Rembulan Separuh di Langit Palestina

By: Nurul Maulidah

 

7 Muharam 1420 H

Angin dingin Menusuk tulang. Membekukan Gaza dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa keheningan. Mengencerkan ceceran darah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul, dari bangunan yang telah menjadi puing.

Kupandangi lagi ukhti di hadapanku. Wajah cantiknya menyembul dari balik jendela yang setengah rusak. Ia tampak lusuh. Wajahnya berdebu dan jilbabnya kumal, compang-camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah itu tetap keras tak berubah. Cantik. Secantik rembulan. Dingin. Sedingin tiupan angin malam ini. Hatinya tersayat. Sepucuk senjata ada dalam genggamannya. Setetes air bergulir di pipinya.

“Menangislah ukhti,” kataku dengan suara galau.

Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang sana. Lama sekali.

“Aku tak boleh menangis,” suaranya bergetar, rahangnya mengeras. Air mata pun dihapusnya lagi. Lagi. Namun tak jua mau berhenti.

Tetapi aku sangat ingin, bisiknya. Tubuhnya berguncang, bergetar. Semakin lama angin semakin kencang bertiup.

Ukhti! Ukhti! Sungguh, aku tahu semua!

 

1 Muharam 1420 H

Senandung dzikir mengiringi gema adzan di malam yang berbahagia itu. Malam telah larut. Kulihat ukhtiku tersenyum, menampakkan lesung pipitnya yang dalam. Kareem dan Ali terus mengumandangkan ayat-ayat suci al-Quran dari rumah yang sudah tak utuh lagi. Umi sedang menggendong Reihan yang sangat lucu.

Umi tertawa, bercanda dengan si bungsu yang baru bisa membuka mata.

“Wahai buah hatiku. Engkau harus tumbuh dewasa dan mengikut jejak ayahmu.”

Abi telah syahid sebulan yang lalu.Kampung kecil di selatan Gaza itu tampak tenang dalam kebahagian malam tahun baru.

“Umi tampak bahagia sekali!” kata Ali kepada Kareem berbisik. Umi sangat tegar. Setegar karang. Kedua remaja itu berdiri dan mendekati Umi, Ukhtiku juga mendekat lalu memeluk Umi… Semua berkasih sayang, tersenyum. Bahagia. Haru. Namun penuh keyakinan.

Menjelang tengah malam. Kampung kecil di selatan itupun mulai hening. Hanya sesekali terdengar suara orang mengaji. Ukhtiku masih belum tidur. Kareem masih terjaga. Ali masih mengaji. Umi terlelap bersama Reihan. Kemudian… terdengar keriuhan. Suara senapan. Pistol. Dentuman. Suara ledakan. Gemuruh. Teriakan…

“Serang!”

“Tembak”

“Bunuh!”
“Bakar!”

Hiruk pikuk. Semua berlari menyelamatkan diri. Banyak yang telah tertembak. Ratapan, tangisan, jeritan semakin memerihkan malam! Para lelaki, mencoba melawan dengan senjata seadanya. Bahkan dengan batu. Api berkobar. Orang-orang terkapar. Menggelepar. Seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Darah muncrat, mengalir, lalu membentuk beberapa genangan. Pekat. Ali dan Kareem berjaga di pintu. Dengan apa saja mereka membela diri. Apa daya kekuatan tak berimbang.

“BRAAK!”

Pintu kayu hancur berantakan diterjang mortir. Kareem terpental. Kepalanya remuk terkena pecahan mortir. Ia syahid.

“Nak, tolooong!”

“Umiiiiiiii!”
DOR! DOR!

Perempuan itu tersungkur di ranjang anaknya, dengan kepala tertembus timah panas. Umi

syahid.

“Aliii!”

Ali dengan sisa-sisa tenaganya terus melawan. Tak sanggup tentara Israel terlalu banyak.

CRESH!

Kepala remaja gagah itu putus dari badannya! Menggelinding di lantai lapang yang basah menggenang darah. Ia Syahid.

“Reihan!”
“Aaaaaaaaaa!”

Tangan-tangan keji mengayun-ayunkan bocah itu dan melemparnya ke dalam bangunan yang terbakar.

Uktiku terbelalak! Ternganga! Terpaku. Tak bergerak.

