Tentara-Tentara Allah

By: A. Nurullah al-Banjari

 

“Kepung dari arah selatan yaa Bislan!!!” teriak Mughits. AK 47-nya bergetar menghujani tentara-tentara Rusia yang sudah terkepung itu. Mereka terkejut dan kacau-balau di jalan raya antara kota Serzhen Yurt dan Vedeno.

“Awas yaa Rojih…!!” Mughits mendorong Rojih ke sebelah kanan ketika berondongan peluru Rusia mengarah kepadanya. Tak ayal lagi tubuh mereka bergulingan di atas tanah yang tertutup salju tebal itu. Sebutir peluru sempat bersarang di bahu Mughits. Perih! Darahpun mengalir dari luka tembak itu. Namun keduanya segera bangkit dan kembali membalas tembakan-tembakan tersebut. Sebuah granat tangan yang dilembarkan oleh Bislan Ahmad menghancurkan sebuah truk Rusia dan membunuh beberapa orang pasukan yang berlindung di sampingnya.

“Maju sekarang!!, Allahu Akbar…”, teriak Mughits Saifuddin kepada pasukannya. Semangat tempur pasukan unit pengintai itupun semakin besar karena kerinduan akan mati syahid pada setiap pertempuran yang mereka lakukan.

Tidak sampai satu jam penyergapan gabungan dua pasukan Mujahiddin itupun akhirnya meluluhlantakan keangkuhan pasukan kafir yang selama ini membunuhi kaum muslimin di Chechnya. Penyerangan itu diawali dengan terdeteksinya pergerakan pasukan Rusia yang akan melewati jalan raya tersebut oleh pasukan unit pengintai pimpinan Mughits Saifuddin. Dengan dibantu oleh pasukan unit tempur Mujahiddin di bawah pimpinan Abu Ja’far mereka telah berhasil menghancurkan konvoi 23 kendaraan militer tersebut. Diantara kendaraan yang hancur adalah 10 buah truk, 4 BMP kendaraan pengangkut pasukan, satu kendaraan tempur shilka dan beberapa jenis kendaraan militer lainnya. Serta terbunuhnya sebanyak 56 Tentara Rusia dalam sergapan yang mendadak tersebut. Alhamdulillah… yaa Allah, satu lagi bukti kekuatan pasukan Mujahiddin di Checnya yang mengalahkan pasukan kafir Rusia.

Rojih Walid mengobati luka Mughits. Mereka bersahabat sejak masih kanak-kanak, keduanya adalah mujahiddin yang hebat dan gagah berani.

“Mughits… segala puji bagi Allah Robb semesta alam atas pertolonganmu, semoga Allah memanjangkan umurku agar dapat membalasnya,” ucap Rojih pelan.

“Alhamdulillah… yaa Rojih, belum saatnya engkau syahid.” Jawab Mughits singkat.

“Aku sebagai komandanmu bertanggung jawab kepada setiap pasukanku. Bukankah begitu ajaran Rasulullah kepada kita…?” sambung Mughits kepada Rojih.

“Saudaraku… Rojih, Allah akan memilih siapa di antara kita yang akan lebih dulu berjumpa dengan-Nya”

Pembicaraan pun berakhir ketika Rojih selesai membalut luka sahabatnya. Mughits mengajak Rojih untuk menghampiri ketua pasukan tempur Abu Ja’far yang sedang memeriksa keadaan pasukannya.

“AllahuAkbar…”, teriak ketua pasukan tempur Abu Ja’far yang kemudian disambut oleh seluruh pasukan Mujahiddin, “Allahu Akbar!”

