Kembang Kertas di Taman Sekolah

By: O. Solihin

 

“Ah, lagi-lagi dia menyita perhatianku!” ucap Ogi sambil tarik nafas panjang.

“Ternyata ada juga orang yang hobinya memetik kembang kertas,” Ogi geleng-geleng kepala nggak habis pikir. Tapi Ogi tak bisa membohongi diri bahwa orang tersebut mampu mencairkan dinding es yang selama ini mulai ia bangun. Meski Ogi sendiri nggak terlalu serius menanggapinya. Maklum kejadian sebulan yang lalu yang telah membuatnya shock.

Gimana nggak, Ogi sempat digosipkan ‘jadian’ sama Leony. Udah gitu yang menggosipkannya Rosa, lagi. Benar-benar kacau. Meski begitu, terus terang diam-diam Ogi memang tak bisa melupakan kelakuan orang yang hobinya memetik kembang kertas di taman sekolah, yang tak lain adalah si anak baru di kelasnya, Leony!

Ah, Ogi kayaknya makin bingung saja. Abisnya kalo rasa suka itu nggak mengenal musim dan orang. Ya, memang sulit untuk menghilangkannya begitu saja, meski Ogi sebenarnya tak ingin hal ini terjadi. Apalagi sampai diketahui banyak orang. Termasuk Rosa. Bagaimanapun Rosa adalah masa lalunya. Masa lalu yang kadang kala sulit juga untuk dilupakan. Tapi, Ogi juga memang menyadari kok, bahwa sampai pada titik tertentu ia harus realistis. Yes it’s hard to understand.

 ooOoo

“Mil, menurut kamu, anak baru itu nanti memetik kembang kertas nggak?” Ogi nanya sama Jamil.

“Firasatku membisikan bahwa ia bakal memetik kembang kertas itu,” kata jamil pede.

Keduanya memang biasa nongkrong di taman sebelah utara dekat kelas mereka. Di taman itu memang banyak kembang kertas ditanam dan tumbuh subur. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, namun sang dara yang ditunggu aksi memetik kembang kertas-nya belum muncul juga. Bukan apa-apa, Ogi dan Jamil cuma senang aja dengan kebiasaan aneh Leony, si anak baru itu.

Jam tujuh lewat sepuluh muncul sang dara dengan tas warna hijau esmeralda mendekati taman. Jamil dan Ogi sudah pasang mata untuk menyaksikan kebiasaan sang dara yang menurutnya adalah sesuatu yang aneh. Ternyata dugaan Ogi dan Jamil tak meleset. Leony memetik setangkai kembang kertas yang kemudian ia genggam dan dibawa ke kelas. Menyaksikan adegan itu Jamil dan Ogi cuma geleng-geleng kepala. Aneh tapi nyata.

Ogi dan Jamil kemudian beranjak menuju kelas, karena sebentar lagi bel pertanda memulai belajar akan dibunyikan. Dua anak muda yang memang akrab itu juga ikutan memetik kembang kertas di taman sekolah itu. Berbeda dengan Leony, yang memetik kembang kertas untuk dibawa ke kelas. Tapi Ogi dan Jamil malah saling melempar kembang kertas sambil ketawa-ketawa. Dasar “bocah”!

ooOoo

Hari senin yang cerah. Ogi pun sudah nggak telat datang ke sekolah. Entahlah, apakah disiplinnya sudah tinggi atau memang ada yang dicari. Naga-naganya sih, emang ada udang di balik bakwan. Apalagi kalo bukan menonton aksi petik kembang kertas-nya Leony.

Udara Jakarta masih seperti hari-hari kemarin, semilir angin yang berhembus terasa tak enak, karena sudah bercampur asap dari knalpot yang kaya dengan timbal. Meski begitu, tak ada pilihan lain kecuali menerima sebagai sebuah keharusan hidup.

Ketika Ogi memasuki gerbang sekolah, Ogi keheranan karena ternyata anak-anak yang kebetulan duluan datang malah berkerumun di taman sekolah.

“Ngapain tuh anak pada ngumpul di situ?” Ogi membatin sambil tetap melangkahkan kakinya menuju kerumunan anak-anak.