Ukhti masih kaku. Merasa tubuhnya tertanam dalam tanah, saat palu raksasa menghantamnya berkali-kali. Jiwanya bagai mengelupas. Tetapi tak ada setetes pun air mata. Aku hanya mendengar gema isakan dalam relung-relung batinnya. Kulihat dadanya naik turun. Detak jantungnya terdengar berkejaran. Ia berteriak sekuat tenaga! Menyebut Asma Allah berkali-kali.

Aku melihat semua! Juga ketika tangan-tangan jahanam itu menyeretnya. Mendorong. Memeluk, melecehkannya bergantian. Mereka menarik-narik jilbabnya sambil tertawa tanpa henti. Lalu merobeknya kasar dengan belati! ukhtiku mencoba meloloskan diri. Ia menggigit, mencakar, menendang, meludahi Yahudi jahanam itu! Hup, ia bahkan berhasil merampas sebuah senjata! Ya, meski ia terjerembab. Dengan seluruh kekuatannya ia menumpahkan isi senjata ke arah lima tentara Israel itu. Lalu dengan sisa-sisa tenaga ia berlari. Jatuh bangun. Tersengal-sengal. Kadang tersandung tubuh-tubuh manusia yang terbongkar, di tengah jalan…. Di malam yang gelap larinya semakin cepat. Cepat sekali.

Ia selamat. Allah Maha Kuasa.

Di mana Pasukan perdamaian? Di mana HAM? Aku berteriak! Marah. Semua hanya kebohongan Amerika dan Israel. Mereka berkawan. Biadab.

“Sungguh…, ana rindu seorang khalifah…..”

Hening. Aku hanya separuh di langit. Bintang tiada.

 

10 Muharam 1420 H

“Ukhti…, Ukhti…,” sapaku pelan.

Wajah itu kaku. Dingin.

“Ukhti harus pergi dari sini,”. “Anti harus mengungsi. Orang-orang pergi menyelamatkan diri.

“Tidak!” tegas ukhti tiba-tiba. “ana tak akan pernah pergi!” Wajahnya terangkat beberapa senti. Aku tersentak. Oh, ukhtiku. Anti sangat berani. Tetapi…apakah anti tak menyadari?

Lawannya bukan manusia! Mereka tak punya nurani. Laknatullah ini serupa dengan mereka yang membantai kaum muslimin Bosnia, Kashmir, Kosovo, Myanmar, Azerbaijan, Chechnya, Aljazair, Aceh, Ambon dan sebutkan lagi sisanya!

Lalu siapa yang akan membelamu, Ukhtiku? Apakah orang-orang yang selalu berteriak-teriak mengatasnamakan HAM di muka bumi ini akan tergetar pada deritamu? Akankah mereka mendengar jeritan menyayat dari tanah yang tercabik-cabik ini? Ah, mereka akan terus tidur, ukhti. Mereka punya banyak urusan. Juga uang dari negeri antah berantah. Karena mereka bersahabat erat dengan yahudi biadab itu.

“Kini milikku hanya Allah dan tanah ini. Ana harus berjihad demi kebenaran!”

Aku mengambang lirih. Terdiam dan membeku. Semakin terang namun tetap suram.
12 Muharam 1420 H

Ukhti…, Ukhti.

Ukhti pernah datang ketempat pengungsian di tepi barat sana. Menyaksikan mereka yang kelaparan. Erangan. Penyakit. Mereka butuh makanan dan obat-obatan. Ukhti tak mampu lagi tersedu. Ia membentangkan kedua tangannya memeluk para balita. Menghibur mereka. Ia bercerita tentang Rasulullah saw. dan para sahabatnya pada anak-anak itu, hingga walau sesaat mereka lupa akan lapar. Ia membantu memasak bubur, menumbuk gandum, membuat roti. Menegarkan para wanita, mengobati yang terluka. Juga merakit senjata.

“Biarkan kami membela diri!” serunya garang, ketika seorang polisi Palestina melarang mereka bertindak. Padahal saat itu mereka diserang membabi buta.

“Ana tak mengerti. Mengapa kalian membiarkan yahudi jahanam itu? Mengapa kami tak boleh mempertahankan nyawa sendiri? Di mana keadilan?” teriak Ukhti.

Orang-orang di pengungsian memandangnya dengan mata basah dan sukma tercabik.

“Siapa ukhti pemberani itu?” Mereka berbisik-bisik.

“Sarah, Puteri Muhammad Abdullah. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga itu!” sahut yang lain.