Abu Ja’far merangkul Mughits Saiffudin dan mereka pun terharu dapat berjumpa kembali dan kemenangan dalam pertempuran ini. Tidak berapa lama, kedua pasukan itupun berpisah. “ila liqo, Assalamu’alaikum…”, ucap Mughits dalam perpisahan itu. Dan dijawab oleh seluruh pasukan Abu Ja’far kemudian mereka pun berpisah.

ooOoo

Malam hari didaerah pegunungan sebelah selatan wilayah Alshin-Yurt sunyi senyap, tak ada suara, hanya suara binatang hutan yang sesekali terdengar. Cahaya rembulan separuh katup di atas sana hanya mampu memberikan bayang-bayang. Angin dingin yang basah meniup dedaunan pohon yang memutih diselimuti salju. Pasukan Mughits Saifuddin sedang beristirahat didekat danau kecil yang tenang. Terlihat beberapa pasukan berjaga-jaga dengan sangat waspada. Seusai qiyamul lail tadi Mughits belum lagi tertidur, perjumpaan dengan Ust. Abu Ja’far beberapa hari yang lalu kembali membongkar kenangan Mughits akan peristiwa 10 tahun yang lalu di ibukota Checnya, Grozni.

Selepas ditarik mundurnya pasukan mujahiddin dari Grozni, pihak Rusia memasuki ibu kota yang telah porak-poranda oleh bom Rusia. Mereka melakukan penyembelihan, penjarahan, dan pelecehan-pelecehan terhadap warga. Penduduk laki-laki mereka bunuh, kaum wanitanya mereka perkosa. Tidak kurang dari 90 penduduk mereka bunuh saat itu. Termasuk di dalamnya keluarga Mughits yang ditangkap dan akhirnya dibunuh. Saat itu umur Mughits baru 12 tahun. Ia selamat karena pertolongan dari Ust. Abu Ja’far yang saat itu menjabat sebagai komandan unit pengintai. Masih jelas dalam ingatan Mughits peristiwa pembantaian terhadap keluarganya itu.

“Hei … bangsat!” teriak prajurit Rusia itu memaki ayah Mughits. Sebuah tendangan sepatu laras melayang kemuka ayahnya.

“Allahu Akbar…,” desis ayah Mughits. Di bawah todongan senjata dan tangan yang terikat tak ada yang bisa dilakukan Abu Saif, panggilan ayah Mughits.

“Katakan dimana tempat para gerilyawan itu!” teriak komandan pasukan Rusia Reckber Krucnichev. Abu Saif diam, hanya kalimat takbir yang terus terucap dari mulutnya yang pecah berdarah.

“Katakan di mana?”

“Plak…!” sebuah pukulan senapan mengenai kepala Abu Saif. Darah mengucur dan Abu Saif tersungkur di tanah. Namun keteguhan hatinya akan Islam membuatnya bangkit. Isterinya Zulfa Aminah hanya menunduk tak ingin melihat suaminya disiksa. Namun ia pun tak sudi memperlihatkan kelemahannya dengan menangis. Beberapa orang prajurit memegangi dan menghajar Abu Saif sampai pria itu tertelungkup di tanah. Tanah yang memutih itu kini berubah warna menjadi merah, karena tetesan darah Abu Saif. Berbagai usaha telah mereka lakukan tapi tak juga bisa membuka mulut Abu Saif. Tak berhasil dengan Abu saif yang sudah bersimbah darah dengan luka-luka sayatan di tubuhnya dan tercabuti kuku jarinya, mereka berpindah ke Zulfa Aminah.

“Hei cantik katakan di mana para tentara gerilyawan itu?” bisik komandan pasukan Rusia itu ditelinga Zulfa. Tangannya membelai pipi Zulfa.

“Cuh…!!” jauhkan tangan najismu dari wajahku. Ludah Zulfa ke wajah Reckber.

“Kurang ajar..! Plak!” sebuah pukulan keras mendarat di wajah Zulfa. Wanita itu tidak menampakan kesakitan, dari bibirnya yang berdarah itu iapun berucap, “Wahai orang-orang kafir ingatlah suatu saat kalian akan merangkak memohon ampun, namun semua itu sudah terlambat karena kalian akan musnah dan hancur oleh tentara-tentara Allah. Walaupun kau rusak tubuh ini, kau potong-potong tubuh ini kami tak akan pernah takut dan gentar sedikitpun. Karena dari tiap potongan tubuh ini akan menjadi saksi kami dihadapan Allah, bahwa kami adalah para syahid dan syahidah yang telah berjihad demi Allah.”

