Kasawari (7)

7

Wanita Kuli Kedua di Dunia

Setiap Ayah pulang dari kerja, ekspresi wajahnya selalu gembira, memanggil-manggilku dari daun pintu. Samasekali tak pernah kutemukan ia pulang dengan keadaan lelah apalagi sedih. Aku jadi semakin mengagumi Ayah, bahkan mengagumi semua tukang kuli bangunan yang ada.

Suatu waktu, entah ide dari mana Cak Har dapatkan, dia tiba-tiba mengajakku untuk bekerja dengannya. Wah, senang betul aku dengan tawaran itu. Aku sudah membayangkan bagaimana sosokku yang ajib-ajib akan jadi kuli bangunan. Padahal jarang kutemukan seorang wanita jadi kuli. Kecuali Mak e. Itupun cuma angkat-angkat ember yang berisi semen. Entah-entah, Mak e adalah kuli wanita pertama di dunia. Aku takjub. Berarti aku akan menjadi yang kedua. Hebat, bukan?

Paginya, aku langsung dibawa oleh Cak Har ke lokasi kerjanya dengan motor pinjaman dari seorang teman kerjanya yang baik. Aku menelengkan kepala. Ini bangunan rumah, ya. Bukan bangunan pencakar langit. Baiklah, aku mafhum, sebagai pemula, aku harus mulai dari yang kecil terlebih dahulu. Cak Har memang guru yang hebat.

Bos Cak Har memanggilnya Harry. Bagus betul nama itu. Kenapa pula dulu Mak e tak sempat terpikir untuk memberinya nama itu, ya? Bos ini sungguh kece, pikirku. Bosnya punya dua anak yang sedikit lebih besar dariku. Lelaki dan perempuan yang bersih putih. Baru kali ini aku melihat diriku dengan perasaan hina. Kulitku sudahlah cokelat, baju dengan warna pudar, ditambah lagi muka pas-pasan. Tapi aku menghibur diri agar tidak terlalu hina. Mending kulit cokelat, daripada hitam. Mending baju warna pudar daripada baju sobek-sobek. Mending juga muka pas-pasan daripada jelek.

Walau begitu, tak lepas juga hatiku dari kecemburuan ekonomi akibat melihat kedua anak itu berlarian dibangunan setengah jadi yang luas dan besar, calon rumah mereka. Ditambah juga mobil yang penuh kilau itu membawa mereka pergi dari sini.

Enak, ya, jadi anak orang kaya. Ujarku suatu saat. Tapi sudahlah. Kalaupun aku tidak berhasil menjadi anak orang kaya, aku bertekad—entah dari kapan—aku akan menjadi orang kaya! Pekikku dalam hati.

Habis itu, Cak Har mengajakku pulang. Aku bingung pula. Eih, ternyata cuma rapat.

ooo

Besoknya, beda dengan kemarin, kali ini Cak Har kembali mengajakku berangkat kerja dengan membawa peralatan dan bajunya sangat lusuh. Baju khusus kuli. Aku yang melihat itu, bergegas merengek ke Mak e untuk dipakaikan baju lusuh. Tapi Mak e bergeming, tak ingin aku memakai baju compang camping. Alhasil, aku dipakaikan baju kuli Ayah yang tidak terlalu lusuh tapi masih ada bercak-bercak semen dan lagi, baju itu besar sampai-sampai menjulur ke lututku.

Sesampainya di sana, semangatku mengganas.

Aku akan jadi kuli! Aku akan jadi orang kaya! Begitulah pekikku dalam hati.

Tapi semua tak seindah yang aku bayangkan. Cak Har melakukan tugasnya, menyuruhku duduk di lantai atas, dan aku ditinggal sendiri. Ini sudah melenceng dari niatku semula ingin ke sini. Pengangguran bukan cita-citaku, dan aku tidak akan menjadi orang kaya dengan menganggur. Kebosanan melandaku bertubi-tubi. Aku turun, disuruh ke atas lagi. Aku ke atas, tapi ingin turun lagi.

Aku melihat ke bawah, melihat para tukang kuli itu melakukan tugasnya dengan lihai, sungguh membuatku iri tak terperi. Tapi lama-lama aku paham, Cak Har ingin mengajarku dengan cara memperlihatkan padaku secara langsung cara kerja mereka. Wah, aku kembali terkagum-kagum dengan teknik pengajaran Cak Har padaku. Dan akhirnya, aku terus-terusan melihat cara kerja mereka yang ke sana ke mari, sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepala tanda semakin mengerti. Dan celakanya, karena semakin mengerti, semakin tidak sabarlah aku untuk bergabung dengan mereka dan melakukan hal-hal yang sudah aku pelajari selama dua minggu lebih empat hari ini.