Aku separuh di langit. Tiada berbintang.
13 Muharam 1420 H

Kupandang lagi ukhti. Lalu sayup, kudengar lagi irama langkahnya, saat memasuki gerbang perjuangan. Ukhti kau seorang diri, perjuangan kalian hanya sendiri. Di mana kaum muslimin yang lain jeritku. Batas-batas wilayah dalam nasionalisme telah membekukan hati mereka.

Tapi tetap saja ini Palestina kita. “Ana tidak boleh berdiam diri dan terpaku. Yahudi atau siapa pun boleh tinggal di sini, tetapi tidak merampasnya!”

Ketika kita, bahkan kanak-kanak berjuang membebaskan tanah ini, menimpuki para tentara Israel dengan batu, mereka membalasnya dengan peluru dan granat!” Begitu katamu di sore yang pilu di penampungan itu.

Mampukah engkau ukhtiku…

Tak ada keadilan bagimu, Aku juga melihat semuanya ukhti.

Kulihat pemimpin negaramu yang bersembunyi di balik semua mulut manis dan janji palsunya.

PLO dan Arafat mengumbar janji ‘perdamaian’ dengan para Yahudi keparat itu. Ukhti juga sudah tahu bahwasanya orang yang mengaku membela tanah palestina itu tak lebih dari perpanjangan tangan zionis untuk mengkotak-kotak dan membinasakan kita? Israel mengadu domba gerakan rakyat Hamas dengan PLO! Dan Arafat? Bahkan, ketika rakyatnya berjuang, ia melanglang buana, menginap dari hotel mewah satu ke hotel mewah lainnya, di Perancis, Swiss, London…, mengoperasi hidung istrinya dengan dana rakyat…,”

“Bukankah Allah berfirman dalam al-Quran, “orang-orang Yahudi tak akan rela sampai kita mengikuti mereka”. Yahudi juga suka mengubah perjanjian, mereka tak mau memberikan kurma untuk kaum muslimin, apalagi sebuah negara! Maha benar Allah.”

Oh Ukhti… Aku hanya separuh dilangit bintang tiada.

Skenario politik kotor yang dijalankan itu semakin kasat mata. Pemilihan umum yang terjadi selalu diawasi oleh pasukan Israel. Sebuah sandiwara politik.

Kandidat-kandidat yang ada sebagian besar berasal dari Partai Fatah, yang dipimpin Arafat. Padahal kantor pemilu juga dijalankan oleh orang-orang al-Fatah. Tidak ada komisi independen seperti yang semestinya terjadi. Pemilu macam apa ini?

Jangan heran jika kotak suara hilang seusai pemungutan suara!

Di Nablus, ada kandidat independen yang dibunuh ketika keluar dari kantornya!. “Sesuai benar dengan skenario bersama Amerika-Israel, Arafat harus memenangkan pemilu untuk menjaga proses ‘perdamaian’.”

Logika politik seperti ini kian mudah dipahami.

 

20 Muharam 1420 H

Aku hanya separuh diujung malam.

Setiap kali kutatap mata cantiknya yang kini membengkak di bawah kerudung hitam berikatkan kalimah syahadah, kutemukan ribuan mayat terbujur kaku di sana. Kujumpai kepedihan Gaza. Kusaksikan nyeri menebari Jericho, kulihat pilunya Jenin…

Ukhti, diriku beku tak kuat memandangi negerimu.

 

Malam muram di Gaza. Dalam sebuah bilik kecil.…

Ukhtiku sedang menyiapkan sesuatu. Belati-belati. Senjata api, granat, isi peluru yang berjuntai bagai kalung, dan senjata terlihat dalam sebuah peti.

Hup! Ukhtiku bangkit dari duduknya. Perlahan diambilnya tali tipis. Dirangkainya beberapa granat tangan bagai kalung. Dua senjata AK 47 dan Pistol. Beberapa belati terselip di pinggang. Juga beberapa peluru.

“Rindunya aku pada-Mu ya Robb…,” katanya, tersenyum tanpa beban. Tak lama ukhtiku sudah membenahi semua itu. Sebuah rencana siap dimainkan!

***
Dia berlari. Membawa semua impian dan tujuan hidupnya. Bersama semua peralatan di balik bajunya. Serta apakah itu…? Kabel merah kuning yang disambung ke penunjuk waktu…. Kemana kau berlari ukhti?

