Blue Film

By: Koko Nata

 

“Eh gimana kemaren?”

“Gila!!! Horor banget”

“Apanya?”

“Pemainnya!!! Hot banget. Gue sampe nggak tahan”

“Nggak tahan apa ?”

“‘Ih, nanya lagi!”

“Habis nonton kalian ngapain?”

“Biasa Man… Sret…sret… sret …He…he…he…”

“Pelampiasan nih ye… ”

“Eh ngomong apaan sih? Udah pada ngerjain PR Kimia belum?”

Joe mengusik bisik-bisik Reno dan Delon. Keduanya kaget mendapati Joe tahu-tahu sudah ada di belakang.

Si Joe denger nggak ya omongan gue barusan. Pikir Delon

“Eh…anu itu. Nggak kok. Kita cuma ngomongin acara nginep bareng di Rumah Ruben malam minggu kemaren,” Delon tergagap-gagap.

“Wah asyik dong. Belajar bareng kan? Berarti PR Kimia sudah beres dong. Aku lihat nomor Lima ya! Rada bingung nyari penyelesaiannya.”

“Kalo PR sih kita juga belum Joe. Makanya datang pagi-pagi. Mo lihat juga!”

“Yee…jadi kalian ngapain aja nginep semaleman di rumah Ruben?”

“Biasalah Jo. Pesta cowok. “

“Pesta cowok?”

Masih banyak pertanyaan yang akan keluar dari mulut Joe, tapi Reno dan Delon sudah beranjak pergi, bergabung dengan anak-anak yang senasib. Belum ngerjain PR gitu. Joe kurang suka dengan kebiasaan jelek ini. Lihat sih boleh. Sekadar membandingkan apa yang telah dikerjakan di rumah. Namanya juga PR bukan PS alias Pekerjaan sekolah.

Akhir-akhir ini anak-anak kelas Joe paling suka ngumpul. Nggak siang, nggak malam. Pake acara nginep lagi. Entah apa saja yang mereka lakukan. Dari selentingan obrolan mereka, nonton bareng adalah acara tetap yang selalu mereka lakukan.

Mungkin nonton film-film baru yang lagi ngetop. Pikir Joe. Maklum remaja usia belasan tahun seperti mereka memang paling maniak sama film-film begitu. Apalagi film-film box office. Biar nggak kuper alasannya.

Joe belum pernah ikut acara anak kelasnya. Atau lebih tepatnya belum menyempatkan diri. Habis, biasanya yang doyan ngumpul-ngumpul begitu mereka-mereka yang ngaku anak gaul en funky. Gaul artinya tahu semua yang lagi in di Barat sana. Sedangkan funky, berani tampil beda alias norak. Ih siapa mau? Gaul en funky boleh tapi tetap harus islami dong! Tul nggak?

ooOoo

“Anak cowok makin gila deh Rin!”

“Gila? Gila gimana?”

“Mereka doyan nonton bokep!”

WHAT…??”

Telinga Joe bereaksi seketika saat obrolan itu tak sengaja didengarnya. Bener anak-anak suka nonton bokep alias film porno. Film yang ada adegan panasnya itu lho. Tahu nggak? Bukan film kebakaran. Tapi flm yang…ih malu ngomongnya.

“Makanya mereka sekarang doyan banget kumpul-kumpul. Pake nginep segala lagi. Lihat tuh tampang mereka. Kayak orang yang kecanduan kan? Suka melamun, trus ngikik sendiri. Jangan-jangan kita yang dikhayalin. Ih amit-amit deh…”

Joe terus menyimak kalimat yang dilontarkan oleh Tere.

Jadi itu kerjaan anak-anak selama ini. Pantes doyan banget. Tapi apa bener sih mereka suka nonton yang begituan. Informasinya baru satu arah. Aku harus cari informasi lain. Atau gimana kalau aku ikut mereka aja ya?

Joe menghampiri Reno dan Delon yang sedang asyik makan bakso di kantin sekolah. Dengan gaya sok akrab sok dekat, Joe mengorek informasi.

“Eh Del. Kapan mo kumpul-kumpul lagi? Ajak-ajak dong!”

Delon menatap dengan pandangan curiga. Ngapain anak idealis seperti Joe ikut-ikutan kumpul sama genk mereka. Bukannya Joe lebih suka duduk melingkar di musala. Tumben. Peningkatan nih.

“Kamu? Pengen ikut ngumpul bareng kami?”

“Heu…euh. Nggak boleh?”

“Nggak. Kita heran aja”

“Iya lo kan paling alergi dengan acara-acara kita” Reno menimpali ucapan Delon.

“Sekali-kali boleh dong aku ikut kalian. Pengen cari suasana baru masa’ nggak boleh?”

“Ah nanti lo ketagihan Joe. Apalagi tampang polos kayak lu bisa merem melek kalo kumpul sama kami”

Nah lo. Naga-naganya bener nih omongan Tere. Ucap Joe dalam hati.

