Lembayung Hati

By: Ria Fariana

 

Sore itu di pelataran parkir SMU Cita terlihat cukup ramai. Beberapa siswi terlihat bermandi peluh. Tapi tetap wajah mereka terlihat riang dan sesekali canda tawa terdengar. Latihan cheerleaders untuk persiapan Hari Kartini yang masih dua minggu lagi sudah mulai dipersiapkan dengan serius. Gelar sebagai tim cheerleaders terbaik jangan sampai ternoda (cie…ternoda, emangnya baju). Sebagai remaja generasi muda harapan bangsa mereka juga tak mau ketinggalan dengan anak TK yang memperingati Hari Kartini dengan mengadakan pawai jalan keliling kota memakai baju-baju adat.

“Nilam, jangan lupa. Persiapan kostum harus sudah siap seminggu sebelum hari H,” Tika, sang ketua tim mengingatkan Nilam. Yang diajak bicara cuma mengacungkan jempol kanan (yang pasti sih jempol tangan dan bukan kaki lho) sebagai tanda oke. Satu per satu para gadis itu meninggalkan lapangan parkir yang mulai lengang. Ada yang dijemput motor bahkan tak jarang yang memakai mobil. Mayoritas yang bersekolah di SMU Cita memang kalangan menengah ke atas.

“Nilam, kok belum pulang? Hampir maghrib lho,” Mas Aryo, ketua OSIS menyapa Nilam yang duduk di bangku beton sebelah lapangan parkir.

“Saya menunggu senja sekalian sholat maghrib di musholla sekolah.”

“Menunggu lembayung senja lagi?” Nilam mengangguk. Cuma Mas Aryo yang tahu kecintaan Nilam pada lembayung senja karena kegiatan latihan cheerleaders yang tiap Sabtu sore hampir selalu berbarengan dengan kegiatan Aryo di rohis. Seorang ketua OSIS yang juga aktivis rohis. Aryo selalu menyapanya, tapi sambil lalu. Ketika ia mengambil motor GL pro (bukan Genjot Langsung Protol lho) di parkiran sekolah, ia selalu melewati Nilam yang menunggu senja di bangku beton itu. Tak pernah lebih. Tak ada percakapan lanjutan sebagaimana cowok lain yang penuh basa-basi tapi ternyata ujung-ujungnya tanya alamat rumah, telpon rumah, nomer HP dan…sudah punya pacar atau belum. Huh…norak. Aryo beda di mata Nilam.

Lembayung itu pun akhirnya muncul, jingga dan indah di langit sebelah barat. Entah kenapa, memandang lembayung senja selalu memunculkan satu nuansa eksotis di hati Nilam. Memandang langit dengan sapuan warna indah senja lengkap dengan lembayungnya, mengantar mentari menepi, membuatnya menghayati akan kehidupan yang pasti akan ada tepinya pula.

ooOoo

Seminggu menjelang perayaan Hari Kartini. Semua telah dipersiapkan sebaik mungkin. Atraksi-atraksi berbahaya hingga membentuk formasi 4 tingkat pun sudah dilatih berulang kali dengan mantap. Tim lain mungkin hanya berani setinggi 3 tingkat. Tapi Cheerscita, nama tim cheerleaders SMU Cita, selalu berusaha memberikan sesuatu yang lain daripada tim mana pun. Dan untuk kali ini mereka berhasil membentuk formasi hingga setinggi 4 tingkat.

Latihan pun menjadi tiap hari. Kecuali hari Jumat nanti latihan terakhir karena Sabtu untuk istirahat agar di hari Minggu yang juga hari H-nya bisa tampil prima. Karena sore ini aula sekolah yang biasanya dibuat latihan Cheerscita dipakai untuk kegiatan tenis meja, akhirnya Nilam dan teman-teman pun mencari alternatif ruangan lain. Ada ruangan kosong kelas 2 IPA3 dekat musholla. Karena tak ada alternatif tempat lain, akhirnya dipakai juga tempat itu.

Beberapa saat mereka berlatih, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Sari yang membukakan. Entah kenapa, wajahnya mendadak berubah tegang dan sepertinya dia terlibat adu argumen dengan seseorang yang mengetuk pintu tadi. Nilam pun mendekat.

“Ada apa, Sar?”

Tauk nih, mentang-mentang ketua OSIS, katanya keberadaan kita mengganggu kegiatan anak-anak rohis,” jawab Sari dengan wajah merah. Nilam pun berusaha melihat siapa lawan bicara Sari. Mas Aryo!

“Kenapa Mas? Ada yang bisa saya bantu?”

“Tolong deh, kalian sebaiknya mencari tempat lain untuk latihan.”

“Tapi aula sedang digunakan, dan cuma ini satu-satunya ruangan kosong yang tidak dikunci sore ini. Jadi kami terpaksa menggunakannya,” Nilam berusaha menjelaskan.