Kemudian, setelah jauh ia berlari, di hadapannya tampak Pusat Komando Tentara Israel. Sarah berjalan santai. Siulan liar segera menyambutnya.

“Mari sini” seorang tentara mencoba meraihnya.

Tiba-tiba! Tap, tap, tap. Tiga buah belati menancap di jantung ketiga penjaga tentara Israel itu.

Sarah masuk ke dalam. Namun….

“Hua…ha…ha…,” tentara Israel itu tertawa-tawa. Lalu dari mulut mereka ke luar berbagai hinaan, dan pelecehan.

Sarah terkepung.

“Allaaaaahu Akbar!” teriak Ukhti.

“Allaaaaahu Akbarrr!” ulangnya berkali-kali. Aku dapat merasakan dadanya menggelegak. Nyaris pecah.

Para pengecut itu menyerang Sarah! Sarah membalas! Ukhti manis itu sempat bergulingan menghindari desingan peluru.

Ukhti sendiri melawan ratusan tentara zionis itu. Ukhti sungguh pemberani. Banyak tentara Israel yang tewas tertembak dan hancur terbakar. Tapi….

Peluru telah habis, granat sudah tak ada lagi ditangan.

Ukhti sudah tak bersenjata….

Terdengar teriakan. “Hentikan tembakan!” teriak Komandan pasukan. “Tangkap dia hidup-hidup. Dia hanya seorang wanita. Aku tidak ingin dia mati dengan mudah”

“Banyak sudah pasukan kita yang tewas.” Tangkap dan dia kita perkosa beramai-ramai dan siksa dia sampai mampus.”

Hua…Ha…ha..ha…. Para tentara jahanam itu tertawa-tawa.

BIADAB!!! Marahku menjalar.

Tapi… Aku hanya separuh di langit Gaza yang suram. Bintangpun tiada. Ukhti! Kulihat ia berdiri, mengayun-ayunkan Belati ke sana kemari. Ukhti terdesak. Sekuat tenaga ia melawan. Aku tak kuasa membantu. Karena aku membeku disini.

Bajingan itu mempermainkan Ukhtiku. Terkepung rapat.

Namun….

Ia tersenyum. Senyum manis yang sudah lama tak kulihat lagi. Tapi mengapa ia tersenyum…

Tentara-tentara Israel itu keheranan melihat gadis cantik yang berlumuran darah ini tersenyum dengan bangga.

Mengapa kau tidak lari ukhti…?

Sepi. Tak ada suara apa pun. Hanya senyuman itu.

Kemudian terdengar suara dari bibir tipisnya “Ana cinta Allah dan Rasul-Nya. Juga tanah ini,” bisik Ukhti.

Aku mengangguk. Aku tahu. Karena itu aku selalu mencintaimu, kataku sendiri.

“Allaahu Akbar!!”. Teriak Ukhti.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!!!”

Ukhtiku telah menjadi syahidah. Sebuah ledakan dahsyat terjadi di malam yang dingin membeku.

 

25 Muharam 1420 H

Hening. Aku hanya separuh di langit. Bintang tiada.

Perjuangan ini masih terus berlangsung. Dan aku hanya sebagai penonton. Karena aku membeku disini.

Hanya separuh di langit, akan selalu kukenang Muharamku bersama ukhti dan Palestina yang kucintai. Bersama Allah.

Yogyakarta, 28 Desember 2002

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 12/Mei 2003

You may also like...

2 Responses

  1. Raindrops Fiyah says:

    Saya pernah membaca cerita yang kalimat2nya persis dengan cerpen ini…hanya saja latarnya di maluku… dan karakter ukhty dalam cerpen yang saya baca itu adalah “nona”…ana ngak tahu penulisnya sama atau gimana.. cuma penasaran aja///

  2. Ummu Salamah says:

    1. Dalam Bahasa Arab, ukhti berarti saudara perempuanku. Maka kesalahan dalam cerita diatas adalah dengan menggunakan ukhti sebagai kata ganti kemudian adanya tambahan seperti uhktiku.

    2. Mustahil pada tanggal 12 dan 13 pada kalender hijriah terjadinya bulan separuh karena penanggalan hijriah menggunakan bulan dalam perhitungannya. Tanggal 12 apalagi 13 adalah waktu untuk purnama. Maka mustahil pada tanggal tersebut terjadi bulan separuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.