Home / Keluarga / Bukan Aku Tak Cinta

Bukan Aku Tak Cinta

By: RedRevolver

Namaku Senja Adi Prawira. Di kampung, orang-orang lebih suka memanggilku Adi. Simpel, pendek, gampang diteriakkan kalau aku lagi main bola di lapangan. Tapi di komunitas fotografi, beberapa teman mulai manggil aku “Senja”. Katanya, nama itu keren, puitis, dan sangat instagrammable. Padahal sih, menurutku cuma terdengar seperti orang yang suka melankolis sore-sore sambil minum es teh di warung pojok.

Tapi, ada satu nama lain yang jauh lebih mengguncang dibanding panggilan apapun padaku. Nama itu bikin jantungku sering mendadak berdegup lebih kencang: Mentari Puspita. Biasanya kupanggil dia Ita. Dari namanya aja udah manis, kayak embun pagi ketemu cahaya matahari. Dan yang lebih bikin adem, wajahnya… duh, bikin aku sering gagal fokus. Kulitnya putih, bersih, dengan sorot mata bening di balik kacamata bulat tipis yang bikin dia kelihatan agak mirip etnis Tionghoa. Dia muslimah, dan entah kenapa, aura itu justru bikin pesonanya semakin aneh–kayak kombinasi antara perpustakaan dan senja di pantai, serius tapi juga hangat.

Kami ketemu pertama kali bukan di mushola sekolah, bukan juga di perpustakaan yang katanya tempat paling gampang cari “momen romantis ala film”. Kami ketemu di sebuah tempat yang jauh lebih absurd tapi unik: komunitas fotografi. Sama-sama masih SMA, sama-sama datang bawa kamera pinjeman. Bedanya, kamera Ita kelihatan kece–masih kinclong, tombol-tombolnya rapih, lensa mulus kayak baru keluar dari kotak. Sedangkan kameraku? Ah, jangan ditanya. Kamera turunan dari pamanku yang lensanya suka error. Kalau aku atur fokus, hasilnya malah bikin orang yang difoto kelihatan misterius di film horor kelas C.

Aku masih ingat jelas waktu itu, Ita ngintip hasil jepretanku di layar kecil kamera. Dia agak nyengir, lalu komentar dengan polos,

“Bang, fotonya miring.”

Aku langsung refleks jawab, sok gaya, sok punya aliran sendiri,

“Bukan miring, Ta… itu seni. Konsepnya abstrak. Fotografi bukan cuma soal lurus atau nggak lurus, tapi soal rasa.”

Ita ketawa. Dan ketawanya itu… astaghfirullah. Jujur, itu lebih berbahaya daripada kilatan flash kamera. Suaranya renyah, nggak dibuat-buat. Bibirnya melengkung alami, matanya menyipit di balik kaca mata, dan ada cahaya yang entah kenapa seperti jatuh tepat di wajahnya. Saat itu aku tahu: aku harus hati-hati. Karena setiap ketawanya terasa seperti cahaya sore yang menembus celah dedaunan–hangat, indah, tapi kalau terlalu lama menatap… bisa-bisa hatiku gosong tanpa sadar.

Kami sempat pacaran. Tapi jangan bayangin pacaran ala drama Korea, yang peluk-pelukan di halte bus atau duduk bareng di kursi taman sambil ngunyah odeng. Pacaran kami lebih sederhana, ala remaja kampung: jalan-jalan ke alun-alun, muter-muter naik sepeda, nongkrong di warung bakso yang kuahnya selalu kebanyakan micin, terus pulangnya masih sempet mampir beli es teh di gerobak dekat perempatan.

Itu pun sudah bikin hati kami berdebar-debar, seolah dunia mendadak jadi bioskop khusus berdua. Rasanya bahagia nggak perlu mahal. Cukup ada aku, ada Ita, dan satu mangkok bakso berdua–meski sering aku yang kebagian lebih banyak pentol karena dia sibuk nyedot mie.