“Jangan-jangan mau ikutan lihat aksinya Leony si pemetik kembang kertas itu?” Ogi rada-rada nggak rela kalo mereka harus melihat juga aksi aneh Leony.

“Assalamu’alaikum!” Jamil yang kebetulan sudah ikutan berkerumun menyapa Ogi.

“Eh, wa’alaikum salam!” Ogi membalas salam Jamil.

“Mil, ada apa sih, kok tumben pagi-pagi udah rame?” Ogi setengah berbisik kepada Jamil.

“Ssstt.. Ada sesuatu yang mencurigakan..” Jamil seolah enggan berkomentar.

Ogi keheranan sambil mengernyitkan dahinya. Ogi nggak ngerti. Tapi rasa penasarannya membuat ia ingin melihat lebih jauh kondisi taman kembang kertas itu.

“Gi! Sabar!” kata Jamil sambil setengah menarik lengan Ogi.

Ogi hanya memandang lekat wajah teman akrab­nya itu. Tapi hanya sebentar saling beradu pandang, karena kemudian tanpa bisa dicegah Jamil, Ogi sudah menerobos kerumunan anak-anak di taman kembang kertas itu.

Begitu nyampe, Ogi ikutan melihat apa yang sedang dilihat sama anak-anak. Ternyata di bawah salah satu pohon kembang kertas ada sekitar empat alat suntik dari plastik. Di sampingnya ada semacam alat untuk membantu pembakaran tergeletak nggak jauh dari alat suntik itu. Ogi sendiri belum ngerti tentang alat-lat tersebut.

“Ini alat apaan sih? Siapa yang praktek dokter di sini?” Ogi ngomong sekenanya.

“Hus.. sembarangan!” anak sebelah Ogi yang tak lain adalah Helmi berkomentar.

“Lalu siapa yang telah melakukan ini. Dan maksudnya apa?” Ogi tetap nggak ngerti. Tepatnya polos.

“Gi, ini alat untuk memasukan putauw ke tubuh!” Jamil ngasih tahu.

“Putauw?” Ogi baru ngeh. Bukan apa-apa, selama ini Ogi memang sering mendengar anak-anak muda yang terjun ke dunia khayalan dengan menghirup putauw atau sabu-sabu. Tapi terus terang saja, kalo Ogi baru tahu wujud salah satu alat yang dipakai untuk memenuhi nafsu sakauw itu.

“Aku heran, Mil. Kenapa alat ini ada di sini?” Ogi mulai memutar otaknya.

“Nah, itu juga yang aku pikirkan, Gi!” Jamil ikut-ikutan mikirin.

“Mil, kita laporkan saja ke Pak Mario, wakil kepsek kita!” Ogi ngasih saran.

“Iya. Tapi beliau belum datang!” kata Jamil.

“Ya, sudah. Kita tinggalkan tempat ini,” kata Ogi sambil menarik lengan Jamil.

“Ada dua kemungkinan yang aku pikirkan tentang itu,” Ogi mencoba menganilisis.

“Kira-kira apa menurutmu?” Jamil mencoba menjadi pendengar yang baik.

“Begini, Mil. Pertama, ini ada orang lain alias bukan anak sekolah kita yang hari minggu kemarin atau malam minggu kemarin melakukan pesta putauw di sini. Dan yang kedua, tentu ini sebetulnya bukan yang kita harapkan..” Ogi nggak meneruskan ucapannya.

“Maksudmu apa, Gi?” Jamil memburu.

“Ya, yang ngadain pesta putauw ini bukan siapa-siapa. Tapi teman-teman kita..” ucap Ogi getir.

“Ah, nggak mungkin!” Jamil berusaha mementah­kan argumen Ogi.

“Lho, kamu dasarnya apa mengatakan bahwa bukan anak sekolah ini yang melakukan?” Ogi balik nanya.

“Anak-anak sekolah kita kan nggak ada yang bandel-bandel banget, gitu, lho!” Jamil ngasih alasan.