“Udah deh pokoknya aku ikut. Janji, aku nggak akan macem-macem en sesumbar sana-sini setelah ikut acara kalian!” Joe membuat tanda V dengan telunjuk dan jari tengahnya.

“Janji?”

“Janji!!!”

“Oke. Malam minggu jam tujuh di rumah Alex. Siapin uang sepuluh ribu buat beli makanan ringan “

“Oke deh. Aku balik ke kelas dulu ya. See you

ooOoo

Rumah Alex lebih mirip istana daripada rumah. Halamannya luas banget. Sepertiga lapangan bola! Di belakangnya ada kolam renang. Anak-anak kelas Joe ternyata sudah pada ngumpul sejak sore untuk berenang. Ketika Joe datang. Semua baru pada mandi.

Ada sekitar sepuluh anak yang akan menginap di rumah Alex. Di rumah seluas itu Alex cuma tinggal sendiri. Mami-Papinya ke luar Kota. Kakak satu-satunya sudah kuliah dan tinggal di kos-kosan. Hanya ada tiga orang pembantu yang kalau malam lebih suka bersembunyi di kamar masing-masing. Otomatis apa yang dilakukan Alex dan kawan-kawan tidak ada yang tahu.

“Oke sebentar lagi kita ber-honey moon ria. Ini yang bikin heboh di Bandung sana. Siap?”

“Oke Lex. Langsung aja” Ujar Sena.

“Lo siap Joe. Pasti ini pertama kalinya ya lo nonton yang ginian. Siap-siap ke kamar mandi ya Joe”

Dan apa yang dibilang Tere tempo hari benar adanya. Di kamar seluas lapangan bola voli itu, Alex memutar film porno. Anak-anak mengambil posisi ternyaman. Lampu dimatikan. Hanya sinar dari layar televisi yang menjadi penerang. Joe tak tahan menghadapi situasi ini. Ia berusaha menutup telinga dan memejamkan mata. Namun keinginan itu begitu kuat menghentak-hentak. Joe juga ingin tahu seperti apa sih Blue Film itu

Joe menyipitkan mata dan Ya Tuhan. Gila. Adegan di layar televisi bukan main horornya. Sebuah adegan yang tak pantas untuk disaksikan anak usia belasan tahun seperti mereka.

Daripada semakin tergoda. Joe melarikan diri menuju kamar mandi.

“Wah Gila. Joe sudah ke kamar mandi duluan tuh”

“Tuh anak ternyata sudah nggak tahan. Pengen ON duluan” Joe menutup telinganya rapat-rapat. Ia menghidupkan kran air. Meringkuk di kamar mandi dengan hati tak karuan. Ya Allah, hamba tak dapat menghentikan kemaksiatan ini. Dan joe hanya bisa meringis, menyesali kebodohannya yang mau datang ke rumah Alex. Sedang di luar sana, suara desah napas makin bersahutan.

ooOoo

Joe melaporkan hasil temuannya di rumah Alex pada Adam di musala sekolah. Adam sama sekali tak kaget mendengar penuturan Joe. Ia malah bertanya “Jadi kamu belum pernah nonton film biru Joe?”

Joe mengangguk.

“Emang kamu sudah pernah nonton yang begituan Dam?”

“Film Biru, aku paling doyan Joe! Lumayan buat refreshing. Tambah wawasan!”

Joe melongo. Heran tak dapat ia tahan. Bagaimana bisa ketua rohis sekolahnya punya hobi yang sama dengan Delon and the gank. Apa jadinya masa depan bangsa ini kalau anak sealim Adam saja suka sama yang begituan. Ya Allah… Joe mengurut dada.

“Kenapa Joe. Heran? Nyantai aja Joe. Jumat ini malah aku mau ngajak Delon Cs nonton bareng di rumahku. Dijamin lebih dasyat daripada yang kamu lihat di rumah Alex sabtu kemaren. Kasih tahu anak-anak yang lain. Gratis. Ada cemilannya lagi. Jangan nggak datang ya. Sudah…aku mo ke ruang kepsek dulu nih. Mo nanyain perkembangan proposal dana Isra Mi’raj kemaren. Aku tinggal dulu ya Joe. Sorry nggak bisa nemenin baca Quran. Assalamualaikum”

Joe masih mematung di tempat duduknya. Tampangnya persis orang kesambet Jin. Ngeri banget.

Ya Ampun Adam. Kamu Gila atau apa? Kepala Joe tiba-tiba berdenyut dan terasa sangat berat sekali.

ooOoo

Pergantian hari begitu lambat bagi Joe. Ia tak sabar menunggu hari Jumat. Ia ingin tahu, bener nggak sih omongan Adam kemaren. Masa’ Adam ikut-ikutan error.