Tapi semua berubah ketika kelas 11, kami sama-sama ikut Rohis.

Awalnya kami pikir nggak akan ada bedanya. Toh, ikut Rohis kan cuma soal ikut kajian, ngurus kegiatan islami, foto-foto dokumentasi acara (bagian favoritku tentunya). Tapi ternyata, Rohis itu kayak pintu yang tiba-tiba bikin kami ngeliat diri sendiri dari cermin lain: cermin iman.

Dan sejak itu, setiap pertemuan dengan Ita berubah jadi semacam permainan petak umpet dengan malaikat pencatat amal. Kami masih saling lihat, tapi pura-pura sibuk buka buku atau atur kamera. Kami masih saling kangen, tapi cuma bisa ngirim broadcast kajian di WhatsApp–itu pun dikemas seolah-olah netral, padahal maksudnya: “Aku kangen, Ta. Tapi biar aku bungkus dengan ayat.”

Aku pernah ngetik pesan panjang di layar HP tengah malam, jari gemetar, hati deg-degan:

“Ta, aku rindu. Aku pengen ngobrol kayak dulu lagi. Rasanya sepi banget kalau nggak denger suaramu.”

Aku baca ulang pesan itu berkali-kali, seperti sedang menimbang antara neraka dan surga. Dan akhirnya, dengan satu hembusan napas panjang, aku hapus. Lenyap. Yang tertinggal hanya kosong di layar, sama kosongnya dengan dadaku.

Sebagai gantinya, aku tulis lagi dengan tangan yang lebih tenang, tapi hati yang lebih sesak:

“Assalamu’alaikum. Ta, ada kajian Ustadzah di mushola nanti sore. Jangan lupa hadir, ya.”

Dan balasannya datang singkat, sederhana, tanpa hiasan, hanya emotikon tangan berdoa.

Aku menatap lama layar ponsel, berharap ada kalimat tambahan seperti “Aku juga kangen, Di,” atau “Jangan hilang, ya.” Tapi tidak ada, yang ada hanya doa. Dan doa, meski indah, bagiku kadang terasa terlalu jauh untuk menenangkan rasa rindu yang menyesakkan dada.

Hari-hari setelah itu jadi ujian tersendiri. Duduk di barisan ikhwan, aku bisa merasakan Ita di seberang pembatas, di barisan akhwat. Hanya beberapa meter jaraknya, tapi seolah ada tembok kaca tebal yang memisahkan kami. Tembok itu samar terbayang, aku bisa melihat siluet dalam benak, mendengar suara tawanya samar ketika ngobrol dengan teman-temannya. Tapi aku tidak bisa menembusnya.

Sungguh… sulit rasanya menahan rindu sambil tetap menjaga jarak. Rasanya seperti punya makanan favorit, tapi cuma boleh lihat gambarnya di katalog. Atau seperti punya kamera mahal, tapi tanpa memori card–kau bisa jepret sebanyak apapun, tapi hasilnya nggak akan tersimpan.

Kadang aku menunduk lebih lama dari biasanya dalam sujud, hanya untuk menitipkan doa yang nggak pernah bisa kusampaikan langsung.

Baca juga:  Utang

“Ya Allah, kalau rasa ini salah, tolong ampuni aku. Tapi kalau ini adalah cinta yang Kau titipkan, tolong jaga dia. Jaga kami.”

Dan entah kenapa, setiap kali bangun dari sujud, aku merasa hatiku semakin berat. Karena cinta itu justru makin tumbuh, makin dalam, makin sulit dilepas.

ooOoo

Aku memutuskan langsung kerja setelah lulus SMA. Bukan karena aku malas kuliah–jangan salah, aku juga pengen banget pakai almamater kampus, nongkrong di kantin mahasiswa sambil buka laptop sok sibuk. Tapi realitas keluargaku jauh dari kata sederhana. Ayah dan ibuku sudah cerai. Dan sejak hari itu, aku otomatis jadi tulang punggung keluarga. Adik-adikku butuh biaya sekolah, makan, bahkan ongkos. Jadi kuliah buatku terasa seperti kemewahan yang hanya bisa kuintip dari jauh.

