Kasawari (14)

14

Mak e: Surgaku

Surga di telapak kaki ibu, begitulah kata ustad mushollah padaku. Dikatakannya, kalau kita—sebagai anak—mendurhakainya, maka neraka yang akan menyambut kematian kita. Namun kalau kita mencintainya, maka surgalah yang akan menyambut kematian kita. Itu adalah aturan agama, aturan Allah dan semesta pun mengiyakan.

Sungguh, kalaupun tidak ada surga dan neraka, mencintai ibu bukanlah suatu ketidakmungkinan. Sebabnya, cinta ibu pada kita—anaknya—tak pandang ada surga atau neraka. Bagaimana pula kita pun tak merasakan hal yang sama? Secara otomatis, rasa cinta itu akan tumbuh, karena kekuatan cinta memang tak ada duanya. Itu karunia Allah.

Kau tahu, Kawan, cinta itu memang sesungguhnya tak memandang apa-apa, tak minta balasan apa-apa. Asal bisa mencintai dan memberikan segalanya, itu sudah lebih dari cukup. Dan itu, di dunia ini, hanya seorang ibu yang bisa melakukannya.

Allah pun begitu. Dia mencintai hamba-Nya dengan ketulusan yang benar. Maka dari itu, sungguhpun sembahyang itu seperti untuk-Nya, namun sesungguhnya sembahyang itu adalah untuk kita. Kita yang butuh pada Allah dengan cara berdo’a. Dan shalat adalah sebaik-baiknya do’a. Maka karena itu Allah akan memberikan kita sebaik-baiknya kebutuhan. Tanpa pamrih, tanpa meminta balasan. Itu cinta.

Mak e saat ini berumur lima puluh tahun. Dalam hitungan usia, pantaslah ia dikatakan sudah tua. Namun jika melihat dari luarnya, dari wajah dan kekuatan fisik, Mak e tak pantas untuk dikatakan kalau beliau sudah tua, berumur lima puluh tahun. Wajahnya yang hanya memiliki lima garis kerutan, badannya yang masih berisi, dan staminanya yang masih kuat untuk bekerja, kuyakinkan lagi, sangat tak pantas kalau ada yang bilang beliau tua.

Mak e dinikahi oleh Ayah ketika usianya … . Alasannya beliau menerima lamaran Ayah adalah karena Ayah merupakan seorang pemberani yang mau melamar Mak e ke Pak e—kakakekku—dengan sebuah keberanian yang gagah.

Mak e, seorang yang penuh rasa hamba walau ilmu keislamannya tak seberapa. Tak seberapa pandai pula membaca al-qur’an namun rajin bertadarus Surah Yaasiin, bahkan hapal level mutkin. Ibadah wajib tak pernah ditinggalkannya. Bercita-cita naik haji atas usaha anak-anaknya. Rasa syukur dan kesabarannya tak ada duanya baik di Kampung Kasawari maupun di Keluarga Kamsir dan Keluarga Syakur. Sangat percaya dengan surga, makanya tak pernah berkeluh akan cobaan di dunia. Pendorong rasa syukur kami.

Mak e, seseorang yang sangat berarti bagiku di dunia ini. Aku tak bisa jelaskan dan tuliskan bagaimana rasaku ingin berterimakasih padanya selain mendo’akannya agar Allah membalas segala cinta dan jasanya dengan surga. Konon surga tak bisa disamakan dengan apapun di dunia ini. Ia terlalu berharga dan indah. Jadi, kalaupun Mak e bahkan lebih berharga dan lebih indah dari surga hingga tak cukup jika hanya surga, maka aku pulangkan lagi pada Allah, atas hadiah apa yang pantas untuknya.

Selain merawatku dengan baik, mengorbankan segalanya untukku, Mak e akan melakukan apa saja untukku. Ya, untukku, untuk anak-anaknya yang berjumlah lima anak meninggal satu tinggallah empat ini. Aku ungkapkan ini karena aku yang menyaksikan sendiri dengan mata dan kepalaku atas tekad dan juangnya.

Dua bulan yang lalu, ketika Bang Burhan belum pindah dari Kampung Kasawari. Sejujurnya, aku tak rela Bang Burhan sekeluarga akan pindah. Selain karena aku akan tidak memiliki teman lagi, aku pun tak akan bisa lagi menikmati makanan Kari Burma masakan Bang Burhan yang enaknya bukan kepalang itu. Aku menangis, meratap berhari-hari, dan tak mau makan kecuali kari Bang Burhan. Namun aku pun tak bisa menahan Bang Burhan demi keegoisan perutku semata, bukan? Jadi, aku sakit.

Ketika aku sedang melamun di halaman rumah, Mak e memanggilku agar makan siang. Aku merasa ada yang aneh. Karena selama ini Mak e tak pernah memanggilku untuk makan siang. Biasanya aku yang akan makan sendiri. Namun aku tanggapi panggilan itu, segera menuju ke dapur. Tetapi sungguh tak kunyana, bau kari menyeruak ke hidungku. Aromanya yang harum, membuat hatiku ingin meledak karena terlalu bergembira. Apakah Bang Burhan memasakkanku kari untuk yang terakhir kalinya?

Ternyata oh ternyata, Mak e yang memasakkannya untukku. Karena Mak e tak tega melihat keterpurukanku yang tak patut itu, Mak e memutuskan untuk belajar membuat Kari Burma ala Bang Burhan dari Bang Burhan. Aku terharu, ingin terisak sembari makan. Tapi aku tak ingin menjadikan kari ini asin karena tumpahan airmataku. Jadi aku memilih untuk tidak terisak. Cukup menikmatinya dengan menahan isak.

Aku sangat menyukai Kari Burma. Bagiku itu sangat enak sekali. Sampai-sampai Ayah bilang kalau aku sangat menyukai kari, maka lebih baik aku menikah dengan orang Burma saja. Saran macam apa itu? Mengorban masa depanku demi kari?

Pengorbanan Mak e yang rela bersusah payah belajar masak resep Kari Burma untukku, bagi orang lain memanglah tidak begitu besar kalau hanya sebatas itu. Namun bagiku, itu sangatlah luar biasa. Dengan itu dia membuktikan cinta dan kasih sayangnya padaku dengan tulus. Tak sedikitpun dia memarahiku karena keterpurukanku yang tak masuk di akal itu. Baginya, di kondisiku yang seperti itu, yang harus dilakukannya adalah menuruti keinginanku semampunya. Maka itulah keputusannya. Dan itu, bagiku, adalah sebuah pengorbanan seorang ibu yang seperti biasa, selalu hebat luar biasa.

Kata ustad musholla itu memang benar adanya, bahwasannya surga anak adalah seorang ibu. Dan Mak e, adalah surga bagiku, bagi Cak Solihin Almarhum, bagi Cak Har, bagi Neng Sus, dan bagi Cak Ir.

Kalau begitu, bukankah surga memang sangat pantas dihadiahi surga? [bersambung…]

Penulis: Nur Aminah Natasyah. Sumber tulisan: Blog Pesantren Media

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.