Reckber semakin marah, dan iapun berniat hendak memperkosa Zulfa. Tangannya terulur menarik khimar Zulfa. Wanita itu berusaha bertahan. Namun apalah daya tangannya terikat sehingga lepaslah khimar itu. Reckber semakin bernafsu melihat kecantikan Zulfa. Sehingga ia pun menerjang dan hendak membuka jilbab yang menutupi tubuh Zulfa.

Tiba-tiba Abu Saif menerjang, kakinya yang tak terikat menendang muka Reckber dan sejurus kemudian tendangan keduanya tepat mengenai organ vital laki-laki itu. Reckber pun tersungkur dan sangat kesakitan.

“Bunuh dia….!Aghhk…bunuh dia!” teriak Reckber. Serta merta pasukan Reckber menghujani Abu Saif dengan berondongan peluru. Ingin rasanya saat itu Mughits keluar dari tempat persembunyiannya ikut membantu Abinya namun rangkulan dan ucapan Abu Ja’far menghentikannya. “Kita tak bisa berbuat apa-apa jumlah mereka terlampau banyak, kita akan kembali dan menghancurkan mereka.”

“Allahu Akbar….” Abu Saif jatuh dengan puluhan lubang peluru di tubuhnya. Syukurlah Zulfa pun turut syahid bersama suaminya. Allah menjaga kehormatannya. Beberapa peluru telah merobek dadanya. Selamat tinggal Abu Saif, selamat tinggal Zulfa. Kalian akan berbahagia di sisi Allah.

Mughits meneteskan air mata. Perih hatinya mengingat peristiwa pembantaian di Grozni itu. Begitu kejam, tak berperi kemanusiaan. Seorang wanita diperkosa beramai-ramai kemudian dibunuh dengan sadis, kepala yang terpenggal, darah berceceran dimana-mana. Tiada lagi kemanusiaan. Lalu dimana PBB, dimana Hak Asasi Manusia, semua hanya omong kosong. Umat Islam tak akan mendapatkan HAM dari barat yang berstandar ganda itu. Kenangan itu mencabik-cabik hati Mughits, dadanya bergelegak, serasa akan pecah. Perjuangannya belum berkahir.

Air danau yang keperakan terkena cahaya bulan memantulkan cahaya yang redup itu kepepohonan.

“Yaa… Robbku, pertemukanlah aku kembali dalam pertempuranku dengan pembunuh kedua orang tuaku. Pertemukanlah aku dengan musuh yang paling tangguh sehingga aku syahid dan berjumpa dengan-Mu” Do’a Mughits dalam munajatnya.

Mughits kembali mengamati pasukannya, besok pagi mereka akan berangkat untuk bergabung dengan pasukan tempur besar para mujahiddin yang akan menyerang kedudukan pasukan Rusia di ibu kota Grozni. Kesempatan untuk kembali ke kota kelahirannya. Kesempatan untuk menghancurkan keangkuhan dan kesombongan Rusia. Kesempatan untuk membalas pembantaian kaum muslimin dan kedua orang tuanya.

“Kesempatan untuk syahid….” ucapnya. Namun sebelum itu ada tugas menantinya, yaitu menghancurkan konvoi yang akan melalui lembah ini besok. “Abi…, Umi… tunggu Saif…” ucap Mughits lirih.

 

ooOoo

“Blarr!!!” Ledakan dahsyat dari ranjau-ranjau yang telah disiapkan oleh pasukan Mughits di sepanjang jalan yang dilalui oleh konvoi kendaraan Rusia tersebut telah menghancurkan 2 buah truk Rusia dan membuat kocar-kacir pasukan Rusia. Berbarengan dengan itu,

“Allahu Akbar…! Tembak…!!” teriak Mughits. Serta-merta hujan peluru membuat pasukan Rusia tak berkutik. Menang strategi dan posisi, pasukan Mughits berhasil membunuh 15 orang pasukan Rusia. Satu lagi tanda keperkasaan pasukan Allah.

Setelah selesai mengambil ghonimah berupa persenjataan musuh, Mughits dan pasukannya melanjutkan perjalan menuju Grozni. Untuk bergabung dengan induk pasukan mujahiddin yang dipimpin oleh Shamil Basayev. Pasukan mujahiddin Dhunzula ini, berkekuatan 250 tentara muslim. Mughits dan pasukannya akan menuju pertempuran berikutnya, pertempuran yang lebih besar. Menjemput kesyahidan yang dirindukan.