Aku banting tulang dengan kamera butut yang masih sering error fokus. Mulai dari motret nikahan di gedung sederhana, sampai jadi fotografer produk UMKM yang jualan keripik pedas. Kadang bayaran lumayan, kadang malah cuma dapat nasi kotak dan ucapan terima kasih. Tapi itu tetap kujalani, karena setiap kali lihat wajah adik-adikku yang bisa terus sekolah, aku merasa ada semacam energi yang nggak bisa diukur dengan angka.

Sementara itu, Ita melanjutkan kuliah. Orang tuanya mampu, dan aku nggak pernah iri. Justru aku bangga sekaligus minder. Bangga karena dia bisa menapaki jalan yang lebih baik. Minder karena kalau aku tetap di sampingnya, aku takut aku cuma jadi beban. Aku bahkan sempat membayangkan, bagaimana kalau kami menikah? Apa aku tega kalau dia masih harus minta uang jajan ke orang tuanya, sementara aku jadi suaminya? Malu. Malu banget.

Tapi Ita selalu bilang hal yang bikin aku campur aduk perasaan.

“Di, aku nggak masalah kalau kamu kerja dulu. Aku nggak malu.”

Kata-katanya sederhana, tapi nadanya tulus. Seolah dia benar-benar siap menerima apa adanya diriku. Namun, justru di situlah masalahnya. Karena yang malu itu aku. Aku nggak sanggup membayangkan dia–dengan wajahnya yang bersih, kacamata tipis yang selalu bertengger disangga hidungnya yang mancung, dan semangat kuliahnya yang meledak-ledak—harus ditanggung hidupnya oleh orang tuanya sendiri, padahal statusnya sudah jadi istriku.

Aku mencoba menepis rasa itu, tapi lama-lama makin menyesakkan. Sampai akhirnya aku nekat ngajak dia bicara serius. Supaya tak khalwat, aku minta Ita membawa teman dekatnya. Kami duduk di sebuah kafe kecil, hasil ngumpulin fee motret nikahan. Aku menatapnya lama, sementara dia sibuk mengaduk es cappuccino. Temannya, hanya diam.

Dengan suara bergetar, aku akhirnya membuka kalimat yang sudah lama kutahan,

“Ita… kalau aku melamar kamu sekarang, kamu siap?”

Dia terdiam. Wajahnya membeku, matanya menatap ke bawah. Sunyi. Detik-detik itu terasa panjang, seperti menunggu hasil ujian nasional. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, keras, berantakan, seperti drum yang dipukul asal-asalan.

Lama sekali dia nggak menjawab. Aku bahkan sempat berpikir dia sengaja nggak mau jawab biar aku makin gelisah. Sampai akhirnya, dengan suara pelan tapi jelas, ia berkata:

“Aku siap, Di. Aku siap menikah sama kamu.”

Jantungku sempat melompat. Rasanya seperti langit mendadak cerah setelah hujan deras. Tapi belum sempat aku tersenyum, kalimat berikutnya meluncur, menusuk seperti belati yang dilapisi madu.

“Tapi… aku masih kuliah. Dan aku takut… nanti aku jadi tanggungan orang tuaku, bukan istrimu yang seutuhnya.”

Aku terdiam. Kata-kata itu menghantam keras. Rasanya seperti kamera jatuh dari tripod: nyesss… crakkk… retak, hancur berantakan.

Aku menatap Ita. Dia mencoba tersenyum, tapi aku tahu senyum itu dipaksa. Matanya yang bening di balik kacamata sedikit berair. Aku ingin menggenggam tangannya, bilang bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga, bahwa aku sanggup menanggung semuanya. Tapi entah kenapa, suaraku tertahan di kerongkongan.

