Kasawari (15)

15

Kebohonganku di Bulan Puasa

Mak Cik Tini bungkam seribu bahasa. Tak ada lagi yang bisa dia gosipkan pasal aku. Aku merasa menang. Ya, kemenangan yang nyata.

Baguslah kalau demikian adanya. Sebab seminggu lagi sudah masuk bulan puasa. Janganlah sampai hobinya itu masih saja dilakukannya. Aku harap.

Namun kemungkinan besar harapanku itu terwujud. Pasalnya kata Ayah dan Mak e, di bulan puasa nanti, setan-setan berwajah seram yang menyesatkan manusia akan diikat sekuat-kuatnya. Aku yakin kalau setan Mak Cik Tini diikat, maka Mak Cik Tini bisa meninggalkan tabiatnya yang sudah kelewat sesat itu. Kecuali kalau Mak Cik Tini adalah setannya, itu lain lagi ceritanya.

Kau tahu, Kawan. Aku pun tak kalah serupa macam Mak Cik Tini. Semua orang pasti punya kelakuan yang tak mesti baik. Aku ini, kalau sedang bulan puasa memang berusaha mengelokkan perangai sendiri. Lantaran kata ustad di pengajian dulu pernah berwejang, bahwa bulan puasa merupakan bulan di mana kita punya seribu satu kesempatan untuk menjadi baik. Apalagi kalau sampai berbuat kesalahan, maka puasa kita tidak akan diterima oleh Allah.

Apalah daya diriku yang terlanjur nakal ini. Memperbaiki diri dengan apa adanya, belum sepenuhnya baik. Kalau puasa, aku biasanya berhenti mengembara dari kampung ke kampung demi menahan hasrat yang tak baik, yakni memuaskan nafsu kenakalan. Namun jika sudah tidak bisa kutahan, maka keluarlah aura nakal tanpa mengenal masa. Aku memang khilaf, sekhilaf-khilafnya. Akan tetapi aku tak tahu bagaimana hendak menebus kekhilafan itu. Jadinya aku membatalkan puasa—puasa setengah hari—lantaran yakin bahwa Allah sudah tak ingin lagi menerima puasaku. Daripada sia-sia, begitu pikirku. Tapi, alasan aku membatalkan puasa bukan hanya itu, tapi juga karena aku tak tahan menahan haus yang mendera. Ketika bermain dari kampung ke kampung, tak menutup kemungkinan bahwa aku akan terkena dehidrasi akut.

Aku biasanya akan main apapun yang bisa dibuat taruhan. Main kelereng, batu bekel, dan lain-lain. Siapapun yang bisa menang, maka akan mendapatkan traktiran minuman dari pihak yang kalah—untungnya aku adalah ratu kemenangan. Ya, taruhan ini berlaku hanya untuk anak-anak yang puasa setengah hari, atau tidak puasa. Walau aku bilang ke Neng bahwa aku puasa sehari penuh, tapi lain halnya kalau sudah dengan teman-temanku. Aku akan bilang kalau aku puasa setengah hari. Ya, walau Neng tidak mewajibkan aku puasa seharian penuh, hanya saja aku tidak mau kalau tidak dijatahi kurma nantinya.

Niatku sungguh tak elok. Berbohong puasa sehari demi kurma, puasa setengah hari demi enam ratus mililiter minuman. Sungguh tak patut ditiru!

Namun tenanglah, wahai Kawan. Sebab di sini, Mak e dan Ayah menganjurkanku agar tidak puasa. Alasannya adalah agar aku tidak sakit maag sedari kecil. Walau begitu, aku masih akan mendapatkan jatah kurma. Jadi di sini, tak ada niatku untuk bernakal-nakalan, berbohong-bohongan, dan bertaruh-taruhan. Bulan puasa kali ini, aku ingin sepenuhnya taubat walau tak puasa, dan aku berharap Mak Cik Tini beserta rombongan gosipnya pun memiliki niat yang sama.

Dengan begitu, maka kedamaian dan keberkahan akan memayungi Kampung Kasawari. [bersambung…]

Penulis: Nur Aminah Natasyah. Sumber tulisan: Blog Pesantren Media

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.