 

ooOoo

Salju semakin tebal, hawa dingin menusuk tulang. Pasukan telah disiagakan dan siap pada posisinya masing-masing. Tepat setelah sirene dari pos penjagaan terbesar di Grozni itu berbunyi, saat itulah penyerangan dimulai. Sirene meraung panjang, para mujahidin pun berteriak menyebut asma Allah,

“Allahu Akbar…!!” pertempuran sengitpun terjadi. Kedua belah pihak bertempur mati-matian. Semangat pasukan mujahiddin terbakar dengan takbir. Pasukan musuh yang berjumlah sekitar 500 pasukan itu jadi terlihat kecil-kecil di mata mereka. Tujuan mereka menang atau syahid.

Mughits merangsek masuk dengan pistol dan AK 47 ke areal gudang senjata. Telah banyak pasukan Rusia yang tertembus pelurunya. Di hadapannya kini adalah Reckber Krucnichev. AK 47 sudah kehabisan peluru. Namun Pistolnya masih menyisakan peluru. Tembak-menembak pun terjadi. Reckber tertembak di bahu kirinya, dan Mughits terserempet peluru dibahu kanannya. Peluru keduanyapun kini telah habis. Kedua-duanya kini berhadap-hadapan dengan pisau tempurnya masing-masing.

“Sebelum kau disiksa dalam neraka, kau akan merasakan sakitnya penderitaan di dunia…”. Kata-kata Mughits meluncur deras sederas serangannya. Keduanya bertarung dengan sengit. Beberapa kali tusukan Reckber melukai Mughits. Namun beberapa kali juga Reckber harus meringis karena punggung dan perutnya terkena sabetan dan tusukan pisau Mughits. Akhirnya Mughits dapat memenangkan pertarungan itu.

“Rasakan ini olehmu…, ini untuk Abi dan Umiku!!!” teriak Mughits. Pisau Mughitspun bersarang ditubuh Reckber. Kemudian sambil bergulingan Mughits mengambil sebuah RGP yang berada di tanah dan menembakkannya ke tubuh Reckber.

“Ini untuk kaum muslimin yang telah kau bunuh. AllahuAkbar!” serangan pasukan Dhunzula ini pun menjadi bukti keperkasaan perjuangan para mujahiddin.

Tiba-tiba…

Ledakan dahsyat terjadi lagi. Asalnya dari arah selatan tempat Mughits berada. Kebakaran hebat dan kepulan asap tebal membumbung ke angkasa. Gudang senjata Rusia itu telah hancur. Tembakan roket dari RGP itu tidak hanya menghancurkan tubuh Reckber saja tapi juga para pengepung Mughits dan juga…. Allah telah memanggil Mughits… Ia telah syahid dengan terbunuhnya puluhan pasukan Rusia dalam ledakan itu.

“Selamat tinggal Mughits Saifuddin, engkau adalah pedang dien ini, engkau adalah mujahid Islam yang gagah berani. Kau susul para syahid dan syahidah lainnya. Allah akan mengampunimu dan setiap serpihan tubuhmu akan menjadi saksimu di hadapan Allah. Selamat jalan sahabat. Engkau telah mendahuluiku. Aku akan menyusulmu segera. Allahu Akbar!” diakhir kalimatnya Rojih pun menggempur musuh…

Perjuangan belum selesai, di seluruh negeri kaum muslimin. Palestina, Cechnya, Afghanistan, Kashmir, Pattani, Moro, mereka memanggil para mujahid untuk berperang Fi Sabilillah. Kita juga… di sini, berjuang dengan seluruh kekuatan kita untuk Islam hingga akhir jaman.

Salam atasmu para mujahiddin di seluruh dunia. Kalianlah tentara Allah yang akan bersama-sama Rasulullah di surga. Salam atas para mujahiddin terdahulu, sekarang dan yang akan datang…[]

Sobat, jangan pernah terlena,ingatlah perjuangan saudara-saudara kita dibelahan bumi sana.

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 09/Desember 2002-Januari 2003

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.