“Kemungkinan seperti itu memang ada, Mil! Itu satu sisi. Dan sisi yang lain adalah kenyataan pahit yang harus kita terima. Kita nggak bisa menutup mata bahwa ada anak-anak sekolah ini yang bandel. Kita mungkin nggak tahu gimana aktivitas dia di luar sekolah. Iya kan Mil?” Ogi tetap pada pendapatnya.

Suasana makin rame seiring dengan makin bermunculannya anak-anak yang datang. Dan, seperti teori sensasi, sebagian dari mereka tak langsung masuk ke kelas, malah ikutan nimbrung bersama teman-temannya yang memang dari tadi nongkrongin alat suntik plastik yang bergelatakan di taman kembang kertas. Sesaat kemudian, muncul Pak Mario dan Pak Burhan sang pembina Rohis. Ogi dan Jamil juga ikutan nimbrung lagi.

“Ada apa ini?” Pak Mario dan Pak Burhan kompakan.

Anak-anak yang dari tadi berkerumun memberi jalan kepada Pak Mario dan Pak Burhan, sambil tangan mereka seolah kompakan pula menunjuk ke arah alat-alat suntik yang tergeletak di bawah pohon kembang kertas.

“Bawa barang ini ke kantor! Tapi ingat pakai sarung tangan saat mengambilnya!” Pak Mario ngasih perintah ke salah satu anak yang ditunjuk.

“Dan kalian semua, masuk kelas! Biar masalah ini Bapak tangani,” Pak Mario memberi intruksi kepada anak-anak. Tanpa dikomando, anak-anak membubarkan diri sambil bercas-cis-cus membicarakan kejadian itu. Ogi dan Jamil pun ikutan membahas.

ooOoo

Ogi menerka-nerka siapa sebenarnya yang melakukan tindakan itu. Mungkinkah teman-temannya? Ia nggak habis pikir. Yang jelas setelah kejadian itu suasana sekolah jadi nggak enak. Banyak polisi datang mengontrol. Hampir tiap hari mereka datang ke sekolah. Ogi dan Jamil yang biasa memantau aksi Leony memetik kembang kertas jadi terganggu. Karena taman kembang kertas yang indah itu sekarang bukan hanya enak dipandang mata, tapi sekaligus menjadi tempat misterius. Setidaknya dengan ditemukannya alat-alat yang konon kabarnya biasa dipakai pengguna putauw dan sabu-sabu yang memang sekarang tengah menggejala sampai ke anak-anak SMU. Betul-betul memprihatinkan.

Tapi kalo memang pengguna itu adalah teman sendiri. Lalu siapa yang telah menjadi korban barang-barang haram itu?

“Mungkinkah si… Ah, aku tak mau su’udzon!” Ogi cepat menepis pikirannya sendiri.

Ia kemudian melanjutkan belajarnya pada malam itu. Tapi tentu belajar yang nggak sepenuhnya konsen, karena pikiran-pikran itu tadi. Ogi bangkit dari kursi. Kemudian ia menggerak-gerakkan badannya untuk mengusir rasa pegal di punggungnya. Kaos bola ber­tuliskan nama sponsor Fastweb milik klub Juventus dibukanya untuk ditukar dengan kaos oblong yang biasa dipake untuk tidur.

Ia lalu menekan tombol play pada compo kesa­yangannya. Nggak lama terdengar suara merdu yang menurut Ogi memuaskan jiwanya. Mengalirlah lagu Syukur yang merupakan salah satu tembang andalan Raihan.

“Ah, aneh memang. Kenapa anak-anak kok melarikan diri ke obat bius. Apa enaknya? Kalo dia lelaki? Ah, bukan laki-laki sebenarnya, bila tak bisa meng­hadapi kenyataan. Itu kan bukan penyelesaian masalah. Karena justru malah dia yang bermasalah dan menambah masalah. Aneh memang,” Ogi membatin.

ooOoo

“Mil, aku curiga sebenarnya kepada si Bahtiar teman kita itu,” Ogi coba meyakinkan intuisi dirinya.

“Kamu nggak boleh su’udzon gitu, Gi!” Jamil mengingatkan Ogi.

“Aku melihat gelagat itu ada pada dirinya!” Ogi berusaha meyakinkan Jamil.