Saat itu aku sadar, cinta kami bukan hanya tentang aku dan dia. Ada keluarga, ada restu, ada keadaan yang nggak bisa kami abaikan. Dan di situlah letak luka paling dalam–karena kami sama-sama cinta, tapi justru itulah alasan kami harus berpisah sejenak.

ooOoo

Akhirnya kami sepakat diam. Tidak ada chat, tidak ada kabar. Dunia seakan sengaja menaruh garis tipis antara kami. Garis yang tidak bisa aku lewati, meski hatiku sudah berkali-kali ingin melompati.

Aku sibuk bekerja. Pagi sampai sore sering kuhabiskan dengan kamera di tangan, memotret apapun yang bisa memberiku uang. Kadang motret nikahan di aula desa dengan dekorasi seadanya, kadang motret produk online shop yang bahkan aku harus pinjam alas kain sendiri. Malamnya, aku pulang dengan tubuh lelah, tapi mataku tetap mencari notifikasi di layar ponsel. Selalu kosong.

Ita sibuk kuliah. Aku tahu itu dari postingan teman-temannya. Foto-foto di perpustakaan, tugas kelompok, acara kampus, semua lewat begitu saja di layar Instagramku. Dan setiap kali wajahnya muncul–dengan kacamata tipisnya, dengan senyum putih bersih yang masih sama seperti dulu–aku hanya bisa menahan napas. Jempolku gatal ingin mengetik komentar atau sekadar like, tapi akhirnya kubiarkan berlalu. Karena aku tahu, kami sudah sepakat menjaga jarak.

Tapi dalam diam itu, ada satu hal yang tidak pernah berhenti kulakukan: berdoa. Setiap selesai sholat, di sela-sela sujud terakhirku, aku selalu menyelipkan kalimat yang sama:

“Ya Allah… kalau Ita memang jodohku, dekatkanlah. Tapi kalau bukan, maka kuatkan aku untuk melepaskannya.”

Doa itu terus berulang. Malam demi malam, seperti lagu di playlist yang tidak pernah habis diputarkan. Dan jujur, setiap kali mengucapkannya, aku merasa dadaku ditusuk. Karena di satu sisi aku ingin sekali memilikinya, tapi di sisi lain aku sadar… aku tidak punya kuasa apapun kecuali berharap.

Baca juga:  Nek Karim

Sampai suatu hari, pesan itu datang.

“Di, aku dilamar orang.”

Tiga kata sederhana. Tapi bagiku, seperti meteor jatuh menghantam bumi. Aku membaca pesan itu sekali. Lalu dua kali. Lalu entah sudah berapa kali. Jari-jariku kaku, menempel di layar HP. Aku ingin membalas. Aku ingin mengetik banyak hal. “Jangan terima.” “Tunggu aku.” “Aku masih sayang.” Kalimat-kalimat itu berdesakan di kepalaku, tapi tidak ada satupun yang berani lolos.

Aku hanya menatap layar. Sunyi. Nafasku berat. Rasanya seperti ada yang meremas jantungku perlahan, makin lama makin kuat.

Pada akhirnya, aku memilih… tidak menjawab sama sekali.

Bukannya aku tega. Bukannya aku tidak cinta. Justru karena aku terlalu cinta. Tapi aku tahu, restu orang tua Ita condong ke pria itu. Aku tahu posisiku. Aku tahu aku masih sibuk memikirkan biaya sekolah adik-adikku. Bagaimana aku bisa bersaing dengan lelaki yang lebih mapan, lebih siap, dan lebih direstui keluarganya?

Aku pikir, kalau aku diam, kalau aku tidak merespons, maka Ita akan lebih mudah melangkah. Tanpa harus ada tarik-menarik rasa. Tanpa harus ada luka yang lebih dalam.

Tapi aku salah.

Karena ternyata, diamku bukan hanya menyakiti dia. Diamku juga membunuh diriku perlahan.