Lepas salat Jumat cowok-cowok yang tertarik dengan sesumbar Adam, sudah berkumpul di teras rumahnya. Adam mengajak mereka menuju sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu kosong melompong tidak ada perabotan. Hanya beberapa sajadah yang terhampar di atas karpet hijau. Joe menebak pasti ruangan ini musala pribadi. Nah lho, masa sih Adam ngajak nonton film gituan di musala. Bisa dikutuk malaikat tuh.

Setelah sukses menyeret TV 21’ dan VCD portable, Adam menyibak gorden jendela hingga ruangan menjadi redup.

“Baik sebelum film diputar, saya minta teman-teman tenang dan tidak berkomentar macam-macam selama penayangan fIlm. Filmya nggak lama kok. Cuma dua puluh menit. Setelah ini akan ada komentator dari orang yang ngerti isi film tersebut.

Apa lagi nih ? Masa pake komentator segala. Apa si Adam lagi nge-hang ya? Batin Joe.

Seluruh mata tak berkedip saat layar mulai menampilkan gambar. Warna biru mendominasi. Benar-benar flm biru nih.

Selanjutnya keluar hurup-hurup yang menerangkan isi film: “PENCIPTAAN MANUSIA”

Joe mengerutkan kening. Setahu Joe manusia itu terlahir dari perpaduan antara sel telur ibu dan sel sperma ayah. Jutaan sel sperma bertarung agar bisa membuahi sel telur ibu yang cuma satu. Nah, proses awal pertemuan sel sperma ayah dan sel telur itu yang jadi masalah. Sebab itu hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Sangat pribadi dan nggak layak dijadiin tontonan. Apakah film ini akan mempertontokan awal mula pertemuan dua sel kelamin itu. Joe menahan napas.

Di layar TV nampak kecebong-kecebong kecil yang berenang. Jumlahnya banyak sekali. Mereka melewati terowongan, menuju sebuah bola besar berselaput. Kecebong-kecebong kecil tersebut mengelilingi bola berselaput lendir kuning itu. Mereka berusaha menembus dinding bola. Sayangnya hanya ada satu kecebong yang berhasil. Kecebong masuk ke dalam bola. Persatuan antara kecebong dan bola berubah menjadi dua bola. Selanjutnya bola tersebut terus menggandakan diri hingga membentuk gumpalan daging. Gumpalan daging tersebut terus berubah bentuk dan akhirnya nampaklah sesuatu yang mempunyai kepala dan ekor seperti kuda laut. Bentuknya bagaikan perpaduan antara bayi dan kuda laut. Bentuk itu terus membesar dan akhirnya nampaklah organ-organ tubuh yang terbungkus balon transparan. Kepala, badan, tangan, dan kaki. Sesosok bayi merah hadir di layar kaca. Ada semacam tali yang menghubungkan pusar si bayi dan dinding kemerah-merahan berlendir.

Joe mencoba memaknai tayangan film tersebut. Ada lega yang menyiram kegalauannya. Ternyata filmnya tidak seperti yang ia bayangkan. Ini sih bukan film porno, tapi film dokumenter penciptaan manusia.

Joe melirik Adam. Cowok berjenggot tipis itu balas melirik dan berkedip nakal.

Sialan lo Dam. Ngerjain anak-anak ya?

Joe mengamati Delon and the genk yang masih asyik menyimak layar TV. Ada gurat kecewa di wajah mereka. Namun ada pula raut kekaguman. Seperti itulah mereka dulu diciptakan. Seperti itulah mereka dalam kandungan ibu. Betapa besar keagungan Allah menciptakan manusia dari dua sel kelamin yang tak terlihat mata telanjang, hingga membentuk mahluk yang sangat sempurna bentuknya.

Usai pemutaran film. Lampu sudah menyala kembali. Seseorang masuk ke dalam ruangan. Tampangnya lumayan keren, mirip dengan Adam.

“Kenalkan ini Bang Giffari, mahasiswa kedokteran tingkat empat. Ada sedikit penjelasan dari Bang Gif tentang flm yang baru kita saksikan”

Semua mata tertuju pada sosok jangkung berkulit bersih tersebut. Binar matanya terlindungi sepasang lensa. Pakaiannya rapi. Identitas mahasiswa kedokteran benar-benar menonjol dari dirinya.

Bang Gif menyapa para penonton dengan suara renyah. Beberapa menit kemudian satu penjelasan mendalam tentang penciptaan manusia tumpah ruah dari Bibirnya.

Joe geleng-geleng kepala mengenang akal bulus Adam mengundang teman-teman menonton film ini. Cukup membuat panas hatinya dan berprasangka buruk macam-macam.

Joe mundur ke belakang. Adam mengikutinya. Mereka duduk bersisian. Tangan Adam merangkul bahu Joe dari belakang. Ia berbisik “Gimana film birunya? Hot banget kan?”

Satu tinjuan melayang ke dada Adam. Pelangi indah terukir indah di bibir mereka berdua.[]

Cikutra Barat, 240904

Special for my little brother

 

Sumber: Majalah SOBAT Muda, Edisi 05/Februari 2005

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.