Jamil nggak menanggapi, malah kemudian ia menunjuk ke arah pintu gerbang sekolah.

“Gi, itu Leony. Menurutmu, ia memetik kembang kertas lagi nggak?”

“Kayaknya sih, metik!” Ogi ogah-ogahan.

Tapi mau tidak mau Ogi melihat juga ke arah Leony yang memang tuh anak manis banget. Apalagi dengan lesung pipitnya bila ia tersenyum. Ogi dan Jamil berdebar menyaksikan aksi sang dara melewati taman kembang kertas. Dan… seperti biasanya, Leony benar-benar memetik kembang kertas itu dan menggenggam­nya erat-erat.

“Aneh!” Jamil dan Ogi hampir berbarengan.

“Gi, kok ada orang yang begitu menyukai kembang kertas, ya?” Jamil betul-betul heran.

“Mil, kamu tak melihat gelagat itu pada Bahtiar?” Ogi kembali menyambung pembicaraan semula.

“Entahlah. Aku nggak terlalu jauh harus mem­vonis dia,” Jamil berusaha menghindari obrolan itu.

“Ya, sudahlah, nanti juga kita tahu. Siapa saja sebenarnya yang telah melakukan perbuatan dosa itu,” Ogi kehabisan energi untuk berpikir.

ooOoo

Seminggu setelah kasus ditemukannya alat suntik di taman kembang kertas itu mulai ada titik terang. Bahtiar, setidaknya itu adalah analisis Ogi sudah tak masuk sekolah selama tiga hari. Ia dikabar­kan kabur dari rumahnya. Entahlah, apakah berkaitan dengan kasus putauw atau memang ada masalah lain. Yang jelas ia kabur membawa mobil kijang milik bapaknya entah kemana. Raib seperti ditelan bumi.

Tapi yang pasti dugaan bahwa Bahtiar terlibat kasus putauw berawal dari kabar yang keluar dari mulut rekan akrabnya Bahtiar, Doni. Bahtiar memang rada-rada bandel. Tapi siapa yang nyangka kalo ia terlibat begitu jauh dengan dunia para drug-mania. Secepat itukah Bahtiar berubah? Entahlah kabar yang tersiar memang demikian adanya, setidaknya itu kata Doni.

Doni bilang, Bahtiar memang sudah parah. Dalam seminggu ia bisa sakauw sampai tiga kali. Dan untuk mendapatkan barang haram itu ia harus membobok tabungan miliknya. Bila tak ada, apapun ia akan gadaikan demi serbuk maut untuk memenuhi nafsu sakauw-nya. Mungkin juga mobil kijang milik bapaknya ia gadaikan. Ya, siapa tahu, soalnya satu gram serbuk itu dijual dengan harga 350 ribu perak.

“Ah, Bahtiar, kenapa kamu begitu?” Ogi membatin. Meski ia sendiri masih menyimpan sedikit keraguan terhadapnya. Apakah benar Bahtiar terlibat. Tapi itulah memang yang terjadi.

ooOoo

Ogi baru saja keluar dari musholla ketika ia mendengar ribut-ribut di taman kembang kertas. Malah sebagian anak cewek ada yang menangis his­teris. Ogi makin kaget. Ia berlari mendekati kerumunan anak-anak.

“Ada apa ini?” Ogi teriak.

“Gi, Bahtiar kecelakaan!”

“Innalillaahi!” tanpa sadar kalimat itu meluncur dari mulut Ogi.

“Sekarang ada di mana?” Ogi berusaha mencari tahu.

“Di rumah sakit Cipto!” kata salah seorang dari mereka. Akhirnya setelah meminta izin kepada Pak Burhan, Ogi, Jamil dan beberapa orang rekannya me­nuju rumah sakit Cipto.

“Pelan aja Pak!” Ogi berusaha mengingatkan Pak Sobirin, supirnya Pak Burhan ketika mobil itu dipacu dengan kecepatan tinggi.

“Iya Pak, nggak usah tergesa-gesa!” kata Jamil.

“Tenang, Gi!” kata Pak Sobirin singkat.