“Saya tahu. Kalian muslim juga kan? Selain mengganggu aktivitas di musholla dengan suara musik yang keras, aktivitas yang kalian lakukan juga tidak sesuai dengan Islam.”

“Enak saja tidak sesuai dengan Islam. Jangan sok alim yah,” Sari tiba-tiba menyahut sambil menuding-nudingkan tangannya ke wajah Mas Aryo. Nilam segera menenangkan Sari dan menengahi.

“Baik Mas, kami akan pindah.” Nilam pun menarik tangan Sari menjauh dan segera menuju tape recorder, mencabut saklarnya dan memberitahukan ke teman-teman yang lain untuk pindah. Dengan menggerutu, yang lainnya pun menurut dan mengikuti Nilam keluar ruangan. Suara-suara seperti ‘Nilam sih mau saja di suruh pindah’, ‘biarpun ketua OSIS gak boleh dong dia otoriter seperti itu’ dan kalimat-kalimat senada lainnya.

Karena tak ada satu ruangan pun yang bisa dipakai, akhirnya latihan sore itu dibatalkan. Tapi tak ada satu pun yang beranjak pulang. Mereka masih saja berkerumun dan berbisik-bisik. Hanya Nilam yang terlihat menyendiri, memandang ke arah barat tempat lembayung akan muncul. Kata-kata Mas Aryo masih terngiang di telinganya. Benarkah aktivitas yang dilakukannya ini tidak sesuai dengan Islam? Tapi mengapa?

Perlahan matahari tergelincir ke barat, menyisakan lembayung yang indah. Pun menyertakan gulana bertambah di hati Nilam, kalut karena sisa waktu tinggal beberapa hari plus tambahan pertanyaan yang belum terjawab.

ooOoo

Hari H, 18 April yang bertepatan dengan hari Minggu. Semua stand ekstrakurikuler di SMU Cita sudah siap dengan program-programnya untuk promosi. Ada stand pramuka lengkap dengan panitia berseragam coklat, PMR, Paskibra, volley, dan lain-lain. Uniknya stand rohis (kerohanian Islam) kebetulan berdekatan dengan stand Cheerscita yang merupakan ekskul baru. Mungkin memang sengaja didekatkan karena awalnya rohis-lah yang paling keras menentang keberadaan ekskul baru itu.

Setelah kepala sekolah turun tangan dan memberi syarat keberadaan cheerleaders akan diakui setelah ada bukti positif prestasinya, barulah perseteruan agak mengendur. Tapi itu di permukaan saja. Karena kepala sekolah yang keras kepala itu tidak bisa lagi diajak bicara tentang halal-haram meski beliau seorang muslim juga.

Rupanya ide sekuler sudah begitu mencengkeram pemahaman beliau. Akhirnya terjadilah gerilya di kalangan aktivis rohis dengan mengopinikan segencar-gencarnya melalui buletin, mading, majalah sekolah, kajian-kajian maupun lobi ke para guru yang muslim tentang alasan penolakan mereka terhadap ekskul yang satu itu. Begitu juga dengan Cheerscita juga lebih menggiatkan latihan sehingga prestasi demi prestasi berupa piala dari berbagai macam kejuaraan diraih. Setelah berjuang kurang lebih tiga tahun untuk membuktikan diri akhirnya tahun lalu Cheerscita diresmikan jadi bagian dari ekskul sekolah SMU Cita.

Di tengah balutan rok mini berwarna merah, atasan yang juga merah kombinasi kuning sebatas pusar, kaos kaki selutut dengan warna senada, ikat kepala pun tak ketinggalan serta yang pasti pom-pom dari tali rafia di kedua tangan gadis-gadis belia itu. Mereka terlihat mencolok di antara semua ekskul yang ada. Apalagi dengan dandanan yang cukup tebal, cukup menjadi perhatian di tengah gadis-gadis sebaya yang berkerudung dan berjilbab di stand sebelah. Stand rohis meski satu tapi tetap dibagi dua oleh mereka sendiri, bagian ikhwan (laki-laki) dan akhwat (perempuan). Bagian akhwat sengaja dipasang dekat ke stand Cheerscita sekaligus mendakwahi mereka rencananya. Dan bagian ikhwan bersebelahan dengan stand ekskul karate yang mayoritas cowok itu.

Acara dibuka dengan salam dan susunan acara dibacakan. Kemudian basa-basi sambutan dari panitia dan kepala sekolah. Setelah itu acara ditutup secara simbolis dengan pembacaan doa dari guru agama agar semua berjalan tertib dan lancar. Lucunya, tepat setelah doa dibacakan dengan khusyuk, band pembuka langsung ditampilkan menyanyikan lagu-lagunya /rif yang hobi jejingkrakan.