Setiap malam setelah itu, aku menatap layar HP yang kosong. Menunggu pesan yang tidak lagi datang. Menunggu tanda-tanda yang tidak pernah muncul. Dan semakin lama, aku merasa seperti orang yang kehilangan arah.

Aku ingin bicara. Aku ingin bilang: “Aku masih ada di sini, Ta.” Tapi setiap kali aku mengangkat ponsel, doa itu kembali terngiang:

“Ya Allah, kalau bukan dia jodohku, kuatkan aku.”

Dan aku tahu, ini saatnya doa itu bekerja. Meski rasanya seperti memaksa diriku sendiri untuk berjalan di atas pecahan kaca.

ooOoo

Beberapa bulan kemudian, setelah semua keheningan yang memanjang, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar HP-ku. Nama itu, Mentari Puspita, muncul lagi setelah sekian lama.

Pesannya sederhana, polos, tapi bagiku seperti palu yang menghantam pelipis:

“Apa kabar, Di?”

Aku terdiam lama. Menatap tulisan itu, seakan huruf-hurufnya punya mata yang menembus dadaku. Jemariku gatal ingin membalas. Kata-kata berloncatan di kepala: “Aku baik. Aku kangen. Aku masih sayang.” Tapi entah kenapa, ada semacam tembok tebal yang menahanku.

Aku ulang baca pesan itu berkali-kali. Seperti orang haus yang menatap segelas air jernih, tapi tahu kalau air itu beracun.

Dan akhirnya… aku tidak membalas.

Hari-hari setelah itu terasa seperti penjara. Aku membawa pesan itu kemana-mana di kepalaku. Saat motret nikahan orang, aku teringat. Saat adik-adikku bercanda di rumah, aku masih teringat. Bahkan ketika sujud panjang di malam hari, huruf-huruf itu masih menempel di langit-langit pikiranku: “Apa kabar, Di?”

Lalu tibalah hari yang paling berat dalam hidupku. Aku harus mengirim pesan terakhir kepada Ita. Bukan chat, bukan voice note, bukan panggilan video seperti dulu. Tapi sebuah undangan pernikahan.

Bukan undangan kami. Bukan pernikahan yang selama ini kubayangkan: aku menggandeng Ita dengan senyum malu-malu, dikelilingi doa restu keluarga. Tidak. Ini undangan pernikahanku dengan perempuan lain, seorang wanita baik yang dijodohkan ibuku.

Aku ingat saat mengetik namanya di daftar penerima undangan digital itu. Tanganku gemetar, keringat dingin mengucur di pelipis. Rasanya seperti menandatangani surat hukuman mati untuk hatiku sendiri.

Begitu kukirim, layar HP-ku terasa lebih berat dan ruang hatiku terasa sesak.

Saat itu, aku benar-benar merasa jadi lelaki paling jahat di dunia. Seolah aku menusuk orang yang paling aku cintai dengan pisau, lalu memintanya untuk tersenyum. Tapi apa daya? Di dalam keyakinanku, aku tahu, restu orang tua bukan sekadar formalitas. Itu kunci. Dan aku tidak sanggup melawan ibu yang membesarkanku dengan penuh air mata.

Aku menatap kosong ke langit-langit kamar. Malam terasa panjang sekali. Pikiranku terus melayang ke Ita: bagaimana wajahnya saat membaca undangan itu? Apakah ia menangis? Apakah ia marah? Atau mungkin ia hanya diam, seperti aku yang dulu memilih diam ketika ia berkata, “Aku dilamar orang.”

Aku tak tahu. Yang kutahu hanya satu: malam itu, aku menangis dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak lagi berdoa agar Ita didekatkan kepadaku. Aku berdoa agar ia didekatkan kepada kebahagiaan, meski bukan bersamaku.

Beberapa jam berlalu tanpa balasan. Aku kira Ita memilih diam. Dan sejujurnya, itu lebih mudah kuterima.

Tapi malam menjelang pukul sebelas, notifikasi muncul. Nama itu lagi—Mentari Puspita.