Setengah jam kemudian mobil yang ditumpangi Ogi dan rekan-rekannya memasuki pintu gerbang ru­mah sakit Cipto. Setelah diparkir dengan aman, mereka kemudian berlari menuju ruangan gawat darurat tempat Bahtiar dirawat. Tapi mereka tak menemukan. Bahkan informasi dari seorang perawat membuat anak-anak lunglai.

“Kamar Mayat?” Ogi setengah terpekik. Tapi kemudian ia segera tersadar dan mengikuti langkah teman-temanya menuju ruangan yang ditunjuk sang perawat.

“Ini teman-temanya Bahtiar?” tanya seorang petugas rumah sakit begitu melihat Ogi dan rekan-rekannya datang ke situ.

“Iy. Iy. Iyaa Pak!” Ogi gugup dan diikuti anggukan rekan-rekannya.

“Bahtiar?” Ogi nggak meneruskan.

“Ya, Bahtiar telah tiada, karena luka-luka yang diderita akibat tabrakan itu sangat parah. Dan mobil kijangnya saja ringsek total dihantam truk tronton!” kata petugas itu datar.

Innalillaahi wa inna ilaihi roojiun” ujar anak-anak kompak. Ogi tak kuasa menahan air matanya. Begitu­pun dengan Jamil dan Doni juga anak-anak, mereka larut dalam kesedihan. Bagaimana pun juga Bahtiar adalah teman sekelasnya. Meski memang kelakuannya bandel.

“Sebelum meninggal ia menitipkan ini buat seseorang katanya!” petugas rumah sakit itu menyo­dorkan sebuah bungkusan mungil.

Cepat-cepat Ogi membukanya. Dan betapa kagetnya Ogi begitu melihat setangkai kembang kertas yang sedikit ternodai darah ada bersama selembar kertas bertuliskan sebuah puisi. Dan yang makin membuat Ogi kaget di situ juga ada secuil serbuk putih putauw. Tak sabar Ogi segera membacanya:

 

A Poet for My Dear Love

 

To the very best that happen in my life

Long ago and in my mind, I can see you

face lonely and lost in time

You were gone since yester month.

But the memories never would dissapear

I think of you, I THINK OF YOU

Yes it’s true I can pretend. But the paint of blue,

keep beat me till the end.

Yes it’s hard to understand. Why you leaving me

and all we dreaming on

Dear Leony, I close my eyes and see your face

That’s all I have to do to be with you

Dear Leony, although I can not touch your face

I know what I can do to be with you

Long ago so faraway. But the light of blue,

still living with me today

You were gone since yester month.

But the memories never would dissapear.

 

Ogi geleng-geleng kepala. Ternyata benar dugaannya selama ini bahwa Bahtiar terlibat kasus putauw. Dan sekarang ia tahu, Bahtiar berbuat seperti itu gara-gara soal cinta. Tapi Ogi mendadak tersenyum kecil ketika mengetahui bahwa puisi yang ditulis Bahtiar adalah tampilan sebuah virus makro yang pernah menyerang komputernya. Virus yang dibuat hacker yang kayaknya lagi putus cinta itu. Tadinya Ogi pun akan menggunakan puisi itu, tapi kelihatannya kurang cocok dengan suasana hatinya.

“Akhirnya terpecahkan juga misteri alat suntik di taman kembang kertas itu. Apalagi Daru, temannya Bahtiar yang ikutan nyepet juga ngaku saat diintero­gasi polisi. Kasihan kamu Bahtiar!” Ogi bergumam pelan sekali.

Suasana rumah sakit begitu mengharukan. Tangisan anak-anak yang mengiringi jenazah Bahtiar belum juga reda sampai pintu gerbang rumah sakit.

“Gi, ternyata diam-diam Bahtiar menyukai Leony,” Jamil melirik Ogi.

“Dan tampaknya Leony tak menyambut keha­dirannya,” kata Ogi membalas tatapan mata Jamil. Jamil hanya mengangkat kedua bahunya. Terik matahari semakin membakar perasaan teman-teman Bahtiar, termasuk Ogi. Bahtiar terlalu cepat pergi sebelum bisa bertobat.[]

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 20/Januari 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.