usai, semua staff, pelaksana projek, engineer, saintis, dan pejabat negara kembali ke posisinya masing-masing sambil melepas lelah. Sebagian ada yang langsung mengambil hak cuti kerja.

 

——-

Masa libur, masa menyusun strategi.

Sebagaimana rencana Dewi dan Wijaya pada malam peluncuran satelit, mereka bertekad akan melangsungkan pernikahannya setelah misi peluncuran berjalan mulus. Alhamdulillah, rupanya Allah mengizinkan rencana suci meraka. Saat liburan tiba mereka pulang kenegerinya. Dewi pulang ke Depok, kota kelahirannya. Memohon restu orang tuanya. Sementara Wijaya menuju desa tercintanya di Sukoharjo, Solo. Tujuannya sama minta direstui kedua orang tua mereka untuk melangsungkan pernkahan.

Wijaya dahulu berbeda dengan Wijaya sekarang. Sikapnya yang tawadhu, dengan jenggot tipis yang bisa dihitung menggelayut indah di dagunya yang putih, bak sejumput sapu lidih. Kejeniusannya menandingi Einstein. Ia memiliki ruh yang tidak dimiliki Einstain. Ruh itu nan suci dan indah mampu menerobos tujuh lapis langit menuju zat yang maha Agung dan Bijaksana. Ruh yang dimiliki oleh setiap muslim yang mukmin, tidak dimiliki oleh kafir sekaliber Einstein atau tokoh kafir lainnya.

Pernikahan mereka didasari karena cintanya pada Allah sang Maha Pencinta, yang juga berarti cintaya pada Islam, cintanya pada generasi Islam. Mereka ingat pesan Ustadz Abdussalam, bahwa perjuangan masih panjang, maka siapkanlah generasi yang lebih hebat. Generasi Islam yang cerdas, militan, pantang menyerah dan senantiasa mengharap ridho Allah. Maka kata kupinang engkau dengan hamdallah menjadi tekad Wijaya saat itu. Sebenarnya sudah jauh hari Dewi dan Jaya membicarakan perihal pernikahan dengan orang tua mereka masing-masing. Sejauh hati mereka saling bergetar akibat sengatan medan listrik cinta. Masalah teknis pelaksanaan walimah (acara pernikahan) yang tepat mereka diskusikan, saat ini.

 

——–

Professor John Owen, Jenderal Clark, dan Mr. Adam Smith berkumpul di Meeting Room rahasia laboratorium NASA. Mereka membahas rencana busuk dan jahat mereka terhadap kaum muslimin, memanfaatkan kecanggihan satelit YHVH EYE.

“Mr. Smith dan Proffesor Owen, sebagaimana tujuan kita bersama, kita ingin meguasai dunia di bawah bendera David Star. Malam hari ini saya membawa misi dan amanat dari bos kita di USA dan Israel, yaitu menyusun masalah teknik pengalih-fungsian satelit YHVH EYE. Program ini merupakan satu di antara banyak program kita yang lain. Kita memahami bahwa upaya mudah menguasai musuh kita saat ini dengan memberi mereka hal-hal kenikmatan yang paling dekat dengan mereka. Kekayaan harta dalam segala bentuknya, kepuasaan wanita dalam segala bentuknya dan kekuasaan dalam segala bentuknya. Masih ingat kalian dengan deklarasi itu? Upaya penguasaan semua itu sekarang sudah di tangan, tinggal dimainkan.” Papar Jenderal Clark.

“Mr Smith, saya tahu kompetensi Anda. Mr. Smith, Anda seorang jenius dalam masalah Anda. Kemampuan menghimpun dana dalam waktu singkat, lobi pengusaha internasional tak diragukan lagi. Begitupun Anda Mr. Owen kecerdasan Anda luar biasa, otak Anda jauh melampaui galaksi ini. Ini terbukti dengan berhasilnya proyek Anda.” Lanjut Jenderal Clark.

“Baiklah. Saya harapkan laporan saudara-saudara mengenai proyek kita. Silahkan Mr. Smith!”

“Jenderal Clark dan prof Owen, saat ini tugas saya telah nyaris sempurna. Lobi saya dengan pengusaha-pengusaha kelas dunia telah lolos. Mereka setuju memberikan uang mereka sebanyak yang kita perlukan, dengan imbalan informasi yang kita berikan pada mereka. Hampir seluruh perusahaan pertambangan emas, radioaktif, perak dan sejenisnya, minyak dan gas di dunia. Semua sepakat akan memberikan dananya sebagian untuk program kita. Begitupun perusahaan telekomunikasi besar di bumi ini, perusahaan IT, elektronik dan lain-lain, pokoknya siap. Uang tak masalah. Bahkan pengusaha senjata pun telah siap membantu. Para pialang saham siap memainkan perannya. Rekan-rekan ekonom kita, sudah siap dengan sederatan kertas di mejanya. Masalah dana berapapun Anda butuh kami bisa berikan. Saya rasa cukup…. Jenderal,” dengan cerutu di mulutnya dihisapnya dalam oleh Mr. Smith.

“Sekarang giliran Anda Mr. Owen. Silahkan!” pinta Jenderal Clark.

“Hmm… saya sangat bangga dengan operasi kita kali ini. Semoga dunia menjadi milik kita bersama. Program saya 99,99 % sudah beres. Sistem kontrol satelit sudah dapat dialihkan ke pusat NASA. Link kita kepada Pentagon dan Mossad sudah tersambung tinggal dimainkan saja. Presisi dan kelengkapan data-data teroris sudah kita dapatkan tinggal pencet tombol wajah mereka akan nampak. Peta kekuatan musuh sudah kita susun rapi. Anda bisa lihat sendiri di sini Jenderal Clark dan Mr. Smith,“ papar Professor Owen berjas putih menjelaskan programnya dengan bangga.

“Ehm, tapi tinggal 0,01 % masalahnya Jenderal” keningnya Profesor Owen berkerut.

“Apa itu?”

“Professor Abdussalam dan kedua muridnya yang brengsek itu. Wijaya si kambing sipit, Dewi si manusia Ninja, dan juga istri Abdussalam. Mereka kelihatannya harus dihabisi. Jika tidak, mereka akan merintangi usaha kita,” Profesor Owen mengungkapkan kegelisahannya.

“Hmm.. Oke kalau begitu. Masalah si Salam dan kedua cecunguknya aku saja yang urus. Dan tentunya sedikit minta bantuan Anda Professor Owen,” Jenderal Clark menutup pembicaraan. (bersambung)

Sumber: Majalah Permata, Edisi 04/Agustus 2002