Jantungku seperti disiram listrik. Aku buka cepat, dan di sana ada satu pesan pendek:

“Semoga Allah mudahkan jalanmu, Di. Jangan lupa… aku pernah jadi bagian doa-doamu.”

Aku terpaku. Rasanya seperti ada yang menghantam ulu hati.

Lalu, setelah pesan itu, Ita tidak lagi mengirim apa pun.

Tapi beberapa hari kemudian, aku iseng membuka Instagram. Dan di situlah aku melihat sesuatu yang membuatku makin terdiam: sebuah postingan foto langit senja. Warnanya jingga keemasan, persis seperti namaku. Caption-nya sederhana:

“Ada yang datang, ada yang pergi. Tapi doa… tetap tersimpan.”

Tanpa tagar, tanpa emotikon. Tapi aku tahu, itu bukan sekadar kata-kata. Itu serpihan hatinya yang ia biarkan jatuh ke dunia maya.

Aku menatap layar lama sekali. Antara ingin menekan tombol like, atau meninggalkan komentar, atau bahkan mengirim DM. Tapi pada akhirnya… aku hanya menatap. Sama seperti dulu ketika aku hanya bisa menatap Ita dari kejauhan, tanpa benar-benar bisa menggenggam.

Baca juga:  Gersangnya Jiwa Neo

Dan malam itu, aku akhirnya sadar: kadang cinta bukan tentang memiliki, tapi tentang merelakan.

ooOoo

Aku tidak tahu apakah Ita datang ke pernikahanku atau tidak. Undangan itu kukirim, tapi aku sendiri tidak berani mencari wajahnya di antara tamu. Aku terlalu pengecut untuk menanggung kemungkinan melihat matanya berkaca-kaca saat aku mengucapkan ijab kabul.

Tapi yang jelas, beberapa minggu setelah aku resmi menikah, aku melihat postingannya di Instagram. Sebuah foto hitam-putih: siluet seorang perempuan berdiri di dermaga, satu tangannya terulur ke depan seakan melambai, sementara laut di belakangnya tampak gelap, nyaris menyatu dengan langit. Caption-nya hanya empat kata:

“Bukan aku tak cinta”.

Tanganku langsung kaku. Jempolku gemetar, seolah HP di genggaman tiba-tiba jadi bara panas. Dalam sepersekian detik, dadaku seperti digencet batu besar. Napas yang tadinya normal berubah jadi tersengal, dan dunia di sekitarku terasa hening, seolah hanya ada layar itu dan empat kata yang menamparku tanpa ampun.

Aku langsung menutup layar HP, tapi gambar itu sudah terlanjur menempel di retina, di hati, di kepalaku. Bunyinya bergema di telinga–“Bukan aku tak cinta”.

Sederhana, tapi setiap hurufnya menancap dalam.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku bolak-balik di kasur, menatap langit-langit kamar, mendengar dengus napas istriku yang terlelap di sampingku. Dan di sela keheningan itu, wajah Ita hadir begitu jelas. Senyumnya saat pertama kali melihat hasil jepretanku yang miring. Tawanya yang renyah saat aku sok-sokan bilang itu seni. Tatapannya ketika aku pernah dengan bodoh bertanya, “Kalau aku melamar kamu sekarang, kamu siap?”

Aku menutup mata erat-erat, tapi bayangan itu tetap saja muncul.

Ada rasa bersalah yang menekan, menghantui, seperti seseorang yang tidak pernah diundang. Aku merasa seperti lelaki paling pengecut: menikah dengan perempuan lain, sementara masih menyisakan ruang kosong di hati yang belum benar-benar aku ikhlaskan.

Caption itu–“Bukan aku tak cinta”–membuatku sadar bahwa cinta kami memang tidak pernah mati. Hanya saja, ia dipaksa dikubur hidup-hidup oleh keadaan, oleh restu orang tua, oleh takdir yang aku sendiri menyerah untuk melawannya.