Setelah itu baru tim Cheerscita tampil dengan formasi barunya. Kurang lebih setengah jam mereka unjuk raga (habis kan bodinya aja tuh yang dipamerkan) dengan beberapa kali format tingkat 4 diperagakan. Karena bodi Nilam yang imut, jadilah ia yang berada di puncak formasi empat itu. Menelentangkan kedua tangannya lebar-lebar sebelum akhirnya turun lagi dibantu kawan-kawannya. Begitu berulang hingga tampilan yang kesekian, Nilam kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa teman-teman di bawahnya. Leher dan lengan kanannya sempat terkilir sehingga segera dilarikan ke rumah sakit.

Karena lukanya tidak begitu parah, Nilam diperbolehkan untuk pulang. Tak ada satu teman pun dalam group Cheerscita yang menemani. Sebagian dari mereka memang ikut mengantar ke RS tadi, tapi tak lama. Mereka segera kembali ke sekolah untuk ikut mengikuti acara yang tertunda karena kecelakaan itu. Sesampainya di rumah, mobil sekolah itu pun segera kembali dan meninggalkan Nilam seorang diri. Namun tak berapa lama kemudian ada tiga orang aktivis rohis mengunjunginya. Mereka ramah dan hangat meski dua di antaranya baru kenal saat itu juga. Sedang satu di antara mereka adalah Nita, teman sekelasnya waktu SMP meski tidak begitu dekat.

“Nit, kenapa sih Mas Aryo tempo hari pernah bilang kalau aktivitas Cheerleaders semacam ini tidak sesuai dengan Islam?” akhirnya Nilam menanyakan hal yang mengusiknya itu ke Nita.

“Karena Islam menghargai wanita dan melindunginya. Lihatlah, kamu terluka akibat aktivitas itu.”

“Tapi kalau aku lebih berhati-hati dan tidak jatuh, apa Islam jadi membolehkan?” tanya Nilam polos.

“Bukan begitu. Islam menghargai wanita bukan dari fisik semata, tapi lebih ke ini dan ini,” kata Nita sambil menunjuk kepala dan dadanya. Maskudnya akal dan hatinya.

“Coba, kalau ada beberapa orang yang ikut cheerleaders, pasti yang dipilih yang berbodi ramping dan cantik. Kasihan dong yang berbodi endut dan gak begitu cantik, latihan mulu tapi tak pernah punya kesempatan untuk tampil,” Nita mencoba bergurau di tengah penjelasannya ke Nilam.

“Endut atau pun kurus, cantik atau pun jelek, tidak akan dinilai oleh Allah karena itu sesuatu yang tidak bisa kita pilih. Tapi perbuatan, apakah sesuai dengan Islam atau sebaliknya, itulah yang akan dinilai dan dihitung kelak. Lagipula Kartini pasti akan menangis bila beliau masih hidup melihat perjuangannya dihargai sebatas penampilan buka-buka aurat kaum wanita, jingkrak sana jingkrak sini yang tak jarang bikin cowok sulit nafas,” kata Nita sambil tersenyum. Nilam pun hanya terdiam, berusaha mencerna semua kata-kata Nita.

Tanpa terasa, di ufuk barat senja mulai merambat, membawa serta lembayung jingga yang disukainya. Samar terdengar suara Sarasdewi berdendang lagu Lembayung Bali kesukaannya dari dalam rumah besar itu. Tapi lirik itu telah berubah dalam hati Nilam. Mengingatkan ia pada teman-teman di Cheerscita yang tak ada di samping kala ia membutuhkan. Sebaliknya teman-teman rohis yang dulu hanya dipandangnya sebelah mata, menawarkan suatu hal baru pada dirinya. Tentang hakikat wanita sebenarnya yang baru saja diketahuinya. Syukurlah Allah masih memberinya waktu untuk meraih hidayah-Nya.

Menatap lembayung di langit Bali

Dan kusadari

Betapa berharga kenangan-Mu

Di kala jiwaku tak terbatas

Bebas berandai memulang waktu

Hingga masih bisa kuraih diri-Mu

Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf

Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu

Oh cinta

Teman yang terhanyut arus waktu

Mekar mendewasa

Masih kusimpan senda tawa kita

Kembalilah sahabat lawasku

Semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian

Sosok yang mengaliri cawan hidupku

Bilakah kita menangis bersama

Tegar melawan tempaan semangatmu itu

Oh jingga

Hingga masih bisa kujangkau cahaya

Senyum yang menyalakan hasrat diriku

Bilakah kuhentikan pasir waktu

Tak terbangun dari khayal keajaiban ini

Oh mimpi

Andai ada satu cara

Tuk kembali menatap agung surya-Mu

Lembayung Bali

 

(Memory of ’95 in the beloved SMU, fight against maksiat!)

 

Sumber: Majalah Permata, Edisi 22/Maret 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.