Kasawari (9)

9

Kak Ayuk: Manusia Bertangan Bling-Bling

Kabar bahagia dari Cak Har menghebohkan warga kampung. Akhirnya Kak Ayuk mengandung anak pertama. Aku yang mendengar kabar itu, membentukkan huruf  O di bibir. Kak Ayuk memang galak dari dulu. Kata-katanya seringkali kasar. Tapi dia juga baik padaku—walau pelit. Dia suka membuat kue, kerajinan tangan, dan hal-hal mengagumkan lainnya. Aku pernah makan kue yang dibuatnya, dan itu adalah kue terbaik yang pernah kumakan. Namanya kue lapis, kuenya berwarna merah jambu dan putih. Aku yakin kalian pernah memakannya.

Dari sepenglihatanku, Kak Ayuk merupakan Orang Cina. Walau aku tak yakin seratus persen. Habisnya namanya ‘Ayu’, benar-benar nama Orang Jawa itu. Tapi dengan melihat kulitnya yang sangat putih, pakaiannya yang selalu minim ke mana-mana, dan pula kalungnya berliontin seperti patung kucing yang aku temukan di kedai atau rumah Orang Cina, yang mana patung itu dianggap patung keberuntungan bagi nasib mereka, semakin membuatku yakin kalau Kak Ayuk adalah Orang Cina. Dan semakin yakin lagi lantaran aku tahu kalau ternyata dia mahir berbahasa cina.

Rumahnya banyak sekali pernak-pernik dan hiasan dari sedotan. Pigura, bunga, gantungan-gantungan di langit-langit, semuanya berbahan dasar sedotan. Hebat betul, sampai-sampai Neng pun tergeser secara otomatis. Sudilah aku menjulukinya sebagai ‘manusia bertangan bling-bling’.

Kak Ayuk sejatinya bukan orang jahat. Hanya saja galak dan tegas. Aku berkata begini bukan tanpa bukti. Aku lihat sendiri bagaimana sabarnya dia dalam mengurus belasan kucing peliharaannya. Kak Ayuk dan Cak Har sangat gemar memelihara kucing. Semua kucing yang diurusnya adalah hasil pungutan dari pasar. Sungguh banyak kucing-kucing liar di rumahnya itu. Semuanya tak menarik untuk dilirik kecuali Bobby, si kucing hitam dengan bulu lebat bak anggora. Tapi sejatinya dia tetaplah kucing liar yang diabaikan orang di pasar. Namun kau pasti paham bahwa cinta tak pandang bulu. Tak sedikitpun Kak Ayuk mempermasalahkan status kucing-kucing peliharaannya. Selagi dia mencintai mereka, status kucing buangan pun diabaikannya.

Kucing-kucing itu masing-masing diberi nama yang unik dan elegan. Dan hebatnya, Kak Ayuk hapal semua nama masing-masing kucing. Memang maniak kucing betullah perempuan ini. Kucing-kucing itu pun menikmati hidup mereka dengan rasa syukur. Tempat tidur dan makan, semuanya terjamin. Walau tak makan makanan kucing mahal bak bintang iklan kucing di Tv, melainkan nasi dicampur ikan, asal mereka hidup dengan tidak mencuri ikan di pasar lalu dikejar-kejar penjual yang marah sambil mengacungkan parang hendak menamatkan mereka, itu sudah lebih dari cukup.

Aku yakin seyakin-yakinnya bahwasannya kucing-kucing itu menganggap Kak Ayuk dan Cak Har adalah pahlawan mereka yang sangat berarti.

Satu hal lagi yang membuat teduh hatiku bahwa Kak Ayuk tak membenciku. Suatu kesempatan, aku menatap kagum pada kuku-kuku Kak Ayuk yang berwarna. Setelah itu, dia megajakku memetik bunga tanamannya. Di kampung ini, yang punya tanaman bunga hanya Kak Ayuk. Dia memetik bunga mawar, bunga kamboja, dan bunga raya yang semuanya berwarna merah.

Lantas Kak Ayuk menyiapkan tumbukan dan piring, ditaruhlah bunga-bunga tadi di atasnya, lalu menumbuk bunga-bunga itu sampai halus. Setelah itu, Kak Ayuk meraih jari jemariku, mencolek sedikit demi sedikit hasil tumbukan bunga, menumpukkan ke kuku-kukuku dengan rata. Sampai semua kukuku ditumpukkan tumbukan bunga, Kak Ayuk menyuruhku untuk menunggunya sampai kering. Aku menurut.

Ketika kering, aku membasuh kuku-kukuku. Dan hasilnya mengejutkan. Kukuku tampak indah dengan warna merah yang pekat. Wah, sungguh berbakat Kak Ayuk dalam mengkreasikan sesuatu. Semakin mantaplah aku menjulukinya ‘manusia bertangan bling-bling’. [bersambung…]

Penulis: Nur Aminah Natasyah. Sumber tulisan: Blog Pesantren Media

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.