Aku tak tahan lagi! Aku memberontak marah karena diabaikan begitu saja. Aku geram dengan orang-orang yang sok kuat ini. Kalian pikir aku lemah, hah?! Akan kubuktikan tekad kerasku! Akan kutunjukkan kekuatanku! Dan akan kupamerkan kemampuanku! Camkan itu!

Aku turun ke bawah. Kuli-kuli itu, tak terkecuali Cak Har memandangku, memandang mataku yang penuh dengan amarah! Kalau tak ada kesempatan untuk kupraktekkan pemahamanku terhadap ilmu perkulian, maka tak akan lulus-luluslah aku. Dan pedihnya lagi, aku akan terus-terusan mematung di jendela, menatap geram para kuli, dan jadi pengangguran. Tak sudi aku!

Melihat wajahku yang tertekuk sempurna, salah satu kuli mendekatiku dengan membawa cangkul yang berlumuran semen.

“Boleh tolong angkatkan baldi-baldi semen, tu?” Pinta kuli itu sambil mengarahkan cangkulnya ke ember-ember yang berisi semen.

Uh, itu adalah permintaan agung yang kutunggu-tunggu selama ini. Akhirnya cita-cita pertama dalam hidupku tergapai. Aku akan menjadi kuli nomer dua di dunia setelah Mak e. Sembah syukurku pada Tuhan kulaksana.

Aku mengangkat ember-ember itu ke Pak Cik Cina yang memasangkan keramik dengan hati riang tak terkira. Cak Har bersamaan dengan kuli-kuli lainnya, melihatku yang tertatih-tatih, terkadang pula limbung, tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setelah berhari-hari aku ditugaskan sebagai pengangkut ember semen, terasalah kebosanan ingin berganti tugas yang lain. Tapi kupikir tak mungkin. Karena masing-masing kuli itu juga tak sekalipun mengganti tugas mereka. Pak Cik Cina itu masih saja sibuk dengan keramik-keramiknya. Pak Cik Cangkul itupun tak ada beda, masih saja sibuk dengan gunungan pasir serta sak-sak semen yang ia campurkan dengan air lalu mengaduk-aduk dengan cangkul andalannya. Bahkan Cak Har pun dari awal sampai sekarang masih saja setia dengan cat-catnya yang berwarna pastel itu.

Aku menghela napas, putus asa. Padahal aku ingin mencoba semuanya. Dari memasang keramik, sampai dengan mengecat tembok-tembok itu.

Tiga bulan berlalu, rumah yang semula kupandang hanya abu-abu, kini berubah drastis. Indah tak terjelaskan. Bahkan rumah Kepala Desa di kampung Indonesia pun tak sanggup bertanding.

Bagaimana tidak, toh rumah ini punya tangga yang besar bak istana kerajaan yang biasa kutonton di kartun. Teras yang luas, taman di halaman belakang rumah beserta kolam renang yang biru berkilau, dan satu hal yang benar-benar membuatku tak habis pikir: rumah ini memiliki gerbang yang bisa buka tutup dengan sendirinya. Sampai-sampai aku berulangkali keluar masuk lewat gerbang, ingin menyaksikan kehebatannya lagi dan lagi, hingga aku dimarahi Pak Cik Cina.

Semuanya selesai. Kecuali satu. Ada keramik besar bercorak bunga berwarna oranye, akan dipasang terakhir. Pak Cik Cina dengan keahliannya yang sudah lama membuatku iri, mengulaskan semen dengan simetris, lalu pelan-pelan menaruh keramik segiempat besar itu di atas semen yang masih basah dengan hati-hati. Pak Cik menyapu tangannya, lalu memberitahuku,

“Jangan pijak, tau!”

Aku megerjap-ngerjapkan mata. Kenapa tidak boleh dipijak? Walau begitu, aku mengiyakan seakan-akan menurut padahal memberontak.

Pak Cik Cina dan kuli lainnya masuk ke rumah, makan siang. Aku masih terpaku menatap keramik itu. Pertanyaan yang sama: kenapa tidak boleh dipijak?

Rasa penasaranku lebih besar daripada rasa takutku pada Pak Cik Cina. Jadi, berontakku lebih besar daripada turutku. Alhasil, tanpa memikirkan resikonya, aku menginjak keramik yang terlarang itu.

“Haiyah! Sudah wo kasih tau,  jangan pijak, o.”

Pak Cik Cina memergokiku. Gawat! Sekarang aku tahu kenapa. Semen yang ada di balik keramik itu muncrat ke permukaan keramik, dan Pak Cik Cina terpaksa mencabutnya, membersihkannya, dan mensimetriskan semen lagi. Ah, kalau tahu bakal begini jadinya, aku tak akan melanggar. Aku rasa aku tak sepenuhnya salah. Toh, Pak Cik Cina yang dari awal tak mengatakan akibatnya. Melarang saja mana cukup! [bersambung…]

Penulis: Nur Aminah Natasyah. Sumber tulisan: Blog Pesantren Media

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.