Dan di dada ini, ada satu luka yang kutahu tidak mudah sembuh, bahkan meski waktu berjalan puluhan tahun sekalipun.

ooOoo

Tahun-tahun berlalu. Aku kini sudah punya seorang anak. Seorang bocah mungil yang selalu berlari menyambutku pulang kerja, dengan tawa renyah yang bisa meluruhkan seluruh penat. Hidupku tidak mewah–rumah kontrakan sederhana, motor yang sesekali ngadat, dan dapur yang kadang hanya berisi tempe goreng serta sayur bening. Tapi cukup. Lebih dari cukup, karena ada cinta tulus yang menyelimuti setiap harinya.

Namun sore itu, saat hujan baru saja reda dan langit berwarna kelabu pucat, aku iseng membuka galeri lama di ponselku. Jari-jariku menyapu layar, menelusuri ribuan file foto yang sudah berdebu oleh waktu. Tiba-tiba, aku berhenti. Ada satu foto yang membuat nafasku tercekat.

Foto Ita.

Waktu itu dia tertawa lepas, kerudungnya melambai dan diterpa angin sore. Ada cahaya matahari yang memantul di matanya, membuat binarnya seperti pecahan kaca berkilau. Senyumnya seakan membelah ruang dan waktu, langsung menusuk hatiku hingga sekarang. Padahal, foto itu kuambil dengan kamera pinjaman yang lensanya sering error, fokusnya sering meleset. Tapi entah kenapa, gambar itu terlihat begitu sempurna.

Aku terpaku. Jantungku berdetak kencang, seperti seorang pencuri yang ketahuan. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalari dada, bercampur getir yang tak bisa kusebutkan dengan kata. Aku ingin menutup layar, tapi jariku tak mau bergerak.

Lalu tiba-tiba, sebuah suara lembut memecah lamunanku.

“Itu siapa, Bang?”

Aku hampir menjatuhkan ponsel dari tangan. Istriku berdiri di sampingku, membawa segelas teh hangat, senyumnya teduh, matanya penuh rasa percaya.

Aku tergagap, buru-buru menekan tombol power.

“Ah… itu cuma foto lama,” kataku cepat, “waktu masih ikut komunitas fotografi dulu.”

Dia mengerling, lalu tertawa kecil.

“Kamu ini… masih aja suka nostalgia. Udah, mending motret aku sama anakmu aja. Biar ada kenangan baru.”

Seketika, ada sesuatu yang menohokku. Kata-kata istriku sederhana, tapi seperti cermin yang dipasang di depan wajahku.

Aku menoleh, melihat dia berjalan pelan menuju ruang tengah. Di sana, anakku sedang asyik bermain lego dengan ekspresi serius khas bocah yang sedang membangun dunianya sendiri. Dan aku tersadar.

Hidup ini memang sering memaksa kita melepaskan sesuatu yang kita cintai, bukan karena cinta itu hilang, tapi karena ada tanggung jawab yang lebih besar yang menunggu. Aku harus merelakan satu hati agar bisa menjaga hati-hati yang kini bergantung padaku.

Malam itu, setelah semua terlelap, aku sujud lebih lama dari biasanya. Air mataku menetes di atas sajadah yang sudah agak kusam. Hatiku berbisik lirih:

“Ya Allah, terima kasih. Engkau ajarkan aku arti cinta yang sejati. Bahwa cinta bukan soal memiliki, tapi soal merelakan. Bahwa cinta bukan sekadar tentang siapa yang membuat hati bergetar, tapi siapa yang bisa kupertanggungjawabkan di hadapan-Mu.”

Dan di keheningan malam itu, aku tahu: mungkin di sudut hatiku masih ada ruang yang pernah ditempati Ita. Tapi kini, ruang itu bukan lagi luka. Ia berubah jadi doa. Doa yang tak akan pernah berhenti kukirimkan, meski tanpa perlu sampai kepadanya.[]

SUMBER TULISAN

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.